DYAS

DYAS
Threat (2)



“ Aku harus ke apotik sekarang “ balasnya pelan “ biar nggak tumbuh janin sialan penerus kelakuan biadab keluargamu “ tandasnya tenang.


Mendengeranya Anjas menghela napas pendek. Dyas dengan segala caci dan makiannya yag sadis.


“ Nanti saja “ Anjas mendekat tanpa rasa canggung , kesamping ranjang. Tepatnya disamping tubuh Dyas, dengan tatapan tajam menusuk retina Dyas yang juga menatapnya.


“ Gua nggak akan buka borgol ini, sebelum bibir lo ngasih penjelasan ke gue, lo siapa ? dan kenapa tahu latar belakang masa lalu keluarga gue “ bahkan kini Anjas sudah duduk, di sisi tubuh polos Dyas. Tanpa sekalipun mengalihkan kedua matanya.


Dyas memutus tatapannya, pandangannya terpaksa mengarah pada tubuhnya sendiri saat ini. Dyas menggigit bibir bawahnya meyamarkan rasa sakit atas Naas yang menimpanya. Dyas menahan geram setengah mati pada pria yang telah memperkosanya dan saat ini pria menjadikan dendam untuk membenarkan perbutaanya pada diirnya yang tak berdaya.


“ Aku rasa nggak penting...soal orang tua kamu...emang koruptor kan “ ujar Dyas enteng, bibir bawahnya menekuk.


Anjas menatap Dyas  tak percaya dengan reaksi Dyas yang selalu sukses membuatnya menahan amarah.


“ Lo mau gue perkosa lagi ? “


Dyas diam tak bergeming, menguatkan kepalan tanganya. Ia tatap Anjas tajam, wajah pria itu sangat kelewat santai mengancam gadis yang siap sedia pria itu terkam. Tubuhnya saat ini tergolek dan telanjang.


Lihat saja setelah siang ini, jangan harap pria biadab seperti dia masuk kampus lagi, Dyas akan berusaha keras membawa Anjas mendapatkan ganjaran dari pihak hukum setelah apa yang terjadi padanya.


“ Gua akan tunjukkin lo sesuatu, yang bikin lo bakal terikat sama gue selamanya “ Anjas hanya mengangkat tangannya untuk meraih laptop di atas nakas, disamping ranjang.


Kening Dyas mengkerut karena bingung, perasaannya mulai tidak enak saat pria dihadapnnya dengan lihai membuka dan mengetik di laptopnya dan mengarahkan komputer jinjing itu pada Dyas.


Dyas memalingkan muka, menatap jijik pada video yang tertampil. Gadis dibawahnya mendesah kuat, pergererkan tubuhnya selaras dengan pria diatasnya. Tangan gadis itu memeluk erat leher pria yang telihat dari belakang, dan kakina melingkari pinggul terbuka pria itu.


Dan wajah gadis itu adalah wajahnya,  dan si pria hanya menampakkan potur tubuhnya dari belakang sama sekali tidak diketahui karena bidikan kamera dari atas.


 Apalagi sekarang ?


“ Hanya orang bodoh yang menganggap video ini pemerkosaan “ Anjas menekan tombol, hingga suara desahan yang menjijikan ditelinga Dyas berhenti. Dyas mengeleng-geleng tak percaya.


“ Dasar manipulatif “ Desis Dyas tajam.


Anjas terkekeh menikmati raut cemas di wajah Dyas. Gadis telanjang disampingnya  itu  terlihat resah dan ketakutan sendiri. Tanpa sadar dadanya yang polos naik turun membuat Anjas memalingkan muka, tidak ingin ketahuan menelan ludah, terpana pada pemandangan indah dihadapannya.


Ditelinga Dyas, apapun yang diucapkan Anjas terdengar seperti dentuman petir yang membuat telinganya seakan mau pecah. Dan tubuhnya mengigil ketakutan takut tersambar.


“ Yang gue khawatirin itu elo...beasiswa lo...imaje lo selama ini...apa lo nggak takut bakal kehilangan mungkin nggak hilang yang pasti lo bukan lagi Dyas yang selama ini mereka kenal “


Dyas sudah tidak tahan, matanya berkaca-kaca. Beasiswanya kalapun Dyas tidak mendapatkannya ia punya tabungan dari sisa uang peninggalan orang tuanya. Dyas juga tidak takut dengan ancaman jika ia kan Drop Out dari kampus, karena ia yakin bisa meyakinkan pihak kampus atas malapetaka yang menimpanya. Tapi citranya di mata dosen dan mahasiswa di kampus, sangat mustahil Dyas bisa mengendalikannya. Ada banyak mulut dan pikiran  di luar sana seperti rumput yang tumbuh liar  dan akan selalu tumbuh bagaimanapun Dyas membasminya.


“  Sebenarnya mau kamu apa ? “ tanya Dyas parau.


Anjas memicing menatap Dyas, ia menahan senyumnya untuk tidak terlalu kentara. Semudah itu menaklukkan seorang Dyas.


“ Lo harus turutun apapun kemauan gue “


Dyas menatap jijik pada raut percaya diri Anjas, dan pria itu menyadari ketidak minatnya Dyas untuk menyanggupinya. Tapi terserah bagaimana caranya Dyas harus bertekuk lutut padanya. Dan sejauh mana pertahanan Dyas akan sifat  congkak dan sombong gadis itu selama ini padanya.


“ Lo harus jadi pacar gue, harus nurutin apa yang gue mau...termasuk kalau lo gue suruh buka kaki untuk layani gue...”


Bibir Dyas terbuka tanpa sadar, ia syok tak percaya. Dan benar-benar memandang sebelah mata siapa seorang Anjas selama ini.


“ Najis...cuih “ Dyas meludah, tepat mengenai dada terbuka Anjas.


Sontak Anjas terdiam, menunduk menatap lelehan kental ludah yang mendarat di tubuhnya. Tatapannya kembali pada Dyas dengan datar.


Nafas Dyas memburu, seakan merasakan aura murka Anjas. pria itu mengetatkan rahangnya. Kedua retina itu secepat kilat menatapnya tajam Dyas yang ketakutan.


Anjas mencengkram kuat dengkul Dyas. membuat Dyas mundur kebelakang membentur kepala ranjang tanpa menghiraukan rasa sakit dari tagannya yang terangkat diborgol. Dyas menatap Anjas nyalang, membalas tatapan tajam Anjas yang kini sudah berada di hadapannya.


“ Lo cewek munafik “ desis Anjas pedas dengan seringainya. Nafas Dyas memburu dengan dadanya naik turun, waspada pada ancaman nyata di depan matanya.


....................


aku pengen kalian komen, dengan begitu saya tahu ada yang nunggu cerita saya