DYAS

DYAS
The Boys




Kantin...


Diamanapun mereka berada disanalah tempat yang menjadi pusat perhatian bagi siapapun yang melihat. tiga mahasiswa tampan dengan penampilan yang menarik, seperti kumpulan model atau memang dipersatukan untuk membuat suasana dimanapun tampak menjadi menari.


Para lelaki itu sebenarnya berlaku biasa seperti yang lainnya. Kekampus dengan tujuan belajar, keperpustakaan meminjam buku dan seperti saat ini tiga kawanan itu berkumpul di kantin sekedar bercengkrama dan menikmati makan siang.


Pendukung lainnya mereka begitu dipuja dan dikagumi seakan berbeda dengan mahasiswa lainnya, kabarnya ketiganya merupakan keturunan anak konglomerat yang menguasai negeri ini, baik segi ekonomi, politik bahkan mereka memiliki ciri khas tersendiri untuk melingkupi kehidupan sosialnya.


Herannya, belum ada yang beranggapan jika kawanan tersebut menggunakan kesempatan dari latar belakang keluarga untuk memenuhi keinginan tersendiri atau mencari kepuasa pribadi. Mereka memadukan kesempurnaan degan keahlian masing-masing tanpa embel-embel apapun. Walaupun tidak secerdas anak beasiswa atau peraih olimpiade setidaknya tidak mempermalukan nama keluarga yang tersemat gagah.


Salah satu lelaki berwajah oriental bernama Devon tertawa terbahak-bahak keasikan sendiri sehingga mengundang minat siapapun untuk melihat kawanan tersebut. Sedangkan orang yang menjadi objek kesenangannya memicingkan mata dengan wajah jengkel.


" Gue bilangin juga apa, Dyas itu nggak suka sama lo, lo kenapa sih ngebet banget sama itu cewek " ujar Devon masih menertawakan kelakuan Anjas yang membuatnya geleng-geleng kepala.


" Iya Jas, lo yang ngelakuin gue yang malu " Naufal juga ikutan menimpali ejekan Devon.


" Gue bingung Dyas kok kalo sama Anjas, cuek banget " Devon langsung berpikir lagi dengan ucapanya yang membuatnya sendiri bingung " Soalnya kalau sama gue dia biasa aja kok, anaknya emang gitu sih, rada sombong " Devon kali ini meyakinkan ucapannya. Karena menurutnya gadis bernama Dyas itu memang acuh tak acuh. Walaupun begitu Devon tidak mempermasalahkan sikap Dyas karena wajar saja ada orang sombong namun cerdas.


" Menurut gue dia nggak sombong, Cuma mungkin anaknya emang rada jutek " Naufal menimpali Devon tak setuju." Udalah Njas, mungkin dia emang nggak suka sama lo, atau nggak tertarik sama sekali " Nuafal adalah tipikal lelaki yang sebenarya kalau berbicara tidak segan langsung ke inti, mungkin karena kedekatan satu sama lainnya tidak mengharuskan saling menghibur untuk menyenangkan.


Perkataan Naufal mengudang reaksi serius dari Anjas yang sedari tadi menekuri Handphonenya, ia tak terlalu mempermasalahkan pendapat sahabatnya itu karena selama ini Anjas sudah menduganya. Alih-alih memberikan tatapan prihatin untuk Anjas, Devon justru menahan geli hingga menyegir kuda.


Anjas merasa ada yang berbeda dengan Dyas terhadapanya, seringkali ia menepis rasa ingin tahu atau rasa penasarannya setengah mati pada gadis itu. Anjas berpikir jika saja Dyas mau membalas sapaanya atau sekedar milirik balik tatapan dirinya untuk gadis itu, Anjas akan mudah menentukan arah perasaanya yang tak karuan.


Bukan karena Dyas cantik dan menawan, beribu-ribu gadis yang lebih dari apapun dari gadis itu yang Anjas ketahui selama 22 tahun hidupnya. Seorang Dyas yang memiliki tubuh kurus, tinggi hanya sebatas dada Anjas, memiliki kulit putih pucat, rambutnya yang hitam kemilau dan wajahnya yang paling Anjas suka tirus, hidungnya mancung, matanya yang bulat besar jika Anjas perhatiakan mata itu tertutup rapat jika Dyas tertawa dengan bibirnya yang ranum. Anjas meyakini ada darah campuran yang mengalir di tubuh gadis itu seperti darah melayu dan timur tengah.


Bukan juga karena Dyas dikenal pintar dan cerdas seperti yang dikatakan para dosen yang memuji Dyas setinggi langit, membuat gadis itu dinilai banyak mahasiswa tertutup dan terkesan sombong sehingga hal itu membuat Dyas tidak terlalu disukai termasuk Anjas tidak terlalu nyaman dengan sikap Dyas.


Bukan juga karena gadis itu mendadak dibicarakan banyak orang dikampusnya lantaran menolak menjadi kandidat pemilihan putra-putri kampus secara cuma-Cuma, hal yang sangat disayangkan banyak orang ketika Dyas menolaknya tepat didepan Putri kampus periode sebelumnya yang rela datang ke kelasnya untuk memberikan formulir dan menawarkan pendaftaran gratis. Tentu hal itu membuat banyak orang berlipat-lipat meneyematkan kata arogan pada kepribadian Dyas.


Hanya saja perbedaan Dyas dari yang lainnya adalah gadis itu memiliki semua kelebihan yang tidak dimiliki banyak orang, seakan dirinya tercipta hanya untuk membuat siapa saja menjadi geram, kesal dan jengkel yang tertahan.


Seakan gadis itu tetap sempurna dimata Anjas yang diam-diam memperhatikan gadis itu dari kejauhan, salah satunya ia tercegang saat ia tahu bahwa Dyas adalah mahasiswa beasiswa. Seorang Dyas yang cantik, menawan, dan berpenampilan berkharisma itu masuk kejajaran pelajar kurang mampu, hal ini membuat Anjas menambahkan rasa bangganya pada gadis itu. Walaupun sulit untuk mempercayai karena baik dirinya dan lainya tidak akan memiliki pikiran jika melihat seorang gadis yang berpenampilan menarik, kulit terawat dan seakan dapat membaca mana orang kampung yang benar-benar datang kekota untuk belajar dan merubah masa depan atau mana mahasiswa datang ke kampus untuk pamer harta dan kelebihan. Seorang Dyas sukses membuat Anjas geleng-geleng kepala. Sedikitpun tak menemukan cela untuk menggabaikan kesempurnaan seorang Dyas.


Dyas Almira Riefani di mata seorang Anjas atau lebih buruk dimata yang lainnya dan seorang Dyas yang mampu mengahpus Stigma orang-orang jika perempuan cantik juga sama dengan yang lainya bisa cerdas dan mandiri.


" Weh...cewek yang dikepala Anjas nongol cuy..." ledek Devon, Anjas tersentak salah tingah menoleh kiri dan kanan.


" Masih jauh Njas, dibelakang lo " Naufal menggerakan matanya untuk kesamping menyasar kebelakang kepala Anjas yang duduk didepannya " Udah lo kalem aja "


Anjas menghembuskan nafasnya kasar melihat tingkah kedua sahabatnya, yang semakin membuatnya gatal untuk memutar leher menoleh kebelakang.