DYAS

DYAS
Inilah Dirinya



Dyas Almira Riefani sudah menjadi pribadi yang mandiri sejak berusia 9 tahun, selama itu  Dyas adalah ratu kecil dikeluarganya yang sempurna. Ayahnya seorang polisi yang diangkat menjadi anggta KPK setelah ia ketahui beberapa tahun terakhir dan ibunya seorang dokter yang juga baru Dyas ketahui bahwa sang ibu spesialis gangguan kejiwaan alias psikiater.


Dibawah asuhan dan didikan ibunya yang bersahaja, Dyas tumbuh menjadi gadis kecil yang ceria, riang dan penuh canda tawa. Sedangkan ayahnya jarang terlihat di rumah membiasakannya mendapatkan apapun yang dia inginkan dan ia lakukan. Bahkan disetiap kemauannya yang tidak masuk akal sekalipun ayahnya selalu dapat mengatasinya. Walau begitu setiap pergerakkan Dyas meniti harinya selalu disertai penjelasan dan nasihat yang ia dapat dari kedua oranng tuanya yang berwibawa. Menjadikan Dyas tumbuh sebagai pribadi yang tegas, cermat dan penuh waspada.


Hal yang pahit juga menyakitkan jika kita selalu ingin tahu lalu memuaskannya dengan mencari, setelah mencari bukannya rasa terpuaskan namun menyakitkan untuk menerima kenyataan bahwa apa yang telah kita ketahui dan dapatkan telah terjadi dan tidak dapat terulang maupun kembali.


Dyas tidak pernah menyesal untuk hasrat ingin tahunya mengenai kepergian kedua orang tuanya. Terutama ayahnya.  Saat ia telah mampu untuk menggendalikan teknologi dengan cara yang bermanfaat mencari tahu tentang ayahnnya yang ternyata telah tiada tanpa ia ketahui setelah berusia 11 tahun. Ayahnya meninggal  kecelakaan mobil, menabrak tiang lalu meledak meninggalkan puing-puing abu dan asap yang dijadikan lelucon aparat kepolisian untuk barang bukti mati, tidak tidak pernah terungkap dan terselesaikan hingga detik ini.


Tak lama insiden kecelakaan ayahnya. Aparat menyatakan kecelakaan tersebut diakibatkan kelalaian berkendara di malam hari. Ibunya yang merasa tak mendapatkan keadilan dan tak puas akan kinerja aparat akhirnya membawa kasus ayahnya kejalur hukum yang lebih tinggi. Ibunya merasa semua rakyat tidak bodoh ayahnya sedang menangani kasus keterlibatan seorang menteri muda dengan pengusaha tekstil ternama terlibat kasus pencucian uang yang menyeret para pengusaha dan para investor luar dan dalam negeri merasa terancam.


Ibunya merasa kecelakaan naas yang diterima suaminya hanyalah akal busuk oleh para calon koruptor agar ayahnya tidak mendalami perkara itu  lebih dalam. Ibunya makin percaya keadilan akan datang sedikit terlihat dengan tak henti-hentinya ia dipuji dan dibanggakan, sera dukungan mengalir dari orang-orang juga jajaran pengacara ternama siap membantunya secara suka rela.


Ditengah usahnya yang tak gentar dan semnagatnya berkobar melawan kaum kapitalis dan menuntut ketimpangan keadilan juga haknya sebagai korban yang diperlakukan sangat  keji dan kejam dan keji. Ibunya harus menerima konsekuensi bahwa ia hanyalah seonggok manusia tak ada apa-apanya dibanding orang yang ia kecam, terbukti tak lama tuntutanya menjadi lahan berita di media massa ibunya berakhir tragis.  Tidak jauh berbeda dengan ayahnya yang dibunuh bersama insiden kecelakaan mobil yang Dyas yakini, orang yakini dan terutama sang dalang utama menjadikannya sebagai penutup cerita yang disengaja.


Dyas masih berusi 5 tahun sat itu yang akan memasuki sekolah dasar terpaksa harus hidup berpindah-pindah dengan segala tanda tanya di kepala dengan pola pikir seadanya. Kemana ibunya ? dimana ayahnya ? kenapa mereka pergi ? kenapa hanya dirinya seorang diri saat ini ?


 


Ia harus dilindungi oleh pihak keamanan tampat ayahnya bekerja saat ini, Dyas tidak pernah susah dalam hal apapun. Ia selalu mendapatkan apapun hal yang wajar diberikan orang-orang padanya walaupun Dyas tidak meminta selain penjelasan mengenai kedua orang tuanya. Walau pada akhirnya ia akan mendapatkan jawaban yang dipenuhi tanda tanya “ Ayah sama Ibu Dyas  pergi, nanti kembali “ hanya itu. setelah beranjak remaja barulah ia diberitahu jika kedua orang tuanya telah tiada.


Rasa hambar itu ada, secuil hatinya tersa perih dan sakit. Betapa orang-orang dengan sengaja menyembunyikan sejuta pertanyaan dikepalanya. Fakta ibu dan ayahnya telah tiada tidak membuatnya menangis, meraung dan merana. Ia tidak putus asa. Karena ia telah merasakannya dari setiap tatapan prihatin dan simpati orang-orang terhadapnya.


 Ia akan melanjutkan hidup untuk dirinya sendiri, tak akan pernah ia hiraukan bagaimana orang-orang mengagungkan hidup penuh sosialisasi. Tak akan pernah ia lirik apa itu konsep demokrasi, dan sistem bernegara  yang selalu didengungkan  pemerintah. Dia tidak akan  peduli baginya ia hidup sebatang kara.


Akhirnya Dyas, terbiasa hidup seorang diri. Membuatnya menjadi lebih dewasa menurut versinya. Kepahitan, air mata, kekesalan, marah, muak dan benci ia sembunyikan seorang diri.  Tak sekalipun berniat untuk  membagi kepada yang lain. Bukan tak percaya, namun bagi Dyas hal tersulit di dunia ini adalah memaksakan kehendak kita untuk sejalan dengan orang lain. Itu sulit baginya sama seperti ketika ia kecil berat untuk memahami kedua orang tuanya sekalipun mereka sangat berarti dan dicintainya hingga butuh waktu lama untuk merelakan dan mengerti kepergian orang-orang yang dia cintai.


 


Hanya 6 tahun ia bersama orang paling berharga dan dicintainya didunia ini, sisanya ia menghabiskan siang dan malam, suka dan duka, tangis dan tawa seorang diri tanpa orang tua.


Dyas merasa tak perlu melakukan itu selagi ia bisa mengatasinya sendiri, berdiri sendiri,  bangkit sendiri dan bisa bertahan sejauh ini. ia bisa sendiri....


Tak banyak yang tahu itu. hanya dirinya seorang diri.


Kalau boleh Dyas mengajukan keluhan secara diam-diam pada kehidupan. Ia ingin mengatakan bahwa makin dekat menuju hari ini yaitu detik menuju dewasa makin membuatnya gelisah, dalam relung hatinya selalu diratapi rasa cemas hingga terasa sesak.


Dirinya yang terbiasa sendiri, harus bingung sendiri, bertanya sendiri lalu menjawab sendiri. Lalu ia akan menyalahkan dirinya sendiri jika keinginanya tak sesuai hati.


Setelah malam ini, ia tak sanggup meniti hari esok. Setelah gelap merajai langit ia tak sanggup melihat cahaya mentari di pagi hari. Ia tak sanggup mungkin juga tak akan bisa.


Cabut saja nafasnya jika setiap hembusannya hanya untuk air mata.


Ya...cabut saja.


Mohonnya....


Dikomen ya gaess, biar saya tahu cerita ini ada yang nunggu.


terima kasih