DYAS

DYAS
The Beginning of The Conflict



"  Weh...cewek yang dikepala Anjas nongol cuy...“ ledek Devon, Anjas tersentak salah tingah menoleh kiri dan kanan.


“ Masih jauh Njas, dibelakang lo “ Naufal menggerakan matanya untuk kesamping menyasar kebelakang kepala Anjas yang duduk didepannya “ Udah lo kalem aja “


Anjas menghembuskan nafasnya kasar melihat tingkah kedua sahabatnya, yang semakin membuatnya gatal untuk memutar leher menoleh kebelakang.


Dua gadis itu sudah melaluinya dengan langakh biasa saja, memuat Anjas mau tak mau menikmti pemandangannya sepusnya walaupun dari tubuh belakang gadis itu. Dyas dan Fany tampak menuju sebuah Foodcard tak jauh dari mereka. Keduanya memilih kedai mie ayam yang cukup ramai oleh pembeli.


“  Ada dia lu kicep “ Gema mengejeknya “ Samperin gih...siapa tahu dia mau ngomong sama lo kalau di tempat keramaian “ sambung Gema, Naufal disampingnya memberikan tatapan tak yakin lalu kembali menatap wajah Anjas menunggu reaksi lelaki itu.


Bola mata Anja menatap bergantian  kedua sahabatnya lalu bergulir menyasar jauh   pada sebarang gadis yang duduk membelakanginya. Ia beralih kembali pada dua manusia tengil yang sering kali memberikan saran absurd itu. Mana mungkin...


“ lo nggak berani “   jari telunjuk  Gema  mengarah tepat ke wajah Anjas. Yang langsung memundurkan kepalanya menghindar. 


“ Iya Njas, biar dia itu tahu kalau lo itu emang serius buat ngedeketin dia, dengan begitu lo kan jadi tahu dia sebenarnya emang bener nggak tertarik sama lo atau dia emang risih untuk lo deketin “


“ Benertu kata Naufal, jadi kalau dia masik cuek sama lo, lo jangan lagi ngejer-ngejer dia kaya ayam jantan nyerang ayam betina “ Gema teratwa dengan ucapannya sendiri “ Lagian lo yang ngelakuinnya, gue yang malu tau nggak fal “ Gema menyenggol bahu Naufal yang membaas dengan cengiran.


Anjas yang sedari tadi diam sja diejek dan di olok-olok oleh sahabatnya  ini, langsung mengakat dagu pongah seakan menunjukkan siapa dirinya, geriknya seakan dapar berbicara ‘ ngeremehin gue lo ‘. Namun sedetik kemudia dia mengaruk tengkuknya dengan bibir terukir miring tak tahu apa selanjutnya.


Membuat dua manusia dihadapannya menyemburkan tawa mengejek namun mereka langsung terdiam saat Anjas berdiri dan menahan nafas lalu mengeluarkannya pelan


“ Kalian liat gue...” katanya dengan mengulum senyum tampan.


Bibirnya tersunging dengan dagu terangkat, matanya menatap intens pada sosok tubuh belakang dimana orangnya sedang asik bercengkrama.


Anjas memantapkan langkahnya lurus, melewati beberapa kedai dan menghiraukan tatapan kagum dari orang-orang yang dilaluinya


Anjas berhenti dan menyerongkan tubuhnya sedkit,  berdiri disamping bangku yang di duduki seorang gadis  yang sontak terdiam lalu mendongakkan kepalanya hingga tatapan Dyas dan Anjas bertemu.


Tatapan gadis itu seakan melibas habis kekuatan dan keberanian  Anjas yang ia kumpulkan sejak melangkahkan kakinya. Tenggorokannya tercekat dan tatapan sekitarnya membuatnya tak berkutik. Anjas menyangkal semua rasa pengecutnya memberanikan memutuskan tatapan dan berdehem pelan.


“ Yas, Gue boleh duduk...?” Anjas sangat takut sekali suaranya pecah  atau kata-katanya salah.


Dyas mengedipkan mata dan menatap mie ayamnya dengan tidak selera, tak sungkan-sungkan ia memberikan tatapan tanpa minat dengan suasananya sendiri. Dyas  tak menghiraukan permintaan Anjas atau sapaan untuk mengajaknya berbasa basi.


Merasa diperhatiakn banyak orang Oris jadi salah tingkah walau bukan diriya diajak bicara oleh sosok tampan dan gagah di depannya ini, namun suasana mendadak canggung  membuatnya risih sendiri takut sekali pergerakannya menjadi retak. Gadis itu menyegir menatap takut-takut pada Anjas yang masih berdiri disamping tubuh Dyas.


“ Boleh kok Njas, kursinya masih banyak selonjoran juga bisa “ Fani terkekeh garing mencairkan suasana. Walaupun begitu Anjas tidak langsung menerima begitu saja. mengangkat alisnya dan dan kedua tangannya beralih kesaku belakang jinsya lalu menarik kursi sekali jangkau dan mendudukan dirinya tepat didepan Dyas.


Sebenarnya tatapan Dyas biasa saja, nyaris tanpa ekpresi. Bukan tatapan intimidasi atau mengejek tak suka dengan apa yang didepan mata. Namun justru membuat Anjas merasa apapun pergerakannya akan tetap dianggap salah.


Anjas berdehem pelan “ Gue mau ngajak lo nonton...” ia memberanikan diri menatap lekat Dyas dan menunggu reaksi gadis itu yang betah dengan ekspresinya “ Quate Place 2 ka” ....


“ Aku nggak tertarik ! ” potong Dyas Cepat


“ Film lain mungkin...?” Saran Anjas, ia mendadak ciut saat Dyas mencebik tak suka.


Anjas mulai mendobrak rasa malunya, ia menjilat bibirnya basah lalu melirik gadis disamping Dyas sedang menyantap mie ayam dengan gerakan dipaksakan. Bagaimanapun gadis itu pasti mendegar penolakan Dyas.


“ GI buka toko buku baru, lo udah tahu...?” Anjas meyakinkan saja kalau  Dyas tak suka nonton, munkin gadis itu selalu berteman dengan buku kalau tidak berdua dengan gadis disampingnya.


Dyas melengos, tatapannya turun kebawah mangkuk mie ayam Oris yang masih setengah. Lambat sekali pikirnya. Walaupun Dyas sendiri baru tiga sendok memasukan hidangan itu ke dalam mulutnya sebelum lelaki itu tiba dihadapannya.


Dyas berpikir mungkin ini saatnya mengatakan pada lelaki bernama Anjas ini untuk berhenti berusaha mendekatinya. Karena dia muak terutama Oris merasa terganggu.


“  Aku nggak ada waktu keluar selain kampus dan asrama “ Dyas sengaja membesarkan suaranya dengan begitu Anjas tahu sarkasnya penolakannya. Walaupun semua tahu ia sesekali ke mall bersama Oris bahkan pernah tidak sengaja berpapasan dengan Anjas di bioskop. Dyas merasa dengan kata-katanya cukup untuk menolak pendekatan yang semakin menganggunya.


“ Serius...” karena Anjas sudah berhadapan langsung dengan wjah Dyas yang dipisahkan meja kecil, ia pun terlanjur basah untuk menyelami rasa penasarannya. Hingga kata ‘ serius ‘ ia pilih untuk tetap memancing gadis itu.


Dyas yang merasa dipermainkan, walaupun ia juga bisa bergurau dan bercanda dengan Oris. Namun saat ini ia tak ingin berbasa-basi.


“ Ris, kamu udah belum “ Dyas menstabilkan suaranya. Ia berdiri pergerakannya tak lepas dari sorot mata dihadapannya menatap jengah, menampilkan raut muka terkejut.


Oris yang merasa canggung sedari tadi, mengiyakan saja ajakan Dyas untuk meninggalkan kedai ini,  tepatnya meninggalkan lelaki tampan yang tak bergeming. Oris merasa tak enak sendiri dalam hati ia menyumpahi Dyas yang keterlaluan.


Alhasil mereka menjadi tontonan semua orang, termasuk Devon dan Naufal yang bingung suasana kantin mendadak hening. Devon pun tak sungkan memutar badan untuk melihat langsung kearah Dyas dan Anjas.


“ Gue ada salah ya sama lo...”


“ Lepas ...” tekan Dyas hingga tangannya bebas. Dyas menghembuskan nafas pelan mengitari tatapan istimidasi sekitarnya. Orang-orang tahu Anjas dan Dyas tak memiliki hubungan apapun. Ini pertama kalinya mereka melihat interaksi antara Anjas dan Dyas yang cukup membingungkan karena mencekam.  Namun Dyas tak memperdulikannya dan memilih melangkah ia bahkan lupa keberadaan Oris.


“ Dyas... tunggu ”


Namanya terdengar semakin dekat, Anjas mengikutinya. Dyas menekan dadanya lalu menghembuskan nafas ia memutar tubuh hingga Anjas tepat didepan wajahnya. Dia tidak akan mendongak untuk melihat wajah lelaki itu.


“ Kok lo ngehindari gue terus ...?” Anjas tak menyadari jika pertanyaannya membuat Dyas makin muak.


Akhirnya Dyas menggerakan bola matanya keatas untuk menatap lelaki itu, ia mulai berpikir apa yang harus dikatakan ditengah tatapan orang-orang padanya.


“ Nggak ada, Cuma aku  nggak mau berurusan sama kamu “ jawab Dyas ringan.


Kalimatnya membuat siapapun tercengang, tidak heran yang mengatakan itu seorang Dyas yang cantik, pintar, menawan dan kebanggan para dosen. Semua tahu bagaimana karakter Dyas yang dingin dan terkesan tak peduli pada siapapun. Namun, kata-katanya barusan bukanlah mencerminkan seorang yang dipuja-puji selama ini.


Anjas  menelan ludah kasar, tenggorokannya mendadak serat.


“ Kenapa...?”


Dyas mencebik mengejek, melihat itu Anjas merasa makin kecil dan keberaniannya seakan pudar.


“ Pasti ada alasannya kan...”


“ Alasan tidak menjadikan seseorang tidak berteman, hanya keputusanku saja “ balasnya halus namun menyakitkan.


Anjas mulai menyadari bagaimana anggapan orang-orang pada gadis pongah, congkak dan sombong dihadapannya ini. seorang Dyas yang cerdas ternyata bodoh dalam pemilihan kata-kata untuk mengungkapkan penilainnya pada seseorang tanpa memikirkan perasaan atau memang kesempurnaan gadis membuatnya  seakan memiliki segalanya tanpa bantuan orang lain.


 “ Lo cewek sombong “ tekan Anjas dengan nada yang tertahan, bagaimanapun ia masih bisa menahan untuk tidak mempermalukan gadis itu didepan umum walaupun Anjas yakin ia di dukung. . 


“ OH “ Dyas melengos, memutar badan. Ia lega menemukan Oris ternyata tak jauh darinya.


Anjas kagum dengan kesombongan Dyas, gadis itu acuh tak acuh sama sekali tak terpancing emosinya. Ia  mengerjab bagaimana Dyas memilih melangkah meninggalkannya dirinya yang masih dibuat kaget. Anjas merasa dipermalukan oleh dirinya sendiri bahkan Dyas merasa tak bersalah sedikitpun.


Melihat tatapan iba sekitarnya, membuat Keberaniannya mendekati Dyas tergantikan emosi yang terkumpul lebih besar siap untuk meledak. ia harus membalik keadaan bagaimanapun tatapan benci orang-orang mengarah pada Dyas bukan padanya.


“ Sikap lo berbanding terbalik dengan pujian selama ini “ sergah Anjas “ Semua orang muak “


Mendegar itu, Dyas langsung memutar tubuh melangkah kembali kehadapan Anjas, sorot mata keduaya beradu tajam berperang. Dyas memiliki aura tersendiri untuk melumpuhkan dengan senyum mengejeknya.


“ Aku nggak butuh pujian, aku bahkan nggak pernah dengar langsung “ balasnya merasa yakin sendiri.


Anjas membuang nafas putus asa, fakta baru gadis dihadapnnya ini selalu percaya dengan apapun yang keluar dari mulutnya.


 “ Semua orang muak dengan sikap arogan lo “


“ Aku nggak peduli...”


“ Lo anak beasiswa sombong banget sama kita-kita yang ikut nyumbang buat subsidi kebutuhan lo “ persetan ucapannya saat ini yang penting Dyas harus malu “ harusnya lo malu dan tahu diri  “


Mendengar serangan Anjas, emosi Dyas terpancing. Ia mendonggak lebih jauh untuk menatap lekat-lekat wajah itu. Kesabarnnya habis tergantikan kemarahan yanng tertahan didadanya yang naik turun, Dyas menekan bibirnya lebih dalam menyemburkan apa saja yang mungkin lebih menyakitkan.


 “ Kamu yang nggak ada malu dan nggak tau diri “ hardik Dyas tak mau kalah.


“ Gue...? kenapa gue harus malu dan tau diri ? “


Dyas terdiam sejenak, ia menahan dadanya untuk bernafas. Memandang lekat wajah yang mengulitinya hidup-hidup. Merasa “ Karena kamu anak koruptor “ balas Dyas, ujung kalimatnya masih tercetak di bibir gadis itu.


Anjas terdiam wajahnya pias seketika. 


Orang-orang terperangah....