DYAS

DYAS
Dissopointed



Sejak kecil Anjas merasakan bagaimana dirinya didekap begitu erat oleh kehidupan penuh cahaya yang menyilaukan. Keluarganya lengkap, hangat dan ceria. Kedua orang tuanya yang Anjas kecil pandang sangat memuakkan karena selalu menganggapnya  seperti “ Bayi kecil “. Sendangkan Ke dua kakak kembar perempuannya  yang berisik dan menjengkelkan memperlakukannya seperti “ Raja besar “.  


Kasih sayang, cinta dan kedamaian keluarganya, sangat melengkapi kehidupan Anjas. Baginya   tidak ada hal yang lebih sempurna  dari apapun yang ia rasakan, walapun Anjas  masih terlalu  dini untuk peduli dengan kebahagiannya kala itu.


Anjas kecil yang tidak terlalu banyak maunya, ia tidak terlalu menginginkan banyak hal namun sebagai insan mungil disuguhi kemewahan dan kelebihan apapun yang diberikan keluarganya menjadikan hidupnya  dengan  kesempurnaan yang berlebihan di masa itu.


Anjas kecil belum mengerti banyak tentang apapun, telinganya tidak bisa mendengar orang dewasa berbicara, juga kata-kata orang dewasa belum terlalu jelas untuk dimengerti dan ia juga belum terlalu dipercaya untuk mengetahui banyak hal. Yang Anjas tahu ia  sangat bahagia waktu kecil, tidak banyak kalimat yang bisa ia ungkapkan.


Beranjak remaja, tepat Anjas saat akan melanjutkan ke jenjang sekolah menengah pertama. Saat ia mulai diizinkan sang mama untuk menempeli hal apapun di dinding kamarnya. Setelah ia menyombongkan kepada seluruh isi rumah bahwa Anjas Kecil telah dewasa karena seragamnya berganti warna. Siang itu ia akan merekatkan semua stiker favoritnya dari serial Sherlock Holmes yang ia beli bersamaan dengan alat tulis sekolah.


Namun, kesenangannya saat itu terganggu oleh suara gaduh dari luar rumah , melalui jendela kamarnya. Matanya membulat, terkejut karena lapangan rumput depan rumahnya dipenuhi beragam jenis mobil, ia menghitung jenis mobil dengan lampu berkelip hidup.


Rasa penasaran Anjas untuk mengetahui ada apa gerangan empat mobil polisi datang ke rumahnya. Dari serial detective yang ia gemari, mobil polisi sangat keren saat mengejar dan menangkap penjahat.


 Lalu ada urusan apa polisi datang kerumahnya ? menangkap penjahat ? siapa ?


Anjas bergegas keluar dari kamarnya, kaos kaki yang ia pakai berjalan mengelincir marmer licin. Saat kakinya masih di undakan tangga pertama, ia bergeming sesaat,   mendegar suara tangisan dan teriakan begitu kencang dari suara mamanya dan lolongan tangisan disusul kedua kakaknya.


Ada apa ? apa rumahnya dirampok atau siapa dibunuh ? pikirnya seakan membolak-balik halaman buku serial detective kesukaannya.


Di tempat Anjas berdisir, Ia terdiam.  Matanya menyisiri aula bawah yang ramai dengan sekumpulan orang-orang yang persis seperti di film The Third Man kesukaan kakaknya. ia mulai bergidik ngeri.


Melihat raungan frustasi mamanya dan isak tangis kedua kakaknya yang saling berpelukan, membuat Anjas menelan ludah susah payah. Ia tidak pernah menangis karena tidak pernah disakiti, tidak pernah kehilangan, tidak pernah merasa ditinggalkan. Ia hanya menangis karena ulahnya sendiri yang gegabah atau ceroboh itupun langsung dipeluk dan dicium oleh siapapun yang melihatnya. Karena Anjas kecil terbiasa mendapatkan semua keinginannya dengan mudah hanya dengan mendongak dagu atau merengek. 


Tapi sekarang mereka yang mengejeknya jika ia menangis dengan kata “ Anak cowok kok nangis....?” adalah mereka yang kini meraung-meraung dibawah sana. Terutama mamanya yang cantik dan bersahaja, Anjas sakit melihatnya namun terbesit dengan pikiran bingung tidak tahu penyebabnya.


Dengan perlahan kakinya menuruni tangga dengan hati-hati, langkahnya sendiri tidak diperhatikan. Anjas remaja  yang bingung, tidak bisa menangis seperti mama dan kakaknya menatap nanar ke arah mereka. Ia berhenti tepat di ketujuh anak tangga sebelum menyentuh lantai dasar.


Matanya mula mencari pahlawan penyelamat yang akan akan memeluk dan menghentikan tangisan orang-orang tersayangnya. Orang-orang tidak memperdulikannya sama sekali, mama dan kedua kakaknya juga tidak menyadari kehadirannya. Ia menatap lekat siapapun yang ada disana, pahlawannya tidak ada ? kemana...?”


“ Mama....Papa mana ? “ tanyanya setelah berhasil meloskan suara dengan susah payah.


..............................................................


Sejak hari itu, Rumahnya ramai didatangi banyak orang, berbagai penampilan yang datang untuk bertemu Mamanya, Anjas tidak diperbolehkan untuk mengetahui apa ynag terjadi karena ia dan kedua kakaknya hanya berada dikamar memperhatikan semua dari jendela kamarnya. Seminggu setelahnya tanpa sang Papa, Anjas dan keluarganya pindah kerumah neneknya yang masih di kota yang sama. Anjas merasa lega tinggal dirumah sang nenek dapat bebas tidak terkurung dikamar, juga tidak terlalu ramai seperti di rumahnya.


Anjas tidak terlalu mengeahui apa yang terjadi hari itu, dia masih belia namun sejak hari itu, ia menyadari bahwa sang papa tidak lagi di sekelilingnya. Tiap hari Anjas bertanya pada siapapun yang ia lihat di rumah neneknya, siapapun itu pasti jawabannya memuatnya cemberut “ Papa keluar kota, Anjas jangan tanya terus ...”.


“ Papa tahu nggak kita nginep di rumah nenek ? “ kala itu Anjas bertanya pada sang kakek di pagi hari.


Kakeknya terdiam menatap lekat Anjas, seharusnya anak itu pergi kesekolah hari ini namun ditunda untuk sementara waktu.


“ Papa pasti tahu, sayang...”


Ya, anjas khawatir papanya yang tidak pulang selama dua minggu ini, waktu yang sangat lama tidak seperti biasanya pikirnya.


Papanya yang tidak pernah pulang lagi, semenjak hari itu belum cukup membuat seglanya berubah. Di siang bolong yang seharusnya ia habiskan berenang dengan kedua kakaknya. Dua gadis itu datang kekamarnya dengan beruraian air mata, Anjas bingung  dibuatnya, kenapa akhir-akhir ini seisi rumah bertingkah aneh ?.


Anjas tidak dapat menahan tangisnya, dihadapan kedua kakaknya ynag menyebalkan ini ia berteriak, melempar apa saja. tidak memperdulikan predikat gengsinya sebagi jagoan sang papa. Kedua kakaknya ternyata berpamitan akan melanjutkan sekolahnya ke luar negeri. Padahal Anjas tahu kedua kakaknya  masih muda, beda jarak 3 tahun darinya. Sekolah keduanya bahkan belum diselesaikan disini. Kenapa seolah-olah semuanya bertingkah berlebihan.


“Anjas kakak sayang kamu, kita semua sayang kamu...” dengan tersegal Isalinne mengatakannya, berusaha menghentikan tangisnya. Ia menatap miris Anjas yang sudah lelah berteriak, kini anak itu berdiri terdiam di pojok kamar.


“Anjas suatu hari nanti kamu ngerti....” Esalline tidak serapuh adik kembarnya, namun bibirnya bergetar, tidak dapat dapat menahan nyeri memandang bocah tampan dengan wajah merah, hatinya lebih sakit lagi melihat anak hanya terdiam menatap lantai dengan tatapan kosong, ia lebih menerima Anjas yang meraung seperti tadi.


Yahhh Anjas tahu tahu betapa sayangnya kedua kakaknya itu padanya, mejaganya, memperlakukannya berlebihan hingga Anjas sangat risih tak jarang ia bergidik jijik dengan kelakukan keduanya. Waktu itu Kedua kakaknya mengatakan jika mereka adalah dayang, dan Anjas adalah raja. Kedua orang tuanya selalu tertawa jika Anjas menggadukan kedua kakaknya yang telah membuatnya tak nyaman.


“ Itu karena mereka sayang kamu Anjas....” balas Papanya terkekeh mencium pucuk kepala Anjas.  Dan Anjas kecil jengkel mendengarnya.


Setelah kepergian kedua kakaknya, Anjas kesepian. Mamanya sibuk jarang dapat ditemukannya semenjak mereka resmi pindah kerumah nenek. Anjas tidak tahu apa kesibukan sang mama mereka hanya bertemu di meja makan ketika sarapan dan malam hari saat hendak tidur, itupun jarang sekali.


Anjas remaja berang, kecewa dan marah pada siapapun, ternyata ini jawaban dari semua pertanyaan dipikirannya yang dangkal. Kedua kakaknya meninggalkannya dan Mamanya begitu berbeda, menggabaikannya setiap hari. Saat Anjas meminta waktu, wanita yang telah melahirkannya kedunia itu mala meminta pengertian darinya.


Kini ia tahu semuanya, ternyata lebih menyakitkan. Melukai masa indahnya, membekas dikepala dan menghancurkan harapan besar di masa remajanya yang rapuh. Ia tidak percaya namun menerima keadaan dengan amat sangat menyakitkan. Anjas yang labil ingin menolak namun terlanjur mengetahui segalanya.


Papanya selama ini dipenjara dan mendadak serangan jantung.


Tepat kepulangan kedua kakaknya dari luar negeri, Papanya meninggal.


Kini, sungguh Anjas tak ingin mengingatnya. Mengingat papanya tentu saja, namun mengingat masa pahit itu tidak akan. Bagaimana dampak hari itu begitu menyakiti dirinya, bahkan menggaggu psikologis kedua kakaknya . hingga Anjas ketahui alasan keduanya pindah keluar negeri adalah menghindari cemooh orang-orang terhadap keluarganya, hinaan dan cacian bahkan berbagai tuduhan melukai harga diri keluarganya yang selalu menghantui kemanapun Anjas dan keluarganya berada.


Anjas harus melewatkan setahun masa sekolahnya, ia marah dengan sang mama dengan beraninya mengganti nama belakang Anjas, tidak mengganti tepatnya membalik, hingga nama belakang sang Papa yang dibanggakan keluarga besar di tengah. Mamanya saat itu memberikan alasan yang masuk akal, Anjas menerimanya saja pasrah.


Sejak itu, hari-harinya berubah. Semua  rasa yang ia simpulkan kedalam kesempurnaan secara perlahan menghilang. Seiring berjalannya waktu semua terasa kekurangan lalu senyap tergantikan masa usai. Walau enggan menerima namun ia masih bersyukur untuk melaluinya karena masih dengan orang-orang yang Anjas sayangi. Mereka saling berpelukan, berpegangan dan merangkul satu sama lain mengobati masa lalu, masa pahit dan menyakitkan. Sedikit demi sedikit Anjas kembali terbuka pada lingkungan sekolahnya, berteman dengan siapapun dan pesan yang tidak pernah dilupakan dari Sang Papa “ Tidak semua yang Anjas suka, akan kamu dapatkan sayang...yang harus Anjas lakukan berusaha melakukan yang terbaik “ kata Papaya saat Anjas kenaikan kelas 4 SD, kal itu Anjas tak percaya diri karena peringkatnya menurun.


Seperti kata papanya Tidak semua yang kita inginkan akan kita dapatkan, maka dari itu ia harus berusaha dengan melakukan yang terbaik dan bagaimana hasilnya setidaknya ia telah melangkah. Termasuk mendekati Dyas, berusaha mencuri perhatian gadis itu dan harapan besar jika Dyas membalas perasaanya. Yang tak  disangka Anjas dan dirinya merasa bodoh seketika bahwa kekagumannya pada seorang Dyas tanpa mengetahui siapa Dyas yang sebenarnya.


Dari bibir gadis dihadapannya saat ini, membawa kembali kenangan hitam nan kelam membuat nyeri dadanya yang mendadak sesak tertahan. Tak tanggung-tanggung gadis yang dikagumi dan dipujanya mendalam tanpa melihat latar belakang siapa Dyas mala menghantamnya di depan muka, mempermalukannya di khalayak ramai.


Siapa Dyas yang sebenarnya, keluarganya berusaha sekuat mungkin agar identitasnya tak diketahui banyak orang, Siapa gadis dihadapannya ini, kenapa Dyas tahu tentang keluarganya tanpa mengetahui kebenarannya, kenapa gadis itu lancang membeberkan apa yang sudah disebunyikan keluarganya dengan susah payah ternyata keluar dari mulut gadis yang disukainya, tapat dihadapannya , di depan semua orang.


Hatinya sangat sakit, ia menelan saliva susah payah. Bagaimana seorang Dyas mengancurkan hidupnya yang nyaman tanpa lirikan tuduhan yang mnegarah padanya. Siapapun tidak tahu bagaimana Anjas mengobati masa lalunya agar percaya lagi untuk menghadapi lingkunngan tanpa cacian dan makian.


Jika Dyas tidak menyukainya, haruskah Dyas mempermalukannya menagtakan hal yang belum tentu nyata. Haruskah Dyas membalas mata kagum dan memujanya sekeras hantaman baja dihadapan orang-orang hingga ia terluka dan tak bisa bergerak karena malu.


“ Anjing...” tubuh Davon terpental lagi kebelakang, sigap Anjas menahannya karena sahabatnya itu akan menerjang Dyas saat ini menatapnya dengan tajam. Tidakkah Dyas menyesal dengan ucapannya ? atau berpikir lagi dengan ucapan itu.


“ Lo cewek terbangsat yang pernah gue tahu ”  hardik Devon lagi tak tahan. Ia tidak lagi memperdulikan tempatnya berada juga tatapan orang-orang terdiam. Aura kantin itu mendadak mencekam.


Dyas kini menatap bergantian kedua lelaki dengan wajah penuh emosi, bedanya Devon yang barusan datang lebih garang akan menerjangnya jika Anjas tak menahan. Terbesit rasa was-was walau Dyas tetap gentar tak takut, hatinya mendadak nyeri menatap raut kecewa  Anjas. Dengan sepasang kilatan mata ynag penuh emosi juga luka kesedihan terpendam tertahan disana. mendadak Dyas merasa tak enak hati karena Anjas mala melindunginya dari serangan amukan Devon yang sangat mengerikan.


Haruskah dirinya menyesal ?


“ Bucin lo keterlaluan Njas...” Devon berdesis, ia sudah geram dengan kejadian tadi ditambah Anjas mala melindungi gadis itu. ia sudah tak tahan untuk melesat dari drama menjijikan wanita angkuh sombong dengan hardikan tajam Dyas yang keterlaluan. Ia juga merasa malu dengan orang-orang yang melihat kearahnya.


Devon berbalik berjalan mengarah tempat Naufal berdiri. Lelaki itu memperhatikan dirnya dan kebelakang sesekali.


“ Sadis...” ucapnya. Devon mengangkat pundaknya pasrah dengan situasi dibelakang sana. yang jelas ia akan meninggalkan kantin ini secepatnya.


Dyas masih bergeming ditempatnya, ia tidak tahu harus melakukan apa. Rasa menyesal dan tak enak hati merajai dirinya hingga sulit bernafas . Bernafaspun ia ragu-ragu.


“ Lo seharusnya pergi dari sini, kecuali urat malu lo udah putus “ katanya santai,Anjas memutus tatapannya mengarah sekitarnya. Ia menunduk lagi menatap lekas wajah Dyas dengan bibir tipis dan mata tajam.


Dyas lega saat Anjas memundurkan langkahnya memutas badan meninggalkan dirinya yang masih mematung. Dyas tersentak saat Oris menarik lengannya dan  kakinya terpaksa melangkah tidak tahu Oris membawanya kemana.


Pikiran Dyas masih berada di kantin, dengan ingatan kata-katanya juga raut kecewa Anjas , serta sorot luka dimata lelaki itu.


Demi tuhan Dyas menyesal.....


Jangan lupa vote ya gaesss


Biar saya semangat 😊


Terima kasih


Yang follow langsung saya follback