DYAS

DYAS
Tatapan



Seminggu setelah kejadian malam itu, malam panjang yang tidak pernah ia lupakan. Selalu  terngiang dipikirannya, disetiap helaan dan hembusan napasnya. Ia menahan emosi , menggeram gairah, membangkitakan birahi hingga berakhir mengancam Dyas dipagi hari. Seperti pengecut memaksakan kendalinya pada gadis yang tak berdaya.


Selama itu pula ia tak menemukan Dyas dimanapun, ia tidak mencari tidak juga berusaha ingin tahu. Tapi terbiasa melihat gadis itu di kampus membuat rasa ingin tahunya membrontak untuk mengetahui apa Dyas baik-baik saja ?


Dia tidak sekeji itu, setelah memperkosa Dyas berkali-kali lalu wajar saja ia khawatir. Tapi rasa cemasnya berangsur pudar mengingat  Dyas selalu memberinya tatapan laser panas juga semburan api yang membakar di setiap kata-katanya.


Yang membuat Anjas tak abis pikir, Obsesi Dyas pada pendidikannya, setelah ia mengancam akan menyebarkan video itu dan menyeret semua gelar dan prestasi Dyas. Gadis itu langsung bungkam daripada reputasinya terancam. Apa sebegitu naifnya Dyas atau memang Dyas sama sekali tak peduli dengan harga diri.


“ Kalo lo berani ngaduin gue sama pihak kampus, lo sediri yang rugi.  Mahasiswa cerdas, rajin dan disiplin. Dikagumi dan disanjung oleh dosen-dosen itu mendesah dengan tubuh telanjang di bawah tubuh gue yang nggak keliahatan sama sekali di video ini. lo nggak takut beasiswa lo dicabut kalaupun nggak namalo tetap aja buruk dimata dosen-dosen itu “ ucapnya waktu itu penuh peringata dan ancaman.


Tapi ia akan tetap menaruh waspada pada Dyas, tidak mungkin gadis cerdas dengan harga diri setinggi langit seperti Dyas tidak meninggalkan dendam padanya. Anjas yakin akan ada waktunya Dyas memberinya buah tuai dari apa yang ia lakukan kemarin.


 Mengingat kilatan tajam mata Dyas yang seakan keluar seperti kesurupan. Seketika membuatnya bergidik ngeri.


“ Kenapa weh...” Devon sedari tadi fokus pada gamenya dengan memposisikan miring  benda pipih tepat diwajahnya  mulai merasa terusik.


“ Abis ilang perjaka dia “ ujar Naufal asal.


Anjas ternganga tak percaya, bagaimana bisa. Bahaya nih Naufal


Devon terkekeh sambil berkutat dengan game perangnya. Sedang Naufal sedang membaca buku pengerah studi fokus jurusannya.


Anjas menatap lekat bercampur heran pada Naufal, sedang yang ditatap seakan acuh tak acuh tak memperdulikan.


“ Apaan sih “ Anjas menendang dengkul Naufal memberi peringatan.


“ Jadi bener ? “ tanyanya ringan.


“ Emang lo udah hilang perjaka, sampe tahu gue abis merawanin anak orang “


Naufal kini berdecak takjub, raut wajahnya kagum dibuat-buat.


“ Lo dapet yang perawan ? “


Anjas gelagapan, namun masih bisa menggendalikan emosinya. Tapi entah kenapa ia tak dapat  menahan di bibirnya agar tak melengkung. “ Gue nggak ngerti maksud lo ? “ ucapnya berserah apapun tanggapan para sahabatnya ini.


Mendengar kata perawan, seketika ponselnya tak menarik minat lagi. Devon menatap Anjas dan Naufal bergantian. Ia sama sekali terlambat  bergabung mengenai topik hangat nan keramat ini.


“ Emang Anjas masih polos, lo jangan ngajarin yang aneh-aneh sama dia Fal “ ucap Devon serius pada Naufal yang mengeryit bingung mengarah padanya.


Sedang Anjas mengulum senyumnya tak tahan. Ia pun terdiam mendapat delikan tajam Naufal.


“ Lo nimbrung aja anjing “ gerutu Naufal.


Kali ini Devon yang ternganga tak percaya “ Lo bisa ngomong baik-baik **** “


“ Eh kalian tu sodaraan, nggak baik saling hina “ Anjas menengahi namun tidak membuat situasi mereda.


“ Diam lo “ sergah Naufal dan Devon bersamaan. 


................................


Dyas merasa suntuk sekali, Ia juga meyakini dari 32 mahasiswa di kelas ini tidak mencapai seperempat yang mengerti penjelasan seorang dosen calon Profesor yang menyampaikan materi berdasarkan lembaran demi lembaran kertas yang digenggamnya. Juga pada layar proyektor menampilkan slide ringkasan materi pelajaran. Tidak mempermasalahkan sistem pengajaran yang lamban dan monoton. Juga  tidak  berniat mengkritik dan memberi saran.


Menurutnya untuk menguasai materi agar mudah dimengerti bukan hanya bergantung pada sistem pengajaran dosen. Dosen tidak harus emberikan mahasiswa pemahaman sesuai isi buku melaikan simpulan yang mudah dimenegerti mahasiswa dan siapapun yang mendengarnya agar mudah memahami.


Yang paling menyebalkan dosen sering kali memberikan beban pada mahasiswa seolah-olah kewajiban mahasiswa untuk menyanggupi dan menuruti kehendak dosen merupakan sebuah pencapaian. Padahal tidak sedikit mahasiswa mengeluhkan betapa sulitnya untuk mengerti penjelasan yang mana mahasiswa meyakini kalau dosen tidak semampunya menguasai semua materi tersebut.


Setelah memperbanyak tugas dengan rentetan syarat untuk mendapat nilai sempurna. Dosen membiarkan mahasiswa begitu saja, sedang mereka sibuk mengejar penelitian dan memperbanyak gelar.


Cih, untuk apa penelitian dan jajaran singkatan gelar yang terpajang jika dari 32 mahasiswa dikelas tidak lebih dari 10 yang mengerti.


“ Yas, abis kelas lo kemana ? “ Oris berbisik di sampingnya.


“ Pulang “


“ Yahhh...bosen Yas   “ keluh Oris dengan lesu. Sudah seminggu ini mereka tidak kekantin kampus. Menghabiskan jam kosong di kamar Dyas. Keduanya akan membeli makanan di kedai  yang  tidak jauh dari gedung asrama Dyas dengan menu terbatas.


“ Ya udah, kalau nggak mau “


“ kamu aja yang beli, aku tunggu di simpang biasanya “ simpang yang dimaksud adalah terusan jalan yang berbelok, memisahkan area kampus menuju asrama.


“ Gue nggak mau sendirian  kekantin, lagian lo kenpa nggak ikut ?


“ Males Ris “ jawabnya lesu.  Oris memicingkan mata menatap lekat Dyas.


“ Lo males ketemu Anjas ? “


Dyas membalas tatapan Oris, dengan keryitan kening dibuat-buat.


“ Nggak “


“ Terus kenapa lo nggak mau ke kantin ? ”


“ Ngehemat “


“ Tapi gue yang bayar kali ini ? “ Cecar Oris.


“ kantin rame, males  “ Dyas entang, tak mau kalah.


Oris menghembuskan nafas kasar, Sejak kapan seorang Dyas yang disegani walaupun tak terlalu disukai menghindari keramaian.


“ Kalau lo males ketemu Anjas, dia nggak akan ngegodain lo lagi, gue jamin itu “ Oris meyakinkan Dyas yang menaikkan sepasang alisnya keatas.


“ Jadi lo belum denger ? “


Dyas menggeleng tanpa disadarinya, ia malu untuk peduli namun tetap ingin mengetahui. Ia menegang menunggu kalimat Oris selanjutnya.


“ Dari yang gue denger, Anjas jadian sama Gina “


Dyas meluruh dengan pundaknya yang menurun.


“ lo kenapa, jangan sampe lo cemburu “ Oris mengamati Dyas bagimanapun sahabatnya itu pernah dikejar-kejar Anjas, lelaki yang diminati gadis kampus yang kini ramai dibicarakan berpacaran dengan mahasiswa tercantik di fakultasnya. “ nggak lucu yas, kalo lo cemburu.. “


“ Nggak “ ucapnya cepat “ aku nggak cemburu “


“ Ya udah kalo gitu kita ke kantin “


“ Males “


“ DYAS “ jerit Oris putus asa.


..................................................................................................................................................................


Tak mau di cecar abis-abisan oleh Oris, yang menggapanya menjauhi kantin dikarenakan takut bertemu Anjas. Dyas pun akhirny menyeret kakinya ke kantin kampus yang ramai oleh mahasiswa memuaskan perut di jam istirahat.


Di kantin, tidak ada yang memperhatikannya. Semua sibuk dengan aktivitasnya masing-masing menikmati sajianya atau bersandau gurau dengan pasangan atau teman dengan makanan yang terhidang.


Oris dan Dyas sampai pada kedai yang di inginkan Oris yaitu kedai salad. Setelah memesan dan membayar, keduanya duduk menunggu hingga pesanan selesai dan beranjak pergi.


Saat berbalik, Dyas terpaku bak patung kala matanya bersitatap dengan manik hitam pekat yang memandangnya tak jauh dari tempatnya berdiri. Sepasang mata yang mengingatkannya pada kejadian malam seminggu yang lalu. Mata itu sempat berada tepaat di wajahnya saat itu.


 


“ Yas, lo nggak papa ? “ sontak ia tersadar, dan memutus tatapannya.


“ Ayo Ris “ ucapnya cepat dengan langkah setengah berlari menjauhi kantin. Seperti dikejar-kejar seseorang Dyas yang dirinya saja tak mengerti mengapa tubunya refleks bergerak tak terkendali. Ia mengatur nafasnya seraya membungkuk.


“ Yas, lo kenapa “ suara Oris menyusul dibelakangnya.


“ Dehidrasi “ jawabnya pelan, masih mengatur jeda aliran udara.


“ Nih minum “ Oris menyodorkan botol minum berisikan air putih. Sontak ia melirik Oris bergantian dengan botol minum yang digenggamnya.


Botol yang mengingatkannya pada kemasan botol yang sama ketika berada di mobil Anjas.