
Sudah seminggu sejak kejadian mencekam dikantin. Namun kilatan tatapan tajam orang-orang masih mengikuti setiap jengkal langkah dan gerak Dyas di kampus maupun asrama.
Walaupun, itu tidak menghasilkan suara yang menyindir atau menyakiti perasaanya, namun Dyas yang merasa terusik karena aura sekitarnya cukup mengintimidasi.
Orang-orang sangat menyayangkann tikaman Dyas pada Anjas hari itu, entah karena memang mereka memiliki dendam pribadi padanya atau membela Anjas yang tampan adalah sebuah keharusan tanpa peduli siapapun lelaki itu.
Dyas akui ia salah, ia keterlaluan, kata-katanya yang singkat namun mematikan mampu membungkam siapapun yang mendegarnya terperangah tak percaya dan Dyas sukses menikam sasaran tepat dihadapannya.
Mengingat raut pasi Anjas hari itu, Dyas menelan ludah kasar. Ia melarikan netranya ke jendela yang menembus halaman taman yang ramai.
Saat ini Dyas duduk di sudut meja perpustakaan menjauhi tatapan orang-orang yang mampu membelah dan mencabik tubuhnya. sungguh Dyas tidak peduli, ia sudah kebal dengan tatapan itu.
Hanya saja untuk kali ini Dyas risih.
“ Yas, jadikan abis ini lo nemenin gue audisi “ suara cempreng itu menghamburkan pikirannya. Dyas menoleh pada Oris yang sejak tadi lebih tertarik mendengarkan musik melalui sambungan Airphonennya.
“ Jadi, aku nggak perlu balik asrama kan ? “
“ Nggak usah, baju ini aja..... gue juga nggak ganti “ jawabnya. Oris memandang penampilannya tersenyum.
Ya, hari ini Oris akan mengikuti audisi menjadi Disk-Jokey di salah satu stasiun Radio swasta terbesar di ibu kota. Oris adalah gadis manis, berpenampilan feminim mengikuti usianya juga selalu tampil percaya diri dengan suaranya yang khas.
Dyas yakin dengan kemampuan Oris. Anak itu sangat mudah bergaul pada siapapun juga wawasan dunia hiburannya luas tak terjangkau.
“ Semangat ya, Ris “ ucap Dyas dengan nada riang.
“ Yup, pokoknya gaji pertamanya kita habisin berdua “ Oris mendekatkan bibirnya di telinga Dyas. Dyas yang geli menoyor kepala sahabatnya itu pelan dengan buku. Oris menjauh, matanya memicing tak suka.
“ Audisi aja dulu “ cibir Dyas geli. Oris mencebik, bibir bawahnya menebal.
“ Yas, si Anjas sejak kejadian itu nggak lagi nanyain lo “ ujar Oris memandang lekat wajah Dyas “ teruss , dia kalo ketemu gue suka melengos , padahal kemarin ngejer-ngejer gue untuk nanyai lo doang “
Dyas langsung memfokuskan kembali pada bukunya, hatinya mendadak nyeri. Ia menelan ludah pelan. ‘Haruskah aku minta maaf ‘ atau ‘ mungkin saja Anjas tidak tahu apapun tentang segala tuduhan dikepala Dyas pada lelaki itu.
“ Aku nggak peduli Ris “ uacapnya berusaha santai “ yuk, aku sudah selesai, kita langsung ke studionnya “ Dyas mengalihkan pembicaraan mengajak Oris keluar perpustakaan dengan tatapan lekat tak suka di sekelilingnya.
“ Ya ampun, gue deg-degan “ ujar Oris menekan suaranya, tubuhnya meliuk-liuk.
Dyas terkekeh melihat Oris menguncang tubuhnya sendiri bak cacing kepanasan.
.............................................................................................
Audisi berjalan lancar, Dyas dengan sabar menemani Oris menunggu hingga nama gadis itu terpanggil. Keduanya berpelukan lega, Oris mengatakan dengan percaya diri ia yakin dengan usahanya dan menerima apapun hasilnya nanti.
Saat ini mereka sedang bersantai di sebuah kafe dikawasan tak jauh dari stasiun Radio. Kafe ini didominasi interior kayu kuning, dengan lighting dalam ruangan yang cukup terang menambah kesan sederhana namun elegan dengan dinding kaca yang terbuka menampilkan tumbuhan hijau yang asri.
Sangat menyejukkan tahu akan nongkrong disini Dyas akan membawa buku untuk meresapinya.
Kafe ini juga cukup ramai oleh muda-mudi dengan penampilan kekinian, dihalaman depan Kafe juga padat kendaraan beroda empat. Dyas dan Oris sebenarnya tidak terlalu sering menghabiskan waktu apalagi uang ditempat seperti ini. Namun, keduanya sepakat untuk mampir ketempat ini setelah rengekan dan kerlingan manja Oris yang mampu mengoyahkan keengganan Dyas.
Dyas dan Oris menikmati masing-masing pesananya. Dyas yang tak menyukai kopi memilih Caramel High Rise, ia juga meminta ditambahkan sedikit cokelat dalam minumannya itu dan Chocolate Muffin sebagai santapan. Sedangkan, Oris menikmati lahap Blueberry Cheesecake dan sesekali menyesap Vanilla White Mocha menu terbaru yang menjadi alasan Oris membujuknya mampir kesini.
“Astaga!“ Oris menekan suaranya, memajukan wajahnya mendekat kehadapan Dyas yang memicing “ lo jangan noleh kebelakang “.
Dyas yang bingung, bukannya mengindahkan ia malah refleks memutar lehernya kesamping kanan. Untuk sesaat netranya terpaku oleh sorot tajam mata elang yang membidiknya di seberang sana. Dyas langsung memutus tatapan itu kembali menghadap Oris yang menggaruk tengkuk salah tingkah.
“ Gue kan dah bilang “ Oris menipiskan bibirnya meraih sedotan Milk Shake dengan gemas.
“ Diam Ris ah...” Dyas yang tak nyaman dengan situasi saat ini mendadak kehilangan selera makan.
Dyas masih merasakan tatapan itu semakin mendekat, hingga menggapai ke belakang lehernya begitu dingin seperti tersapu angin. Dyas tak nyaman.
“ Kenapa sih Yas , lo benci banget sama tu anak “ Oris berkata pelan, geraknya juga ia samarkan seolah-olah membicarakan hal yang berbeda. Ia tidak ingin ketahuan ataupun terlihat sedang membicarakan sasaran di seberang sana.
Dyas menimang untuk menjawab, tatapannya berganti antara susu cokelat dan gadis dihadapannya. Ia menelan ludah pela, lalu mengeleng kecil. Dyas mendadak kaku, ia merasa serba salah bagaimana menggerakkan tubuhnya dengan benar dengan pengawasan orang dibelakangnya.
Oris yang menyadari kegugupan Dyas, kedua alisnya menukik ke atas. Ini aneh pikirnya seorang Dyas yang elegan dan bersahaja bisa terdiam tak bergeming oleh hal yang sepele. Kejadian seminggu yang lalu sudah usai, walau orang-orang kampus masih saja membahasnya jika Dyas terlihat atau memberikan tatapan sinis yang lebih dirasakan Oris ketika berjalan sendirian. Kedekatannya dengan Dyas membawanya merasakan hal yang sama walau tidak terlibat.
“ Ada saatnya gue cerita Ris, tapi nanti ya “ ujarnya setelah berpikir keras untuk mengatakan. Oris mendesah lalu mengangguk mengerti. Oris sangat mengerti Dyas, ia tidak akan memaksa sahabatnya itu untuk kepuasan dari rasa ingin tahunya. Namun Oris sangat prihatin jika Dyas mendapat ketidaksukaan orang-orang karena mereka tidak mengetahui apa terjadi pada Dyas yang sebenarnya.
“ Lo nggak nyeselkan datang kesini ? “ tanya Oris mengalikan pembahasan. Dyas tersenyum tipis, ia menyesap minumannya.
“ Wort it “ ujarnya santai. Menggeleng-geleng kecil.
“ Kalau gue keterima, kita bakal sering kesini “
“ Semoga deh, tapi kedepannya aku mau fokus ke les bahasa Jermanku Ris “ Dyas menyunggig senyum lebar “ sesekali boleh, tapi aku lebih suka kita nonton dirumah kamu atau belajar bareng Talu “
Oris tersenyum mengerti, mengganguk antusias. Jujur saja Oris bahagia sahabatnya memfokuskan lebh giat untuk meraih cita-cita yang Dyas inginkan sedari dulu. Dengan langkah awal Dyas harus mengejar beasiswa.
“ Gue dukung Yas, semangat “ katanya dengan muka condong kedepan dengan mata membulat lucu.
........................................................................
Setelah Oris meyakinkan jika Anjas sudah pulang karena enyah dari pemandangan, kemungkinan sudah pergi dari Kafe tempat mereka menghabiskan hari sorenya.
Dyas dan Oris pun melangkah keluar karena gelap sudah merajai langit sepenuhnya. Dyas tidak boleh terlambat pulang ke asrama, ia akan mendapat teguran atau sanksi jika melanggar peraturan.
“ Lo nginep di tempat gue aja, kalau udah nggak boleh masuk lagi “ tawar Oris dengan sungguh-sungguh. Wajahnya bahkan terlihat sekali cemas berlebihan.
“ Ini baru abis adzan Magrib Ris, aku bisa naik Gojek “ katanya sembari mengeluarkan benda pipih yang dicari, lalu membuka aplikasi transportasi online. Sedangkan Oris, sedang menunggu jemputan Mamanya, tante Diana.
“ Iya kalau langsung dapet, kalau macet gimana ? “
Namun setengah jam kemudian, Gojek yang ditunggu belum datang. Bahkan Oris bersihkeras menungguinya, dengan tante Diana yang pengertian menuggu Oris didalam mobil. Dyas merasa tak enak hati walau berkali-kali mengatakan ia bisa menunggu sendirian atau sesekali berbohong ‘ Gojeknya udah nggak jauh nih, aku nunggu sendirian nggak papa ‘ katanya dengan nada ringan dibuat-buat.
Rumah Oris jauh dari kampus, arahnya pun berlawanan. Melihat suasana di ibu kota pasti dilanda macet total karena jam pulang kerja.
“ Mau pulang Yas ? “
Keduanya menoleh pada sumber suara berat dari samping tubuh Oris. Baik Dyas dan Oris terpaku sesaat tidak menyangka jika Anjas belum pulang. Bahkan saat lelaki itu sudah dihadapan keduanya pun masih belum sadar.
Dyas yang risau menekan emosi karena pesanannya belum kunjung datang, menjilat bibirnya basah. Oris yang tampak bingung melarikan tatapannya pada Dyas dan kembali melirik Anjas.
“ Iya, Gojeknya udah nggak jauh “ Oris berseloroh santai padahal dirinya sendiri tidak tahu dimana posisis pesanan Dyas.
Oris tahu Dyas tidak akan menanggapi Anjas, daripada keduanya membuat keributan seperti tempo hari, mending Oris saja pasang badan menengahi.
“ Jalan kota macet banget, kalau nunggui gojek untuk melewati jalur ini berarti harus nerobos tol “ Anjas menunjuk jalan raya yang padat dengan dagunya “ itu pelanggaran “ katanya dengan nada mengejek.
Dyas kembali membuka aplikasi di Handphonenya. Mendadak ia kesal, mengutuk benda pipih itu yang panas di telapak tangannya yang basah dan layar mendadak sulit digerakkan. Parahnya daya handphonenya sekarat, nyaris habis.
Ia hembuskan nafas kasar, mengigit bibir bawahnya menahan emosi. Karena menekan benda pipih itu atau membantingnya tidaklah dapat menyelesaikan masalah.
Semua pergerakannya tidak lepas dari tatapan Anjas yang datar, dan Oris yang mengetahui hal itu mendadak cemas karena kabar buruknya Handphone dirinya sendiri mati total.
“ Gimana ? “
“ Apanya “ Dyas membeo tak sadar dengan ucapannya sendiri.
“ Gue anter “
Dyas terdiam sejenak, padangannya lari pada mobil yang didalamnya ada mama Oris menunggu. Ia tidak enak hati dan merasa sangat menyusahkan apabila menunggu setengah jam lagi sedangkan tante Diana yang sudah ia anggap seperti Mamanya sendiri sudah tiba sejam yang lalu.
Tapi menerima tawaran Anjas bukanlah pilhan yanng tepat, tidak sama sekali
“ Nggak usah, udah “
“ Aku ikut kamu ! “ Ucap Dyas cepat. Oris yang kaget menoleh kesamping begitu juga Dyas melihat raut terkejut Oris.
“ Lo yakin ? “
“ Udah kamu pulang, tante udah nunggu dari tadi aku nggak enak “ Dyas mengaitkan jemarinya pada lengan Oris, ia menuntun gadis itu menuju mobil dimana mamanya berada.
“ Tapi Yas, dia “
“ Udah deh, ah “
Kaca kemudi mobil perlahan turun saat keduanya mendekat, Oris berjalan memutari kepala mobil.
“ Malam tante “ Dyas tersenyum hangat, mencongkan tubuhnya menyambut tangan Tante Diana untuk bersalaman.
Semua interaksi dan pergerakan Dyas tak luput dari tatapan datar Anjas yang berdiri tak jauh dari mobil yang dimasukki teman gadis itu. Sampai mobil itu berjalan menjauh mengikuti rombongannya Dyas masih berdiri diam.
Anjas melangkah maju mendekat Dyas yang langug memutar tubuh, kini keduanya berhadapan dipisahkan jarak setegah meter. Dyas membasahi bibirnya yang mendadak kering sebelum tatapannya mengarah pada Anjas yang sedari tadi memperhatikannya.
“ Jadikan ? “
“ iya “ jawab Dyas singkat, tidak tahu harus menjawab apa lagi.
Dyas berjalan di belakang Anjas yang mendahuluinya menuju mobil lelaki itu terparkir. Anjas meliriknya sekilas setelah mobil itu nyaring bersuara dengan kerlipan lampu menyala.
Anjas berjalan mantap mendekati mobilnya. Sedangkan Dyas penuh keraguan di setiap langkah yang perlahan namun kini sudah di depan pintu mobil siap membuka. Ia menelan ludah kasar meyakinkan jika keputusannya benar untuk menumpang pada lelaki yang sudah dipermalukannya di khalayak ramai seminggu yang lalu.
Mungkin ini awal yang tepat untuk meminta maaf dan menyelesaikan semua tanpa salah paham.
Tanpa sadar ia telah duduk, setelah menutup kembali pintu mobil dan mengenakan sabuk pengaman dengan perlahan.
Cahaya mobil makin terang dijalanan yang macet, pertanda hari sudah sangat gelap satu jam lagi menuju akhir pembatasan waktu penutupan asrama. Mendadak Dyas memohon pada pengemudi untuk lebih cepat di tengah jalan yang macet ini walau hanya dalam hati.
Entah, Anjas memang tidak terbiasa berkendara sambil mendengarkan musik atau memang lelaki itu memang tidak berniat sama sekali memecah keheningan dengan suara apapun. Dan Dyas yang merasa kesal sendiri karena tangannya kosong tanpa menggengam apapun. Sangat konyol memainkan Handphone mati pikirnya. Pandagannya fokus ke depan tak sekalipun ia melirik bahkan ia enggan merasakan aura pergerakkan ditangannya.
“ Kalau haus lo bisa minum “ akhirnya suara berat namun serak itu terdengar, Dyas tersentak cepat menoleh pada Anjas fokus kedepan. lalu tatapannya jatuh pada air mineral ditengah-tengah mereka. Ia bahkan tak menyadari ada botol minum didekatnya.
“ Ya, terima kasih “ Ucapnya ringan. Selain bibirnya yang kering sejak tadi, Dyas memang kehausan. Dyas juga tidak ingin Anjas merasa ia abai dengan kebaikan yang ditawarkan lelaki itu. Ia harus minta maaf pikirnya.
Dyas meraih botol minum, ia memutar tutup botol dengan mudah lalu menegak setengah isinya. Tenggorokannya terasa dingin saat air bening itu mengalir menuntaskan dahaganya yang kering. Tanpa mengebalikannya ke tempat semula, ia genggam botol minum itu seolah sudah jadi miliknya.
Dyas kembali fokus ke depan, mobil berhenti karena lampu merah. Ia bisa merasakan Anjas menatapnya kian dalam membuatnya tak nyaman. Pergerakannya makin membuatnya makin serba salah, setelah menandaskan setengah botol air ke dalam mulutnya tubuhnya, kesegarannya hanya sesaat setelahnya tubuhnya mendadak panas semakin membakar setelah hawa dingin Ac menerpa kulitnya.
Dyas mengigit bibir bawahnya kuat, kala semua sel tubuhnya mendadak meremang hidup. Ia merapatkan pahanya. Mendadak jemari kakinya menekuk membesar tidak pas dari flat shoesnya.
Tak peduli bibirnya akan terluka, Dyas meremas ujung botol hingga menimbulkan suara saat gelenyar panas mengalir keseluruh sel darahnya lalu berpusat pada are pribadinya. Tidak mungkin ia dehidrasi pikirnya mencoba menjernikan pikiran.
Anjas yang merasakan pergerakan gelisah disampingnya hanya menatap. Saat jalanan lenggang ia melajukan mobilnya makin cepat.
“ Bisakah kita “ Dyas susah payah dengan ucapannya, ia mendesis sesekali mengeratkan genggamannya pada botol “ berhenti....emm....aku butuh toilet “ rintihnya menahan sesuatu yang dirinya sendiri tak mengerti.
Anjas makin cepat memotong, menyalip bahkan menikung kendaraan lain untuk memuaskan kemauannya sendiri. Ia tidak mendegar permohonan mendesah Dyas yang terlihat kesakitan.
“ Pleaseee “ Dyas sudah melantur dengan ucapnnya sendiri, kalau gadis itu sadar mana mungkin seorang Dyas memohon. Anjas hanya meliriknya sekilas tanpa menaruh rasa prihatin atau kasihan yang bia butuhkan saat ini melaju cepar agar bisa sampai ke tujuan.
Part selanjutnya adegan 21+ mohon jangan report ya 🙏
Yang follow akun saya, saya follback langsung 😊