DYAS

DYAS
Waspada



Sudah dua jam lebih Dyas menelungkup di atas ranjang kecil di dalam asramanya. Kepalanya menyamping memandang kosong pada dinding putih polos. Matanya yang sayu masih bengkak dan merah. Ia telah membersihkan tubuhnya saat tiba di huniaanya beberapa saat lalu. Berganti baju santai dan traning tebal untuk menghangatkan tubuhnya.


Setelah berhasil keluar dari tempat terkutuk, tempatnya menginap semalam tanpa membersihkan tubuhnya sedikitpun walaupun pemilik apartemen menawarinya berulang kali bahkan mencegahnya pergi. Dyas langsung melesat keluar setelah sumpah serapahanya berhasil menGantam kekokohan Anjas yang mengahalang.


“ oke –oke .....lo boleh ngatain gue sehina apapun “  Anjas menelungkup di samping tubuhnya, seperti tidak ada urat malu, Ajas mempertontonkan tubuhnya yang polos.“ tapi gue nggak akan biarin lo keluar dengan keadaan lo kaya gini, Dyas !“ .


Seusai Anjas kembali memperkosanya dengan segala bujuk rayu dan perlakuan manisnya ditengah sumpah-serapah  yang terlontar di bibir Dyas. akhirnya Dyas mendesah juga, mengikuti arus permainan biadab Anjas. tubuhnya tidak bisa menolak dan gairahnya tak bisa mengelak dari setiap cumbuan lembut dan hangat yang Anjas lekatkan pada tubuhnya.


Anjas sudah merasa berkepala besar, sukses menghancurkan pertahanan Dyas. dengan membuat gadis itu mendesah, mengerang dan memohon dibawahnya dengan keadaan gadis itu sadar.


“ Aku harus keluar, kelakuan setan dan biadab kamu nggak akan aku bilang dengan siapapun “


“ Tapi tetap aja lo nggak boleh keluar sekarang  “ jawab Anjas santai. Namun Dyas mulai tersulut emosi, merapatkan kedua bibirnya dan memejamkan mata manahan napas. Mau tak mau ia menolehkan wajahnya menatap Anjas. tak memperdulikan tubuh polosnya yang terpampang.


“ sebenarnya apa mau kamu ?  “


“ harusnya gue yang ngomong gitu ? “


“ Setelah memperkosaku dan merekam aksi biadabmu ? kamu memberiku permintaan ? “


“ Suka sama suka  “ Anjas mengejek Dyas yang menahan emosinya. Dan ia sangat menikmatinya.


“  Kalian satu keluarga emang keuturunan setan  “ sembur Dyas tajam.


Anjas terkekeh, lalu sejenak  mengatur tempratur nafasnya karena setiap mendengar penghinaan dan cacian Dyas, nafasnya seriing kali tersedat bahkan terasa sesak.


“ Dyas,  gue nggak tahu apa yang membuat lo dendam banget sama keluarga gue, tapi gue yakin lo bukan orang yang berpikir dan ngomong sembarangan “ jelasnya dengan nafas tertahan “ tapi gue yakin juga kalo ada sesuatu yang bikin lo salah paham “


“ Soal bapak kamu yang koruptor ? diakan korupsi “ ucapnya tenang, namun menantang.


Dengan lunglai Anjas bangun, melihat Dyas yang menganggap enteng dengan kalimat yang keluar dari bibirnya. Sekelabat rasa kasihan pada gadis itu hilang begitu saja.


“ Bokap gue nggak korupsi, dia cuma jadi kambing hitam “ lirihnya berat “ dia dituduh, bokap gue nggak korupsi “  menelan ludahnya pelan yang terasa sakit ditenggorokan.


Kemendungan dan pemberontakkan disetiap raut muka yang menampilkan rasa sakit dan perih tercipta begitu jelas pada sosok tinggi menjulang dihadapannya dengan mata menahan amarah. Dyas tidak menyesal atas perkataan tajam dari bibirnya, tidak juga merasa bersalah membuat sosok itu terluka.


Dyas hanya terdiam, merasa prihatin tidak lebih.


“ Lo boleh keluar sekarang “  Anjas membuka borgol dengan kunci yang di ambil dari laci nakas.  kemudian berlalu pergi meninggalkannya seorang diri.


Mata Dyas mengerling mewakili respon tubuhnya yang merasakan  getaran benda pipih tertindih di bawah lengannya. Dyas menggeser tombol hijau,  menampilkan wajah serius Oris di layar ponselnya.


 “ Dyas, kenapa lo nggak kasih tahu gue  “ ujar Oris , bibirnya yang merah mengisi penuh layar ponsel.


“ Kok lo ngga ngasih tau gue kalo hari ini ada seminar akbar, dosen pada nggak masuk “


Dyas menghembuskan nafas lega.


“ Kalo lo berani ngaduin gue sama pihak kampus, lo sediri yang rugi.  Mahasiswa cerdas, rajin dan disiplin. Dikagumi dan disanjung oleh dosen-dosen itu mendesah dengan tubuh telanjang di bawah tubuh gue yang nggak keliahatan sama sekali di video ini. lo nggak takut beasiswa lo dicabut kalaupun nggak namalo tetap aja buruk dimata dosen-dosen itu “


Ancaman Anjas masih terngiang di ingatannya, seketika membuat matanya perih.  Nafasnya kembali tersenggal.


“ Dyas  “ suara melengking dari poselnya membawa kesadarnnya kembali.


“ A-apa “ ucapnya gagap.


“ hah...apasih, lo kenapa nggak dateng “


 “ Aku juga nggak tahu, Ris “ akunya jujur, benar-benar tak mengetahui hal apapun penyebab batalnya perkuliahan kelasnya hari ini. biasanya Dyas selalu mengetahui setiap acara yang akan diselenggarakan kampus karena ia tinggal di lingkungan tempatnya menuntut ilmu.


“ Lo kenapa  ? eh lo nggak papa   ?  semalam Anjas masih godain lo ? “ pertanyaan bertubi-tubi Oris mebuat Dyas makin pucat pasi.


“ Gue nggak enak badan, lo kesini aja ya “  lirihnya pelan.


“ Emang gue mau ketempat lo, tapi gue beli makanan dulu oke “


“ titip roti sosis, aku belum sarapan “


Setengah jam menunggu, Oris datang dengan dua kantong plastik penuh makanan dan minuman. Sahabatnya itu sudah tak asing keluar masuk asrama tempat Dyas tinggal, kedunya sering menghabiskan waktu di kamar Dyas selagi menunggu jadwal kelas berikutnya. Seperti belajar, makan bahkan tidur.


Setelah berbincang-bincang dengan Oris. Dengan topik pembicaraan mengenai dirinya yang mendapat tawaran pulang bersama Anjas semalam. Sebisa mungkin Dyas menjawab seperti biasanya ,dingin seakan tak peduli dengan lelaki yang beberapa jam lalu melakukan hal  bejat, biadab dan menjijikan kepada dirinya.


Beranjak siang hari, lelah bersandau gurau hingga semua makanan yang Oris bawa tandas tak bersisa. Dyas mengantar Oris keluar kampus untuk menemui pesanan Gocar yang akan mengatar sahabatnya itu menuju rumahnya.


Setelahnya, Dyas juga memesan Gojek yang akan mengatarnya ke apotik yang menurutnya paling aman untuk membeli Obat pencegah kehamilan. Ia tidak ingin mengambil resiko apabila ada orang yang melihat, mengenalinya atau hal apapun yang dapat merugikannya. 


Anjas



Dyas