DYAS

DYAS
First Kiss (17+)



Dyas hampir melompat setelah pintu mobil ia buka. Gadis itu tidak sadar kapan melepas sabuk pengaman yang membelit dadanya begitu kencang membuatnya mendadak gerah dan sesak bersamaan.


Satu tangan mengepal dengan kuku tajam menusuk telapak. Sedangkan tangan kirinya mencengkram tas dengan asal. Matanya melotot bergerak membuat aliran darah mengalir ke inti kepala membuatnya pening seketika. Ia menggeleng tidak percaya dengan mengeluarkan nafas dari mulutnya yang terbuka.


Ruang bawah tanah dengan cahaya lampu ditempat tertentu, disekelilingnya dipenuhi berbagai jenis mobil. Otaknya tidak mampu bekerja dengan benar, dehidrasi tidak hanya membuatnya kehilangan cairan tubuh, kehilangan akal sehat mendadak juga bisa, pikirnya asal.


Memutar leher untuk memastikan keberadaanya ia malah terkejut dengan sosok tubuh menjulang, mata tajam dengan wajah datar berjalan mendekat kehadapannya. Dyas mengerjabkan mata mulai berpikir namun tidak terkendali oleh hawa panas tubuhnya dengan segala tekanan di **** ***** membuatnya menggeleng menghempaskan pikirannya yang semakin diluar jangkaun.


" Ini dimana ? " dengan suara nyaris mendesis tak seirama dengan kata-katanya.


Dyas masih mempertahakankan akal sehatnya yang ia sendiri pertanyakan ada dimana saat seluruh tubuhnya tidak dapat menahan gelenyar aneh membakar setiap sel dan sendinya hingga Dyas sendiri bingung apa dengan terjadi pada dirinya saat ini.


" Basement " jawabnya ringan. Anjas mencetak senyum miring mengamati reaksi tubuh Dyas sejak diperjalanan tadi. Gadis secerdas Dyas dengan segala kesombongannya mendadak bodoh dan naif. Bagaimana mungkin Dyas tidak mempertanyakan botol minum dengan segel terbuka yang Anjas masukkan obat perangsang dengan sengaja. Cerobohnya Dyas menandaskan isinya setara dengan setengah dosis obat yang cukup tinggi.


" Kamu... " Dyas sekuat tenaga menormalkan tubuhya. Udara malam yang dingin juga aura basemant yang sunyi dan terbuka membuat tubuhnya kian panas dan sesak.


" Ini dimana ? " memastikan sekali lagi dimana dirinya berada.


" Apartemen gue "


" Jadi...kamu " Dyas merapatkan bibirnya kuat dengan kedua matanya terpejam seakan tak percaya jika laki-laki ini telah salah membawanya ke tujuan.


Memicingkan kedua matanya, Anjas mengingit ujung bibir bawanya. Melihat reaksi Dyas yang telalu geram dengan situasi dirinya sendiri juga memperhatikan bagaimana Dyas masih mempertahankan harga diri gadis itu atau memang Dyas polos buta sama sekali dengan kondisi tubuhnya saat ini.


" Kamu nggak papa " dengan suara seraknya berbasa-basi bodoh.


Dyas yang mendengar refleks memeluk tubuhnya sendiri. Gadis itu kini bersandar pada samping tubuh mobilnya yang Anjas yakini Dyas sama sekali tak menyadari gerak tubuh gadis itu menggeliat dan melengkung seperti ulat.


Menggeleng gelisah, Dyas semakin meraptkan kedua kakinya menekan tubuhnya semakin kuat menempel pada benda padat dibelakang. ia bisa merasakan aura panas lainnya tepat dihadapannya menimbulkan reaksi aktif setiap inci tubuhnya yang seketika meremang.


Mencoba membuka mata dengan mengingit bibirnya makin kuat. Dyas menelan ludah kasar saat wajah yang dikenalinya menatapnya datar, namun ia mencoba berpikir keras siapa pemilik pahatan sempurnya ynag merunduk menyamai tubuhnya kini. Ujung hidungnya hampir bersentuhan dengan ujung hidung mancung itu, tatapanya terkunci sesaat pada sepasang bola mata hitam pekat yang menatapnya tajam dirinya, selaras dengan alisnya yang tebal. Tatapan menurun beralih pada bibir merah, bagian bawahnya sedikit tebal. Tanpa sadar Dyas melepas gigitan pada bibirnya sendiri dan menelan ludah perlahan.


Dengan matanya yang kian sayu. Perlahan kepalanya mendekat maju, bibirnya menggapai benda kenyal, lebut dan tebal tadi. ia hanya menempelkan saja tanpa melakukan pergerakan cukup lama merasakan kelembutan dan rasa nyaman sesaat. Hanya sesaat karena reaksi bagian lain tubuhnya kian sesak.


Ada rasa penasaran yang kian mendalam yang membuat tubuhnya makin menjadi. Menjadi ingin didekati dan disentuh saat ini yang mampu memberinya rasa sejuk dan nyaman. Itulah


Tatapan kedunya bertemu dengan bibir masih menempel satu sama lain. Anjas yang merasakan degub jantunng berdetak tidak teratur, tak percaya Dyas mencium bibirnya lebih dulu walaupun laki-laki itu tahu penyebab gadis itu memulainya.


" Dyas " dengan berat ia menyebut nama gadis dihadapannya.


Dyas mendesah saat sapuan sejuk mengenai bibirnya, dari pergerakkan bibir yang berkata sesuatu namun tak terlalu jelas ditelinganya.


Anjas menelan ludah kering, ia mengamati paras cantik yang merintih dibawah kukungannya kini, dengan tubuh mungil menempel kuat pada mobilnya. Wajah kecil Dyas yang hanya terpisahkan oleh ujung hidungnya dan ujung hidung mancung milik gadis itu. kedua matanya bulat dengan bola mata yang selalu menggerling lembut, alisnya tidak terlalu tebal namun berbentuk, juga bibirnya berwarna merah cerah tebal di bawah kalau diperhatikan kiat dekat gadis dihadapnnya ini tidak bisa menutup kedua bibirnya rapat, Dyas memiliki dua gigi kelinci sedikit maju. Dyas juga memiliki titik cokelat di bawah mata kiri dan rahangnya sebagai penghias wajah putih dan mulusnya. Terlihat sangat unik dan menggemaskan.


" uhmmp " desah Dyas halus, makin merapatkan tubuhnya ke belakang. Tubuhnya kian sesak karena tubuh besar dan berat dihadapnnya kini makin menghimpitnya.


Yang tidak disadari Anjas tubuhnya yang kian menempel tanpa ada jarak sedikitpun makin menyiksa gadis dihadapannya. yang tentu saja mengaktifkan gairahnya sebagai laki-laki normal. Ia mengamati sekali lagi wajah mendesah, merintih dan memohon diadapnnya. Entahlah apa yang perlu dipastikan seorang Anjas untuk melakukan hal yang sudah ia rencanakan sedari awal.


Tanpa menutup mata untuk menyakisikan reaksi wajah Dyas, Anjas memajukan bibirnya menyentuh lebih bibir Dyas. Ia menyapu dengan lembut benda kenyal dan dingin itu, sesekali lidahnya menjalar berusaha masuk lebih dalam. Dyas langsung memejamkan matanya merasakan kenyamanan dan kelembutan hanya terpaku pasrah. Tanpa sedikitpun membuat jarak pada bibir Anjas membuka mata, mengamati wajah dihadapnnya. Kini, Anjas mengerti Dyas tak memiliki pengalaman sedikitpun tentang berciuman, ini pasti yang pertama untuk gadis polos dihadapannya ini.


..............................................................


Sangat dibutuhkan tenaga ekstra untuk menuju apartemennya diantai 8, untuk apartemen ini sedikit sepi karena mayoritas pengghuninya rata-rata pekerja keras jarang berada di hunian melainkan banyak melakukan aktivitas di luar. Masalah kamera standar keamanan ia bisa mengatasinya besok dengan yang bersangkutan, Anjas cukup mengenal dekat para Staf keamanan di lingkungan apartemennya.


Setelah melemparkan tubuh Dyas pada ranjangnya, hingga gadis itu kaget menerima gunjangan tubuhnya pada ranjang yang naik turun.


Anjas meyalakan dan mengatur suhu pendingin ruangan, lalu berjalan tanpa menoleh kebelakang meninggalkan kamarnnya menuju dapur yang gelap. Ia menekan saklar lampu, dapur menjadi terang ia mendekati lemari es membukanya dan menemukan botol minum. Menendaskan setengah isinya dengan terburu-buru membuat bajunya basah.


Sejenak ia terdiam dengan nafas memburu mencoba menormalkan debar dadanya, kepalanya terangkat menatap pintu kamarnya ynag terbuka, dimana ada seorang gadis yang dibencinya setengah mati kemarin yang tadi sore ia bawa lari, hingga malam ini sudah tampak menggenaskan di ranjangnya.


Menaruh botol minum di atas meja, langkahnya perlahan menuju pada kamar yang tak lepas dari tatapannya. Entahlah sejak di basemant membopong tubuh Dyas hingga mampu ia bawa ke dalam apartemennya terbesit keraguan dengan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Ia merasa tak yakin mampu melakukan itu pada Dyas, walapun gadis itu sangat dibencinya. Gadis terkutuk yang mengulik dan menguliti tajam tentang keluarganya.


Langkahnya berhenti, untuk memutuskan apakahh dirinya akan berpaling ke kiri untuk melirik kamar dengan pintu yang tebuka lebar disampingnya kini, dengan gadis di atas ranjangnya. Atau ia akan tetap pada padanggannya lurus tanpa menoleh atau berbelok.


Mendengar gemeresak suara ranjang yang merasa di obrak-abrik juga suara rintihan dan desahan halus gadis itu terdengar jelas ditelinganya.


Mau tak mau Anjas berpaling ke samping, jakunya naik turun melihat pemadangan yang membuatnya memejamkan mata untuk menyesali perbuatannya tadi memberikan obat perangsang pada tubuh polos Dyas. Tubuhnya tidak polos hanya saja Dyaslah yang tak mmapu merealisasikan keadaannya kini.


" Dyas " ujarnya dengan serak, dengan langkah berani mendekat.


Gadis itu mungkin tidak tahu apa yang terjadi pada tubuhya, hingga Dyas nekat membuka pakaian atasnya yang menyisakan bra hitam yang sudah turun kebawah karena penggaitnya sudah di lepas.


Kedua tangannya dengan terburu-buru melesak kebawah meraih bagian atas celana jinsya mencoba membuka pengait. Karena tubuhnya yang membungkung terlalu kebawah akhinrnya perutnya membusung kedepan sehingga kancing celana seperti membutuhkan tenaga besar.


" Dyas...udah " ujarnya lagi menyentuh pundak terbuka Dyas yang hanya ditutupi helaian Rmabut yang menjutai. Gadis itu tersentak menerima sentuhan dari tangan hangat dipundaknya. Dyas mengangkat wajahnya hinggat tatapan matanya bertemu dengan mata tajam dengan wajah sempurna yang membuatnya nyaman tadi.


Anjas yang merasa bersalah pada Dyas, mencoba menyadarkan kembali gadis itu untuk mencegah hal yang tidak di inginkan. Ia harus menyedarkan kembali Dyas mungkin mmebawanya ke kamar mandi mendiamkan gadis itu berendam dengan air panas.


" Jangan dilepas...lo ikut gue " tanganya turun beralih pada siku mungil Dyas mencoba menariknya agar gadis itu berdiri.


Yang ditarik bukannyya mengelurakan tenaga untuk mengimbanggi bantuannya, Dyas malah lunglai dengan tubuhnya makin seperti jeli. Mendesah nafas kasar Anjas, menelan ludah saat matanya turun pada dada Dyas yang terbuka karena gerakannya membuat satu tali bra turun mencapai pergelangan tangan Dyas.


" Dyas ! " tekannya " woy lo harus sadar ? " ia menaikkan volumenya sedikit keras.


Dilepasnya cekalannya pada siku Dyas, hingga tubuh gadis itu terhempas kembali pada gulungan ranjang. Ia tak mengira seorang Dyas yang cerdas, sombong, ambisius dan bagaimana pribadi Dyas yang diketahui di kampus selama ini akan begitu terlihat menggenaskan tak berdaya dengan tubuh setengah telanjang dihadapannya.


Gadis itu hanya diam, matanya terpejam, bibirnya mengatup kuat sesekali mengeluarkan ringisan, sesekali mendesah tak jelas. Kedua tangannya terkepal kuat dimasing-maisng sisi tubuhnya menahan sesuatu.


" Dyas...gue bantu lo " Anjas menjilat bibirnya basah.


" Tapi lo jangan nyesel, setelah ini " ia tahu Dyas tak mendengarkannya, dilihat dari gadis itu tak memberi respon apapun.


...........................


Tolong kritik dan sarannya juga vote ya.


Trims


Part ini akan dilanjutkan ke part selanjutnya


Bersambung...