
Tubuhnya gelisah dan mengigil kedinginan, hawa sejuk menerpa bagian sensitif tubuh Dyas yang polos tanpa sehelai benang membuatnya bergerak tak nyaman, namun pergerakannya terbatas karena tangan kanannya terangkat keatas dengan setengah kesadarannya ia mencoba menggoyangkan tangannya. Pembrontakannya justru menghasilkan rasa sakit yang tertahan hingga pergelanggan tangannya mencipta warna merah lebih kentara.
Matanya yang lemah memaksa terbuka, retinanya manangkap cahaya terang lampu kamar yang baginya terasa asing, ia tak peduli. Ia melihat tubuhnya sendiri. Matanya berkaca-kaca lagi, menangis lagi untuk kesekian kali setelah menagis semalaman meratapi hidupnya yang hancur hingga ia lelah dan tak sadar terelap tidur.
Wajahnya terlihat kuyu, air matanya tak berhenti mengalir, getaran dagunya menjalar kebibir hingga tangisnya pecah tertahan dengan dadanya naik turun. Perempuan yang sudah direnggut paksa kegadisannya degan kejam dan berkali-kali dalam waktu semalam meringis merasakan sekujur tubuhnya sakit dan lengket , ia kecewa dengan ketidakmampuannya untuk meraih selimut dibawah sana untuk sekedar menutupi tubuh telanjangnya.
Seketika gadis itu tak bergeming, air matanya berhenti melaju dengan ia terdiam dengan gerakan kaku. Bersamaan dengan pergerakan disamping tubuhnya. ia tidak akan bergerak sedikitpun, melirik apalagi menoleh ia akan bertahan seperti ini saja.
Matanya melotot tajam, mengigit bibirnya kuat. Saat benda lain yang bukan berasal dari diirnya menyentuh lembut pahanya dengan menepuk pelan.
Erangan napas terdengar dari telinganya sesekali pergerakan disampingnya membuat ranjang naik turun dengan suara gemeresak benda-benda lain ikut bergerak.
“ Emmm jam berapa sekarang ? “ ucapnya ringan, suaranya berat dengan helaan napas putus.
Dyas masih bergeming ditempatnya, tak bergerak sedikitpun keculi manik matanya yang bergerak bebas seolah mampu membawanya pergi dari tempat terkutuk ini.
“ Sudah bangun ? “ ucapnya ringan, memandangi tubuh polos Dyas dari samping karena gadis yang sudah menjadi wanita dewasa seutuhnya dalam tempo semalam membelakanginya.
Terlihat tubuh polos Dyas dengan bercak merah memenuhi bagian atas tubuhnya. wanita itu tak bergerak sedikitpun dengan satu tangannya terangkat keatas memperlihatkan salah satu buah dadanya dari posisi Anjas berbaring.
Ia terpaksa mengikat Dyas dengan borgol karena wanita itu terus memberontak, menendang, memukul dan mencakar tubuhnya bahkan Dyas sesekali menyakiti tubuhnya sendiri dengan mencakar dan menjambak seperti orang kesurupan.
Belum lagi sumpah serapah, cacian, makian dan hinaan Dyas terhadap dirinya mengiringi percintaan brutal semalam.
Mengingatnya membuat Anjas seketika berpaling menatap dinding-dinding langit kamarnya. Menghembuskan nafas kasar, ia raup kembali udara yang terasa makin dingin membuat kulitnya terasa membeku. Sedangkan tubuh disampingnya tergolek tanpa sehelai benangpun, sama seperti dirinya.
Anjas meraih selimut tebal tergerai di lantai, lalu langkahnya pelan mendekati Dyas yang...ternyata tidak tidur wanita itu hanya diam dengan matanya terbuka menatapa lantai dengan pandangan kosong.
Menelan ludah melihat tubuh Dyas dipagi hari yang terpampang polos tanpa sehelai benang, bercak merah ternyata hampir memenuhi tubuhya. Hah dia juga meninggalkan bekas di tempat...
Sebenarnya dia balas dendam atau terobsesi dengan tubuh Dyas ?.
Berdehem pelan, untuk menyatkan keberadaanya karena Dyas seolah mati rasa. Anjas menyampirkan selimut tebal pada tubuh Dyas.
Seketika kilatan tajam ia dapatkan dari sepasang mata memerah, maniknya membesar seakan memberontak keluar dari tempatnya.
“ Lepas saja ini “ ujarnya pelan namun tajam. Bibirnya bergerak dengan gigi terkatub rapat. Seraya menggoyang pelan tangannya yang terangkat, terikat.
Anjas yang terperanjat menemukan Dyas yang dingin menusuk sampai ketulang sum-sumnya. Seketika tubuhnya meremang kalau saja Dyas yang sekarang bukan Dyas yang dikenalnya dikampus. Melainkan ada sesuatu yang lain merasuki tubuh gadis itu.
“ Memangnya lo mau kemana ? “ balasnya setelah tersadar kembali menemukan suaranya.
Dengan penuh waspada, Anjas memberanikan melihat Dyas dan menatap mata gadis itu. matanya sembab dan bengkak seperti habis menangis berjam-jam. Ia mulai lagi dirundungi rasa bersalah.
“ Aku harus ke apotik sekarang “ balasnya pelan “ biar nggak tumbuh janin sialan penerus kelakuan biadab keluargamu “ tandasnya tenang.
Di vote ya gaesss