De Luminous

De Luminous
Luna



Suara bel tanda berakhirnya jam ketiga terdengar disusul sambutan riuh para murid yang sudah menantikan waktu istirahat sejak tadi. Kelas 2-3 yang merupakan tempat Luce belajar selama satu bulan ini juga menjadi salah satu yang paling ramai. Pemuda itu duduk di sisi dinding paling depan, dekat dengan meja guru. Dia harus memberi contoh yang baik bagi teman-temannya sebagai Ketua Murid.


"Terima kasih sudah belajar hari ini dan pergunakan waktu istirahat kalian dengan baik," kata Sensei Hiroshi, guru Bahasa Jepang di SMA Athanasia. "Jaa matta ashita*"


"Matta ashita," jawab semua murid serempak. Mereka kemudian memasukkan buku ke dalam tas sebelum guru tersebut pergi dan tak perlu menunggu lebih lama lagi untuk berhamburan keluar kelas.


"Sudah sebulan lebih Ellgar tak menemuiku. Apa dia benar-benar sudah memusuhiku ya?" Luce terlihat murung saat mengecek ponselnya. "Sebenarnya aku merasa jijik memandangi fotonya terus (seperti gay). Benar-benar..." Luce meletakkan kepala di permukaan meja dan terus bersikap tak peduli pada semua murid yang mengajaknya keluar kelas.


"Ternyata Henry benar-benar mirip denganku." Luce mengamati foto keluarga panti yang dikirim oleh Yohan. "Sampai sekarang cuma anak itu yang tetap menghubungiku. Padahal dibanding Ellgar, aku baru mengenalnya sebentar. Haaaahh..." Pemuda itu memasukkan ponsel ke sakunya sambil berjalan keluar kelas. "Jean bilang hanya memanipulasi ingatannya saja, tapi Ellgar sepertinya melupakanku."


Luce berdiri di tepi koridor lantai tiga untuk melihat murid kelas tiga yang menghabiskan waktu istirahat mereka dengan bertanding basket di lapangan. Salah satunya adalah Ellgar Wagner yang selama satu tahun sebelumnya telah menjadi ekor Luce di manapun dia berada. Dari wajah cerahnya, terlihat sekali bahwa pemuda pirang tersebut bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


Seseorang menepuk bahu Luce dan membuat pemuda itu menoleh. Jean St. Claire dengan jas merah yang nyentrik. Rambut cokelatnya disemir bagaikan sepatu baru dan saking berkilaunya semua murid perempuan di sekitar Luce terpana. Tidak termasuk Luce yang sebenarnya jauh lebih tampan, kehadiran Jean di sekolah Luce seperti produk yang baru saja sukses di pasaran.


"Kau di sini?" tanya Luce. "Kenapa kau bisa ada di sini, hah?!"


"Untuk memudahkan saya mengawasi Tuan, saya menjadi guru musik di sini," jawab Jean datar. Tangan kanannya menyodorkan bekal makanan pada Luce secara paksa. "Kalau Tuan berkenan, silahkan makan ini bersama dengan teman anda karena saya lihat anda melamun terus dari tadi. Kalau begitu, saya pergi dulu. Selamat makan."


"Hhh, pelayan si*lan. Yang membuatku nggak punya teman kan dia dan kenapa sekarang dia bisa ada di mana-mana sih? Jangan-jangan dia juga punya ilmu menggandakan diri lagi?" gerutu Luce setelah Jean bergerak menjauh darinya. "Lagipula sebanyak ini harus aku makan dengan siapa? Masa iya sih, aku menghampiri Ellgar dan mengajaknya makan bersama seperti teman. Dia kan sudah melupakanku. Mana mungkin..."


***


"Makan yang banyak ya..." Luna, murid kelas satu berambut cokelat berbicara pada kucing calico di atap gedung sekolah ketika Luce memergokinya. Sebuah kamera canggih menggantung di leher jenjangnya. Kulitnya putih dan senyumnya begitu cantik saat memandang Luce --- membuat pemuda itu terpesona.


"Kau yang waktu itu?" Luna menunjuk Luce dengan jelas sementara pemuda di hadapannya berdiri mematung.


"Kenapa sepatumu sama dengan milikku?" komentar Luce, berusaha mencari-cari alasan untuk bisa memiliki teman makan.


Luna mengernyitkan dahi. "Itu bukan hal penting yang harus kau komentari, kan? Aku sengaja beli dua pasang karena harganya lebih murah. Seharusnya kau berterima kasih padaku walaupun sebenarnya bukan aku yang merusaknya."


"Kau benar. Terima kasih ya waktu itu..." Luce menggaruk pipinya yang terlihat kemerahan. "...tanpa kau beri tahupun aku sudah menyadari kalau kau suka padaku. Kalau tidak, untuk apa kau repot-repot menyiapkan outfit untukku padahal bukan kau penyebabnya. Terima kasih juga karena tak menyebarkan fotoku."


"Bi-bicara apa sih dia? Kenapa tiba-tiba jadi berubah begitu sikapnya?" Luna membatin dengan wajah yang sama meronanya seperti milik Luce.


Pemuda tersebut kemudian mendekati kucing calico yang selalu menjadi teman bermainnya sejak duduk di kelas satu. "Kau sudah besar ya sekarang?" Luce mengelus kepala kucing itu dengan penuh kehangatan, membuat Luna sangat tertarik dan ikut duduk di sisi Luce.


"Kau sudah lama mengenalnya?" tanya Luna dengan senyum mengembang. "Mika sama sekali tidak takut padamu. Padahal waktu aku menemukannya di sini, dia langsung bersembunyi. Untung saja dia suka sekali dengan makanan yang selalu kubawakan."


"Mika? Nama yang tidak asing." Luce tiba-tiba teringat pada seorang malaikat yang paling dibenci olehnya. Satu dari dua malaikat yang hampir membuat dirinya lenyap di semesta. "Michael... Karena dia betina, kita beri nama dia Mikaila."


"Mikaila nama yang bagus," sambut Luna ikut mengusap rambut halus si kucing.


"Ngomong-ngomong, kau sudah makan?" tanya Luce mengalihkan topik. Dia menunjukkan kotak makanannya pada Luna dengan malu. "Kakakku membawakanku ini."


"Ah, sebenarnya aku juga membawa bekal, tapi Mikaila yang menghabiskannya."


"Kalau begitu kau bisa makan ini denganku." Luce mengambil tempat di sisi dinding dan mulai membuka kotak makanannya. Benar-benar menu spesial dalam porsi yang besar. "Lihat! Aku tak mungkin bisa menghabiskan semua ini. Tadinya aku ingin membaginya dengan Mikaila, tapi sepertinya dia sudah menemukan pengantar makanan yang baru."


"Ah iya..." Luce menjawab setengah hati. "Dia... jago melakukan apapun, tidak seperti aku."


"Apa dia tahu kalau kau bukan manusia biasa? Aku tahu kau berbeda, tapi aku tidak berani menyimpulkan kau ini apa karena takut kau marah atau tidak terima," tutur Luna. "Tapi dari ciri-ciri yang kulihat waktu itu... sayap hitam, tanduk, dan mata merah menyala, sejujurnya itu mengingatkanku pada makhluk terkeji di jagad ini. Ah, apa aku terlalu bertele-tele..."


"Soal itu..." Luce memotong. "Aku bisa saja menghapus ingatanmu tentang itu, tapi hari itu adalah pertemuan pertama kita dan aku tidak ingin kau melupakannya."


"Dia bisa menghapus ingatan ya?" pikir Luna. "Apa mungkin itu salah satu kekuatannya? Kalau terus dipikir, lama-lama aku seperti masuk ke dunia fantasi."


"Aku adalah malaikat yang berubah menjadi iblis karena suatu dosa yang dulu pernah kuperbuat," Luce menjelaskan dengan gamblang seolah Luna adalah orang yang bisa dipercaya. "Jadi aku melakukan banyak perbuatan baik di dunia manusia agar dapat kembali ke surga."


"Jadi begitu ceritanya." Luna menahan dagu dengan tangannya. "Apa tidak apa-apa menceritakan hal sepribadi itu padaku?"


Luce memandang Luna tanpa berkedip. Gadis polos berambut cokelat dengan hati sebening air seperti bayi yang baru lahir. Senyumnya yang manis membuat pemuda itu meleleh. "Tidak apa karena aku bisa melihat ke dalam matamu. Kau bisa menjaga semua rahasia itu selama ini. Aku sungguh-sungguh berterimakasih."


"Kau mengungkit lagi soal itu..." Wajah Luna merah seketika. Dalam pikirannya hanya terlintas rasa penasaran tentang diri Luce. Siapakah pemuda itu dan bagaimanakah dia? Namun, sebelum sempat mengutarakan niatnya tersebut, Luna sudah disambut oleh Luce yang terlebih dahulu menceritakan sumber masalah yang sedang dihadapinya akhir-akhir ini, Ellgar Wagner si bocah pirang.


"Aku pernah kehilangan seorang teman karena dia tak bisa menerima siapa diriku yang sebenarnya. Aku merasa dikhianati dan dia merasa dibohongi," kata Luce pada Luna tanpa ada yang ditutupi sedikitpun "Aku jadi tidak bisa menyalahkan siapapun sampai sekarang."


"Eehm!" Luna berdeham, mencoba mengalihkan topik walau terkesan memaksa. "Jangan salah paham dulu. Hanya karena aku tidak menceritakan rahasiamu pada siapapun bukan berarti aku berbeda dengan temanmu itu lho!"


"Haha, iya deh." Luce akhirnya tertawa dan semakin membuat wajah Luna merona. "Aku bukan Tuhan jadi tak bisa menjamin hal itu nggg... Maaf, aku lupa menanyakan namamu sejak tadi."


"Ah, kita belum berkenalan ya?" Luna ikut tertawa renyah menyadari kebodohan mereka. "Namaku Luna dari kelas 1-5 dan namamu Luce, kan? Kau murid nomor satu di sekolah ini. Jadi tak mungkin ada yang tak mengenal dirimu."


"Itu benar." Luce tersenyum dan membalas, "Namaku Luce."


***


Seorang pria berambut perak berdiri di puncak menara tertinggi Distrik 45 dengan mata birunya yang berkilau. Kesepuluh sayapnya berwarna putih dengan helaian remiges bak merpati. Di bawah cahaya matahari siang, dia mengamati jauh ke bawah tempatnya berpijak. Sebuah mall baru saja dibuka dengan diskon besar-besaran. Beberapa saat kemudian pria tersebut tiba-tiba melemparkan sebuah buku pada Jean yang baru saja muncul di sisinya.


"Kenapa memanggilku tiba-tiba?" tanya Jean setengah sadar. Napasnya tersengal seperti habis marathon panjang mengelilingi satu distrik. Sebuah sabit raksasa disandarkan pada bahunya yang terasa pegal.


"Buku itu berisi nama-nama manusia yang harus kau cabut nyawanya setengah jam lagi," jawab pria berambut perak.


"Nama-nama?" Jean membuka lembaran kertas dalam buku tersebut dan menghitung jumlah nama yang tertulis hingga lembaran terakhir. "Kau bercanda? Ada ratusan nyawa yang harus kuambil dalam waktu satu detik? Ini bukannya Death Note yang terkenal di dunia manusia itu, kan?"


"Huhhh!" Pria berambut perak menghembuskan napas panjangnya. "Kau pikir untuk apa malaikat peniup sangkakala sepertiku ada di distrik ini? Sebentar lagi aku juga harus menggunakan terompet mautku untuk ratusan nyawa itu." Dia menjentikkan jari untuk memulai aksinya. Sebuah sigil raksasa berwarna biru yang melingkar tepat di bagian atas mall. "Kalau bukan karena perintah dari-Nya, aku juga tak mau melakukan hal sekejam ini."


Sebuah lengkungan berukuran raksasa muncul dari balik langit Distrik 45. Benda tersebut memiliki sepuluh cabang kecil seperti corong dengan lubang berbentuk lingkaran. Warnanya keemasan bagai saxophone yang siap dimainkan. Seolah memanggil pria berambut perak untuk menunaikan tugasnya, benda tersebut bergetar dan menimbulkan suara dengung yang mampu memecahkan telinga manusia andai saja mereka dapat mendengarnya.


"Bernyanyilah, wahai Triton!"


***