De Luminous

De Luminous
Secret Admirer



"Nggg, sebenarnya selain mengajak Luce berangkat sekolah bersama hari ini, ada hal yang perlu kutanyakan langsung pada kakaknya Luce. Soal..." ucap Ellgar tanpa rasa takut. "Jadi begini, orang tuaku sedang ada pekerjaan di luar kota dan mengharuskanku tinggal sendirian di rumah. Sebenarnya masih ada adik-adikku, sih, tapi seandainya boleh... Iya, seandainya boleh, aku mengundang Luce untuk bermalam di rumahku."


"Kau sudah besar. Untuk apa mengajak Luce ke sana? Luce bahkan lebih muda darimu. Tak ada yang bisa kau lakukan jika terjadi sesuatu nantinya. Luce hanya akan menambah bebanmu." Jean berkata tegas dan berlagak seolah dia kakak yang baik. Namun dalam hatinya berbisik, "Bagaimana mungkin aku membiarkan Tuanku berkeliaran dalam wujud iblisnya pada jam-jam malam?"


Ellgar memandang Jean dengan tatapan memohon. Kedua matanya bersinar-sinar seolah mengharapkan sesuatu sementara pria di hadapannya sama sekali tak merespon karena kesal. "Arghh, Tuanku, darimana anda mendapatkan teman manusia yang seperti ini?" lirih Jean. "Sepertinya anda harus lebih selektif dalam memilih teman."


Luce yang bisa mendengar isi pikiran Jean hanya tersenyum simpul karena tak bisa melakukan apa-apa, tapi sedetik kemudian Jean tampaknya berubah pikiran. Pria itu bangkit dari sofa dan mengajak Luce masuk ke dalam kamar.


"Astaga, apa yang kulakukan?" bisik Ellgar. "Karena aku, sepertinya Luce akan kena marah."


Sementara itu, di dalam kamar Jean, Luce duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan pelayannya mengambil sebuah kotak dalam nakas yang terletak di dekat jendela. Benar-benar rapi. Ruangan yang telah disulap menyerupai kamar tidur tersebut seolah menunjukkan kalau pemiliknya adalah orang yang cinta keindahan dan kebersihan. Pada sebuah dinding kosong terdapat potret yang sudah usang di mana Jean menggendong Luce yang masih kecil dengan kain kelabu menyelimutinya. Sungguh pemandangan yang mengharukan.



"Kau masih saja memajang fotonya?" tanya Luce sembari menyilangkan kaki. "Itu sudah sangat lama sekali. Sekarang aku sudah remaja. Seharusnya kau menggantinya dengan yang baru."


"Itu tidak perlu, Tuan," jawab Jean. Dia membuka kotak dan mengambil sebuah liontin salib berwarna keperakan di dalamnya. "Anda tumbuh setiap seratus tahun sekali dan tidak akan mungkin kembali ke wujud inosen seperti itu. Bahkan di usia anda saat ini, untuk mencapai wujud dewasa mungkin butuh seribu tahun lagi. Saya hanya ingin mengabadikannya karena waktu itu saya..." Jean terlihat muram setelah memastikan liontin tersebut terpasang dengan baik di leher Luce.


"Ah, kalau itu membuatmu ingat kenangan buruk, lebih baik tidak usah dijelaskan," kata Luce menghibur. "Aku juga sudah ingat. Michael melenyapkan hampir seluruh cahayaku agar aku tidak bisa kembali ke surga, tapi untung saja ada seseorang yang bisa melindungi inti diriku dan membantuku untuk bisa lahir kembali, walaupun hanya dalam wujud iblis. Terima kasih, Jean."


Jean tersenyum. "Baiklah Tuanku, anda boleh bermalam di rumah Ellgar dengan syarat tak boleh melepaskan liontin ini karena benda ini akan mencegah anda untuk menggunakan kekuatan malaikat dan bertransformasi menjadi malaikat pada malam hari. Kalau Tuanku benar-benar nekad melakukannya, liontinnya akan segera menekan kekuatan malaikat anda dan membuat anda tak sadarkan diri setelahnya. Jika semua itu terjadi, saya harap Ellgar dapat mengurus diri Tuan dengan baik."


"Tenang saja. Ellgar itu sudah seperti kakakku di sekolah. Lihat saja, dia sudah mengamankan ransel dan ponselku yang tertinggal kemarin," Luce menjelaskan. "Aku sendiri tidak tahu sejak kapan Ellgar dekat denganku. Waktu itu, aku menolongnya dari penjambret di stasiun. Setelah mengembalikan dompetnya, dia selalu mengikutiku kemanapun sampai akhirnya tahu bahwa aku tinggal di apartemen mewah ini."


"Saya ikut senang anda mendapatkan teman yang baik." Jean akhirnya mempersilahkan Luce keluar kamar untuk pergi ke sekolah bersama Ellgar beberapa menit kemudian.


***


— BRUKKK! —


Suara amplop berjatuhan dari dalam loker Luce yang dibuka. "Apa-apaan ini?" katanya terkejut.


"Akhirnya kau mendapatkan banyak fans, Luce," Ellgar menanggapi. Dia membantu Luce merapikan amplop-amplop yang berwarna merah muda dengan simbol hati sebagai perekatnya tersebut. "Pasti mereka terpukau dengan penampilanmu di panggung pidato kemarin. Ini sih, memang penyakitnya Ketua Murid. Setahun yang lalu, ketika aku baru menjabat, ada anak perempuan yang selalu menguntitku sampai akhirnya dia berhenti sendiri setelah kulabrak."


"Kau melabrak murid kelas satu? Yang benar saja. Padahal kalau kau sedikit menghindar saja, dia pasti akan sadar sendiri."


"Tapi waktu itu memang aku terkenal sebagai Ketua Murid paling killer pada masanya. Jadi semua orang tunduk padaku dengan sendirinya," Ellgar membela dirinya sendiri.


"Lalu kau pikir Luce akan melakukannya persis sepertimu?" seorang gadis menunjuk Ellgar dengan berani. Rambutnya merah dan tubuhnya sangat seksi untuk ukuran murid kelas dua. Erica Swann dan dua rekan perempuannya yang tak kalah cantik telah berdiri di hadapan Luce dan Ellgar dengan wajah sangar mereka.


"Ahh itu, sebenarnya kalau kau benar-benar menginginkannya..." Luce mengangkat tangan kanannya nyaris berteriak, tapi Ellgar dengan sigap membungkam mulut pemuda itu dan mengunci seluruh pergerakan tubuhnya. "Kawo ka wimi nadi keda muwi, penga sena wati waku waka mengewahkam bata nipu pawamu." (Kalau kau ingin jadi Ketua Murid, dengan senang hati, aku akan menyerahkan jabatan itu padamu)


"Kalian dengar apa yang dikatakannya?" Erica bertanya pada dua rekannya.


"Mungkin dia kelelahan karena harus menuruti apapun yang dikatakan oleh cowok berambut pirang itu," bisik Celine, gadis berambut ikal yang berdiri di sisi kiri Erica.


"Pasti susah berlagak seperti cecunguknya," Gina menambahkan — gadis dengan jepit rambut raksasa yang berdiri di sisi kanan Erica. "Kalau tidak cepat-cepat pergi, bisa-bisa kita ketularan sikap bodoh mereka."


Erica terus memandangi Luce dan Ellgar yang sedang berguling-guling di antara tumpukan amplop merah muda. Semakin diperhatikan, keduanya memang terlihat sama bodohnya.


"Ayo kita pergi saja dari sini," gadis itu mengajak dua rekannya berlalu setelah batinnya bergumul kesal, "Mereka itu memang bodoh atau hanya pura-pura saja sih?"


"Kami memang bodoh, tapi kami juga sedang tidak berpura-pura," pikir Luce seketika bangkit. Menyambut kepergian trio cantik yang telah mengancam jabatannya tadi, Luce segera membereskan semua surat-surat cinta yang mengelilinginya. Namun akhirnya dia sadar kalau di dalam lokernya masih ada sesuatu yang asing. Sebuah kotak berwarna kuning dengan sesuatu yang spesial di dalamnya.


"Bukankah ini seragam sekolah kita?" Ellgar bertanya sembari membongkar isi kotak tersebut tanpa persetujuan dari Luce. Kemeja, jas, serta sepatu baru dengan label merek yang masih tergantung.


"Apa aku terlalu baik di matamu dengan semua barang pengganti ini?" Luce membaca tulisan tangan yang tertera pada secarik kertas di dalam kotak. "Sejujurnya aku tidak tahu harus kuapakan seragam dan sepatumu sebelumnya karena itu jelas-jelas sudah tidak bisa dipakai kembali oleh seorang Ketua Murid. Jadi, aku harap ini tidak membuatmu kabur dariku lagi."


"Wah, ini baru namanya 'secret admirer'." Ellgar mengambil paksa kertas di tangan Luce. "Ngomong-ngomong soal itu, Erica dulu salah satu adik kelas yang memujaku lho. Entah kenapa sekarang dia jadi begitu? Padahal kan setahun lagi aku sudah tidak berada di sini."


"Secret admirer?"


***


Note from Author


Halo, readers yang setia... seperti biasa author mengucapkan terima kasih untuk membaca setiap episode novel ini dan like, rate, atau beberapa orang yang tidak disangka juga memberikan vote dalam jumlah yang menggembirakan.


Kedua, author mengucapkan maaf karena selalu lamaaaaaa.... update nya sampai kalian tidur atau lebih parahnya pindah ke lapak lain.


Ketiga, author ingin menyemangati author2 lain yang sudah mendukung atau perlu dukungan. Jangan sungkan untuk minta tolong, karena author punya banyak waktu luang untuk membaca karya kalian apalagi hanya sekedar like, rate, dan komen.


Yang terakhir, terima kasih untuk semua dukungan yang telah diberikan. Jangan lupa


klik like, favorite, 5rate, dan tinggalkan jejak di kolom komentar...


Sankyuuuu