De Luminous

De Luminous
Upacara Selamat Datang



"LUCE!" Ellgar melambaikan tangan segera setelah Luce tiba di gerbang sekolah. Pemuda itu menyambut kedatangan temannya tersebut dengan rangkulan hangat. "Kau ini masih saja pendek seperti biasa," tambah Ellgar dengan wajah berantakan. Seperti belum disisir, rambutnya yang mencuat ke segala arah senada dengan kemeja putihnya yang kusut. Posisi dasi panjangnya juga seperti syal yang melilit di leher berjakunnya.


"Aku akan selalu seperti ini bahkan setelah kau berubah jadi kakek-kakek nanti," tukas Luce. "Kau sendiri, bagaimana bisa ada murid kelas akhir yang berdandan seperti itu? Kau berniat menungguku naik kelas sampai tahun depan?"


"Tentu saja tahun ini aku akan lulus duluan." Ellgar terkekeh sebelum menghentikan langkahnya tepat di depan banner yang terpasang sedikit lebih rendah dari puncak gerbang.


"Upacara selamat datang?" Luce melirik Ellgar yang masih saja memamerkan geliginya. "Aku mengerti sekarang. Ini hari kebebasanmu sebagai Ketua Murid, kan? Wakil Ketua yang kini sudah berada di kelas dua secara otomatis menggantikan posisimu di upacara penerimaan murid baru hari ini."


Luce menghela napas panjang dan membuang carut-marut sampah di pikirannya. "Jean bilang aku tidak boleh terlalu menarik perhatian. Kalau aku jadi Ketua Murid menggantikannya..."


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan. Kau tidak perlu melakukan banyak hal, kok. Semuanya sudah aku atur. Kau hanya perlu mengerjakan sisanya..." Tanpa basa-basi, Ellgar mengikatkan kain merah-putih di lengan kiri Luce. "...yaitu pidato selamat datang. Akan kuserahkan padamu, oke?"


"Oke, jid*tmu!" umpat Luce. "Itu sama saja menunjukkan pada dunia siapa diriku yang sebenarnya?"


"Memangnya siapa dirimu, wahai Lucas Androcles?" Ellgar menggoda.


"Aku ini seorang malaikat tahu." Luce kembali berjalan diikuti oleh Ellgar, melewati halaman sekolahnya yang sejuk dan dipenuhi pohon maple berdaun hijau.


"Kalau begitu tunjukkan pesonamu di hadapan murid baru, wahai malaikat kecilku..."


"Yang kau maksud itu pendek, kan?"


"Aku tidak bilang begitu. Kau sendiri yang mengatakannya. Tapi ngomong-ngomong, kalau kau jadi malaikat sungguhan, kau akan memilih jadi siapa di antara tujuh archangel*?" Ellgar sepertinya hanya berceloteh untuk melupakan kewajibannya sebagai Ketua Murid yang telah gugur sejak Luce duduk di bangku kelas dua. "Aku ingin jadi Michael yang menebarkan banyak kebaikan di dunia ini."


"Kebaikan apanya?" Luce menggenggam erat tali ranselnya karena kesal. "Dia itu musuh bebuyutanku."


"Oh ya, kalau dari namamu, kau..." Ellgar berhenti lagi setelah tiba di depan aula utama. "Jangan-jangan kau si malaikat-jatuh itu, ya?"


Batin Luce tercekat. 'Mungkinkah Ellgar sadar kalau yang kubicarakan sejak tadi itu sungguhan?'


"Sempurna sekali!" Ellgar tiba-tiba tertawa sambil menunjuk wajah Luce yang terlihat kaget. "Lucifer itu kan malaikat paling tampan sesurganya Tuhan. Kau pasti bisa memikat adik-adik kelas dengan paras bercahayamu itu."


"Bicara omong kosong apa kau ini?" Luce menahan marah setelah menyadari bahwa di sekelilingnya banyak murid baru yang benar-benar terpana memandang wajahnya. "Mungkin saja kau benar." Pemuda itu kemudian melipat tangan dan mulai berlagak angkuh. "Karena sudah membuatku senang hari ini, maka kau akan kuampuni."


"Terima kasih, sang malaikat. Cahayamu telah menyilaukan kedua mataku, uhuk..."


(Author: mereka berdua kelihatan seperti orang gila waktu itu 😂😂😂)


***


"Athanasia yang berarti abadi adalah bentuk dari ungkapan kerja keras kita dalam menuntut ilmu hingga hari akhir. Selamat datang di SMA Athanasia. Semoga nantinya kita dapat menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara. SMA MAJU, SMA BISA!" Luce mengakhiri pidatonya dengan ucapan, "Terima kasih."


"Aku tidak salah dengar kan?" salah satu murid baru berbisik, tapi tentu saja sebagai seorang malaikat, Luce dapat mendengarnya.


"Dia bilang hari akhir?"


Luce memasang wajah tenang sambil menunggu respon dari semua orang. "Tenanglah, Luce. Seperti kata Ellgar, tunjukkan pesonamu sebagai malaikat paling tampan sesurganya Tuhan. Tapi kalau hanya di surga, apa di neraka dan di dunia manusia, aku juga yang paling tampan? Bodohnya, untuk apa aku memikirkan hal itu sekarang?"


"...tapi dia lumayan keren juga." Beberapa murid mulai bertepuk tangan diikuti yang lain dan akhirnya seisi aula sampai melakukan standing applause karena pertama kalinya bagi Luce berpidato di hadapan banyak orang.


"Syukurlah, pidatomu sukses menarik perhatian semua orang." Ellgar menepuk bahu Luce setelah pemuda itu turun dari podium.


'Justru itu hal yang paling tidak kuinginkan,' lirih Luce dengan wajah merah. Dia kemudian pergi keluar aula untuk 'mencari angin' dan mendinginkan kepala. Sebatang pohon maple raksasa di sisi aula utama menjadi tempat pilihannya untuk berteduh. Ada beberapa bangku taman yang disiapkan secara khusus dan tidak hanya Luce, murid lain yang sedang tidak ada pelajaran hari itu — khusus upacara selamat datang — juga beristirahat di sana.


"Benar-benar sial!" umpat Luce sambil melepas jas dan membuka kancing pertama kemejanya. "Seandainya saja wajahku tidak terlalu menarik perhatian, waktu itu juga tidak akan mungkin terpilih menjadi wakil ketua. Lalu sekarang harus menggantikan posisi Ellgar. Apa aku mengundurkan diri saja ya?"


"Itu kakak yang di panggung tadi, kan?" tanya seorang murid baru yang keluar bersama rombongannya dari aula utama.


Yang lain mengangguk. "Sepertinya dia lelah sekali ya? Ayo kita belikan dia jus buah. Aku dengar minuman di sini enak sekali, berbeda dengan yang dijual di SMP kita."


"Kenapa mereka berisik sekali, sih." Luce mulai kesal. Dia berdiri dan memandang ke arah murid-murid kelas satu yang langsung 'terpanah oleh aura malaikat' -nya. "Jangan bergerombol! Cepat ikuti ke mana Kak Ellgar pergi!" teriaknya.


"Kenapa dia semakin tampan ya kalau sedang marah begitu..."


Luce mulai geram karena masih saja ada yang berbicara dan tak mau mendengarkan perintahnya. Dia kembali berseru, "Yang paling akhir akan berkencan dengan murid paling tol*l di SMA ini!"


"Murid paling tol*l?"


"Ayo pergi dari sini sebelum hukumannya semakin menjadi."


Luce akhirnya bisa bernapas lega setelah gerombolan fans barunya pergi meninggalkan aula utama menuju kelas mereka masing-masing.


"Kau tidak perlu jadi galak seperti itu, kan?" seorang pria bermantel tebal telah berdiri di depan Luce dengan menunjukkan lencana kepolisian di dompet dinasnya. "Letda Lionell Garfandi dari unit kepolisian distrik 45."


Luce langsung melepaskan diri dari kemarahannya karena terkejut. Pemuda itu berusaha untuk tetap tenang sebelum bertanya, "Apakah anda sudah mendapat izin dari pihak sekolah untuk menemui saya?"


"Tentu saja," Lionell menjawab sembari menyimpan kembali dompetnya ke balik mantel. "Ada beberapa pertanyaan yang perlu kau jawab sebagai seorang Ketua Murid. Aku tahu kau sedang sibuk, tapi Ketua yang lama sepertinya lebih sibuk darimu. Maukah kau membantuku?"


"Lagi-lagi anak itu berusaha mengerjaiku." Pikiran Luce langsung tertuju pada Ellgar. Dia kemudian berkata, "Kalau hanya sekedar menjawab pertanyaan, mungkin aku bisa membantu anda, Letda Lionell."


***next


*archangel \= tujuh malaikat utama, termasuk Gabriel, Michael, Rafael, dan Luciel/Lucifer. Mereka adalah tujuh malaikat yang mendapat perintah langsung dari Tuhan dan menjadi yang paling tinggi kedudukannya di antara malaikat lain.


Jangan lupa untuk like, favorite, 5rate, dan tinggalkan jejak di kolom komentar. Jejakmu akan memberi semangat bagiku untuk melanjutkan novel ini...


Terima kasih...