
Langit sore yang berwarna jingga, membuat kedua mata merah Luce berkedip senang. Baginya, pemandangan seperti itu adalah waktu terbaik untuknya menyendiri sebelum semua transformasi wujudnya selesai dengan sempurna. Saat itu, Luce sedang menyembuhkan diri di atap sekolah karena terpaksa. Apartemennya terlalu jauh untuk dijangkau dengan tubuh manusianya yang tengah terluka. Kaki kiri yang tertusuk belati dan lengan kanan yang tertembak timah panas. Benar-benar bukan hal yang pernah dibayangkan oleh pemuda itu.
"Kalau ke rumah sakit, mereka pasti akan sadar kalau aku bukanlah manusia. Kalau pulang ke apartemen, Jean pasti marah besar. Pakaian bekas darah anjing semalam saja belum tentu sudah kering." Luce menyelesaikan proses penutupan luka setelah memastikan sebutir peluru keluar dari lengannya. Pandangannya tertuju pada jas sekolah, kemeja, dan sepatu berlubangnya yang sudah dia tanggalkan sejak tadi. Semuanya dipenuhi darah 'manusia', bahkan lantai dan dinding tempatnya berada sekarang.
Seekor kucing calico tiba-tiba mendekati tumpukan 'sampah' Luce karena tergiur aroma amisnya, tapi kemudian kucing itu berbelok mengelus kaki kiri Luce yang kini sudah sembuh total.
"Menjijikkan. Kenapa Jean bisa tahan dengan bau seperti ini ya? Kau saja tidak suka," kata Luce sambil mengelus rambut halus si kucing. "Apa dia sudah terbiasa jadi manusia ya sekarang? Wajar, sih. Kami sudah berada di dunia manusia sejak ratusan atau ribuan tahun lalu. Aku pun sudah tak ingat lagi berapa umurku sekarang. Kalau aku manusia pasti sudah berubah menjadi tanah."
Luce berdiri kemudian mengembangkan sepasang sayap hitamnya yang berkilau. Sepasang tanduk juga keluar di antara rambut cokelatnya, pertanda kalau transformasi sudah selesai.
"IBLIS?!" terdengar suara murid perempuan bernama Iliana dari balik punggung Luce sementara si kucing masih menggeliat di kaki pemuda itu.
"Arghhh, aku ini bukan iblis, tapi malaikat," timpal Luce sambil mengangkat tubuh kucing yang terus memandangnya dengan tatapan 'meminta makan'. Kedua mata jernih hewan tersebut memantulkan bayangan Iliana yang sedang memotret sebelum Luce menyadarinya. "Siapa kau?" Pemuda itu langsung melempar bola-bulu di tangannya kepada sang gadis.
"Ah maaf, aku mengejutkanmu," ucap Iliana sambil menangkap si bola-bulu ketika Luce mendadak lompat ke atas pagar besi. "Aku tak sengaja mendengar suaramu..." belum selesai gadis itu berbicara, Luce sudah melompat turun dan menghilang entah ke mana. "Dia beneran bisa terbang dengan sayapnya itu?"
"Apa dia tadi terluka?" Iliana memungut satu persatu benda milik Luce yang tertinggal, tak terkecuali jas dengan papan nama yang masih tersemat di sana. "Lucas Androcles? Bukannya dia, si Ketua Murid yang berpidato tadi pagi?"
***
Luce tak sadar menginjakkan kaki bugilnya di trotoar yang dipenuhi manusia. Sayap gelapnya semakin mengembang karena terkejut. Betapa banyak pasang mata yang memandang keindahan sekaligus kengerian wujud malaikatnya itu. Tapi beberapa menganggap kalau pemuda itu hanya sedang ber-cosplay memperlihatkan perut sixpack-nya yang menawan. Para wanita sampai menutup wajahnya menyaksikan pemandangan itu. Luce tak mengenakan apapun selain celana sekolahnya sehingga membuat wajah tampannya merah seketika.
"Tuan." Jean tiba-tiba sudah berada di sisi Luce dengan kantong belanja dan seragam pramuniaga yang dikenakannya.
"Jean..." Luce berlutut dan langsung memeluk kaki Jean dengan lemah. "Syukurlah kau datang tepat waktu."
"Anda kemanakan ransel dan seragam sekolah anda, Tuan?" tanya Jean dengan tatapan bengis seolah ingin menghukum Luce untuk tinggal di neraka selamanya.
"Aku tak sengaja meninggalkannya di atap sekolah. A-aku habis melakukan perbuatan baik, kok. Kau lihat kan beberapa helai sayapku ada yang berwarna putih," jawab Luce.
"Walaupun sayap anda berubah jadi putih semua, mata merah dan tanduk anda tidak akan menghilang, Tuan. Itu tidak akan membuat anda kembali menjadi malaikat seutuhnya. Anda sekarang adalah iblis. Mohon jangan selalu mempersulit semua hal. Anda cukup menerima takdir anda saja," Jean menjelaskan dan justru membuat pemuda di hadapannya berlinang air mata.
"Pokoknya sekarang antarkan aku pulang dulu baru kujelaskan," ucap Luce sambil meraung-raung seperti anak kecil.
Jean kemudian memukul dahinya sendiri dan menghela napas panjang untuk melepaskan rasa marahnya pada Tuan yang dia cintai. "Kalau begitu biar saya bereskan yang di sini dulu," kata Jean berusaha tetap tenang. Mata birunya berubah merah ketika tangan kanannya diangkat ke atas. Sebuah sigil raksasa bercahaya biru muncul mengelilingi pria tersebut dan satu sigil lagi berputar di angkasa. Angin kencang tiba-tiba bertiup dan waktu seolah berhenti sejenak untuk mengembalikan segalanya seperti sediakala. Beberapa detik kemudian, Jean pun mengakhiri ritualnya.
"Sekarang mereka hanya akan melihat anda sebagai murid sekolah biasa," katanya pada Luce yang sudah berdiri dari tempat bergulingnya tadi. "Ayo kita kembali ke apartemen. Saya akan memasakkan sesuatu yang enak untuk anda."
"Jean, kau benar-benar seperti malaikat penyelamat saja," puji Luce masih dengan suara rengekan anak kecil.
"Anda lupa? Saya dulunya memang seorang malaikat," timpal Jean sembari berjalan diikuti oleh Luce yang sama sekali lupa kalau dia bisa saja terbang menggunakan sayapnya.
***
"Selamat makan!" Luce mengenakan seragam olahraga keesokan harinya, sebagai ganti karena telah meninggalkan semua paket seragam lengkap dengan sepatu berlubangnya di atap sekolah. Dia tidak ingat dan tidak mau mengingat siapa gadis yang tidak sengaja memotretnya kemarin sore. "Padahal aku pikir semua orang sudah pulang kemarin. Aku juga meninggalkan tas dan ponselku di kelas. Mudah-mudahan ada seseorang yang baik hati dan menyimpankannya untukku," gumam Luce.
"Anda mengatakan sesuatu pada saya barusan?" Jean bertanya sambil menghabiskan sarapannya bersama Luce di meja yang sama. Masih mengenakan seragam pramuniaga dan celemek, penampilan pria tersebut benar-benar tidak terlihat seperti seorang iblis. Berbeda dengan Tuannya, meskipun dapat menghentikan waktu dan memanipulasi ingatan manusia dengan menciptakan ilusi, dia tidak dapat mendengarkan isi hati dan pikiran orang lain.
Luce menggeleng dan mengambil lagi sepotong sosis untuk menambah porsi sarapannya.
"Ngomong-ngomong, Tuanku... saya merasa sudah saatnya kita kembali ke Dunia Bawah untuk mengisi energi," Jean membuka percakapan lagi. "Waktu kita di dunia manusia tidak akan lama lagi. Kalau sampai terlambat bisa-bisa anda tidak akan bisa kembali ke wujud manusia lagi. Sekarang pun anda hanya punya waktu dua belas jam setiap harinya."
"Maksudmu kembali ke neraka?" Luce menyumpal mulutnya lagi dengan selada bermayones kemudian menenggak susu dengan cepat. "Tunggu sebentar lagi. Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan."
"Berhenti omong kosong, Jean. Aku tahu apa yang kulakukan lebih banyak dari dirimu," Luce mengakhiri sarapan sama cepatnya seperti Jean. "Meskipun di neraka akulah yang terkuat, tapi raja iblis lain menentang keberadaanku karena memang tak seharusnya aku di sana. Kalau seperti itu bukankah lebih baik aku mengumpulkan kekuatan untuk bertemu dengan saudara-saudaraku yang sebenarnya di surga?"
"Dasar keras kepala! Padahal mereka sudah membuatnya jatuh ke dalam neraka, tapi dia masih saja menganggap mereka bersaudara," pikir Jean mulai kesal. "Kalau dipikir-pikir lagi Tuanku sudah tidak punya tempat untuk pulang selain apartemen ini. Apakah aku harus membiarkannya dulu saja ya?"
"Kau terlalu mempedulikanku, Jean," ucap Luce penuh kasih sayang. Tangan kanannya mengusap lembut rambut Jean yang saat itu masih dalam posisi duduk. "Lakukan saja tugasmu sebagai pengikutku agar para malaikat nantinya juga akan mengakui keberadaanmu."
"Apa kita memang harus kembali ke surga, Tuan?" tanya Jean dengan tampang serius. Dia tahu tak bisa menyembunyikan isi kepalanya pada sang Tuan. "Sebenarnya saya selalu berpikir menjadi manusia seperti ini tidak buruk juga."
"Ah jadi begitu," lirih Luce dalam hati. "Jean memang sudah terbiasa hidup sebagai manusia karena itu dia selalu mencegahku untuk kembali ke surga."
Tiba-tiba suara bel pintu berbunyi... "Permisi, ada orang di dalam?"
Luce kemudian melihat dari lubang pintu dan ada mata besar berwarna hijau di sana.
"Apa-apaan dia ini? Selalu saja..."
"Aku Ellgar, mantan Ketua Murid paling hot sedunia. Aku tahu kau ada di dalam, Luce. Cepat bukakan pintu."
Luce pun akhirnya terpaksa membukakan pintu untuk meladeni kakak kelasnya yang rewel itu.
"Aku kira kau pergi ke mana kemarin?" Ellgar langsung berlari masuk dan memeluk Luce sebelum daun pintu terbuka sepenuhnya. "Semua orang menanyaiku dan mengira aku sedang mengurungmu di suatu tempat yang sempit dan gelap untuk mengerjaimu karena telah mengambil posisi Ketua Murid dariku." Pemuda berambut pirang tersebut kemudian membuka mata dan melepas pelukannya sehingga Luce dapat menutup pintu lagi. "Jadi ini bagian dalam apartemenmu?" tanya Ellgar dengan mata bersinar. "Apa kau ini keturunan ningrat atau pewaris tahta Kerajaan Inggris?"
Ellgar berhenti di depan dinding kelabu dengan banyak potret raksasa terpajang di sana. "Apa kau juga supermodel. Kau dan ayahmu..." Pemuda itu kehabisan kata-kata. Berbagai jenis atribut dan pakaian yang dikenakan oleh Luce dan Jean dalam potret itu membuatnya berdecak kagum. Dari kostum raja iblis dan pelayannya, malaikat dan pengikutnya, kaisar dan penasehatnya, CEO dan sekretarisnya, kepala polisi dan detektif, hingga yang sekarang — sosok ayah dan anak tunggal kesayangannya.
"Apa aku kelihatan setua itu?" Jean bertanya mengalihkan perhatian Ellgar pada perabotan dan aksesoris lain yang luar biasa mahal dan berkilauan pada masa itu. "Aku lebih senang dipanggil kakak daripada paman."
"Hei-hei, jangankan kau. Kalau semua orang tahu umurku yang sebenarnya, aku juga tidak mau dipanggil kakeknya kakek buyut oleh mereka," Luce membatin kesal.
"Jadi kau kakaknya Luce?" Ellgar balik bertanya. "Salam kenal. Namaku Ellgar Wagner, sahabat terbaiknya di sekolah."
Jean melirik Luce sambil mengelap semua perkakas dapur yang sudah dicucinya. "Tuanku saja yang menjawab pertanyaan manusia ini," lirihnya. "Kalau saya salah menjawab bisa merepotkan."
Luce kemudian menghempaskan tubuhnya ke sofa dan memainkan tablet milik Jean sementara Ellgar duduk di hadapannya. "Sebenarnya kami berdua tidak memiliki hubungan darah apapun (karena malaikat tidak diciptakan dengan nafsu, jadi tidak ada siapapun yang akan menikah dan melahirkan anak-anak malaikat seperti yang ada di cerita fantasi-romantis. Kami diciptakan dari cahaya yang sama sehingga semua menyebut kami bersaudara). Kami tumbuh di panti asuhan yang sama jadi sejak dulu kami terbiasa melakukan segala jenis pekerjaan untuk dapat hidup. Seperti sekarang, Jean menjadi pelayan kafe agar aku bisa sekolah di SMA Athanasia. Kalau sudah bosan, sebentar lagi juga dia akan alih profesi."
Jean mengerutkan alis dan berbisik, "Tuanku bercandanya sudah cukup. Bisa-bisanya menyebut dirinya sendiri yatim-piatu. Tapi memang sih, kami tidak memiliki apa yang disebut sebagai ayah dan ibu atau orang tua seperti manusia lain." Pria itu memandang potret dirinya dan Luce yang terlihat seperti sosok ayah dan anak. "Kira-kira bagaimana ya rasanya?"
***
Note from Author
Akhirnya author memutuskan untuk segera mengeluarkan heroine agar cerita semakin menarik. Terima kasih banyak teman2 yang sudah mampir dan mendukung. Like dan komentar kalian membuat author makin semangat menulis.
Chapter kali ini agak lama prosesnya karena ceritanya semakin panjang. Bersyukur banget sinyal internet masih lancar. Selain itu juga, author harus menggarap novel fantasi lainnya yang berjudul The Second Throne dan persiapan untuk novel teen-romansa baru.
Jadi terima kasih telah bersabar. Mudah2an chapter kali ini memuaskan dan author akan memberi bonus picture Luce untuk chapter selanjutnya. Sankyuuuu..
NB: Surat dari siapakah itu?