
Beberapa menit kemudian, Luce dan Lionell sudah duduk satu meja di kafetaria SMA Athanasia dan memesan dua jenis minuman. Jus lemon untuk Luce dan kopi latte hangat untuk Lionell. Mereka terlihat seperti pasangan bapak dan anak yang sedang mengobrolkan topik serius. Sebuah tablet yang menunjukkan beberapa gambar dan video ada di antara mereka.
"Ah, ini yang semalam..." Luce bergumam menyaksikan video yang sedang ditunjuk-tunjuk oleh Lionell. Seorang malaikat yang terbang melintasi jalanan kota dengan tiga pasang sayap hitamnya dan sepasang tanduk serta mata yang merah-menyala. "Keren... Bagaimana anda bisa mendapatkan video ini?" tanya Luce kemudian. "Ini bukannya yang sedang menjadi trending topik pagi ini? Tapi mereka bilang ini cuma hoaks."
"Kenapa responnya datar begitu? Aku pikir dia akan terkejut karena wajahnya ada di video itu," Lionell membatin. Dahinya berkerut ketika tahu ekspresi Luce tidak seperti yang diduga. "Aku mendapatkannya dari kamera mobilku. Aku juga mendapatkannya dari beberapa CCTV yang ada di sekitar tempat kejadian. Lebih tepatnya, aku menyita semua benda yang merekam kejadian ini," jawab Lionell. "Tapi aku tidak menyangka kalau hal itu tetap sampai kepadamu. Aku pikir pihak kepolisian sudah menarik semua pemberitaan dari media apapun yang ada saat ini."
Luce tak berkomentar lagi dan justru menikmati jus lemon agar Lionell juga meminum kopinya selagi hangat.
"Kenapa aku merasa seperti sedang berbicara dengan pria seumuranku ya?" sang Letda larut dalam pikirannya sendiri dan sama sekali tak menyadari kalau Luce sebenarnya bisa mendengar isi kepalanya itu.
"Langsung ke intinya saja," kata Luce tiba-tiba. "Saya sedang tidak ingin membicarakan apa yang ada di video atau foto itu. Jadi bisakah saya segera menjawab pertanyaan yang anda janjikan tadi?"
Lionell menyingkirkan tabletnya dan mengeluarkan sebuah kancing emas yang dibungkus plastik dari balik mantel. "Ini terjatuh beberapa meter sebelum cabriolet itu melayang, tepat saat bocah buron itu melompat keluar. Aku ingin kau membantuku menyelidiki siapa pemiliknya."
"Ini..." Luce memperhatikan dengan seksama kancing tersebut. Ada ukiran bunga daisy di sana yang sama artinya dengan Athanasia. "Ini memang milik sekolah saya, tapi bukan saya pelakunya. Anda tahu itu."
"Aku memang tidak menuduhmu..."
"Luce. Nama saya Lucas Androcles, tapi mereka memanggilku Luce," potong Luce dengan cepat.
Lionell melipat tangan kirinya dan menekan dagu dengan jemari tangannya seolah sedang berpikir. "Biar aku sederhanakan saja. Kita bisa saja mencocokkan kancing ini ke semua jas yang ada di sini, tapi sepertinya itu hanya akan menghabiskan banyak waktu saja atau... menggeledah semua rumah untuk menemukan bukti lainnya.... Itu juga tidak efisien. Pokoknya kita harus menemukannya sebelum uang yang dicurinya habis."
"Saya punya firasat kalau dia akan mencari saya setelah ini," kata Luce menebak.
"Itu bisa saja. Setelah melihatku di sini, dia akan mencarimu untuk membungkam mulutmu, tapi aku tahu kau bukanlah tipe yang bisa disudutkan dengan cara seperti itu." Polisi itu menunjuk dahi Luce yang terlihat sedang menyembunyikan sesuatu dalam pikirannya sendiri. "Katakan saja. Aku tidak akan memberitahukan ke siapapun soal 'apa' sebenarnya kau ini, Nak Luce."
"Kalau anda mau mencobanya boleh saja," tantang Luce tanpa ampun. "Paling-paling mereka akan menganggap anda sebagai orang sinting karena menuduh murid SMA sebagai makhluk jadi-jadian."
"Jadi kau itu makhluk jadi-jadian?" Lionell mendekatkan wajahnya pada Luce dan memperhatikan sedetail mungkin.
"Bukan yang itu juga." Luce menjauhkan diri dari wajah di hadapannya dengan kesal. "Lebih penting dari membahas soal diri saya, sepertinya kalau waktu itu bisa melukainya sedikit saja, sebenarnya kita akan jadi lebih mudah untuk menemukan orang ini."
"Tapi kau tidak berhasil melukainya."
Luce mengangguk. "Seranganku meleset mengenai seekor anjing yang malang. Kasihan sekali, padahal aku sama sekali tak berniat untuk membunuhnya."
Lionell mengernyitkan alisnya heran. Setengah heran, setengahnya lagi terkejut dan tidak percaya. "Jadi 'makhluk di depanku' ini memang berniat untuk menghabisi komplotan perampok itu. Kalau dia manusia pasti sudah kuborgol sejak tadi, tapi percuma saja. 'Makhluk' yang bisa membalikkan mobil sepertinya pasti akan bebas dengan mudah. Apa dia hanya berpura-pura saja dan mengenakan kostum untuk menipuku semalam? Tapi itu kelihatan nyata sekali. Lagipula tingkat kecocokan wajahnya dengan yang di video juga hampir seratus persen," lirihnya.
"Aku juga tidak bisa mendengarkan pikirannya sama sekali, jadi sulit untuk menemukan di mana orang itu bersembunyi. Dia seperti punya ilmu mengosongkan pikiran atau semacam itulah." Luce menambahkan seperti berusaha menegaskan sesuatu pada sang polisi.
"Ternyata dia bisa membaca pikiran juga," Lionell membatin kesal. "Sepertinya aku sedang berurusan dengan 'sesuatu' yang merepotkan."
Luce hanya tersenyum puas menghadapi manusia sok tahu tersebut. Letda Lionell yang tidak sadar sedang berbicara dengan siapa dan menyangka bahwa Luce mudah untuk ditundukkan. "Nah, bagaimana kalau anda serahkan semua penyelidikannya pada saya dengan satu syarat."
"Syarat katamu?"
"Syaratnya mudah kok." Luce tiba-tiba berdiri setelah menghabiskan jus lemonnya. Kedua matanya berpendar merah kehitaman sebelum kembali lagi menjadi keemasan seperti semula. "Berikan setengah umurmu di dunia ini padaku."
***
"Hei, Luce! Aku sudah menyelesaikan bagianku dengan cepat berkatmu." Ellgar menghampiri. "Apa itu?"
"Nggg... bukan apa-apa."
"Coba lihat!" Ellgar langsung merebut kertas yang Luce pegang dan membacanya. "Pipa di taman kota, jam satu... Bukannya itu sebentar lagi? Siapa yang memberimu ini? Apa fans barumu? Apa di antara adik-adik kelas ada yang langsung mengidolakanmu sejak pidato tadi pagi? Kau benar-benar curang! Kau kan sudah cukup pintar. Ketampananmu itu seharusnya diberikan padaku saja. Sebentar lagi aku kan lulus dan aku sama sekali belum pernah pacaran."
"Sudahlah, jangan main-main dengan benda seperti ini." Luce merebut kembali kertasnya, meremas, membuangnya ke tanah, lalu menginjaknya hingga jadi abu. Benar-benar jadi abu. "Aku juga tidak akan ke sana. Cuma buang-buang waktu saja."
Tapi setengah jam kemudian, Luce melompati pagar sekolah untuk bisa ke tempat yang dituliskan. Tidak ada yang mengikutinya, bahkan Ellgar yang kelihatan penasaran pun tak sampai hati untuk merobek celananya sendiri karena pagar sekolah yang cukup tinggi. Luce melompat dengan ringan seolah ada sepasang sayap di punggungnya. "Apa dia benar-benar malaikat ya?" Ellgar memukul wajahnya sendiri. "Sakit!"
(Author: jangan ditiru ya... Lompat pagar sekolahnya... Hehe).
Luce akhirnya tiba di taman sepuluh menit kemudian, tapi dia tak melihat ada siapapun di dekat tumpukan pipa bekas. Hanya hutan pohon maple yang rimbun karena musim semi telah tiba. Tak banyak juga orang yang berada di sisi lain taman karena hari itu bukanlah hari libur. "Mungkin aku tak seharusnya ke sini," pikir pemuda itu. Kedua matanya mengintai ke dalam rongsokan pipa besar dan menemukan sebuah tas yang cukup untuk menyimpan ratusan lembar uang. "Beneran uang, ya..."
Selembar kertas ada di tumpukan paling atas, di dalam tas tersebut. "Aku tidak menggunakannya sama sekali, jadi tolong kembalikan ke kantor polisi karena aku tidak mau berurusan dengan orang-orang seperti mereka. PS: Maaf merepotkan, tapi aku tahu kau kenal baik dengan salah satu dari mereka."
"Seenaknya sendiri." Luce menghela napas panjang kemudian berteriak. "Kenapa tidak kau kembalikan saja sendiri! Aku tahu siapa kau jadi jangan coba-coba mengerjaiku seperti ini. Aku bisa saja mencari tahu rumahmu atau tempat persembunyianmu dari bau keringatmu atau darahmu atau pipismu juga lalu membunuhmu. Jadi keluarlah dan tunjukkan batang hidung si*lanmu!"
"Kau hobi mengendus pipis orang lain juga, dasar monster cabul!" seorang pemuda bertopi menodong bagian belakang kepala Luce dengan sebuah pistol. "Tentu saja aku telah menggunakannya sebagian untuk membeli senjata ini. Kalau tidak..."
"Kalau tidak apa?" Luce menarik lengan kanan pemuda itu kemudian membanting tubuhnya ke permukaan tanah dengan cepat. Tak sampai semenit, pistol sudah berpindah ke tangan Luce saat dia tahu kalau yang terbaring di hadapannya saat itu adalah seorang gadis. "Jadi kau cuma seorang perempuan jal*ng yang menyamar jadi perampok bank kelas teri."
Luce menembak tanpa belas kasih, tapi gadis itu sudah menyingkir setelah berhasil menancapkan sebuah belati menembus sepatu lawannya. "Si*lan!"
"Kau pikir sedang berhadapan dengan siapa sekarang?" Gadis itu melangkah mundur dan mengeluarkan pistol lagi dari balik sakunya untuk menyerang Luce, tapi pemuda itu tak sempat menghindar. "Hanya karena aku seorang perempuan, maka kau akan lebih unggul dariku, begitu?"
"Tapi sayangnya ada perempuan lain yang jauh lebih unggul darimu, Nak." seorang wanita berambut pendek tiba-tiba muncul dari balik semak dan langsung menyergap tanpa ampun. Dia menunjukkan lencana dan ID card miliknya pada Luce setelah beberapa orang bawahannya berhasil meringkus si gadis perampok.
"Seharusnya kalian menangkapnya!" Gadis itu masih saja bisa berteriak walaupun kedua tangannya telah diborgol. "Dia itu monster tahu! Dia juga hobi mengendus pipis orang lain!"
"Bicara apa bocah itu? Berani-beraninya melukai kaki dan tanganku seperti ini," gerutu Luce ketika sang polisi wanita mendekatinya. "Padahal aku ini seorang malaikat, tapi kenapa semua manusia memperlakukan aku seperti ini? Dunia para sampah. Aku harus cepat-cepat kembali ke surga."
"Ariana North-Valian, Letnan satu dari unit kepolisian distrik 45," wanita itu memperkenalkan diri pada Luce yang sibuk menahan pendarahan di lengan kirinya. "Kau tidak apa-apa?"
"Cepat bawakan kotak P3K," pintanya pada salah satu opsir polisi yang berdiri tak jauh darinya. "Ada yang terluka di sini."
"Tapi Letnan, siapa yang terluka?" sang opsir balik bertanya sebelum wanita bernama Aria tersebut sadar bahwa Luce sudah tidak ada di tempatnya semula.
***
Note from author:
Lama sekali update nya ya... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ iya, susah banget menggabungkan ilmu permalaikatan dengan analisis detektif, yang sebenarnya nggak seperti itu juga... 😂😂😂 Luce cuma bergerak dengan insting malaikatnya, tapi nggak tahu kenapa dia bisa ikut-ikutan terjerumus di dunianya Lionell.
Harap maklum ya pemirsah... namanya juga malaikat kesasar...
Jangan lupa klik like, favorite, dan 5rate. Tinggalkan jejak di kolom komentar...