
"Waaahh..." Luce terpana memandang sebuah mansion mewah yang berdiri kokoh di hadapannya. Pintu gerbang setinggi dua meter dengan barisan pohon cemara yang menghijau dan kolam air mancur berada di bagian tengah halamannya. "Ini rumahmu?" pemuda tersebut berpaling pada Ellgar yang rupanya masih terus melangkah ke sisi lain jalan. Raut kecewa muncul seketika pada wajah Luce. "Jadi bukan yang ini ya..."
"Tara..." Ellgar memblokir langkah Luce beberapa menit kemudian. "Selamat datang di rumah keluarga besar Wagner."
Sebuah simbol salib raksasa seolah menantang Luce di depan pintu masuk. "Kau bercanda? Ini kan gereja?"
"Kau yang bercanda!" Ellgar menggeleng. "Sebesar ini kau bilang gereja? Ini katedral."
Nyali Luce langsung menciut. Seluruh nyawanya seolah terbang ke angkasa. "Itu sama saja, dasar bodoh," pikirnya. "Bagaimana mungkin..."
"Ayo masuk!" Ellgar mendahului Luce melewati pagar besi berwarna hitam. Jelas saja terdapat banyak simbol anti-iblis terukir di antaranya. "Oya, apa aku harus menyiapkan air suci juga untuk menyambut kedatanganmu?"
"A-AIR SUCI?" Mata Luce terbelalak. "Tidak, tidak perlu itu. Aku tidak memerlukannya." Pemuda itu kelihatan sekali sedang ketakutan dan ragu untuk masuk ke halaman bangunan religius dengan dinding putih dan atap hijau lumut yang membuatnya tampak lebih menawan. "Hanya saja..."
"Kenapa kau diam? Ayo masuk!" Ellgar tampak mulai curiga, tapi seperti biasa dia selalu tahu bagaimana menenangkan hati sahabatnya. "Jangan bilang kalau kau tak pernah masuk gereja! Aku pikir kau salah satu penganut agama yang baik."
"Aku bukannya tidak pernah, tapi aku tidak bisa..." Luce tak melanjutkan ucapannya. Dia terus meremas kedua tangan dengan perasaan gundah yang bercampur-baur. "Rasanya jantungku seperti mau meledak," lirihnya dengan penuh rasa takut.
"Kau ini ya... Bukannya kau bilang padaku kemarin bahwa dirimu adalah seorang malaikat?" Ellgar berkacak pinggang. "Mana ada malaikat yang tak bisa masuk gereja?"
"Aku memang malaikat, tapi sekarang aku kan seorang ib..." Belum selesai Luce berkata, Ellgar sudah menariknya masuk secara paksa dan kini keduanya sudah berada di dalam — hanya satu meter jauhnya dari pintu gerbang.
"Tidak terjadi apa-apa," gumam Luce dengan penuh keheranan.
"Kan sudah kubilang tadi tidak ada malaikat yang tidak bisa masuk kemari," sahut Ellgar tiba-tiba.
"Orang ini..." Luce membatin. "Kenapa bertindak seolah aku benar-benar malaikat, sih? Memangnya dia tidak takut kalau seandainya aku memang seorang malaikat? Ah, bagaimana mengatakannya ya? Aku memang seorang malaikat, tapi aku berharap kalau dia tak menyadari bahwa aku seorang malaikat. Dibandingkan itu semua, dalam wujud iblisku ini... kenapa aku bisa masuk ke tempat ini dengan mudah? Seharusnya..."
"Hei, kenapa masih diam di situ?" hardik Ellgar sambil menggandeng tangan Luce yang sedingin es. Keduanya melewati halaman rumput yang rapi sehabis dipangkas dan beberapa gedung di sisi lain gereja. Tidak sepi seperti yang dikatakan Ellgar sebelumnya, banyak manusia beraktivitas di tempat itu, seperti zuster yang mengajar agama dalam sebuah kelas, sekelompok remaja yang berlatih paduan suara, serta beberapa pasteur dengan level yang berbeda-beda sibuk lalu-lalang dengan kitab suci dan pakaian serba hitam.
Tak hanya itu, di salah satu sudut yang tersedia sarana bermain, terdapat anak-anak yang asyik dengan dunia mereka sendiri. Namun beberapa saat kemudian, mereka akhirnya sadar akan kehadiran sosok asing yang datang bersama Ellgar. Mereka langsung berkerumun menyambut kedatangan dua pemuda berseragam SMA tersebut.
"Kakak, siapa dia?" tanya Yohan sambil menunjuk Luce yang tampak canggung.
"Dia?" Ellgar ikut menunjuk Luce sambil tertawa. "Ayo masuk dulu. Nanti kakak kenalkan pada kalian."
Anak-anak tersebut rupanya berebut ingin mendekati Luce sementara Ellgar menggendong Lily yang paling kecil dan berusia tiga tahun. Mereka bergerak menuju bangunan sederhana di belakang gereja yang menyerupai rumah. Bagian dalamnya pun persis seperti rumah pada umumnya. Perabotan kayu dengan cat vernis mengkilap dan sofa empuk di tengah ruangan. Walaupun sempit, terasa sekali bahwa rumah tersebut merupakan tempat paling nyaman di lingkungan sekitar gereja.
"Nah, anak-anak, dia adalah orang yang kakak ceritakan sebelumnya. Kakak Lucas Androcles. Kalian akan memanggilnya dengan sebutan Kakak Malaikat. Bagaimana?" Ellgar bertopang dagu sambil memandang adik-adiknya yang serius mendengarkan dan sesekali memperhatikan Luce dari ujung kaki sampai ujung rambut.
"Apa-apaan kau ini?" Luce menarik kerah jas Ellgar dengan kesal kemudian berbisik, "Maksudnya apa? Kenapa kau mengatakan pada mereka kalau aku adalah malaikat? Mereka kan cuma anak kecil. Mereka bisa beneran percaya kalau aku ini malaikat. Kau seperti tak pernah jadi anak kecil saja."
Ellgar mendorong Luce perlahan sambil berkata lirih, "Nanti aku jelaskan. Sekarang ikuti skenario yang sudah kubuat saja."
Luce melengos dan tak mau menatap lagi rekannya tersebut sementara anak-anak di hadapannya saat ini seperti telah lama menantikan kehadirannya. "Aku tidak tahu apa yang Ellgar ceritakan pada mereka soal diriku. Walaupun ingin sekali tahu, tapi apa aku boleh menanyakannya sekarang. Rasanya seperti aku terperangkap oleh kebohonganku sendiri. Mungkin seharusnya Ellgar tahu siapa aku yang sebenarnya agar dia tidak terus mempermainkanku." Luce berkutat pada pikirannya yang terganggu.
"Mereka anak-anak yatim yang dibesarkan di tempat ini," jelas Ellgar kemudian. Dia mendudukkan Lily pada salah satu sofa sementara yang lain masih sibuk megerumuni Luce yang berdiri mematung. "Yohan, Helen, Theo, Keith, Sonya, dan yang paling kecil namanya Lily. Ah, ada seorang lagi yang paling tua yaitu aku, Ellgar Wagner." Ellgar memperkenalkan seluruh anggota keluarganya pada Luce.
"Sebenarnya masih ada bapa dan ibu zuster yang lain yang menjadi orang tua asuh kami," lanjut Ellgar. "Tapi aku sepertinya tak perlu mengenalkan mereka satu persatu padamu." Pemuda itu meringis. "Kebanyakan menghapal nama orang, kau bisa repot nanti."
"Bagaimana tentang kedua orang tuamu yang pergi ke luar kota dan aku yang harus menemanimu malam ini?" tanya Luce sambil melipat tangan dan mengetuk-ngetukkan kaki kanannya di lantai. "Kau bohong pada Jean soal itu, kan?"
"Aku pikir kau akan menerimanya setelah tahu bahwa kita sama-sama besar di panti asuhan," kilah Ellgar tak sabar. Dia langsung menyerahkan Lily pada Sonya dan menarik Luce ke ruangan lain di mana anak-anak tak bisa mendengar percakapan keduanya. "Jean tidak akan memperbolehkanmu menginap di sini kalau aku tidak bohong. Lagipula kita sama-sama ditinggalkan oleh orang tua kita jadi..."
"KITA TIDAK SAMA!" Luce berteriak marah dan membuat Ellgar bingung.
"Apa maksudmu tidak sama? Jean bilang kalian dibesarkan di panti asuhan. Apa itu semua bohong?" Ellgar bertanya. Suasana hatinya langsung berubah setelah Luce meneriakinya dan akhirnya dia sadar kalau Luce memang sedang membohonginya. Pemuda itu kemudian menghela napas panjang dan menyimpulkan, "Aku pikir memang tidak mungkin seseorang yang tinggal di apartemen semewah itu tadinya adalah yatim-piatu. Kalau dilihat dari semua potret yang terpasang di dinding itu, dari awal kau memang sudah hidup mewah seperti saat ini. Aku tahu itu."
Luce semakin kesal dan ingin sekali meninju Ellgar untuk melampiaskannya. "Yang kumaksud tidak sama bukan yang seperti itu," ucapnya perlahan. Tangan kanannya sudah siap dengan kepalan tertahan.
"Kalau bukan itu lalu apa?" Ellgar menantang. "Coba jelaskan padaku agar aku tidak salah paham lagi."
"Sekarang aku tidak bisa memberitahumu soal itu," timpal Luce. Kedua matanya tak mau memandang ke arah lawan bicaranya. "Tapi mungkin suatu saat... Aku memang berencana untuk memberitahumu soal itu semua..."
"LUCE!" Ellgar menggenggam kedua bahu Ellgar. "Aku pikir kita ini teman yang bisa saling berbagi rahasia. Katakan rahasiamu padaku sehingga aku bisa mengatakan rahasiaku padamu."
Luce memalingkan wajahnya yang memerah.
"Baiklah," Ellgar melepas tangannya dari bahu Luce. "Karena kau tidak mau memberitahuku, aku juga tidak akan memberitahumu kenapa aku mengenalkanmu sebagai malaikat di hadapan anak-anak. Sekarang kau bisa melakukan apapun yang kau mau di sini, tapi nanti malam kau harus menghadiri acaranya di gereja." Pemuda itu kemudian berbalik dan langsung menutup pintu dengan keras.
"Sial!" umpat Luce. "Kenapa dia jadi serius seperti itu sih? Padahal biasanya juga dia tak pernah ambil pusing soal rahasia terbesarku. Arghhh, membuat frustasi saja."
***
Note from Author
Frustasi nggak kalau kalian punya kawan seperti Ellgar. Yang usil, tukang ganggu ketenangan, kepo, udah salah, ngeyel pula... Author sendiri juga pusing...
😅😅
Bonus picture hari ini...
Walaupun sebenarnya Luce awalnya adalah malaikat, tapi yaa kira-kira seperti ini wujud asli Luce yang sekarang...
Iblis berhati malaikat. Kira-kira siapa yang bakal dapet pelukan darinya ya?? Oya, ngomong-ngomong bola bulu itu belum pernah muncul di cerita yaa...
Jadi author jelaskan sedikit, kalau bola bulu itu adalah "rahasia"
Sampai jumpa di episode berikutnya...
Don't forget to like, favorite, 5 rate, vote, and comment...