De Luminous

De Luminous
Malaikat Tanpa Sayap



Luce membuka mata perlahan dan merasakan sakit kepala hebat yang tak kunjung mereda akibat sepasang tanduk yang muncul di antara rambut hitamnya. "Perasaan familiar apa ini?" katanya mengambil posisi duduk di ranjang. Sayap hitam Luce kemudian terbentuk dari kumpulan udara panas di sekitarnya disusul sayap kedua dan ketiga hingga jumlahnya menjadi tiga pasang. Pemuda itu kemudian berusaha berdiri dengan tertatih dan baru mengumpulkan seratus persen kesadaran ketika iris matanya berpendar merah.


"Ellgar, sedang apa kau?" tanya Luce ketika tahu sebilah pedang telah terhunus tepat di depan wajahnya. Tak hanya itu, sigil* raksasa berwarna biru menjadi penghalang baginya untuk keluar. Pemuda itu akhirnya sadar telah berada di sebuah tanah lapang yang cukup luas untuk menghadapi Ellgar yang kini berpakaian serba hitam.


Luce tertawa. "Kau mau cosplay dengan pakaian pasteur seperti itu?"


Ellgar tak menjawab dan hanya menunjukkan ekspresi dingin yang menyebalkan. Luce tak menyangkal jika wajah rekannya itu adalah hasil kebohongan yang akhirnya terbongkar setelah sekian lama. Pemuda berambut keemasan itu seperti sedang meluapkan emosinya melalui pedang yang dia pegang. Angin dingin berhembus di sekitarnya melawan udara panas yang menyelimuti tubuh Luce.


"Kau yakin mau membunuhku dengan pedang itu?" Luce bertanya lagi. Dia sadar kalau tempatnya berada saat itu adalah dunia yang terbentuk dari sihir suci para pasteur dan zuster gereja. "Seorang iblis berhasil masuk ke tempat suci manusia. Tentu saja akan disambut dengan cara seperti ini," pikirnya. "Bisa-bisanya aku berubah wujud di tempat seperti ini." Pemuda itu sadar kalau kalung pemberian Jean sudah menghilang dari tempatnya semula.


"Apa yang harus kulakukan untuk membuatmu percaya kalau aku adalah iblis yang baik?" teriak Luce. "Aku ini berbeda dari ras iblis yang kalian ketahui. Aku tidak akan melakukan perbuatan jahat dan tidak akan melawan sahabatku sendiri."


"Tapi kau sudah membohongiku selama setahun ini!" Ellgar akhirnya menjawab. "Dalam alkitab, itu adalah perbuatan jahat."


"Aku tidak membohongimu. Aku sudah bilang kalau aku adalah malai..." Luce tertegun. Benar sekali, dia sudah membohongi Ellgar. Dalam wujudnya yang seperti itu, tidak akan ada satupun yang percaya kalau dirinya adalah malaikat. Luce menghela napas sedalam-dalamnya dan berusaha berpikir jernih. "Sekalipun aku berada dalam wujud sempurna, tidak mungkin aku bisa keluar dari sigil sebesar ini."


"Kau takut?" tanya Ellgar dengan sinis. "Bukankah kau adalah iblis selevel tujuh raja neraka yang terkenal itu?"


"Hah?" Luce kembali menahan tawa. "Raja iblis yang kau maksud itu cuma cecunguk sialan yang mengaku telah menguasai neraka padahal tempat itu masih wilayah suci para malaikat. Apa para pasteur tak mengajarkanmu soal itu? Satu-satunya yang berkuasa di alam ini hanyalah Yang Maha Kuasa."


"Kau mau mencoba menceramahiku sekarang." Ellgar memasang kuda-kuda. "Apa tak menyadari kalau sekarang waktunya untuk mengucapkan salam perpisahan padaku, Luciel."


"Tunggu sebentar!" Luce mengulur waktu. "Kau tidak perlu melawanku sampai seperti ini. Aku akan meninggalkan gere..." Belum selesai pemuda itu berkata, Ellgar sudah menerjangnya dengan pedang secepat kilat. Luce berhasil terbang menghindar walaupun tak bisa keluar dari lingkaran sihir yang mengurungnya. "Sial, di mana Jean sekarang? Apa sihirnya juga sudah merusak pikiran pria itu sampai tak menyadari kalau aku sedang kesulitan. Hhh, pelayan tidak berguna."


Ellgar menghantam lagi dengan sambaran kilat berwarna biru sampai Luce berhasil membuat pedang cahaya dari serpihan remiges sayapnya untuk bertahan. Kedua mata mereka beradu saling melampiaskan kemarahan. Ellgar yang kesal karena telah dibohongi dan Luce, karena memiliki sahabat yang IQ-nya inferior.


Ellgar melompat mundur karena tak bisa mengimbangi gerakan Luce yang menguasai udara. Pemuda itu menghujamkan pedangnya ke tanah dan merapal mantera untuk menghempaskan Luce ke dinding perisai sihir.


"Arghh!" Luce memuntahkan isi perutnya setelah jatuh dari ketinggian lima meter. Dia menatap Ellgar dengan bimbang. "Aku bisa saja membunuhnya dalam sekali serang, tapi sudah lama aku tak kembali ke dunia bawah. Jangankan untuk melawannya, energiku yang sekarang bahkan sulit untuk mempertahankan wujudku sebagai manusia."


"Aku adalah keturunan ke-78 The Watcher** yang diperintahkan Michael untuk melenyapkan semua malaikat yang jatuh ke neraka, termasuk kau," tunjuk Ellgar. "Kau adalah pemimpin mereka. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang sudah didambakan oleh garis keturunanku selama bertahun-tahun. Luciel..." Ellgar menggeleng. "Maksudku Lucifer, terimalah takdirmu malam ini."


"The Watcher apanya?" Luce berdiri sambil mencengkeram tangan kirinya yang terluka. Dia menyambut kembali pedang Ellgar dengan senjata miliknya. "Tumben kau berisik sekali," lirih Luce menguatkan kedua kakinya. Bunyi gemuruh seolah kilat menyambar terdengar dari luar sigil. Beberapa pasteur dan zuster mengelilingi Luce dan Ellgar sambil membaca kitab suci sementara Yohan dan anak lain bersembunyi di dalam panti untuk menantikan hasil pertarungan antara malaikat dan iblis.


"Kalau saja ada orang lain yang bisa menghentikan hukuman ini," pikir Yohan. "Lucas tidak melakukan kesalahan apapun. Hanya karena dia seorang iblis, mereka semua jadi memperlakukannya seperti gangguan. Untung saja anak-anak sudah tidur berkat obat yang kuberikan. "Bagaimana caranya agar aku dapat menghentikan kebodohan mereka?" pemuda itu mendengus.


CSSHH...


Pedang Ellgar dan Luce kembali beradu. Suara yang ditimbulkan lebih seperti logam panas yang tersiram air es. Keduanya berpindah-pindah tempat hingga kelelahan. Di antara Luce dan Ellgar tak ada satupun yang mau mengalah. Mereka menghabiskan peluh selama berjam-jam pada malam penuh bintang.


"Panggil Michael sekarang!" teriak Luce. "Kau tidak perlu melakukan apa yang dia suruh, kan? Manusia lebih tinggi derajatnya dari malaikat." Luce menghalau pedang Ellgar sekuat tenaga. Napasnya tersengal dan yang paling tak tertahan adalah, "Ini saatnya makan malam T_T," batinnya. "Jean sialan, di mana kau sekarang? Tuanmu ini sedang kelaparan!"


Waktu mendadak berhenti ketika Ellgar nyaris membelah dahi Luce dengan seringai seramnya. Sigil raksasa tiba-tiba menghilang dan semua orang membatu layaknya patung di pelataran museum. "JEAN!" Luce tak pernah sebahagia ini ketika tahu di hadapannya berdiri sosok pria tampan berjas cokelat. Jean menoleh dengan kerennya. Tak ada satupun yang menyadari kalau dia sedang marah, termasuk Luce.


"Gereja ini adalah wilayahku. Kenapa Michael sampai bisa menyelundupkan The Watcher kemari?" Jean menyentuh pedang Ellgar dan melenyapkannya jadi abu dalam hitungan detik. Dia juga menghapus semua tulisan yang sedang dibaca oleh para pasteur dan zuster dalam kitabnya. "Hhhh, mereka menghabiskan waktunya untuk mempelajari mantera anti-iblis dan bukannya beribadah dengan tenang. Dasar manusia menyusahkan," katanya sambil menepuk dahi.


"Terima kasih," ucap Luce senang.


"Sebelum pergi ayo kita temui anak-anak panti terlebih dahulu." Jean berjalan mendahului Luce menuju rumah kecil yang tak jauh dari tempat mereka berada. Ellgar dan semua orang dewasa tak bergerak satu sentipun ketika Luce melewatinya. Pemuda itu berhenti sejenak dan memandang rekannya dengan sedih.


"Apa mereka benar-benar akan melupakan kejadian hari ini?" tanya Luce pada Jean yang tak mau menghentikan langkahnya.


"Tentu saja," jawab Jean tenang. "Saya sudah memanipulasi ingatan mereka."


Luce tersenyum dan berlari menyusul Jean. Di dalam rumah, Yohan dan anak lainnya sedang menunggu Luce dengan cemas. Tak ada satupun di antara mereka yang membatu sehingga Sonya dapat menghamburkan tubuhnya dalam pelukan Luce. Gadis berambut cokelat itu menangis sesenggukan.


"Saya yang membangun gereja ini ratusan tahun lalu sebelum menyelamatkan jasad Henry dan menjadikannya tubuh baru bagi Tuan," tutur Jean sambil memandang Yohan yang seolah tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. "Anak-anak ini tidak terpengaruh oleh manipulasi waktu karena mereka sama sekali belum tersentuh sihir apapun. Sepertinya gereja menerapkan batasan usia untuk mempelajari exorcisme***"


"Walaupun kakak bukan Kak Henry, tapi tubuh ini tetap miliknya. Kakak jangan sampai terluka apapun caranya. Kakak harus bisa melindungi diri," ucap Sonya sambil menatap Luce sedih.


"Minggu ini kalau Tuan tak segera kembali ke dunia bawah untuk mengisi energi, maka tubuh manusia Tuan juga akan lenyap dan perlu waktu bagi saya untuk menemukan tubuh baru yang sesuai dengan wajah dan usia Tuan. Bagaimanapun tugas saya sebagai malaikat maut hanya sebatas itu. Tuan memang harus bisa menjaga diri sendiri seperti yang dikatakan oleh gadis ini."


Luce terharu dan sadar akan kesalahannya. Dia memang pantas dihukum karena menggunakan tubuh orang lain sembarangan. "Tapi meskipun kalian tahu siapa aku sebenarnya..." Helen, Theo, Keith, dan Lily tak sabar menunggu. "Terima kasih karena sudah mau menerimaku di tempat ini," kata Luce tersenyum. Aura bercahayanya lagi-lagi mengisi kekosongan di hati anak-anak tersebut. Mereka tersenyum senang mengetahui bahwa yang sedang berada di hadapan mereka adalah sosok yang baik dan tak perlu ditakuti.


"Ini milik anda." Yohan menyerahkan kalung salib yang berantakan pada Jean. "Kalau anda adalah Azrael kenapa anda tak menunjukkan sayap indah anda pada kami? Sayap orang itu benar-benar jelek. Apa dia memang si buruk rupa yang ada di cerita dongeng atau memang dia itu cuma malaikat palsu yang gagal berubah wujud kemudian menjadi iblis kacang?"


"Hei-hei, aku masih ada di sini, bocah tengik," Luce mengomel dan membuat Jean tertawa.


"Ah, kalian tidak tahu ya kalau wujud malaikat pencabut nyawa sedikit berbeda dari yang lain? Aku tidak punya sayap seperti para Archangel. Aku hanya punya sabit raksasa untuk memutus ikatan antara ruh manusia dan jasadnya. Secara teknis, wujud Tuan Luce lebih baik dariku yang hanya sibuk menghabiskan waktu di dunia manusia dan tidak perlu mondar-mandir ke surga seperti malaikat lain. Aku tidak butuh sayap itu. Aku bisa teleportasi dan memanipulasi waktu serta ingatan manusia sesuka hati."


"He-hebat!" Helen, Theo, dan Keith menunjukkan kekaguman mereka, sementara Lily yang masih kecil belum terlalu menunjukkan ketertarikan pada pembicaraan di sekitarnya. Gadis kecil itu hanya sibuk mencubit pipi Luce dengan gemas.


"Jean berlagak sok keren lagi, yeah walaupun aku sangat bersyukur karena Dia telah membuat pria ini menemukan wajah rupawan untukku," Luce bergumam kesal. Pandangannya kemudian beralih pada Ellgar yang masih dalam posisi menghunus tangan kosong di tengah pelataran gereja. "Kita harus segera pergi sebelum waktu berjalan kembali seperti semula."


***


*sigil \= lingkaran sihir (setiap malaikat dan iblis memiliki lingkaran sihir masing-masing sebagai identitas dan juga untuk memanggil kekuatan dari alam bawah sadar mereka. Pada masa modern seperti ini, sigil digunakan oleh penganut sekte tertentu untuk memanggil malaikat/iblis tertentu). Kalian bisa menebak, kalau yang ini sigil milik siapa?



**The Watcher \= manusia yang diberi tugas secara turun-temurun untuk mengawasi Fallen Angel (malaikat jatuh) dan pengikutnya. Kelompok ini dipimpin langsung oleh Michael sebagai jenderal tertinggi Archangel dan menguasai exorcistme.


***exorcisme \= ilmu yang mempelajari tentang pengusiran hantu atau pemusnahan iblis dan kekuatan jahat/gelap di dunia manusia. Biasanya menggunakan sihir putih yang mampu melawan efek dari sihir hitam seperti guna-guna dan kerasukan.


Note from Author:


Makin banyak istilah-istilah yang akan digunakan dalam novel ini dan harus dipelajari lebih dalam oleh author supaya tidak menimbulkan perdebatan antar reader karena author fix netral. Sebelumnya tanpa bermaksud menyinggung agama/keyakinan/sekte tertentu, author mohon maaf yang sebesar-besarnya. Novel ini murni karya fiksi-fantasi tanpa melibatkan golongan masyarakat apapun. Terima kasih... 😊😊😊