
Dalam ingatanku...
Malaikat adalah sosok bercahaya
dengan sepasang sayap-berkilau yang membentang
Dia berkata dengan suara lirihnya bak triton raksasa ditiup pelan...
menusuk olfactorius - menutup optical
"Kau menyerah?" tanyanya sambil menghunus senjata suci
dan terus menghunusnya hingga cahaya lain di hadapannya meredup.
"Kau mengakui kesalahanmu?" tanyanya lagi.
"Ingat baik-baik. Tuhan takkan membiarkanmu kembali ke sisi-Nya meski kaulah yang terpuji.
Kau...
Dan juga malaikat pengikutmu.
Akan tenggelam dalam dunia yang telah Tuhan ciptakan
hingga semesta berpulang
Dan dengan kuasa Tuhan,
The Watcher akan selalu mengawasimu."
—————
Langit tanpa bintang bertabur helaian remiges* hitam, saat itu pukul delapan malam waktu di sebuah wilayah – Distrik 45, sebuah kota padat penduduk dengan tingkat kriminalitas tertinggi. Dua mobil patroli terparkir tepat di depan sebuah bank dengan suara tembakan peringatan bergilir yang memekakkan telinga. Empat orang bertopeng meninggalkan bangunan penuh uang tersebut dengan sebuah mobil-sedan-keluaran-terbaru tanpa menghiraukan kegelisahan para polisi yang menunaikan tugasnya.
“Kejar mereka!” Lionell, salah satu polisi muda berpangkat letda memerintahkan semua rekannya untuk bergegas. “Kalian berhadapan dengan unit kepolisian Distrik 45,” Lionell berteriak dengan speaker sambil memimpin semua pasukan berseragamnya, mengejar para penjarah yang mendahului mobil patroli mereka. Dan akhirnya, sesaat kemudian sirine yang bernguing-nguing memecah kedamaian kota.
“Mereka mengejar kita, Bos,” seorang bocah yang merupakan salah satu pria-bertopeng berkata pada yang lain. Dia memeluk erat sebuah tas besar berisi hasil jarahan malam itu dengan jantung berdebar kencang. ‘Aku sebenarnya tak ingin melakukan semua ini’, teriaknya dalam hati.
“Apa yang kau takutkan, Nak! Kita penjarah nomor satu di distrik ini. Tak ada yang bisa mengalahkan kita,” Gin mengambil sesuatu dari balik jok mobilnya yang berjalan dengan kecepatan hampir dua ratus kilo per jam. Pria bertubuh besar itu berhasil membuat si bocah berpaling ke arahnya yang baru saja memamerkan sebuah meriam luncur dengan rasa bangga.
“Kau mau apa dengan senjata itu?!” si bocah berteriak seketika padahal dalam otaknya, dia sedang bertengkar dengan pikirannya sendiri, merasa bahwa terjun dengan komplotan penjarah tak manusiawi adalah perbuatan salah. “Kau melupakan perjanjiannya, Gin. Aku mau melakukan semua ini hanya untuk mendapatkan uang, bukan untuk membunuh!”
“Dengar, Nak. Dunia ini kejam! Kalau kau tidak membunuh, maka kaulah yang akan dibunuh,” Gin berkata sambil meledakkan salah satu mobil patroli menggunakan meriam luncur di tangannya. Pria itu kemudian tertawa menentang rasa bersalahnya lalu berteriak keras, “Ledakan yang indah, kan?!”
Saat itu juga, sang bocah yang duduk di sebelah Gin menghela napas panjang kecewa. Dia pun akhirnya mengambil sebuah keputusan besar, ‘Karena mereka sudah melakukannya di luar perjanjian, aku tak perlu mengikuti mereka lagi. Ya, aku hanya perlu membawa uang ini bersamaku dan menghilang dari jangkauan mereka. Oke... ini saatnya!’ Bocah itu tiba-tiba membuka pintu mobil dan melompat keluar. Kemudian tanpa menoleh lagi ke belakang, dia berlari masuk ke dalam gelapnya sudut kota. Lenyap dari pandangan para pria-bertopeng.
“Dia kabur, Bos!” Gin nyaris menekan pelatuk meriamnya lagi ketika Smith menghentikannya dengan mengomel, “Sudah kubilang kan, jangan merekrut bocah ingusan seperti dia. Bertindak di luar perjanjian sedikit saja, dia akan langsung menolak kita.”
“Berhenti atau kubuat mobil kalian melayang!” Lionell berteriak kesal sebelum beberapa detik kemudian mobil di hadapannya terhempas ke langit dan bergulir menghantam salah satu tiang listrik dengan kecepatan sangat tinggi. Dan saat itu juga, aksi pengejaran pun akhirnya dihentikan.
“Kau melihat kan, yang tadi kulihat?” Aria bertanya pada Lionell yang berdiri di sisi mobil patroli sejak kendaraan itu parkir seperempat jam lalu.
“Tiga orang tewas di tempat dan seorang lagi berhasil kabur,” Lionell berkata sambil membaca buku laporan milik Aria. Dia akhirnya menjawab pertanyaan rekannya tersebut sambil melakukan peregangan pada seluruh otot tangan dan tungkainya. “Ayo kita laporkan pada atasan kalau ini adalah kecelakaan biasa.”
Aria terdiam dan berusaha memahami perkataan Lionell bahkan setelah rekannya tersebut melanjutkan, “Jika kita melaporkan yang sebenarnya, atasan akan memecat kita karena menganggap kita sudah gila. Lagipula yang mereka ledakkan tadi adalah mobil dengan autodriver. Tak seorangpun dari anggota kita menjadi korban.”
“Itu berarti, yang seperti ini juga tidak perlu dilaporkan, bukan?” Aria bertanya sambil menangkap satu helaian remiges hitam yang berjatuhan dari angkasa sejak tadi. Lionell kemudian tersenyum menahan kesal. Dia menepuk kedua bahu Aria dengan keras sambil berkata, “Diam dan ikuti saja perintahku kalau kau masih ingin bekerja di unit ini.”
***
“Sebuah mobil sedan dilaporkan rusak parah pada peristiwa kecelakaan yang terjadi di salah satu persimpangan jalan blok A distrik 45. Seorang pengemudi dan dua penumpang lainnya yang tewas di tempat kejadian, merupakan pelaku perampokan bank yang berada dalam kejaran pihak kepolisian setengah jam sebelumnya. Sementara seorang pelaku yang berhasil kabur, dinyatakan sebagai buron...”
“Lagi-lagi,” Jean berkata sambil mematikan televisi melalui remote. Pria berambut hitam itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri tumpukan pakaian bernoda merah di sisi sebuah sofa, tempat seorang pemuda berbaring dengan helaian surat kabar menutupi wajahnya. “Berhentilah melakukan hal yang sia-sia, Tuan,” Jean menambahkan sejenak setelah pemuda itu mulai duduk dan menatap pria berambut cokelat itu dengan tatapan semerah darah.
“Tadinya aku hanya ingin merebut kembali apa yang mereka ambil, tapi kemudian kemarahan dan rasa benci mereka... juga nafsu... semuanya bercampur dan menyebabkan kekuatanku lepas begitu saja.”
Lucas Androcles, sebuah papan nama tersemat pada jas sekolah yang baru saja disiapkan oleh Jean di hadapan pemuda itu. “Anda sekarang hanyalah seorang murid SMA. Tidak lebih,” kata Jean dengan nada tinggi. “Kalau anda masih tidak bisa menahan diri atas keburukan manusia, maka cepat atau lambat, Mereka akan mengetahui keberadaan kita. Dan sedikit saja kita salah bergerak, usaha kita untuk keluar dari dunia-kita-yang-dulu akan sia-sia. Tuanku, saya mohon... jangan membuat diri anda disalahkan lagi,” Jean berlutut di hadapan Luce, pemuda yang kini telah rapi dengan setelan jas dan atribut sekolahnya.
“Aku pergi dulu,” Luce menutup pintu apartemennya beberapa detik kemudian dan mulai mengumpat, “Sejak kapan menghakimi komplotan perampok menjadi sebuah kesalahan, hah?! Aku harus menahan diri atas ketidakadilan yang kulihat... Dia pikir aku batu yang terus diam dan tak boleh melakukan apapun sesukaku?! Dia sendiri yang bilang kalau aku ini anak SMA dan bukannya batu!”
***next
*remiges\=helaian bulu
Halo readers yang terhormat...
selamat datang di novel terbaruku...
lagi2 author bingung harus nulis cerita apalagi kan supaya menarik...
mencoba untuk nulis romance 😭😭😭 tapi gagal...
akhirnya jadilah cerita ini...
semoga kalian suka...
PS: doakan agar author bisa segera menemukan ide untuk adegan romance di novel ini...
😭😭😭entahlah, paling yang keluar nanti adegan gore lagi bunuh2an atau tembak2an...
*dan seketika ku tenggelam dalam bantal...