
Seorang anak laki-laki bersurai cokelat sedang mengelap peralatan dapur di atas meja makan. Kelopak matanya yang kehitaman menandakan kalau dia sedang tidak dalam keadaan baik. Bibirnya pun menyenandungkan lagu sendu yang hampir terdengar setiap detik di tempat itu ---- lirik yang sama dinyanyikan oleh kelompok paduan suara. Luce mendekat setelah gagal menemukan Ellgar di sekitar rumah kecil tersebut.
"Yohan, anak-anak yang lain ke mana?" tanya Luce dengan sigap membantu anak laki-laki berusia empat belas tahun itu dengan serbet barunya.
"Mereka mungkin pergi ke pemakaman di halaman belakang gereja," jawab Yohan dengan ketus. Di antara anak lainnya, dialah yang paling tidak tertarik dengan kehadiran Luce sebagai sang malaikat. "Ellgar tidak memberitahumu ya? Nanti malam adalah peringatan kematian kakaknya Sonya. Tadinya, ada delapan anak yang tinggal di panti asuhan ini, termasuk dia."
"Maaf..." Luce akhirnya sadar kenapa Ellgar bersikap tidak seperti biasanya hari itu. "Apa aku boleh tahu dia meninggal karena apa?"
"Kecelakaan. Setahun yang lalu, dia meninggal karena menyelamatkan Ellgar dari sebuah tabrakan bus." Yohan terlihat enggan sekali menceritakan hal itu pada Luce. Bukannya menangis, raut wajahnya justru berubah kesal. "Henry... Wajahnya mirip sekali denganmu. Karena itu Ellgar berjanji untuk membawamu kemari, tapi tentu saja bukan itu masalahnya. Yang membuatku marah adalah sampai sekarang Ellgar belum bisa menerima kenyataan bahwa Henry sudah tiada. Setiap hari dia terus membicarakanmu seolah kau adalah malaikat penyelamatnya. Padahal kan Henry yang melakukan semua itu."
Luce menepuk dahinya secara spontan dan membuat Yohan kaget. "Lalu bagaimana dengan Sonya?"
"Kalau Sonya sih memang sudah tegar dari sananya, jadi dia cuma menganggap Ellgar terkena trauma berat karena itu."
Luce tiba-tiba jadi ingin segera menemui Ellgar dan menyelesaikan kesalahpahaman yang terjadi di antara mereka. "Sejak pertama kali bertemu memang Ellgar selalu mengikutiku kemanapun, tapi aku tak pernah mempermasalahkan itu." Kemudian pemuda itu teringat kembali perkataan teman berambut pirangnya, 'Aku pikir kita ini sama.'
"Hhh, membuat frustasi saja!" Luce berdiri dan memandang Yohan yang akhirnya menghentikan pekerjaannya. "Jadi apa yang bisa kubantu untuk acara nanti malam?"
"Kau hanya perlu berubah menjadi malaikat di hadapan Sonya."
"Ma-malaikat katamu?" Luce tercengang. Dia terlihat bingung dengan ucapan Yohan yang seolah tahu siapa jati diri Luce sebenarnya.
"Tenang saja, kami sudah menyiapkan kostumnya di belakang altar." Yohan berdiri dan mengajak Luce mengikutinya keluar dari rumah kecil tersebut.
"Kostum ya..." Luce mengusap dada lega. "Tak seperti yang kupikirkan. Rupanya aku hanya perlu menjadi badut di hadapan mereka."
"Sekarang kita harus menyiapkan ruang kapel untuk menyambut jama'ah yang datang nanti. Bukan peringatan kematian biasa, setiap tahun kami mengadakan acara amal untuk membantu panti asuhan lain yang jauh lebih kesulitan dari kami. Jadi ada anak-anak seperti kami juga akan meramaikan acaranya nanti malam," tutur Yohan sembari berjalan mendahului Luce. "Karena itu adalah keinginan terakhir Henry."
"Keinginan terakhir?" Luce mengangguk paham ketika dia dan Yohan melewati lorong berdinding tinggi dengan ukiran patung dan plafon bermotif yang merupakan bagian tepi gereja.
"Ngomong-ngomong soal keinginan terakhir..." lirih Luce dengan netra yang tak lepas dari kekaguman akan indahnya arsitektur gereja. Dari pagar dinding pembatas, pemuda tersebut dapat melihat Ellgar telah kembali bersama anak-anak lainnya menuju ke tempat Luce berada saat itu. "Waktu itu aku juga sempat punya keinginan terakhir." Luce terpikir kembali kenangan yang paling tidak ingin dia ingat.
"Ah, Kak Yohan!" Sonya menunjuk pemuda yang berjalan beberapa meter di hadapannya. Gadis kecil itu kemudian berpaling pada Ellgar dan bertanya, "Kak Ellgar masih marah pada Kak Lucas?"
Ellgar tak menjawab dan hanya terus diam sambil menggendong Lily. Bahkan ketika dia harus berhenti di hadapan Luce dan Yohan, wajahnya seperti menunjukkan ketidaktarikan.
"Dia sepertinya kesal sekali padaku," bisik Luce pada Yohan yang kemudian membuka pintu depan gereja. Baru saja melangkah masuk ke dalam ruang kapel, tubuh Luce seperti disengat listrik dalam jumlah yang tidak sedikit. Pemuda itu diam di tempat dan hanya memandang bagian belakang tubuh Yohan yang terus berjalan di depannya. "Sial, tubuhku..."
"Kalau mau masuk, masuk saja. Jangan berhenti di tengah jalan!" Ellgar berkata ketus sambil mendorong Luce dengan kasar. "Tidak ada orang yang mati karena masuk kapel. Dasar bodoh."
"Bukan begitu," sahut Luce dalam hatinya. Pandangannya berputar ke langit-langit kaca di bagian altar yang dipenuhi ornamen indah hingga akhirnya menjadi kabur tak lagi terlihat. Luce terpental dan hilang kesadaran di lantai teras depan gereja.
Ellgar tak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Luce yang tak sadarkan diri, sama seperti yang dilakukan rekannya setahun lalu. Dia hanya duduk sambil menarik-narik rambut pirangnya sementara Yohan dan yang lain kesulitan untuk memindahkan tubuh Luce ke tempat yang lebih layak.
"Ada apa ini?" Seorang pria berpakaian serba hitam mendatangi mereka --- Bapa Vergnas dengan sebuah kitab di tangannya adalah kepala panti asuhan yang telah membesarkan Ellgar dan anak-anak lain. Pria itu justru tidak melirik Luce sama sekali. Dia lebih khawatir pada kondisi Ellgar yang terlihat sangat frustasi seolah melihat jenazah tergeletak di hadapannya. "Kalung salib?" Pria itu memungut benda milik Luce yang patah menjadi dua bagian dan sadar kalau itu bukanlah benda sembarangan.
***
"Bapa Vergnas, bagaimana keadaan Luce?" Ellgar menghampiri seorang pasteur berpakaian serba hitam yang baru saja menutup pintu sebuah kamar. Anak-anak lain duduk menanti tak jauh dari sana, termasuk Yohan dan Sonya.
"Bapa tidak yakin apakah semua ini harus dirahasiakan atau tidak padamu, tapi anak-anak lain sepertinya harus kembali ke panti sebelum gelap," kata Bapa Vergnas yakin. "Acara amalnya mungkin akan diundur sampai besok karena semua orang di gereja telah mendengar berita tentang kondisi Luce saat ini. Ellgar..." Pria itu meraih tangan kiri Ellgar dan berusaha menenangkan. "Aku ingin kau mengetahui yang sebenarnya."
"Sebenarnya? Memangnya apa yang terjadi pada Lucas, Bapa?" Yohan ikut berdiri bersama Sonya yang terlihat sangat khawatir.
"Aku melihatnya terpental ketika Kak Ellgar mendorongnya masuk ke dalam kapel," sambung Sonya membuat Ellgar menatapnya marah. Gadis itu bersembunyi di balik tubuh Yohan yang sedikit lebih tinggi darinya.
"Aku tidak bermaksud..." Ellgar mencoba menjelaskan, namun pria di hadapannya mengedipkan mata.
Bapa Vergnas kemudian mendekati anak-anak lain dan menyuruh mereka untuk kembali ke panti sebelum malam semakin menggelapkan lorong gereja.
"Aku tunggu di rumah." Yohan menuntun adik-adiknya dengan sabar setelah sempat memandang Ellgar penuh arti.
"Masuklah," pinta sang pasteur pada Ellgar.
"Dia masih belum sadar," ucap Ellgar putus asa. Pemuda itu duduk di hadapan Luce yang terbaring lemah. Dia kemudian mengambil kalung salib yang tergeletak di atas nakas untuk memastikan bahwa itu benar milik Luce. Bapa Vergnas kemudian duduk di sisi Ellgar dan mulai bertanya.
"Di mana kau bertemu dengannya, Ellgar?"
"Ah, dia teman satu sekolahku, Bapa. Wajar kalau aku bertemu dengannya hampir setiap hari," jawab Ellgar tanpa ragu sedikitpun. Dia merasa bahwa ada sesuatu yang membuat pikiran sang pasteur terganggu. "Manusia biasa pasti tidak akan seperti ini kan, Bapa? Hanya masuk ke dalam kapel... Aku sudah tahu semua itu, tapi aku belum pernah melihat dengan mata kepala sendiri. Luce pasti bukan makhluk seperti kita." Ellgar ingat sekali Luce melompat pagar tembok sekolah yang tingginya hampir dua meter. "Luce mengaku kalau dia adalah seorang malaikat. Aku pikir itu sepertinya bohong."
"Dia adalah iblis dengan level sangat tinggi dan kita harus melenyapkannya," sahut Bapa Vergnas. "Lebih tepatnya, dia adalah seseorang yang kedudukannya lebih tinggi dari leluhur pendiri gereja ini, St. Claire --- malaikat pencabut nyawa atau yang lebih kita kenal dengan nama Azrael. Sebagai manusia, beliau telah memasang barikade anti-iblis agar ras mereka tidak dapat memasuki wilayah kita. Tapi karena temanmu memiliki kalung leluhur tersebut, dia bisa melewati pintu gerbang dengan aman."
"Jadi begitu." Ellgar meremas tangannya sendiri. "Pria berambut cokelat yang mengaku kakaknya Luce adalah keturunan sang pendiri karena itu dia memiliki kalung ini, tapi kalau memang demikian... Kenapa ada malaikat yang memelihara iblis tingkat tinggi di rumahnya? Luce, siapa sebenarnya kau ini?"
***
Note from Author
Maaf untuk lama tidak update novel ini...
Karena suatu alasan pribadi yang pasti terlalu menyedihkan untuk diceritakan. Tapi mungkin akan menjadi salah satu kisah yang ingin author selipkan di novel ini. Entah kenapa kehidupan sebagai seorang penulis itu seperti sugesti. Apa yang author tulis dalam cerita sepertinya berdampak pada kehidupan nyata. T _ T Minggu-minggu ini pokoknya hari termelow yang pernah author lalui dan mudah-mudahan ke depannya akan jauh lebih baik. Terima kasih kalian tetap setia menunggu novel ini sampai editor mulai marah-marah nggak jelas karena author mager dan akhirnya dengan kuota pinjaman, author berhasil update satu episode hiks...
Sampai jumpa...