De Luminous

De Luminous
Sang Peniup Sangkakala



..._Sang Peniup Sangkakala_...


Pusat belanja distrik 45 pada pukul tiga sore sangat ramai oleh manusia. Mereka berbelanja apapun, bahkan sampai yang tidak dibutuhkan. Sebagian orang dengan tingkat ekonomi menengah ke atas berjalan menyusuri tempat paling eksklusif di sebuah mall yang akan diresmikan hari itu. Luce dengan jas resmi yang dikenakannya baru saja datang bersama Jean dan beberapa orang pengikutnya. Mereka semua adalah 'malaikat jatuh' yang menyamar untuk melindungi Luce di acara peresmian.


"Selamat datang, Tuan Lucas!" Pemilik mall menyambut hangat sambil menyalami Luce sepenuh hati. Para pemilik saham juga hadir di sana untuk menyapa Luce dan Jean yang bertindak sebagai sang sekretaris. Bahkan ada beberapa investor dari luar negeri yang sengaja diundang untuk memuaskan hasrat Luce sebagai seorang bisnisman.


"Come sta, Signor Argus! (Selamat datang, Tuan Argus!)" Luce menyapa dalam bahasa Italia sebelum duduk di salah satu kursi dan menikmati anggur bersama yang lain. Pemuda itu memandang ke seluruh sisi gedung tempatnya berada dan sadar bahwa Jean tidak terlihat di manapun. "Così felice che tu possa partecipare all'evento di oggi. (Senang sekali anda bisa hadie dalam acara hari ini."


"L'Italia è una terra bellissima. Spero che un giorno tu possa visitare lì, (Italia adalah negeri yang indah. Saya harap suatu saat nanti anda dapat berkunjung ke sana)," ucap Tuan Argus disambut oleh senyuman dari bibir Luce. Benar-benar menawan. Reporter yang berkumpul di sudut gedung seolah memusatkan perhatian pada Luce. Auranya bercahaya dan memikat semua manusia, tapi pemuda itu sama sekali tak peduli. Hanya ada satu pikiran yang terbesit dalam otaknya.


"Apakah Jean sudah bertemu dengan Raphael?" tanyanya dalam hati sementara kedua netranya bertekuk lutut pada seorang gadis yang ikut serta dalam aksi nekad wartawan amatir yang mencuri gambar di sekitar tempat itu. Gadis tersebut melambaikan tangan pada Luce dan sebaliknya. "Waktunya sebentar lagi. Aku juga harus memperingatkan Luna."


Beberapa menit kemudian Luce bangkit dari kursinya setelah menyadari bahwa waktu bergerak cepat dan semakin mendekati titik berharga. Sebuah kesempatan hidup akan diberikan kepada semua orang di mall tersebut setelah Luce melepaskan pengaruh pada mereka sebagai tamu undangan penting yang ada dalam acara peresmian tersebut.


"Ada yang aneh." Jean berjongkok di tepian atap gedung dengan gagang scythe* bersandar di bahunya. Dia kemudian berdiri dan mengeluarkan sebuah buku dari sakunya. "Ternyata benar. Semua tulisanmu perlahan menghilang, Tuan Raphael. Bagaimana menurutmu? Triton pasti akan mengamuk karena mangsanya kabur."


Raphael melotot. Mata birunya berkilat sedalam samudera dan lima pasang sayap putihnya mengepak kencang. Dia adalah salah satu dari tujuh malaikat utama yang bertanggung jawab atas apa yang dilakukan oleh Jean sang Azrael. "Kenapa aku sempat berpikir kalau semua ini adalah rencanamu?"


Jean melempar buku di tangannya ke langit sebelum benda itu hangus terbakar. Raphael sepertinya marah besar karena Jean hanya menjawab pertanyaannya dengan senyum inosen. "Aku juga punya scythe yang harus kuberi makan, jadi tidak mungkin aku yang melakukan semua ini. Lagipula kau kan melihat dengan mata kepalamu sendiri kalau aku di sini. Bagaimana mungkin aku bisa berada di sana sementara aku di sini? Aku kan tak bisa menggandakan diri." Jean mengangkat kedua bahunya seolah tak tahu apa yang terjadi sementara Raphael dengan pakaian serba putihnya menggeram tak senang.


Malaikat itu terbang ke angkasa mendekati sebuah mall tempat Luce berada. Beberapa pria berpakaian serba hitam berdiri mengelilingi gedung seperti sedang melakukan ritual besar dan akhirnya Raphael menyadari sesuatu. Sebuah sigil keemasan raksasa muncul di atap gedung dan menciptakan barier tak kasat mata yang menyelubungi seluruh bangunan mall beserta isinya. Dua segitiga yang saling bersilangan dalam dua lingkaran terang. Bagian pusatnya adalah simbol yang sudah lama Raphael kenal.


"Lucifer..." Dia menyipitkan kedua mata sementara sayap-sayapnya yang indah berkibar menghamburkan helaian remiges ke sekitarnya. Mall yang katanya baru saja dibuka itu, tiba-tiba terlihat sepi tak berpenghuni. "Sejak kapan dia ada di dunia manusia?" tanya Raphael sambil memandang ke arah Jean yang berdiri tak jauh darinya. "Azrael selalu bersamaku sejak tadi, apa dia memang tidak ada hubungannya dengan malaikat jatuh itu?"


Raphael mengarahkan tangan kanannya pada sangkakala yang bergemuruh. "Meraunglah wahai Triton!" Malaikat tersebut menjatuhkan cahaya raksasa dari langit ke atap mall dengan keras dan menghatam sigil Lucifer hingga terdengar bunyi dengung yang sangat memekakkan telinga. Terompet raksasa itu mulai meniupkan udara dingin kematian ke sekelilingnya, membuat Jean menegakkan tubuh dan scythe-nya yang kelaparan.


Puluhan rantai keemasan muncul dan menghiasi langit yang cerah kala itu. Tak ada satu manusia pun yang sadar kalau pada hari itu, malaikat maut akan mencabut nyawa mereka. "Aku pergi dulu," ucap Jean pada Raphael sebelum berteleportasi ke dalam gedung.


***


"Jangan melihatnya!" Luce menutup kedua mata Luna dengan tangan kanannya ketika gadis itu memergoki sosok putih yang terbang tak jauh dari jendela mall. "Dia adalah petinggi para malaikat maut, sang peniup sangkakala, Raphael. Kau harus menghindari tatapan matanya."


Luna mengangguk dan mengikuti arah gerakan Luce yang membawanya lebih jauh ke dalam gedung. "Apa yang kau lakukan di sini?" Luce memarahi Luna kemudian. "Kenapa kau tidak pergi bersama yang lain? Triton itu tidak pilih kasih. Kalau kau tak bisa melindungi diri dari rantai kematian, kau tak akan pernah bisa selamat melawan maut."


"Bagaimana denganmu?" tanya Luna. "Kau juga dalam bahaya."


Luce tersenyum. "Kau lihat kan orang-orang yang bersamaku tadi? Mereka semua adalah orang kepercayaanku. Kau tidak perlu khawatir. Sebaiknya kau bantu aku untuk mengevakuasi semua orang keluar dari tempat ini."


"Tuan!" Jean tiba-tiba berdiri di hadapan Luce dan Luna dengan scythe raksasanya yang mengkilat. "Saya datang kemari untuk itu." Pria itu menunjuk seutas rantai keemasan yang menembus masuk ke area gedung. Gadis itu ketakutan setengah mati melihat sosok Azrael di depan matanya. Jean berdandan sangat rapi hari itu, tapi sang scythe seperti gunting raksasa yang akan memutus ikatan antara ruh dan jasad manusia. Luna bersembunyi di belakang Luce gemetar.


"Lindungi kami..." Jean menahan semua rantai yang datang dengan tangan kirinya. Sangat kuat seperti ada perisai tipis bercahaya lembut yang melingkupinya. Rantai-rantai yang berdatangan ke arahnya berhamburan layaknya debu dihempas angin. Luna sangat terpana. Kedua matanya sampai tak berkedip. Untuk pertama kalinya, dia menyaksikan kekuatan seorang malaikat di depan matanya.


"Bukan begitu, Tuan." Jean melangkah maju mendekati Luna yang terlalu sibuk memikirkan bagaimana caranya kabur dari tempat itu. "Anda tidak seharusnya berada di dekat seorang gadis saat ini," katanya sambil menunjuk Luna dengan ujung scythe-nya yang runcing dan mengkilat. Hempasan anginnya nyaris menyembelih leher gadis tersebut. Benar-benar menakutkan. Luna semakin mencengkeram lengan Luce erat-erat.


"Kau tidak perlu takut." Luce mengusap tangan Luna lembut. Kedua matanya berubah merah karena marah. Urat nadinya menghitam, memenuhi sekujur kulitnya. Sepasang tanduk bahkan mencuat dari sela-sela rambut hitamnya. Luna langsung melepaskan tangannya dan melangkah mundur. "Pergilah bersama yang lain. Keluarlah lewat jalur evakuasi yang sudah disiapkan oleh orang-orangku."


Gadis itu mengangguk tenang. Dia sudah pernah melihat wujud asli Luce yang sebenarnya, tapi dia sama sekali tak tahu kalau itu sangat menyeramkan. Dia berusaha tidak menunjukkan rasa takutnya saat tiga pasang sayap Luce berkibar. 'Malaikat jatuh' lainnya juga melakukan hal yang sama. Terbang setinggi beberapa meter di atas permukaan tanah hingga sang peniup sangkakala dapat menjangkau mereka.


Luna segera berlari menuju pintu belakang bersama salah satu pria berjas yang mengawal Luce sejak pagi. Mereka bergerak menuju terowongan di bawah basement menjauhi bagian dasar gedung yang mulai bergetar. Butir-butir debu berguguran dari atas kepala Luna dan suara nyaring terdengar menembus gendang telinganya. Gadis itu tak bisa menahannya. Indra pendengarnya tersebut terlalu rapuh sebagai seorang manusia. Luna terus berlari mengikuti sumber cahaya di hadapannya.


"Hei!" Dia berhenti. Seorang anak laki-laki tertinggal tak jauh di belakangnya. "Kita harus pergi dari sini."


Anak itu tak menjawab dan hanya diam seribu bahasa. Luna kemudian melihat ke arah tempatnya berasal dan terjadi hal yang sangat mendebarkan. Seluruh atap terowongan yang baru saja dilewati Luna runtuh mengisi keseluruhan ruang. Puing-puingnya menciptakan debu pekat yang mengiritasi mata. Gadis itu langsung menarik mundur si anak laki-laki, menjauhi tempat bencana tersebut.


Sungguh disayangkan, bangunan yang begitu megah hancur berkeping-keping menyisakan rongsokan menggunung yang berdampak pula pada bangunan di sekitarnya. Beberapa menit kemudian setelah Luna dan yang lain berhasil keluar dari terowongan, polisi dan petugas medis berdatangan. Mereka menghadang para korban dari atas lubang saluran air yang berada di tepi jalan raya. Seluruh aktivitas manusia pun dihentikan.


Namun bagi Luna, yang bisa melihat dimensi lain dari dunianya --- pertarungan antara raja iblis dan petinggi para malaikat maut baru saja akan dimulai. Luce bersama pasukan berjas hitamnya dan Raphael bersama sang triton. Mereka memasang barier tak kasat mata agar tidak ada manusia yang dapat menyaksikan itu semua.


"Kau lagi?" Raphael tersenyum sinis. "Apa kau tak bisa berhenti ikut campur urusan para malaikat?"


"Tidak bisa," ucap Luce tegas. "Kau mencabut nyawa makhluk hidup tanpa alasan yang jelas. Padahal sudah jelas bukan waktunya bagi mereka untuk mati. Kau langsung menghapus semua kenikmatan duniawi mereka beserta apa yang telah mereka kerjakan dengan susah payah. Kau tetap meluluhlantakkan bangunan ini meski tahu sudah tidak ada tanda-tanda kehidupan lagi di dalamnya. Tindakanmu itu sudah keterlaluan."


"Kau pikir aku melakukannya atas kehendakku sendiri?" sang peniup sangkakala menajamkan mata birunya marah. "Benar kata-Nya. Tugasmu memang mempertahankan manusia agar tetap pada eksistensinya; menyelami semua kenikmatan dunia, dan menumpuk dosa-dosa mereka. Ya, begitu!"


"Lakukan terus seperti itu!" Raphael semakin bersemangat merangkai kata-kata. "Hanya kau yang pantas melakukannya, Luciel. Malaikat yang dibuang ke tempat paling buruk di semesta karena kesombongannya atau mereka menyebutmu dengan nama baru, Lucifer... Hmphh, hahaha!" Malaikat itu tertawa keras sambil memegangi perut sixpack-nya yang tertutup jubah berwarna putih --- membuat Luce terasa mual.


"Sialan!" desis Luce. Dia mencondongkan tubuhnya untuk memimpin pertarungan. "Serang terompet raksasa di belakang Raphael dan berhati-hatilah dengan rantai-rantainya."


"Baik, Yang Mulia!" seru para pengikut Luce. Mereka semua adalah iblis petarung dengan paras manusia dan sayap gagak yang indah --- para malaikat yang ikut dijatuhi hukuman atas kesalahan Luce di masa lalu. Mereka hidup atas kuasa Luce dan mati atas kuasanya pula. Bahkan Tuhan sekalipun tak berhak mencabut nyawa mereka tanpa alasan.


***


Note:


Luce dan Jean tidak hanya menyamar sebagai murid SMA dan guru kesenian saja di dunia manusia, mereka juga kadang-kadang menyamar sebagai bisnisman atau apapun yang diperlukan untuk menyelesaikan 'kegiatan amal' yang sedang ditargetkan oleh Luce. Semakin banyak kebaikan yang dia lakukan, maka semakin bertambah juga helaian remiges dari sayapnya yang berubah putih.


*scyte: sabit raksasa


TUGAS RUMAH:


Jean (Azrael) secara formalitas adalah bawahan dari Raphael, tapi menurut kalian kenapa dia bisa menjadi salah satu 'malaikat jatuh' yang tetap bisa menjalankan tugasnya sebagai seorang malaikat maut?