
"i i ib ibu ..." Dilihatnya Ibunya sedang terduduk diatas aspal dengan seorang pria yang tidak sadarkan diri dipangkuan ibunya.
Sepertinya Aisyah kenal dengan pria yang kepalanya bersimbah darah itu "Ricooo ..." kata Aisyah kaget dan langsung menghampiri ya sembari mengutak atik handphone nya dan menelpon ambulance. Sedangkan Ibunya tidak bisa bicara apapun karena shock.
"Mas nya tadi selamatin Ibu mbak, tapi malah kebentur trotoar" sahut seseorang yang ikut berkerumun dan dibenarkan beberapa orang lainnya.
Setelah Ambulance datang, Aisyah dan ibunya ikut kedalam Ambulance untuk menemani Rico dan memeriksakan Ibunya yang masih terlihat shock.
...
...
Keesokan harinya, Aisyah dan Rico tidak masuk sekolah. Jelas saja Aisyah harus menunggui Rico yang masih tidak sadarkan diri dengan kepala terbalut perban. Pihak rumah sakit sudah mengabari keluarga Rico bahkan keluarga Hannah namun tidak satupun yang datang ke rumah sakit kecuali utusan Papinya Rico untuk mengurus biaya administrasi.
"Kasinya banget sih loe Ric, dalam musibah gini aja Papi loe masih sibuk sama kerjaannya" gumam Aisyah pelan sembari memandang Rico yang terlihat tampan disaat tidur, meski wajahnya sedikit bengkak akibat benturan.
"Makanya jangan ngeluh sama hidup loe" Aisyah terkejut mendapat jawaban Rico dalam keadaan mata tertutup. Reflek dia memukul lengan sahabatnya itu hingga meringis kesakitan.
"Sejak kapan loe sadar ? gak bilang ih kalo tau kan gue sekolah aja tadi" keluh Aisyah yang beranjakndari duduknya.
Dengan sedikit senyum Rico membuka matanya perlahan, "Baru aja syah, gak lama sebelum loe ngeluh, tapi ya tau sendiri loe itu lampu silau, jadi gak langsung buka mata" jawab Rico.
Aisyah tadi sempat menekan tombol disebelah tempat tidur Rico, kini seorang suster tengah memeriksa keadaan Rico.
"Gimana sust ? dia baik baik ajakan ?" tanya Aisyah yang terlihat khawatir.
"Sust kayaknya saya amnesia deh, suruh dia tanggung jawab dong" kata Rico sambil tangan yang satu memegangi kepalanya dan satu tangan lainnya menunjuk ke arah Aisyah. Membuat wanita itu melototinya.
...
...
Pria 17 tahun yang gemar berolahraga itu sudah memiliki badan yang bagus, sangat cocok gelar ketua tim basket berada digenggamannya.
...
...
Sepulang sekolah, Hannah dan Jane langsung kerumah sakit masih dengan seragam sekolah mereka. Namun, betapa terkejutnya mereka ketika membuka pintu dan melihat apa yang dilakukan oleh kedua sahabatnya.
kedua tangan Rico melingkar ke pundak Aisyah, begitu pula Aisyah. Posisi mereka sangat dekat karena Aisyah agak membungkuk dan Rico yang posisinya terbaring.
"Kalian ngapain ?"
"Mesum ya ?"
"Parah ihh"
"Playboy gak jadi tobat"
"Ingat tempat woyy"
Hanya berdua saja namun Jane dan Hannah bergantian mengutarakan komentar mereka. membuat Aisyah kaget dan melepaskan Rico yang kala itu meminta bantuannya untuk membetulkan posisi tidurnya.
"Awwhhh ..." Rico meringis karena Aisya yang membuatnya terhempas hingga Rico harus merasakan nyut nyut di luka kepalanya itu.
"Mm ma maaf Ric gak sengaja ... aku kaget noh sama kedatangan dua malaikat maut" jawab Aisyah sembari membantu Rico kembali.
Jane dan Hannah melangkah lebih dekat ke tempat tidur Rico "Noh nyonya Rico tolong di suapin sekalian sepupu saya" kata Hannah sembari memberikan parcel buah kepada Aisyah. Terlihat pipi Aisyah merona mendengar ucapan Hannah.
"Ceiilehh malu malu tuh pipinya merah kayak kepiting rebus" goda Jane yang saat itu sebenarnya menyembunyikan rasa cemburunya karena sebenarnya semenjak pertama kali ketemu Rico dia sudah memendam rasa, namun tidak menceritakan kesiapapun termasuk Aisyah yang dikenalnya sejak kecil.