D I A

D I A
Kehangatan



Ayah Wilda pulang tidak lama setelah mereka selesai menyiapkan makan malam. Setelah Ayah Wilda selesai mandi, mereka makan malam bersama duduk lesehan didepan ruang tivi yang menyatu dengan ruang tamu.


Dimalam itu Diandra menemukan kehangatan sebuah keluarga yang selama ini dirindukannya. Meski kakak beradik itu terlihat ribut disetiap waktu tapi mereka saling menunjukan perhatian. belum lagi Ibunya Wilda yang selalu ada buat anak anak dan suaminya. Begitu juga Ayah Wilda yang gak luput dari perhatian Diandra karena menceritakan kesehariannya dengan sangat leluasa.


"Diandra gak apa kalo disini seharian?" tanya Ibu dengan lembut.


"Ibu ... apaan sih nanti Diandra tersinggung gimana ?" sahut Wilda.


"Eh bukan. maksud ibu bukan ..."


"Gapapa tant, tadi udah pamit ko" jawab Diandra sembari tersenyum tipis.


Melihat wajah teman anaknya itu, ibunya Wilda tau benar remaja 16 tahun itu sedang berbohong namun dia gak bisa berkata apapun.


...


...


...


"Baru pulang Dii ?" ternyata Mami menunggunya sambil selonjoran di sofa ruang tamu dan terus memandangi pintu. Begitu Diandra datang dia langsung beranjak dari duduknya.


Melihat Maminya yang sudah sabar seharian ini sepertinya meluluhkan hati Diandra. Terlebih sebelum pulang Diandra mendapat wejangan dari Ibunya Wilda.


"Nak, namanya orang tua itu tetap orang tua, kalau mereka gak sesuai dengan keinginan kita itu mungkin ada alasannya, lihat temanmu ini suka sekali ngomel, tapi tante bisa apa" Ibunya Wilda menasehati Diandra sembari mengejek anaknya sendiri.


Rupanya nasehat itu membantu Mami untuk mendekatkan dirinya lagi dengan anak bungsunya.


"Diandra habis jalan sama Wilda, teman Diandra" setidaknya putri bungsunya menatapnya ketika bicara.


"Mami sudah makan ?" pertanyaannya menghentak jantung Mami, karena kalimat itu bentuk perhatian anak ke ibunya. Mami menggeleng "Makan bareng ya ?" pinta Mami.


"Diandra temenin aja ya, Dii udah makan tadi dirumah Wilda" jawab Diandra dengan ramah. Lagi lagi Mami mengangguk bahagia dan kemudian menyambar anaknya dalam dekapannya.


"Jangan nangis Mi, nanti cantiknya luntur. Makan yok" setelah bermaaf maafan, Diandra melepas pelukan Mami dan menangkup wajah Maminya dengan kedua tangannya dan menyeka air mata Mami yang bahkan sudah membasahi seluruh wajah.


"Mami habis nangis apa habis cuci muka sih" ledek Diandra.


Mendengar ledekan Diandra yang kembali setelah lama hilang, Mami langsung menghambur rambut putri bungsunya dan merangkulnya ke ruang makan untuk menemaninya makan malam.


...


...


Pemandangan ceria antara anak dan ibu itu disaksikan Papi Reyhan yang baru saja pulang dan langsung nyelonong ke ruang makan untuk ikut makan malam bersama Istri dan putri kecilnya.


"Ada apa ini ?" Dengan raut wajah senang melihat Diandra duduk bersama menemani Mami makan.


"Papi senang putri kecil Papi sudah kembali" dengan lembut Papi mengecup pelipis Diandra. Dan beralih mengecup kening istrinya sembari membisikan "Aku bangga kau bisa menjadi ibu yang baik" bisiknya yang kemudian duduk dan makan bersama.


"Sonia mana ?" Papi menyadari kalau putrinya kurang satu.


"Belum pulang dari kemarin dia nginap beberapa hari dirumah temannya" jawab Mami yang tau informasi dari Bi Ana.


Sejak perkelahian kakak beradik dikamar Nenek Rumi, Sonia lebih sering menginap dirumah temannya dengan alasan tugas kampus jika ditanyai.


...


...


Bagai anak tunggal, selama Mami Meriam cuti Diandra selalu di ajaknya menghabiskan waktu. Entah memasak bersama atau jalan jalan ke taman dan Mall. Mami Meriam sudah mencoba menghubungi putri sulungnya namun selalu di reject, bahkan pesan singkat yang mengatakan akan mengajaknya berlibur pun diacuhkan olehnya. Padahal jika Sonia ikut, Mami berencana mengajak putri putrinya berlibur keluar negeri.


Setelah cuti Mami Meriam selesai dan mulai bekerja, Mami masih menyisihkan waktu dihari libur dan seringkali pulang cepat. Padahal biasanya Mami selalu lembur dan menggunakan akhir pekannya juga untuk bekerja.


Karena bagi Meriam, karirnya adalah nyawanya. Tapi tidak setelah kejadian Diandra yang menyadarkan hatinya. Setidaknya dia bisa memberikan sedikit waktunya meskipun belum bisa melepaskan karir sepenuhnya.