
Sudah berlalu satu tahun, kini Diandra menjadi siswi SMA kelas dua disekolahnya, dengan kecerdasan yang terbilang baik. Diandra selalu menduduki peringkat pertama di kelasnya, dan selalu masuk dalam 10 besar peringkat disekolahnya. Tentu saja Wilda kecipratan kecerdasan temannya, meskipun gak masuk 10 besar disekolahnya, tapi Wilda tetap masuk 5 besar peringkat di kelasnya.
Meski sudah satu tahun pertemanan mereka, Wilda belum juga tau latar belakang Diandra. Setiap kali Wilda menanyakan Diandra selalu mengalihkan obrolan bahkan mengacuhkannya. Wilda juga tidak pernah bermain ke rumah Diandra, sampai dia pernah mencoba mengikuti Diandra tapi malah ketahuan dan membuat Diandra marah besar dan berhenti menegur Wilda.
Diandra cukup tertutup meski dia menceritakan hal lain ke Wilda, tapi dia tidak pernah menceritakan keadaan rumahnya. Semenjak Wilda bisa kembali berteman dengan Diandra, dia sudah tidak mau lagi mencampuri urusan temannya jika temannya tidak mau menceritakannya terlebih dahulu.
Karena entah kenapa, Wilda pun nyaman berteman dengan Diandra meskipun dia terkesan cuek dan kadang menyebalkan, tapi dibalik itu Diandra sangatlah peduli dan perhatian dengannya, terlebih dengan keluarganya.
"Wil, jalan yok" ajak Diandra saat mereka bercengkrama di taman sekolah sambil menikmati bekal yang selalu dibawa Diandra, sejak mereka dekat Diandra selalu meminta Mbak Lena membuat porsi double bekalnya supaya bisa dibagi dengan Wilda.
"Kemana ?" Wilda bahkan belum menyelesaikan kunyahan makanan dimulutnya saat menjawab Diandra.
"Ke Mall, pulang sekolah ini" kata Diandra.
"Heran deh loe punya duit darimana sih, motor aja sama bututnya sama aku" kata Wilda menatap tajam dirinya.
"Ini sekalian mau ceritain" satu kalimat Diandra ini sontak membuat Wilda tersedak.
"Serius loe ?" mata Wilda terbelalak menatap Diandra dihadapannya yang sekarang mengangguk angguk meresponnya.
...
...
...
"Dimana ?" Raut wajah Wilda terlihat gak sabar ingin tau rahasia sahabatnya.
"Apanya dimana ?" tanya Diandra.
"Dimana Loe mau cerita ?" jawab Wilda dengan nada sedikit kesal karena dari tadi mereka hanya memutari Mall sambil melirik barang barang jualan yang tersusun.
"gila lu, disitu mahal banget, baru masuk aja udah disuruh bayar duluan" kata Wilda melotot melihat restoran yang ditunjuk sahabatnya.
"Udah yokk ikut aja" Diandra menarik tangan Wilda namun ditahannya.
"loe bukan simpanan om om kan ?" bisik Wilda mengingat paras Diandra yang sangat cantik.
"Iya ... om om beristri anak dua" ledek Diandra sambil senyum senyum sendiri melihat wajah merah padam Wilda.
"Suami siapa loe embat" Wilda menghempaskan tangan Diandra.
"Suami emakku" jawab Diandra sambil tertawa dan melangkah meninggalkan sahabatnya. Wilda yang geregetan dengan tingkah Dindra langsung menyusulnya setengah berlari ke arah restoran yang dimaksud.
Didalam Restoran yang tersekat sekat itu mereka saling diam hingga Wilda membuyarkan lamunan Diandra.
"aku pernah bilang kan Wil, orang tuaku selalu sibuk. Tapi mereka bukanlah karyawan biasa seperti yang pernah ku katakan ke kamu. Papi adalah pemilik perusahaan Rey.corp, sedangkan Mami adalah Presdir di perusahaan FGH ..." Diandra mulai menceritakan latar belakangnya, karena dia berfikir Wilda harus tau siapa dia sebenarnya.
"Perusahaan Rey ... Rey.corp ... gila loe ya ternyata anak konglomerat cuy" nada suara Wilda meninggi dihadapan sahabatnya.
"loe gak bohong kan ? trus kenapa harus ditutupin?" Wilda terus mengintrogasi sebelum Diandra berubah pikiran untuk tidak melanjutkan ceritanya.
"Aku gak suka jika orang dekat dan berteman denganku sebagai anak orang kaya dan selalu memandangku tidak sesuai dengan realitanya" Diandra menjelaskan bagaimana dia hanya bisa berbagi dan menghabiskan waktu dengan Nenek Rumi, dan bagaimana dia bisa melewati hidup tanpa Neneknya hingga akhirnya bertemu dengan Wilda dan keluarganya yang bisa mendekatkannya lagi dengan Maminya.
Tanpa sengaja Wilda ikut hanyut dalam tangisan bersama sahabat terbaiknya itu dan saling berpelukan. Dan setelah dari Restoran itu, Diandra mengajak Wilda kerumah mewahnya hingga membuat mata Wilda terbelalak. Sahabatnya yang bersekolah disekolah Negeri biasa dan menaiki motor yang tidak kalah butut dengan miliknya ternyata anak konglomerat terkenal dan memiliki rumah mewah seperti yang di lihatnya sekarang.
Kebetulan pintu rumahnya dibukakan oleh Mbak Lena. "Nah Wil, bekal yang kita makan itu masakan Mbak Lena" kata Diandra dengan wajah cerianya melingkarkan tangannya ditangan Mbak Lena yang sedikit menundukan kepalanya menyapa Wilda.
"Ya ampun cewek cuek nan galak ini emang ya berhati bidadari, bukan cuma sederhana tapi penyayang gini" Wilda membatin melihat sikap Diandra ke pembantunya.