
"Neneeeeekk ..." Teriak Jane yang baru pulang sekolah dan mendapati Neneknya menonton sinetron favoritenya di ruang tv.
"Aduhh cucu Nenek baru pulang, gak sekalian nginep aja disekolah" Saat itu jam dinding menunjukan ke angka 7 dan seketika membentuk senyum di wajah Jane. "Maap Nek" katanya sambil bergelayutan ditangan Nenek.
"Sana mandi dulu, Nenek sudah masakin ayam lada hitam kesukaanmu" kata Nenek Rumi seraya mengecup dahi cucunya.
Jane beranjak dan pergi kekamarnya. Tiga puluh menit kemudian dia kembali keruang makan dan berpapasan dengan Papi dan Mami yang baru saja pulang kerja. Bukannya menyapa, Jane seakan tidak menyadari kehadiran orang tuanya.
"Teruskaaaaannn .... mau sampai kapan meraju ?" tangan Papi sudah bersedekap menghadap kearah anaknya yang kini berada dilantai bawah sedangkan dia dan istrinya ada ditangga.
Jane dengan masa bodo dan tanpa berbalik langsung mengambil piring dan ingin menyendokan nasinya.
"Pergilah, Papi dan Mami mengizinkan" ucap Mami Sonia seketika membuat putri bungsunya menaruh sendok nasi dan piring kemudian berbalik mengejar kedua orang tuanya untuk memeluk mereka.
"Seriously ?" Tanya Jane meyakinkan.
"Mau bagaimana lagi" jawab Papi yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
Setelah adegan berpeluk pelukan orang tua dan anak bungsu itu. Papi dan Mami kembali kekamar untuk mandi dan bersiap setelah itu menyusul Jane dan Nenek Rumi untuk makan malam bersama.
"Pi ... Ka Ramon kenapa sih gak pulang pulang ? emang orang kerja segitu sibuknya ya?" tanya Jane yang mungkin sudah sangat merindukan kakaknya yang seperti manusia es itu.
"Tumben nih nanya Ramon, mau apa lagi anak Papi ?" tidak pernah selalu serius, Papinya selalu menggoda putri bungsunya.
Keluarga itu terkadang terlihat harmonis, namun kadang juga terlihat seperti tidak saling mengenal karena kesibukan masing masing.
"Kenapa sih Pi, buruk aja mulu pikirannya" jawab jane.
"Ya siapa tau kamu mau minta sesuatu ke kakakmu itu, karena Papi dengar dia baru dapat project besar" Papi Lucas tidak henti menggoda dan mengompori putri bungsunya, karena dia tau setelah ucapannya ini Putra satu satunya itu akan mendapatkan teror dari adik bungsunya.
"Beneran Pi ? ... Waaahhh good news nih" Jane sangat semangat setelah mendengarnya sambil melanjutkan makan malam dengan senyum senyum sendiri seakan sedang memikirkan apa yang akan dimintanya nanti.
...
...
Disisi lain, Aisyah yang saat itu baru pulang dari kerja parttime nya di cafe sedang jalan kaki menuju rumahnya yang masih sekitar 500 meter lagi. Seakan lelah dia duduk di trotoar dan membenamkan kepala di kedua telapak tangannya.
"Ayah ... Aish Kangen" Seketika air matanya terjatuh dan membanjiri seluruh wajahnya.
Setelah puas menangis, Dia melanjutkan langkahnya. Tidak lupa berkaca di layar handphone nya supaya wajahnya tidak terlihat seperti habis menangis.
Namun tanpa diketahui, Ibunya melihat dirinya dari kejauhan. seakan hatinya teriris melihat putri sulungnya harus banting tulang di masa SMA nya yang harusnya dipakai untuk bersenang senang. "Maafkan Ibu nak" gumam Ibunya.
Baru saja Ibunya akan menghampiri anaknya, namun karena tidak melihat sekitar dan ternyata ada sebuah truk melaju akibat rem blong membuat seseorang berteriak "Ibu awaaaasss !!" Suara yang beriringan dengan suara klakson itupun sampai ketelinga Aisyah yang sudah agak jauh dari tempat kejadian.
Karena penasaran, Aisyah berlari setelah melihat truck yang berhenti setelah menabrak pohon. Pandangannya beralih ke kerumunan orang. Mungkin saja ada korban yang tertabrak truck disana. Aisyah langsung menghampirinya dengan sedikit berlari.