D I A

D I A
Nenek Rumi



Belum genap satu bulan setelah ulang tahunnya, Nenek Rumi meninggalkan Diandra untuk selama lamanya. Sekarang, entah siapa lagi yang bisa diajaknya berbagi cerita dan menemaninya dikala sepi.


Sudah tiga hari kepergian Nenek, Dalam masa berkabung Sonia tau betul adiknya sangat kehilangan sosok wanita renta itu. Sampai hari ini, Diandra belum juga mau makan ataupun minum, bahkan dia masih mengurung diri dikamar Neneknya.


"Nak, makanlah" kata Maminya yang khawatir akan kesehatan Diandra. Dia tetap diam tak bergeming, hanya sedikit melirik ke arah Maminya yang kala itu datang bersama Sonia.


"Sudahlah Mi, Taruh saja didepannya nanti dia pasti makan kalau lapar" bisik Sonia sembari memegang pundak Maminya dari belakang. Mengikuti saran putri sulungnya, Setelah meletakan nampan berisi makanan dan minuman mereka berdua keluar dan kembali meninggalkan Diandra sendirian.


Tak berbeda dengan sang Mami, Papinya pun menghampiri Diandra di waktu berbeda. Mendekati Putri bungsunya yang sudah terlihat melemah, duduk bersedekap diatas tempat tidur Nenek Rumi.


"Dii ... Papi tau kamu sangat terpukul dengan kepergian Nenek, Papi juga Nak" kata Papi dengan lembut.


Diandra menengadahkan kepalanya memandang Papinya yang masih berdiri di samping tempat tidur. "Papi gak tau rasanya, bahkan hanya Nenek yang menemaniku disetiap kalian sibuk dengan diri sendiri" kata Diandra dengan mata penuh kebencian.


"Dii ..." Papinya gak tau harus menjawab apa seakan membenarkan ucapan putri bungsunya. Sempat terdiam dan saling bertukar pandang, Papi keluar dari kamar Diandra setelah anaknya itu menundukan kembali kepalanya.


Sudah tiga hari berlalu, selama itu juga Diandra mengurung diri tanpa keluar kamar Neneknya, bahkan makanan yang selalu disiapkan setiap harinya gak pernah dimakan olehnya. Hingga dihari keempat, Sonia terhentak karena kaget melihat seorang wanita keluar dari arah belakang dapur dan rambutnya menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Wanita itu terlihat mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil tetap berjalan keluar dapur.


"Diandra !! sedang apa kamu ?" tanya Sonia. Tanpa menjawab Diandra tetap melanjutkan langkahnya melewati kakaknya yang masih memasang raut wajah heran dengan tingkah adik satu satunya itu.


Diandra bangun pagi pagi sekali dan mandi dikamar mandi belakang. Padahal dikamar Nenek dan dikamarnya pun terdapat kamar mandi. Tapi entah apa alasannya pagi itu Diandra memilih mandi di kamar mandi belakang.


"Mbak, apa kamar mandi Nenek dan Diandra rusak ? tanya Sonia ke salah satu pembantunya yang saat itu berada didapur bersamanya.


Pembantunya menggeleng kepala "Saya gak tau non, tapi nanti saya cek" kata Mbak Lena, pembantu mereka.


"Tapi ... kalo rusak kok dua duanya ?" gumam Sonia sembari melanjutkan aktifitasnya yang saat itu ingin membuat kopi untuk menemaninya sarapan bersama biskuit yang baru saja dibelinya kemarin.


Diandra dan kakaknya hampir tidak pernah menghabiskan waktu bersama, kecuali Neneknya memaksa Sonia untuk menemani adiknya. Sonia lebih suka bermain dengan teman teman sebayanya, mengingat umur mereka yang terpaut empat tahun.


Tok ... Tok ... Tok ...


Suara ketukan pintu terdengar sebelum seseorang membukanya dan berjalan menghampiri Diandra yang masih berdiri memegangi foto Neneknya.


Hanya menoleh kearah seseorang tersebut dan bertanya "Ada apa ?" tanyanya. "Maaf Non, saya ... saya ... cuma mau bilang ... Nenek pasti ..." Ternyata itu adalah pembantu yang membawakannya makanan seperti biasa. Dia mencoba berbicara tapi sepertinya takut untuk dimarahi oleh majikan ciliknya itu.


"Mau bicara apa Mbak ?" Tanya Diandra sembari melangkahkan kakinya ke arah tempat tidur dan duduk ditepinya.


"Maaf sebelumnya, tapi ... Nenek pasti sedih melihat ini" katanya seketika membuatku menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Nenek sayang sekali dengan Non, Nenek pasti sedih kalau tau non seperti ini" kata Mbak Lena. Diantara semua pembantu, Mbak Lena memang yang paling berani mengajukan keluhan ataupun memberi saran, terlebih ke Diandra dengan jarak umur mereka hanya lima tahun. Gak jarang Mbak Lena juga dapat perhatian khusus dari Nenek Rumi, sehingga pasti dia juga merasa kehilangan sosok wanita tua itu.


Mba Lena menitikkan air matanya, seketika Diandra melirik dan membentangkan kedua tangannya. Mereka menangis dengan saling berpelukan. "Aku capek Mbak, aku kehilangan satu satunya sosok dimana aku mendapatkan cinta selama ini" kata Diandra dalam isak tangisnya.


Berbeda dengan Papinya, kali ini Diandra bisa luluh dan dibujuk oleh oleh Mbak Lena. Karena yang dia tau, selama ini Mbak Lena gak luput dari perhatian Neneknya. Mungkin karena Mbak Lena pembantu termuda di rumah dan seumuran dengan cucunya.


Setelah puas menangis dan saling menguatkan, Mbak Lena menemani Diandra menghabiskan makannya. Dan membawa kembali nampan berisi piring kotor itu keluar kamar. "Mbak keluar dulu ya, kalau ada apa apa panggil Mbak" kata Mbak Lena, Diandra mengangguk dan kembali memandangi foto Nenek yang sedari tadi masih dipegangnya.


...


Diluar kamar ...


"Habis Len ?" Mbak Lena mengangguk ketika ditanyai Ibunya karena kembali kedapur dengan nampan berisi piring kotor.


"Alhamdulillah, Ibu khawatir sama nona kecil" kata Bi Ana, Ibunya Mbak Lena.


"Kasian Non Diandra Bu, Lena juga merasa kehilangan tapi Lena mengerti perasaan Lena gak sebanding dengan Non Diandra" kata Mbak Lena.