D I A

D I A
Eps 2



Disekolah


...


...


"Hey Jane ... gimana, jadikan kita ..." Seseorang mengejutkan Jane yang berjalan di koridor menuju kelasnya. Dia Aisyah, sahabat Jane dari kecil datang dari arah belakang dan langsung merangkul sahabatnya.


"Sialan lu ngagetin gue tau gak" Kata Jane melepas rangkulan Aisyah.


"Lagak lu Jane ..." Aisyah jalan mendahuli Jane seakan merajuk dengan sikap sahabatnya.


Jane yang menyadarinya langsung berlari kecil dan merangkul kembali Aisyah dengan sedikit memeluknya.


Disekolahnya, sikap Jane tidak terlalu berbeda dengan dirumahnya. Dia mengikuti banyak ekskul dan kegiatan akademis maupun non akademis. Banyak adik kelas yang segan dengannya karena raut wajahnya yang terlihat angkuh dan sikapnya yang seakan memilih teman. Namun tidak jarang kakak kelas menggodanya karena selama ini diketahui remaja cantik itu masih jomblo.


Namun, Jane tidak pernah segan membantu siapapun yang kesulitan atau bahkan korban bully disekolahnya, dialah yang paling terdepan maju untuk membela. Sehingga jika orang lain sudah cukup mengenalnya akan merasa takjub dan bangga dengannya. Tapi sekarang masih ada saja yang tidak suka dengan kebaikannya.


Jane adalah anggota tim basket wanita dengan Aisyah sebagai ketuanya. Selain itu mereka berdua juga mengikuti ekskul bela diri karate sejak SMP dan diluar sekolah mereka sering gowes bersama dengan komunitas gowes di kota mereka.


Tidak cukup sampai disitu, Jane adalah sekretaris OSIS disekolahnya. Dan merasa belum puas dia dan Aisyah ingin mencoba Ekskul pecinta alam yang baru ada ditahun pelajaran ini.


"Mami Papi gak setuju nih gue ikut camping" keluhnya yang masih merangkul Aisyah.


"Loh ko bisa ? bukannya selama ini loe liburan kemana mana juga gak pernah dilarang ?" Aisyah yang tau benar kehidupan sahabatnya itupun ikut heran.


Namun, Jane hanya menaikankedua bahunya menandakan dia juga tidak tau alasan kedua orang tuanya melarang camping.


Sesampai dikelasnya, sudah ada Hannah dan Rico entah membicarakan apa sehingga tidak menyadari kedatangan Jane dan Aisyah.


Hannah dan Rico adalah sepupu, Papa mereka bersaudara dan itu membuat mereka dekat sejak kecil. Sedangkan Hubungan mereka berempat terjalin sejak baru masuk SMA.


"Sialan lu ..." keluh Rico


"Parah ih kaget tau" sahut Hannah


Lalu kemudian mereka berdua tertawa puas setelah berhasil mengejutkan kedua sahabatnya itu.


"Eh gimana, jadi kan camping ?" kata Hannah memandang bergantian Aisyah dan Jane, Namun Jane langsung menundukan kepala dan duduk di kursinya. Dia mengacak isi tas ransel didepannya seakan ingin menyiapkan buku yang akan dipakainya dipelajaran pertama.


"Gak boleh nih gue" jawabnya singkat.


"Kenapa ?" jawab Hannah dan Rico bersamaan.


"Gatau, tumben nih ortu loe" timpal Aisyah.


"Yaudah nanti bicara aja lagi, toh ini kan tanggung jawab loe sebagai pencipta ekskul Jane, masa iya loe gak turut ikutan" saran Rico.


Tidak begitu lama setelah percakapan mereka, guru datang dan pelajaran dimulai, mereka duduk dikursi masing masing dan fokus pada pelajaran.


Saling dekat dan sering berkumpul membuat mereka saling menularkan hobi dan kebiasaan. Buktinya, Hannah yang tadinya malas belajar dan selalu mengandalkan Rico sekarang sudah bisa mengejar nilainya yang semakin membaik. Perhatian yang kurang dan ekonomi yang tidak begitu bagus membuat Hannah kesusahan untuk menambah wawasannya. Lagian tidak ada yang mau berteman dengannya karena miskin dan bodoh.


Rico yang dikenal playboy mendadak tobat karena berteman dengan tiga wanita yang sekarang membuatnya tau perasaan wanita. Tadinya dia tidak dekat dengan wanita manapun kecuali Hannah, Sepupunya. Karena dia memiliki trauma ditinggal Ibunya dengan pria lain dan itu dilihat dengan mata kepalanya sendiri. Selama ini dia menganggap wanita sama, dan itu dijadikan alasan untuk bisa jadi playboy di masa SMP bahkan saat kelas satu SMA dia masih saja suka menggoda dan mempermainkan teman wanitanya.


Sedangkan Aisyah, remaja 17 tahun dari keluarga sederhana yang hidup seadanya. Dia wanita pintar dan selalu menjadi ketua. Entah ketua kelas, ketua osis, ketua tim basket. Jiwa pemimpin sudah tertanam didirinya, mungkin karena tuntutan hidup karena dia adalah tulang punggung keluarganya. Ayahnya meninggal 5 tahun lalu dan Ibunya hanya memiliki warung sembako kecil dirumahnya, juga dia masih memiliki tiga adik dengan umur 15, 10 dan 7 tahun. Kehidupan menuntutnya dewasa, mandiri dan bijaksana lebih cepat.


Sedangkan Jane sendiri adalah yang paling kaya diantara mereka. Meski begitu sahabat sahabatnya tidak pernah menuntut atau memanfaatkan kekayaan Jane. Sesekali Jane mentraktir mereka namun kebanyakan mereka menolaknya dan mengajak Jane ikut menikmati hidup yang sederhana. Sehingga selama ini tidak banyak yang tau bahwa Jane adalah anak orang kaya.