
"nduk, jangan bergaul sama preman-preman komplek sebelah lagi ya... " ucap budhe marni, anak bibi pembantu dirumah jessica
"Mereka baik kog budhe"
"Nduk, kamu itu perempuan... mainnya ya sama perempuan" lanjutnya sambil mengelus-elus rambutnya "cantik-cantik kog bergaulan sama yang begituan nduk"
"Budhe.... mereka baik" jessica meyakinkan
"Mbak jesi!!!!!!" Terdengar teriakan dari luar teras. Tampak gadis jangkung siswi smp berlari menghampiri jessica yang saat itu duduk di sofa dengan budhe
"Mawar... ojo teriak-teriak adek-adek lagi bobok" tegur budhe, dengan nada pelan serta logat jawa
"Maaf mak" ucap mawar "mbak, mbak,, masih punya souvenir atau gambar-gambar EXOO gak mbak"
"Lah, kan uda dikasih semua dek"
"Mbak..mbak,, beliin lagi dong, kayak kemarin"
"Hussss... mawar" dipukullah pantat mawar. Ia hanya meringis
Jessica terkikih " iyya, besuk kalo mbak ada waktu mbak cariin lagi"
"Makasih mbakku sayang" dipeluklah jessica "mbak gimana ujiannya?"
"Tinggal nunggu pengumuman dek, doain lulus dek"
"Amiiiinn mbak, trus abis lulus mbak?"
"Pengen nikah dek"
"Ehhh.... tenan nduk" sontak budhe
Mawar ikut terkaget dengan pernyataan itu
"Sama yang kemarin itu?"
Jessica mengangguk malu
"Yang mana sih mak? Mawar belum liat "
"Nduk,,, dipikir tenanan nduk"
"Doain yang baik budhe. Makanya jesi kesini pengen ngomong soal ini ke simbok tapi simbok belum pulang-pulang"
Belum sempat mereka merespon nada dering hp jessica berbunyi
"Maaf, budhe mau angkat dulu"
"Iya iya monggo.." budhe mensilahkan " mawar gek madang sek nduk"
"Ngeeh mak"
¤¤¤¤
Percakapan ditelfon
"Halo mas"
"Sayang, kamu dimana?"
"Ini lagi dirumah simbok, kenapa?"
"Ya uda, aku jemput ya"
"Eh.. kenapa mas?
"Nanti ada yang ingin aku omongin" terdengar dari sana suara rendra sedikit bergetar " aku otw ya sayang"
Tut tut tut
Belum sempat dia membalas, rendra menutup telfonnya
¤¤¤¤
Saat ini rendra melaju kencang motornya dengan memboncengkan jessica. Memeluk erat badan rendra
Dan mereka berhenti disebuah taman
"Mas. Pengen ngomong apa?" Jessica sekali lagi mencoba bertanya dengan menatap langsung rendra
Rendra diam tampak wajah sedihnya
"Mas" panggil jessica lagi
"Sayang. Mas dapat tugas dari perusahaan harus keluar negeri" jawabnya dengan nada bergetar dengan wajah yang menunduk
"Ya uda gpp. Bagus dong " jessica mencoba menyemangiti walau di sudut hatinya ada rasa sedih
"Masalahnya jes..." rendra menghela nafas panjang dan menatap wajah jessica yang jelas sekali senyumannya dibuat-buat menahan sedihnya. "5 tahun disana" lanjut rendra memegang pundak jessica
Tangisan jessica langsung tumpah tanpa aba-aba. Rendra hanya bisa memeluk dan menepuk lembut punggungnya. Cukup lama
"Jes. Lebih baik kita sudahan aja" pernyataan itu jelas sekali membuat jessica makin terisak
"Mas... kog malah bilang gitu sih" jessica melepaskan pelukkannya dan memukul pundak rendra "mas, gak sayang sama aku"
"Aku sayang jes. Tapi, untuk kebaikanmu, melepaskanmu adalah caraku mencintaimu.." lanjut rendra sekali lagi menyakinkan dan memegang erat pundaknya
"Kebaikan dari mana sih mas!! Yang ada bikin makin sedih" teriak jessica. Mencoba melepaskan tangan rendra. Gak terima. Hanya karna itu terlalu konyol untuk memutus sebuah hubungan
"Jes. Kamu masih muda. Masa depanmu panjang. Jadi mas harap kamu....."
"Itu lagi. Itu lagi. Emang kalo sama mas. Masa depanku gak panjang" potong jessica dengan nada tambah tinggi
"Bukan begitu jes.."
"Bukan begitu gimana?! Mas! Dari awal emang gak percaya ya sama aku" tiba-tiba jessica mengucapkan itu. Sukses membuat rendra makin gak ngerti situasinya
"Loh kog?"
"Mas, walopun mas pergi harusnya mas percaya sama aku, kalo aku pasti tetap ada buat mas, bukan malah minta udahan gini. Mas selama ini anggep aku apa sih"
"Sayang.. kog sampe situ. Maksud mas gak gitu" jelas saja, rendra sedikit gelagapan. Harus bagaimana. Dan di jauh lubuk hatinya rendra juga tidak begitu yakin menyukai jessica
Baru kali ini, rendra benar-benar mati kutu. Otaknya terus berfikir, mencerna bahwa ini semua salahnya tapi juga untuk kebaikannya
Jessica makin terisak-isak, antara marah dan gak mau kehilangan
"Ya udah. Kalo memang harus udahan. Fix. Kita putus!" Teriak jessica terasa sesak. Dalam hatinya dia ragu dan harus bagaimana. Sikapnya yang ambigu. Gak tahu harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini
Dia hanya berlari keluar taman. Rendra yang saat itu juga masih merasa antara percaya dan gak percaya apa yang dikatakan malah membuat orang yang disisinya sedih dan sakit dibuatnya
Membiarkan jessica pergi, mereka mencoba untuk berfikir sendiri-sendiri
¤¤¤¤
Semalam sukses membuat rendra tidak bisa tertidur, diceknya hp berkali-kali. Berharap jessica kirim pesan atau rendra yang harus menghubunginya.
Kacau, rasanya benar-benar kacau hari itu. Walopun sebenarnya ini yang dimau rendra, agar jessica tidak terkekang karna dirinya. Agar jessica memanfaatkan masa mudanya sebahagia mungkin dengan teman seusianya, bukan malah dengan dirinya yang penuh dengan cerita kelam di masa lalu. Menurutnya, jessica tak perlu merasakan itu. Setidaknya, meski pada akhirnya yang paling tersiksa tetaplah rendra
Gak tau kenapa, sedikitpun gak tau. Kenapa rendra bisa menyukai gadis itu, suka dalam artian laki-laki dan perempuan atau suka dalam artian seorang pria yang lebih tua dan gadis muda seperti ponakannya.
Awalnya menganggap jessica seperti bocah-bocah perusuh pengganggu seperti yang dilihat, tapi lama kelaman rendra menyadari sesuatu. Kesungguhan di matanya, ketika mereka saling beradu pandang dan Berbicara sepatah dua patah kata
Ragu. Rendra mulai ragu. Berfikir apa dia benar-benar menyukainya atau sebenarnya hanya perasaan ingin kembali merasakan gairah lamanya
Sekarang, tinggal penyesalan atau akhir bahagia untuk keduanya
Yang berani melangkah dan memutuskan hanya mereka berdua
¤¤¤¤
2 hari setelah kejadian itu
"Pak rendra kenapa kog pucet gitu?" Tanya pak bani. Mendekat dan memegang dahinya
"Ya Allah pak. Demam loh. Bawa ke klinik ya.." teriak pak bani panik " pak jak. Pak jak. Tolong in anterin ini!!" Teriaknya. Sukses membuat gaduh seruangan
"Oh ya pak. Siap" dengan sigap mereka menopang pak rendra yang saat itu tampak sangat lemas dan pucat
"Yang lain kerja lagi yang bener, jangan gaduh!!" Teriak pak bani lantang mengisyaratkan
"Pak rendra kenapa toh? Kog kayak begini lagi" celetuk pak jaka, radak kesel. Saat berjalan menuju klinik
Rendra hanya diam
"Jangan bilang habis patah hati ya" lanjut pak jaka
"Ya Allah, yang kuat pak yang kuat. Perempuan gak hanya satu kog" ucap pak bani
"Husss... opo to pak. Malah ngomong ngono" pak jaka mencibir sambil memukul punggung pak bani yang makin gempal "pak bani dong. Yang harus kuat megangin pak rendra. Mau jatuh tuh"
"Iyo mas iyo"
"Awak gedi koyo ngono mbopong ra kuat" omel pak jaka
"Ngomong opo koe mas. Gini-gini aku yo reti boso jowo" jawab pak bani sewot
"Ahh... makin pusing. Denger ocehan mereka" batin rendra
Dan tiba-tiba rendra pingsan
Sukses banget membuat pak bani dan pak jaka panik gak kepayang
Mereka berteriak-teriak mencari pertolongan. Karna gak kuat membawa rendra yang terkapar pingsan
______________________________________
Hayoo loo ..kenaapa itu