
"Aku kangen mamih" jessica pecah saat memeluk nisan orang yang amat berharga untuknya
"Kenapa sih? Papih jahat banget sama mamih. Baru 3 bulan mamih pergi. Papih uda maen perempuan lain"
Cukup lama jessica menangis dan kemudian tertidur
¤¤¤¤
"Non..non"
"Bibi.." jessica membuka mata. Yg dilihatnya bibi di sampingnya "ngapa-"
Belum selesai bertanya. Jessica diam melihat papihnya sudah berada dibelakang bibinya.
"Jesi sini" panggil papihnya dengan perawakan tinggi besar
Jessica hanya diam, sesekali menyeka air matanya. Kemudian berdiri dan berlalu melewati papihnya
Papih jessica hanya menatap tajam dirinya dan sedikit raut kekhawatiran di wajahnya yang nampak mulai berkerut.
"Jesi!!!" Panggilnya dengan nada tinggi
Dia tak menoleh sedikitpun melangkah cepat menjauhi papih dan bibinya
Terdengar sayup-sayup bibi mencoba menahan papih jessica agar membiarkannya sendiri lagi
¤¤¤¤
Jessica duduk didalam bis, masih dengan tatapan kosongnya keluar jendela bis
Angin kencang menerpa wajahnya, Air mata jessica terus mengalir dibarengi sesak dada yang dia rasakan
Saat itu jessica benar-benar merasa tak tahu harus bagaimana, rasanya dia ingin menghilang dari muka bumi atau berharap menyusul bunda tercintanya.
Sebagai remaja berusia 17 tahun, beban yang dia pendam sebenarnya bukan ukuran diusianya yang masih dibilang masa-masa bersenang-senang dengan teman-teman sebayanya
Masa-masa itu telah berakhir ketika bundanya tiada karna kanker yang beliau derita, semua serba berubah saat bundanya pergi, ayahnya entah bagaimana dan sejak kapan sering berganti-ganti perempuan dia bawa kerumah
Jessica merasa makin jijik dengan kelakuan ayahnya. Yang membuat jessica memutuskan untuk pergi dari rumah.
Tapi.....
Kling
Kling
- jes,
- uda makan siang
Setidaknya masih ada orang yang dia sayangi untuk tetap buat dia mampu melewati ini semua
Jessica menatap layar handphone-nya. Sambil menyeka air matanya dia hendak membalas tapi handphone-nya lowbat
"Semoga enggak khawatir" batin jessica sedikit menghela nafas
¤¤¤¤
"Mas, mas rendra boleh bicara sebentar"
"Ada apa mita" jawab rendra yang sedang memakai jaket hendak berajak pulang
"Mas rendra, ke cafe depan bentar yuk. Biar enak ngobrolnya" paksa perempuan bertubuh jangkung dengan rambut sebahu ini. Sedikit merayu
"Penting ya"
Mita mengangguk cepat
"Ya sudah. Sebentar saja ya"
"Iyya mas. Makasih"
Mereka berjalan keluar dengan tas masing-masing. Sesekali mereka cukup jadi pusat perhatian dengan karyawan lain yang hendak pulang juga
"Mas" tiba-tiba memeluk rendra, sebelum mereka duduk "aku sayang sama mas" dengan nada yang dibuat-buat sedikit mengisak-isak tangis bombay
Rendra yang sedikit syok dengan kelakuan agresif karyawan ini. Dan hanya diam mematung tanpa perlawanan
"Mas, aku cinta sama mas"
Pengakuan mita makin membuatnya mematung. Sebenarnya rendra berfikir bagaimana untuk menolaknya
Hingga akhirnya, matanya menyadari di sisi kirinya. Di sudut yang tidak terlalu jauh ataupun dekat rendra menemukan sosok yang dia sangat kenal. Ya....
jessica
Dengan segera rendra menepis pelukan mita. Dan berjalan ke arah jessica yang dilihatnya dengan mata sudah berkaca-kaca
"Jes!!" Panggil rendra mengejar jessica yang sudah siap-siap pergi dari tempat duduknya
Mita hanya terdiam melongo gak ngerti melihat rendra meninggalkannya tanpa menjawab pernyataan satu katapun
"Jessica!!" Panggilnya lagi, dengan sedikit berlari mengejar jessica yang sudah berlari di luar cafe
"Sayang!!"
Seketika jessica berhenti berlari
Rendra yang saat itu mampu mengejar jessica. Meraih tangannya, menarik badannya dan memeluknya
Perasaan jessica rasanya campur aduk, satu hari rasanya berat untuknya dan akhirnya tangisnya pecah seperti bayi baru lahir
Rendra yang cukup kaget dengan tangis jessica mencoba menenangkan dan berkali-kali meminta maaf
"Kurasa.. yang kubutuhkan saat ini adalah sandaran untukku menumpahkan bebanku, bukan menyimpannya sendiri karna aku sudah ada kamu, yang mampu mengisi hari-hariku selanjutannya" ucap jessica dalam hati
¤¤¤¤
"Ini minum dulu, jes" rendra menyodorkan segelas penuh jus jambu kesukaannya
Ia meminumnya dengan cepat
"Pelan-pelan" sambil menepuk lembut pundaknya
"Hahh..." desah jessica sedikit nyengir. Yah.. mood-nya sudah balik lagi
"Beribu-ribu kali maaf ya jes, mas janji gak akan ngulangin kayak tadi" katanya dengan mata berkaca-kaca melas seperti kucing minta makan
"Ihh... iya mas, dibilang uda dimaafkin kog. Lagian please deh uda tua gak cocok pasang melas gitu ih" ledek jessica sedikit mencubit pipinya
"Jes, lagi pms ya... kaget aku tadi nangisnya kenceng banget"
"Iyya lagi pms, takut kehilangan kamu. Nikahin aku dong mas"
"Jes, kan belum lulus"
"Kalo uda lulus, langsung nikah ya" jessica sedikit merayu
"Setuju kog. Pasti setuju"
Rendra hanya mendehem mengiyakan
Dan reaksi jessica kegirangan gak karuan kayak anak sd
"Uda. Malen tidur yuk jes"
"Ehh... maksudnya?"
"Apa? Mikir apa jes? Gak seranjang, aku dikamar bawah kamu dikamar atas"
"Ohhh... kirain itu" ucap jessica sambil memainkan jarinya
Dicubitlah pipi jessica "masi kecil mikirnya jorok-jorok"
"Emang mas enggak"
"Ya... kan uda dewasa. wajar"
"Ciee... ketauhan mikir ojok ya...sabar ya belum sah" ucap jessica meledek. Sambil berlari kekamar atas
Malam itu di akhiri senyuman diantara keduanya
¤¤¤¤
Duaaaaar
Jessica langsung membuka mata mendengar petir yang amat keras
Tapi dia tidak bisa melihat apa-apa semua gelap. Dia mencoba bangun dan membuka korden jendela dan diluarpun gelap gulita disertai hujan deras
Glodak glodak
Seketika jessica merinding suara tiba-tiba dari luar kamar. Entah kenapa badannya seperti membeku ketakutan dan gemetar
Kepalanya sedikit pusing. Segera dia mengambil handphone-nya dan menelfon rendra
Agar mengecek suara apa diluar kamarnya
Dengan hitungan detik rendra sudah membuka pintu kamar dengan lilin ditangannya
"Jes! Kamu gak papa?"
"Ah.. ku agak takut mas kalo gelap gini"
"Gpp. Gak ada apa-apa kog diluar"
"Tapi mas,"
"Uda tidur lagi gapapa"
"Temenin"
"Eh.. jes"
"Masssss" rayu jessica memelas sambil menarik baju rendra
"Ya uda. Cuman sampe tidur aja ya"
Jessica mengangguk
Merekapun berbaring berhadapan
"Mas. Minta cium dong"
"Jes. Nanti kalo kebablasan gimana. Uda ah tidur" ucapnya sambil mengelus-elus rambutnya
"Sayang...." rayu jessica sambil terkikih
"Jes" beribu beton mungkin sudah dipasang di pikiran dan hati rendra agar bisa menahan perasaan menggebu-gebu ketika berhadapan dengan gadis mungil ini
"Tahan ren tahan" batin rendra menguatkan
"Uda tidur jes"
Jessica hanya mendengus kesal
Rendra mencoba memejamkan mata. Dan jessica malah asik melihat dari dekat wajah rendra yang diterpa cahaya samar-samar dari cahaya lilin
"Kenapa sih? Makin dilihat makin ganteng banget ahjusshi pengen gigit rasanya" batin jessica mulai tidak waras
Jessica terus memandanginya
Hingga akhirnya
Cup
Jessica melayangkan ciuman dibibir rendra. Sontak rendra membuka mata
Mereka bertatapan "mas punya batasnya juga jes"
Jessica hanya tersenyum "sayangg" dan merayunya
Cup
Gantian rendra mencium jessica. Cepat
"Lagi. Kurang lama mas"
"Kamu yang minta ya..."
"Iya say-"
Belum selesai menjawab bibir rendra sudah melumat bibir jessica
Memainkan setiap sudut bibir milik jessica. Cukup lama. Sambil memeluk jessica
"Ahh" jessica tiba-tiba mendesah dan rendra berhenti
"Kenapa jes"
"Aku gak kuat mas. Bole lebih"
"Enggak. Cukup ya. Uda tidur"
"Mas..."
"Uda tidur.. "
Malam itu terasa panjang untuk mereka, tanpa ada yang tahu seolah-olah itu terakhir kalinya mereka bersama
______________________________________
Om om gak tau diri, berani-beraninya nyosor anak sma 😂😂