
Qing Mei duduk di sofa dengan bosan, ia sudah mengelilingi rumah yang luas itu sebanyak tiga kali untuk mengusir kebosanannya sekaligus menghapal setiap inci rumah tapi waktu berjalan dengan sangat lambat. Saat ia menoleh, jarum jam baru berada di angka sebelas.
Telepon rumah yang berada disebelah sofa berdering. Qing Mei menoleh dan dengan enggan mengangkatnya.
"Halo"
"Ini aku. Ayo makan siang bersama"
"Mm"
"Masih ada yang harus ku kerjakan, supir akan menjemputmu terlebih dahulu ke perusahaan"
"Oke"
Setelah menutup panggilan, Qing Mei kembali ke kamar untuk mengganti bajunya. Ia membongkar tasnya. Karena keluar dari kediaman Cheng dengan terburu-buru, ia tidak membawa banyak baju.
Saat itu ia hanya mengemas surat-surat penting dan beberapa baju secara asal.
Setelah dicari ternyata ia tidak memiliki pakaian yang layak untuk di pakai keluar rumah. Apalagi untuk pergi bersama Zhang Chen.
"Nona, mobil sudah tiba untuk menjemput anda"
"Aku mengerti. Tolong tunggu sebentar" balas Qinh Mei setengah berteriak dari dalam kamar.
Mendengar bibi Bai memanggilnya, Qing Mei mengambil secara asal kaus dan celana hitam pendek. Dan bersiap dalam lima menit.
Mobil berhenti di pintu masuk dan Wen Li sudah menunggunya. Membawanya masuk dan naik ke lantai paling atas.
Beberapa staff perusahaan menatapnya dengan penasaran tapi tidak ada satupun yang berani membuka mulut mereka.
Qing Mei di antar sampai ke depan pintu putih besar.
"Tuan Zhang berada didalam"
Qing Mei mengangguk lalu mengetuk pintu pelan sebelum melangkah masuk.
Zhang Chen mengangkat pandangannya dari tumpukan dokumen, kerutan di dahinya seketika melembut menatap gadis yang baru saja masuk itu.
"Aku hampir siap.."
"Tidak apa-apa. Aku akan menunggu"
Qing Mei duduk dengan tenang di sofa, matanya mengedar ke segala penjuru ruangan. Menemukan bahwa ruangan itu di desain dengan baik, terutama jendela prancis yang memaksimalkan cahaya matahari yang masuk.
Ia selalu suka dengan sinar matahari yang lembut, karna sebelumnya ia terlalu sibuk untuk bekerja. Pergi pagi-pagi sekali sebelum matahari naik dan pulang sore atau terkadang malam disaat matahari mulai turun. Sulit untuk bertemu dengan matahari yang terik karna ia terkubur di dalam dapur mencuci ratusan piring kotor.
Dulu saat keluarganya masih damai, mereka bertiga biasanya pergi ke taman atau pantai untuk piknik.
"Ayo pergi"
Suara lembut Zhang Chen menyadarkannya dari lamunan masa kecilnya.
.
Zhang Chen membawanya ke sebuah hotel kelas atas dan memesan ruangan khusus untuk mereka berdua. Hanya setelah pelayan selesai menyajikan dan pintu ruangan tertutup rapat, barulah ia melepaskan masker hitamnya.
"Kenapa harus ditutupi ?" Qing Mei tanpa sadar bertanya.
Zhang Chen terdiam untuk beberapa saat sebelum mengulas senyumnya.
"Karena aku hanya ingin istriku yang melihat wajah tampanku"
Pria yang tampak mengintimidasi itu sebenarnya baru saja melemparkan lelucon narsis ?
Qing Mei tidak tahu harus tertawa atau menangis mendengarnya.
"Jadi kapan kau berniat untuk mengambil posisi sebagai Nyonya Zhang ?" Zhang Chen bertanya lagi untuk yang ke dua kalinya hari ini.
"Kau..benar-benar serius untuk menikahiku ?"
"Ya. Tidak pernah lebih serius dari pada ini"
"Kau yakin ?"
"Mm"
"Kenapa bukan dirimu ?" Zhang Chen melempar kembali pertanyaan itu untuk ke dua kalinya.
"Kupikir aku. . aku tidak cukup baik untukmu. Bukankah perbedaan status kita terlalu jauh ?"
"Ya. Karna aku sudah memiliki segalanya. Aku tidak butuh lagi status tinggi dari calon istriku. Aku hanya ingin kau memberikan dirimu padaku dan yang lain tidaklah penting" Zhang Chen membalasnya dengan serius.
Qing Mei berpikir lagi untuk sesaat.
Memang sejak Zhang Chen datang ke kediaman keluarga Cheng, ia sudah mengatakan pada dirinya sendiri bahwa tidak peduli di jadikan istri ataupuj budak sekalipun ia akan mengikutinya selama ia terbebas dari keluarga Cheng.
Dan ini sudah saatnya ia membuktikan perkataannya.
"Baiklah. Aku setuju. Ayo menikah"
Zhang Chen mengulas senyumnya sekali lagi.
Tidak peduli apakah gadis itu sekarang mencintainya atau tidak, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengikatnya dalam pernikahan.
Dan selebihnya ia akan secara perlahan membuat gadis itu mencintainya.
.
Setelah makan siang selesai, Rolls Royce hitam tanpa goresan membawa keduanya kembali ke kediaman.
"Kau tidak kembali ke perusahaan ?"
"Tidak. Jadwal bersamamu lebih penting" Zhang Chen meletakan tangan hangatnya dan membelai pipi Qing Mei
"Pergi ambil data dirimu. Kita akan memproses pernikahan hari ini" sambunya dengan suara yang pelan namun membawa efek semu merah pada wajah Qing Mei.
Gadis itu turun dengan patuh dan pergi ke kamarnya. Mengambil buku keluarga dan kartu identitas.
Setelah menemukan dokumen yang diperlukan. Qing Mei berbalik hendak keluar dari kamar, namun detak jantungnya benar-benar sudah gila.
Bagaimanapun setelah ia keluar dari rumah, mereka akan langsung menuju kantor catatan sipil ?!!
Walau ia sudah memutuskan untuk menikah, ia tidak menyangka bahwa hari ini akan langsung memproses penikahan itu.
Zhang Chen jelas tidak bisa menunggu lebih lama lagi!
.
Begitu Rolls Royce hitam berhenti di depan kantor catatan sipil, seorang pria paruh baya langsung turun untuk menjemput pasangan itu.
Ia tidak pernah menyangka akan ada hari dimana ia akan turun secara langsung untuk menjemput pria terkaya se Asia ini!
Begitu ia mendapat panggilan bahwa Zhang Chen akan datang, ia dengan cepat menyiapkan ruangan khusus dan staff terbaik untuk melayani proses pendaftaran pernikahan.
Hal yang hanya akan terjadi satu kali ini tidak boleh mengalami kesalahan atau tidak bisa di bayangkan apa yang akan ia hadapi bila melakukan sesuatu yang menyinggung Tuan muda Zhang.
"Tuan Zhang kami sudah menyiapkan ruangan khusus untuk anda. Mari kuantar. Apa ini Nyonya Zhang ?"
"Mm"
Qing Mei yang berdiri disebelah Zhang Chen sejak tadi di rangkul dengan lembut dan dibawa masuk.
Ruangan yang disediakan bersih dan sofa yang dipersiapkan sebenarnya sangatlah mahal, baru saja di ambil dari ruangan si pria paruh baya itu untuk di letakan di ruangan khusus. Bagaimana bisa mereka membiarkan seorang Zhang Chen duduk di kursi biasa.
Wanita yang merupakan staff terbaik di biro catatan sipil dengan cepat mengeluarkan dokumen-dokumen yang harus diisi.
Zhang Chen dan Qing Mei bergantian mengisi formulir pendaftaran dan terakhir menandatangani dan membubuhkan stempel.
Setelah pengisian formulir selesai mereka dibawa ke ruang foto, dimana latar merah dan sepasang kursi disediakan.
Duduk di depan kamera, untuk pertama kalinya Zhang Chen melepas masker yang menutupi sebagian wajahnya di depan orang lain.
Staff wanita dan pria paruh baya yang sejak tadi mengikuti mereka hampir menjerit melihat wajah tampan itu!
Kenapa wajah tampan itu harus disembunyikan selama ini ?!
To Be Continue