
Cheng Qing Mei bangun sedikit terlambat hari itu. Betapa sangat biasanya seorang Cheng Qing Mei. Bahkan gudang dan kursi bekas bisa membuatnya tidur dengan nyaman.
Ia merengangkan tubuhnya sebentar sebelum keluar dari gudang. Dua puluh pria dengan pakaian jas hitam rapi membuatnya terkejut. Qing Mei secara tidak sadar berjalan dengan berjinjit untuk masuk melalui pintu belakang.
Ia menghentikan Bibi Yang dalam perjalanan menuju dapur.
"Apa yang terjadi Bibi ? Kenapa banyak pengawal yang berjaga ?"
"Seorang pria muda datang membawa dua puluh pengawal. Sepertinya dia pria yang lebih kaya dari ayahmu. Ayahmu bertindak sangat ramah padanya"
Qing Mei hanya mengangguk mengerti lalu kembali ke kamarnya tanpa berniat untuk mencari tahu. Ia harus memberi ibunya makan dan obat lebih dulu.
Saat pintu kamarnya berdecit terbuka ayahnya meneriakan namanya.
"Qing Mei !"
"Qing MEI !"
Qing Mei menghela napas dan menunduk. Apa ia mendapat masalah lagi ? Tamparan Yurou kemarin bahkan masih menyisakan dua baris bekas kuku ia takut pria tua itu menambah lebam lain ditubuhnya.
Mata Qing Mei membulat besar saat melihat sosok pria yang sedang duduk bersama ayahnya dan Yurou diruang tamu.
"Tuan Muda Zhang ?"
"Qing Mei, kemari dan duduklah disini. Selama ini kau pintar bergaul. Ayah tidak tahu bahwa kau dekat dengan Tuan Zhang" Intonasi yang digunakan ayahnya bahkan lebih membuat Qing Mei terkejut dari pada melihat sosok pria bermarga Zhang itu.
Ayahnya tidak pernah menggunakan intonasi seramah itu padanya lagi. Yurou bahkan tampak ingin menjambaknya sekarang juga.
Qing Mei tidak tahu apa yang terjadi sekarang.
Zhang Chen berdiri dan memberikan pelukan pada Qing Mei.
"Aku akan membawamu pergi dari tempat ini sekarang" bisiknya pada Qing Mei.
Zhang Chen lalu berbalik dan menatap Tuan Cheng dengan tajam.
"Hari ini aku datang menjemput calon istriku Qing Mei. Karena selama ini keluarga Cheng telah banyak melukai Qing Mei yang membuat hatiku sakit melihatnya kuputuskan untuk membawanya pergi"
Qing Mei terkejut bukan main. Calon Istri ? Ini bahkan kali kedua ia bertemu dengan pria ini.
"Aku juga akan membawa serta Ny. Li"
Saat mendengar kalimat ini Qing Mei tidak lagi berniat untuk menolak tawaran itu. Mau menjadi istri atau pembantunya yang jelas ia harus keluar dari rumah ini.
Tuan Cheng dan Yurou kehilangan kata-kata. Calon istri ?!
"Tuan Zhang. Sepertinya ada kesalahan disini. Kami selalu menjaga Qing Mei dengan baik" suara Tuan Cheng bergetar.
"Tidak ada kesalahpahaman. Luka ditubuh Qing Mei adalah buktinya"
"Tapi anda tidak bisa membawanya begitu saja. Bagaimanapun dia putriku!" balas Tuan Cheng marah. Ia tidak mau semua hal buruk yang terjadi selama ini dirumah terpapar keluar. Bagaimanapun ia sedang dalam tahap pemilihan untuk menjadi walikota. Menjaga Qing Mei untuk tetap dikediaman Cheng adalah yang terbaik. Dengan begitu gadis itu akan tetap tutup mulut.
"Qing Mei sudah berusia 23 tahun. Ia tidak membutuhkan seorang wali lagi. Ia berhak menentukan dengan siapa ia ingin pergi"
"Dan kupikir Tuan Cheng tidak akan mempersulit keadaan. Atau.. aku mungkin akan menjabarkan semua hal gelap pada publik"
"Baik. Tapi kau harus menjamin semua hal tertutup rapi" balas Tuan Cheng pada akhirnya.
"Aku akan pergi dengannya" Qing Mei bersuara pada akhirnya.
"Aku akan meninggalkan rumah ini. Apapun yang terjadi aku tidak akan menginjak rumah ini lagi"
Qing Mei berbalik menatap Zhang Chen.
"Tunggu sebentar. Aku akan membawa ibu keluar dan mengambil beberapa barang"
"Aku mengerti"
Tidak butuh waktu lama sampai Qing Mei keluar dari kamarnya dengan mendorong ibunya di kursi roda dan membawa satu tas ransel ditangannya.
Zhang Chen melingkarkan tanganya dipundak Qing Mei dan menuntunnya untuk keluar.
Kali ini Qing Mei meninggalkan kediaman keluarga Cheng dengan mantap. Ia bahkan tidak menoleh ataupun pamit. Ia merasa hampir seluruh beban dihatinya terangkat dengan keluar dari tempat itu.
Mobil yang ditumpangi mereka akhirnya melaju meninggalkan kediaman keluarga Cheng.
"Kita akan membawa Ibu ke rumah sakit terlebih dahulu" Zhang Chen menyadarkan Qing Mei dari lamunannya. Qing Mei hanya membalasnya dengan anggukan.
.
Hampir sebelas malam saat Qing Mei sampai disebuah hotel bintang lima setelah mengurus beberapa hal dirumah sakit.
"Mandi dan beristirahatlah, kita bicarakan semua besok"
Qing Mei sekali lagi mengangguk patuh. Walau pada dasarnya banyak hal yang ingin ia bicarakan. Pada akhirnya Qing Mei tidak bisa tidur.
Sekitar jam satu pagi ia keluar dari kamarnya dan duduk di dapur.
"Tidak bisa tidur ?" suara Zhang Chen mengejutkan Qing Mei.
Qing Mei terdiam. Ini pertama kalinya ia melihat pria itu tanpa masker yang menutupi wajahnya. Garis rahang yang kuat, hidungnya cukup mancung dan bibir yang tipis.
Sungguh. Qing Mei terpesona dengan wajah tampan yang memikat itu.
Dan hal lain yang membuat Qing Mei tidak bisa berhenti menatap paras itu adalah tattoo di pipi sebelah kanannya. Itu bertuliskan QMęï
Apa itu artinya Qing Mei ? Namanya ?!
Tidak mendengar jawaban dari Qing Mei, Zhang Chen akhirnya menarik tangan Qing Mei dan membawanya ke kamar tidur miliknya. Memaksa gadis itu untuk tidur.
Bahkan tidak hampir dua puluh menit Qing Mei akhirnya tertidur dengan nyenyak dalam rangkulan Zhang Chen.
Dalam kesunyian malam Zhang Chen mengangkat tangan kiri Qing Mei. Ada bekas luka yang tidak pernah hilang sejak Qing Mei mendapatkannya tujuh belas tahun yang lalu..
Meletakan tangan itu di pipi kanannya. Zhang Chen merasa lega karena sekarang gadis itu tidur dihadapannya.
Cheng Qing Mei sudah berada didalam genggamannya. Ia hanya cukup menjaganya dengan lebih baik mulai dari sekarang.
Perlahan Zhang Chen juga mulai tertidur dengan Qing Mei disisinya. .
***Bersambung