
Sisa kehangatan masih bisa Qing Mei rasakan disebelah ranjang empuk yang sekarang hanya menyisakan dirinya sendiri.
Zhang Chen sudah bangun sedikit lebih cepat dari Qing Mei.
Memikirkan bagaimana dirinya tidur dipelukan seorang pria membuat wajah Qing Mei bersemu merah.
Diumurnya yang menginjak dua puluh tiga tahun, ini pertama kalinya Qing Mei dekat dengan seorang pria. Walau tidak ada apapun yang terjadi semalam selain tidur bersama di ranjang yang sama itu sudah merupakan tahap awal yang jauh dari bayangan Qing Mei.
Saat Qing Mei keluar dari kamar, Zhang Chen sudah rapi dengan setelan jas kerjanya sembari menikmati secangkir kopi hitam dan koran ditangannya.
"Sudah bangun ?" suara halus milik Zhang Chen menyapa Qing Mei dengan hangat. Rasanya sudah bertahun-tahun lamanya tidak ada seorangpun yang bertanya dengan nada hangat seperti itu pada Qing Mei sejak ibunya mengalami stroke.
"Mm" Qing Mei berdeham pelan sebagai balasan.
Zhang Chen berdiri dari duduknya lalu berjalan mendekat ke arah Qing Mei. Sangat dekat hingga Qing Mei bisa menghirup parfum milik Zhang Chen dengan jelas.
"Ini baju ganti untukmu. Mandilah, pelayan akan mengantar sarapan sebentar lagi"
Qing Mei dengan cepat mengambil kantung belanja dari tangan Zhang Chen dan berlari kembali ke kamar untuk mandi.
Dari cermin Qing Mei bisa melihat bahwa wajahnya sekali lagi bersemu merah, ia juga merasa suhu tubuhnya naik beberapa derajat setiap Zhang Chen mendekatinya.
.
Gaun putih yang dipilih oleh Zhang Chen melekat sempurna pada tubuh Qing Mei.
Tampak anggun dan manis secara bersamaan.
Zhang Chen memakai masker hitamnya saat pelayan hotel mengetuk pintu membawakan sarapan pagi pesanan mereka.
Setelah menata rapi sarapan di meja makan di teras belakang dengan pemandangan kolam renang. Zhang Chen baru melepas masker hitam miliknya setelah pelayan pergi dan meninggalkannya berdua bersama Qing Mei.
Duduk berdua di meja makan. Fokus Qing Mei bukan pada makanan melainkan wajah Zhang Chen.
Tatoo yang ia lihat semalam sekarang tampak lebih jelas lagi.
Ada bekas goresan panjang yang ditutupi oleh tatoo bertuliskan QMęï.
Mungkin Zhang Chen menyadari tatapan Qing Mei jadi ia mengletakan sendok dan garpunya dengan tenang.
"Ada hal yang harus aku kerjakan nanti, apa kau mau ikut ?" pertanyaan Zhang Chen membuyarkan lamunan Qing Mei.
"Tapi aku harus ke rumah sakit" Ibu akan melakukan banyak Check up hari ini.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan kesana setelah selesai"
Zhang Chen memakai masker hitamnya kembali dan hendak pergi saat Qing Mei cepat-cepat mengejarnya untuk keluar bersama.
Hotel itu terlalu luas dan besar, Qing Mei takut ia tidak akan menemukan pintu keluar bila ia tidak keluar bersamaan dengan Zhang Chen.
.
Dikediaman keluarga Cheng, Yurou masih duduk dengan wajah kesal dikamarnya.
Ia masih tidak terima bahwa seorang Cheng Qing Mei bisa mendapatkan Tuan Muda Zhang.
Ini tentang Zhang Chen! Pria bujang idaman para wanita. Kekayaannya sendiri sudah tidak terhitung. Belum lagi kekayaan yang dimiliki ayahnya yang suatu saat akan jatuh ketangan pria itu.
Walau sampai detik ini belum ada yang melihat bagaimana parasnya di balik masker hitam yang selalu melekat itu. Mereka tidak peduli asal bisa mendapatkannya.
Bahkan jika wajahnya jelek sekalipun. Uang yang didapat setelah menjadi Nyonya Zhang bisa mereka gunakan untuk melakukan operasi plastik padanya!
Yurou menelpon seseorang untuk melacak dimana Qing Mei berada. Bahkan setelah ayahnya mengancam untuk tidak mencari masalah lagi dengan Qing Mei karena sudah ada Tuan Zhang disisinya, Yurou tidak peduli.
Yang harus menempati posisi sebagai Nyonya Zhang adalah dirinya! Bukan Qing Mei.
"Nona, kami sudah menemukannya"
"Bawa dia ke xxxx"
Setelah panggilan telepon terputus. Dua pria yang sejak tadi mengikuti Qing Mei di rumah sakit baru akan bergerak maju saat mereka dihadang oleh 5 pria berjas hitam rapi.
Qing Mei menoleh saat mendengar suara gaduh tapi tidak ada apapun disana.
Jadi ia kembali ke kamar rawat ibunya.
Sedangkan dua pria suruhan Yurou sudah dibawa pergi ke belakang gedung rumah sakit.
Ditendang hingga meringkuk kesakitan sampai mereka mengaku disuruh oleh siapa.
Dua pria suruhan Yurou mengaku setelah tendangan ketiga.
Dari jumlah hingga kekuatan sudah jelas mereka kalah jauh dari pengawal milik keluarga Zhang.
Ingin mencoba melawan Zhang Chen harusnya mereka berpikir ratusan kali terlebih dahulu.
Hasil rekaman video dari dua pelaku beserta bukti pembayaran yang dilakukan Yurou diambil alih oleh Zhang Chen.
Ia lalu mengundang Tuan Cheng dan memaparkan bukti kejahatan yang dilakukan oleh putri dari istri keduanya.
"Jadi apa yang akan anda lakukan pada putri anda ? Tentunya Tuan Cheng tahu kalau aku tidak mungkin membiarkan hal ini berlalu begitu saja"
Ditempatnya, Tuan Cheng duduk dengan keringat dingin.
Sebelumnya Zhang Chen sudah memperingatinya tentang segala hal gelap yang ia lakukan. Bila membuatnya tidak senang jangan berharap untuk memenangkan pemilihan walikota mungkin ia juga langsung di tendang keluar dari negara itu.
"Aku akan mengirimnya ke Paris agar dia menjauh dari Qing Mei"
"Paris ? Ada kemungkinan untuk aku dan Qing Mei berlibur kesana. Bagaimana kalau Moscow?"
Tuan Cheng hanya bisa terdiam. Moscow. Rusia. Belakangan ini tempat itu menjadi sedikit berbahaya, belum lagi jarak tempuh ke tempat itu memakan waktu lebih dari dua puluh dua jam.
Mengirim putrinya kesana pasti akan membuat istrinya marah besar.
"Baiklah" Tuan Cheng akhirnya menyetujuinya. Itu lebih baik daripada ia harus kehilangan kesempatan untuk mengikuti pemilihan walikota. Dan saat ia memenangkan pemilihan maka ia akan memikirkan cara lain untuk membawa putrinya pulang.
.
Sore hari menjelang malam, setelah menyelesaikan semua pekerjaannya Zhang Chen pergi menjemput Qing Mei di rumah sakit.
"Tuan Zhang" sapa para dokter begitu mereka melihat Zhang Chen masuk.
Zhang Chen mendekat untuk berdiri disebelah Qing Mei sebelum dengan lembut bertanya padanya.
"Bagaimana kondisi ibu?"
"Kondisi Ny.Li stabil. Mungkin akan memerlukan waktu yang sedikit lama tapi dengan terapi secara teratur beliau akan segera membaik" Kepala Dokter rumah sakit itu yang menjawab pertanyaan mewakili Qing Mei.
"Baiklah terima kasih. Tolong persiapkan tim medis karena kami akan membawanya kembali ke Shenzhen besok"
Disebelahnya Qing Mei menatapnya dengan terkejut. Shenzhen ?!
***Bersambung