CEO ZHANG SPOILED HIS WIFE

CEO ZHANG SPOILED HIS WIFE
Ch. 10



Setelah mampir untuk membeli salep, mobil hitam yang membawa Zhang Chen dan Qing Mei kembali ke kediaman mereka di Ruicheng Villa.


Zhang Chen membantunya mengoles salep dengan ringan takut menyakitinya.


Karena waktu sudah menunjukan pukul dua belas siang dan koki sudah selesai menyiapkan makanan, Zhang Chen menemani Qing Mei untuk makan siang bersama sebelum kembali ke perusahaan.


Wen Li kembali dari waktu istirahatnya lebih cepat sepuluh menit dari waktu Bos besar kembali.


Menatap aura gelap disekitar, ia tahu bahwa sesuatu pasti telah terjadi. Dan benar saja, begitu ia mengikuti Zhang Chen ke ruangan, perintah langsung diturunkan.


"Kedepannya Zhang Corp. tidak akan melakukan kerja sama apapun dengan keluarga Lin dan keluarga Yi"


"Baik"


.


Sore harinya setelah mandi Qing Mei turun dan pergi ke dapur untuk membantu para koki memasak makan malam tapi saat ia tiba bibi Yang melarangnya untuk ikut membantu.


Jadi Qing Mei hanya bisa berkeliling di villa dengan santai. Di lantai dua disebelah ruang kerja Zhang Chen ada sebuah kamar yang selalu tertutup rapat.


Kebetulan saat ia melewatinya pintu itu terbuka sebagian. Karena biasanya tertutup Qing Mei tidak berani untuk membukanya.


Menyembulkan kepalanya masuk ke ruangan itu, sebuah piano tergeletak dekat jendela Prancis.


Perlahan Qing Mei melangkah masuk ke ruangan bernuansa abu-abu dan putih.


Lemari besar yang berada diruangan menyimpan banyak foto-foto Zhang Chen. Dan dari semua foto itu tidak ada satupun yang menunjukan wajah untuhnya. Semua tertutupi masker hitam dengan sorot mata yang tajam dan dingin.


Qing Mei menelusuri lagi dan menemukan lemari disebelahnya tersusun banyak jenis kamera. Mulai dari kamera dari jenis terlama hingga yang terbaru.


Dan terakhir Qing Mei sampai di piano berwarna hitam mengkilat. Ia duduk disana dan menekan beberapa tuts, dan segera nada-nada menggema dari piano itu.


Qing Mei mengulas senyumnya. Dulu sekali, saat ibunya masih sehat dan keluarganya masih sebuah keluarga bahagia ia suka memainkan piano. Suara tuts piano yang ditekan menghasilkan simphony yang menenangkan. Qing Mei sangat menyukainya.


Karena ia sangat menyukainya, ibunya secara khusus mendaftarkannya ke sebuah kursus piano terbaik di kota. Ia mempelajarinya dengan serius bahkan mengikuti beberapa lomba piano dan memenangkan banyak piala.


Gurunya bilang ia punya bakat.


Tapi tidak lama setelah itu, ibunya mengalami stroke dan ayahnya menikah lagi.


Ayahnya tidak lagi memperdulikannya. Ibu tirinya yang baru, menyuruhnya bekerja dan bekerja. Tangannya menjadi kasar dalam sekejap. Biaya sekolahpun harus memohon untuk dibayarkan, bagaimana bisa ia meminta uang lagi untuk kursus piano.


Karena itu Qing Mei melepaskannya.


Ia tidak pernah menyentuh piano lagi sejak saat itu.


Ini pertama kalinya setelah sekian lama.


Qing Mei bisa merasakan sebuah gelombang kegembiraan jauh di lubuk hatinya.


Jari-jarinya kaku karena tidak pernah bermain piano selama bertahun-tahun. Tapi ia masih ingat setiap tuts. Mozart's piano Sonata K.333 adalah favoritnya.


Walau kaku ia berhasil memainkannya.


Qing Mei terlarut dalam permainannya dan tidak berhenti, memainkan dan memainkan banyak nada dan lagu yang di hapal olehnya.


Saat Zhang Chen kembali. Hal pertama yang ia dengar adalah suara piano yang menggema diseluruh villa.


Nadanya ringan dan lembut.


Meletakan tas kerjanya di sofa, ia perlahan naik ke lantai dua. Ke ruangan dimana suara piano itu berasal.


Ia bersandar di kusen pintu tanpa membuat suara agar gadis cantik yang sedang bermain piano itu tidak terganggu dengan kehadirannya.


Tangan dan jari-jarinya masih terampil.


Setelah lagu selesai dimainkan. Ia terlihat sangat puas. Zhang Chen bertepuk tangan dan gadis itu menoleh dengan terkejut.


"Kau sudah pulang ? Sejak kapan kau berdiri disana ?"


Zhang Chen berjalan masuk ke ruangan.


"Kau memainkannya dengan sangat baik"


Qing Mei menunduk menyembunyikan rasa malunya.


"Maaf aku tidak sengaja masuk ke ruangan ini"


"Tidak apa-apa. Ini rumahmu. Kau tidak harus begitu sopan. Kau juga bisa memainkan piano ini kapanpun kau mau"


Zhang Chen menepuk pelan kepalanya.


"Bermainlah lagi, aku akan mandi dulu setelah itu ayo makan malam bersama"


"Mm"


.


Selama makan malam Qing Mei berulang kali melirik ke arah Zhang Chen, manager utama gedung K menelponnya tadi sore untuk meminta maaf tentang kejadian tadi siang dan meminta maaf karena tidak mengenalinya sebagai Nyonya Zhang.


Dan sebagai permintaan maaf mereka menawarkan penyewaan gedung untuk pernikahan secara gratis. Tanpa perlu membayar satu dolar pun!


Qing Mei tidak langsung mengiyakan. Ia pikir ia harus merundingkannya dengan Zhang Chen.


Jadi setelah makan malam selesai dan Zhang Chen duduk di sofa dengan laptopnya, Qing Mei bertanya bagaimana pendapatnya.


"Tidak. Sudah terlambat untuk menawarkan kompensasi seperti itu"


"Tapi kalau kita memakai gedung K, kita tidak perlu mengeluarkan biaya. Lagipula dengan banyaknya tamu undangan kupikir di Shenzhen hanya gedung K yang bisa menampung sebanyak itu"


Zhang Chen mengelus pelan puncak kepala Qing Mei.


"Ditempat pernikahan kita..aku tidak ingin ada kenangan buruk.Aku akan mencari gedung lain. Kita juga bisa menggelar pesta pernikahan di luar negri, seperti di Hawai atau di Florida.. bagaimana menurutmu ?"


Qing Mei berpikir sebentar. Hawai dan Florida berada jauh dari China. Tempatnya sudah pasti sangat bagus dan menggelar pernikahan outdoor di kelilingi pantai akan sangat menakjubkan.


Tapi..


"Kenapa ? Kau tidak suka ?" Zhang Chen bertanya saat melihat raut wajah Qing Mei yang ragu.


"Emm..bukan tidak suka. Hanya saja aku lebih ingin bergaya china dengan dekorasi warna merah.Tapi jika kau ingin bertema outdoor tidak masalah. Itu juga akan sangat bagus"


"Pesta pernikahan kubuat untukmu tentu saja akan dibuat sesuai keinginanmu jadi jika kau ingin bergaya China tentu saja kita akan melakukannya sesuai keinginanmu. Mari gelar pesta pernikahan di Shanghai. Akan kupastikan semua dekorasinya bergaya China"


"Benarkah ? Chen Chen yang terbaik!" Qing Mei tanpa pikir panjang langsung memeluknya. Wanita manapun akan tersentuh dengan kalimat seperti itu.


Qing Mei pikir Zhang Chen yang di kenal orang luar dengan kepribadian misterius saja banyak disukai oleh wanita-wanita lain, apalagi kalau wanita-wanita di luar sana tahu bagaimana wajah asli Zhang Chen yang sangat tampan dan sifatnya yang suka memanjakan istrinya.. mereka pasti akan tergila-gila pada pria ini.


Seketika Qing Mei merasa sangat beruntung bertemu dengan Zhang Chen.


Ia pikir mengambil keputusan untuk menikah dengan pria ini adalah keputusan terbaik yang pernah ia lakukan.


Mungkin ia telah menghabiskan seluruh keberuntungan dalam hidupnya untuk dapat menikahi pria ini.


.


To be Continue