
Zhang Chen. Pria dengan aura dan proporsi tubuh yang memikat memasuki perusahaan diikuti dengan 5 pengawal disisinya.
Seluruh staff menunduk memberi hormat begitu sang CEO pemiliki dari perusahaan investasi, property dan real estate terbesar di Asia itu datang.
Masker hitam menutupi hampir sebagian wajahnya. Melekat dengan pas memperlihatkan garis rahang yang tajam secara samar. Masker hitam yang tidak pernah lepas selama pria itu keluar dari apartemen pribadinya. Bahkan tidak ada seorangpun yang pernah melihat wajahnya lagi sejak tujuh belas tahun yang lalu.
Mata tajamnya menyapu setiap sudut ruangan yang dilewatinya memberikan getaran yang menakutkan untuk seluruh staff perusahaan takut-takut mereka membuat kesalahan yang tidak disukai dan langsung di depak keluar dari perusahaan.
Begitu sang panglima perang - sebutan staff untuk CEO mereka - melewati mereka dan memasuki kantor pribadinya, semua menghela napas lega.
"Pembangunan Hotel di distrik Pudong telah selesai dan di jadwalkan akan dibuka pada akhir minggu ini. JG Departement Store akan memperpanjang kontrak sewa bangunan yang dijadwalkan siang ini berhasil menaikan harga sewa 25% dari harga sebelumnya menjadi 3 triliun" Wen Li sekretaris sang panglima perang membacakan jadwal terbaru.
"Jadwalkan penerbangan paling pagi ke Pudong besok"
"Baik"
.
Pudong District
Pagi hari di kediaman keluarga Cheng dimulai dengan pekikan kesakitan yang dikeluarkan oleh Cheng Qing Mei.
Sang Ayah, Cheng Liangzhi tidak melakukan apapun saat melihat anak perempuan dari istri kedua-nya menjambak dengan kasar rambut Qing Mei -anak dari istri pertama-
Hal biasa yang sudah sering terjadi dikediaman keluarga itu.
Sebuah tamparan menyambut pipi Qing Mei sebelum akhirnya Yurou menyudahi amarahnya.
Cheng Qing Mei hanya bisa menatap kecewa pada pria paruh baya yang disebutnya sebagai Ayah. Ia sudah disiksa dan dipukuli ribuan kali tapi pria paruh baya yang dulu sangat menyayanginya itu sekarang lebih terlihat tidak peduli apakah putri kandungnya hidup atau mati.
Cheng Qing Mei kembali ke kamarnya dengan menangis. Kamar kecil dan kotor yang lebih sesuai untuk gudang barang bekas.
Lebam disudut bibirnya masih membiru dan sekarang tamparan lain menyambut pipinya. Ia berlutut disebelah ibunya yang hanya bisa terbaring tidak bergerak sejak lima tahun yang lalu karena stroke.
Bukannya ia tidak mau meninggalkan rumah itu tapi ia tidak bisa. Ia sudah bekerja disana-sini untuk mengumpulkan uang bahkan harus berhenti sekolah. Tapi tabungannya tidak pernah cukup untuk menyewa rumah kecil sekalipun.
Obat-obatan ibunya harus terus dikonsumsi dan itu tidaklah murah. Qing Mei menghapus air matanya lagi sebelum keluar dari rumah untuk bekerja.
Qing Mei berusaha menguatkan dirinya lagi dan mulai bergulat dengan piring-piring kotor mahal berharga ribuan dolar.
.
Balutan jas mahal buatan Italy membungkus tubuh sempurna Zhang Chen. Garis rahang samar yang tertutup masker dan mata tajamnya seketika membuat seluruh staff dan kepala restoran berkumpul dan menyambutnya.
Siapa yang tidak mengenalnya ? Ia memiliki banyak gedung-gedung mahal yang disewakan tersebar diseluruh Asia. Termasuk Gedung Restoran bintang lima ini. Jangan mencoba untuk menyinggungnya atau kau tidak akan pernah mendapatkan tempat untuk melanjutkan bisnismu.
Pria bermarga Zhang itu bahkan memiliki koneksi kuat dengan berbagai kepala di berbagai bidang. Ia bahkan punya izin khusus di maskapai penerbangan dengan paspor khusus yang hanya menampilkan data diri tanpa foto.
"Tuan Muda Zhang. Terima kasih menyempatkan waktumu untuk datang. Katakan saja apa yang ingin anda makan ? Kami akan membuatkan yang terbaik untuk anda" Kepala pelayan menawarkan.
"Cheng Qing Mei"
Kepala pelayan mengerutkan dahinya tidak mengerti tapi juga tidak berani untuk bertanya. Ia berbisik pada staffnya untuk bertanya apa itu Cheng Qing Mei ? Apakah Cheng Qing Mei sejenis makanan baru yang belum pernah ia dengar ?
Satu-persatu staff juga tidak tahu dan tidak paham sampai akhirnya seorang gadis dipaling ujung menyebutkan.
"Cheng Qing Mei adalah gadis pencuci piring itu" bisiknya pada staff lain yang mulai menyampaikan pesan itu pada staff lain hingga sampai ke telinga kepala pelayan.
"Ah! Cheng Qing Mei ! Tuan muda Zhang mengenalnya ?" bukannya mendapatkan balasan ya atau tidak, kepala pelayan malah mendapatkan tatapan tajam yang mengartikannya untuk dengan cepat membawa gadis itu kedepannya segera!
Tanpa penjelasan Cheng Qing Mei ditarik dari posisinya yang sedang mencuci dan dibawa ke depan seorang pria yang tidak dikenalnya yanh sedang duduk dengan angkuh dilayani oleh semua staff restoran.
Tangannya yang masih bersabun dan memegang spons tampak bodoh dihadapan pria dengan balutan jas mahal dan semua staff yang menatapnya curiga.
"Apa aku mengenalmu ?"
***Bersambung ke next Chapter
Jangan lupa vote yaa readersku !
โค๐งก๐๐๐๐ค๐