CEO ZHANG SPOILED HIS WIFE

CEO ZHANG SPOILED HIS WIFE
Ch.5



Shenzhen City


Sudah Qing Mei katakan sebelumnya. Dijadikan istri atau budak sekalipun ia sudah memutuskan untuk mengikuti kemanapun Zhang Chen pergi dan tidak akan pernah menginjak kediaman keluarga Cheng lagi apapun yang terjadi.


Tapi tidak pernah Qing Mei bayangkan ia akan menginjakan kaki di Shenzhen!


Mereka tiba sekitar pukul sepuluh dengan pesawat pribadi milik Zhang Chen.


Ibunya langsung dibawa ke rumah sakit terbesar dan terbaik di kota. Dan kondisinya stabil.


Setelah itu Zhang Chen membawanya kembali ke kediamannya.






Qing Mei tidak bisa mengatakan apapun. Semakin dalam ia menjelajahi rumah itu semakin besar mata Qing Mei membulat tidak percaya.


Rumah mewah dengan desain tradisional mengagumkan ditambah dengan pernak pernik dari keramik mahal itu memberikan efek ngeri pada Qing Mei.


Rumah sebesar ini bagaimana cara membersihkannya ?!


Terlarut dalam pikirannya Qing Mei akhirnya tanpa sengaja menabrak punggung Zhang Chen.


"Ini kamarmu"


Ruangan dengan nuansa hangat menyambut Qing Mei. Rasanya seperti rumah. Karena sudah sejak lama ia hidup sebagai seorang yang menumpang dikeluarga Cheng padahal ia-lah putri kandung.


"Kenapa kau baik sekali padaku ?" akhirnya petanyaan yang sudah menyangkut ditenggorokannya selama tiga hari terakhir keluar juga.


Zhang Chen menyenderkan punggungnya pada kusen pintu dengan tenang melepas masker hitamnya.


"Apa yang salah dengan memperlakukan calon istri dengan baik ?" Zhang Chen membalasnya dengan pertanyaan.


"Kenapa aku ? Kita baru bertemu dua kali"


"Kenapa tidak boleh dirimu ? Ini ke tiga kalinya"


"Ketiga ?" tanya Qing Mei dengan binggung.


"Kau akan mengingatnya suatu saat nanti" Zhang Chen menyudahi percakapan mereka.


"Masih ada hal yang harus ku kerjakan. Beristirahatlah. Kalau kau butuh sesuatu, katakan pada Bibi Bai. Ada nomor ponselnya di ruang tamu"


Zhang Chen menjentikan tangannya menyuruh Qing Mei untuk mendekat. Lalu menempatkan sebuah ciuman lembut dipuncak kepala Qing Mei sebelum akhirnya pergi.


Wajahnya otomatis berubah merah dengan suhu tubuh yang seketika naik.


Qing Mei yakin pria itu memiliki banyak pengalaman dengan wanita lain. Kalau tidak bagaimana mungkin bisa melakukan hal-hal seperti itu tanpa mengubah ekspresi wajahnya.


.



Diruangan pribadinya yang tertutup rapat. Zhang Chen melepas masker hitam miliknya dan mulai bertempur dengan dokumen-dokumen yang menumpuk dimeja.


Hal yang wajar, karena pekerjaannya yang menumpuk biasanya jika memiliki pekerjaan di luar kota ia akan langsung kembali ke Shenzhen di hari yang sama.


Dan ia baru saja menghabiskan 3 hari di Pudong,Shanghai. Sekarang dokumen pembangunan, sewa dan real estate dari berbagai penjuru Asia menunggu untuk diperiksa dan ditandatangani.


Zhang Chen baru kembali sekitar hampir jam dua belas malam.


Melepas masker hitamnya beserta jas kerja. Zhang Chen menemukan Qing Mei tertidur disofa dengan pulas.


Zhang Chen duduk dengan perlahan untuk mengamati wajah tidur gadis yang ia sebut calon istrinya.


Rasanya walau lelah bekerja ia masih sanggup untuk duduk berjam-jam hanya untuk mengamati wajah tidur Qing Mei.


Dengan perlahan Zhang Chen mengangkat tubuh Qing Mei ke dalam dekapannya dan memindahkannya ke kamar tidur miliknya.


.


Qing Mei menggeliat pelan sebelum akhirnya membuka matanya. Hal yang pertama ia lihat adalah wajah tenang Zhang Chen yang masih tertidur pulas dengan satu tangan melingkar memeluknya. Ia menyadari bahwa sekarang ia berada dikamar Zhang Chen.


Walau cuaca pagi ini mendung dan hujan turun deras diluar, Qing Mei merasa hangat berada dalam pelukan Zhang Chen.


Dan yang terakhir tatoo yang menyamarkan bekas luka dipipinya. Mungkin ini alasan kenapa Zhang Chen selalu memakai masker hitam saat keluar dari rumah.


Sebenarnya Zhang Chen memiliki wajah sempurna, Qing Mei bertaruh kalau luka gores yang ditutupi tatoo itu malah akan menambah point extra untuk ketampanannya. Gadis lain pasti tidak akan mempermasalahkannya.


Luka itu terlihat sama dengan luka ditangan kirinya. Luka yang ia dapat saat berusia enam tahun.


Jantung Qing Mei hampir melompat keluar saat mata yang sejak tadi tertutup rapat itu terbuka menampakan manik mata hitam yang tenang menatapnya.


"Kenapa aku bisa tidur disini ?" masih dalam posisi saling menatap, Qing Mei bertanya.


"Mulai sekarang kau akan tidur disini"


"Kenapa ?"


"Karena pasangan suami istri harus tidur bersama"


"Kita bahkan belum menikah" tolak Qing Mei


"Kita akan mendaftarkannya hari ini" balas Zhang Chen dengan tenang.


Qing Mei segera bangun dari posisinya sembari menyilangkan tangannya membentuk tanda silang.


"Bukankah ini terlalu cepat ?"


Zhang Chen juga mendudukan dirinya, Ia mendekatkan dirinya pada Qing Mei hingga jarak diantara keduanya cukup tipis.


Manik matanya sungguh menggoda. Bibir tipisnya bergerak dengan suara yang lembut dan tenang.


"Banyak gadis yang mengantri untukku. Kusarankan agar kau segera mengklaim tempat sebagai Ny.Zhang. Kalau tidak.. seseorang mungkin merebutnya"


Setelahnya dalam sepersekian detik Zhang Chen menempatkan satu kecupan sebelum akhirnya bangun untuk bersiap kerja.. meninggalkan Qing Mei yang sudah berubah menjadi patung.


.


Aura yang mengelilingi Zhang Chen berubah ke mode dingin dan mendominasi setelah ia keluar dari apartemennya.


Dengan Qing Mei yang tidak berada disekitar, Zhang Chen secara otomatis kembali menjadi Panglima Perang.


Sembari berjalan menuju ruangannya, jadwalnya setiap tiga puluh menit dibacakan oleh sekretaris secara menyeluruh.


Beberapa pegawai segera menunduk kaku memberi salam. Setiap langkahnya membawa dominasi yang kuat hingga rasanya kau takut salah berpijak.


Mungkin ini dianggap sebagai salah satu stress kerja bagi para pegawai yang bekerja dibawah otoritas Zhang Chen.


Namun tidak ada satupun yang berniat mengundurkan diri, bagaimanapun gaji yang dibayarkan terbilang tinggi. Mereka tidak rela bila harus melepaskan angka yang terdiri dari empat sampai lima digit yang masuk ke rekening mereka setiap bulannya.


Wen Li menutup jadwal yang ia bacakan dan melaporkan hal terakhir.


"Putri ke dua Tuan Cheng telah di kirim ke Moscow pagi ini"


"Mm"


.


Setelah membersihkan diri, Qing Mei turun dan sarapan mewah telah disiapkan oleh bibi Bai di meja makan.


"Selamat pagi Nona"


"Selamat pagi bibi. Apa bibi yang membuat ini ?" Qing Mei meneliti satu demi satu makanan di meja.


"Ya.. apa ada yang Nona tidak sukai ?"


"Tidak. Semua tampak lezat. Wah! apa itu puding yogurt ? Bibi yang membuatnya ?"


"Ya. Mangga yang di kirim dari kebun pribadi tiba kemarin sore, jadi kubuat puding sebagai penutup. Apa nona menyukai makanan manis ?" balas bibi Bai ramah.


"Aku sangat suka. Lain kali tolong ajari aku membuatnya"


Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang mewah, Qing Mei tidak tahu apa yang harus ia lakukan.


Biasanya di jam seperti ini ia sudah pergi bekerja dan bertarung dengan piring-piring kotor di dapur hotel.


Sekarang dihadapkan dengan situasi layaknya Nyonya besar.. Qing Mei tidak tahu harus melakukan apa.


To Be Continue