Can I Love You Sir?

Can I Love You Sir?
episode 5.



Satu hari setelah, Celestia dinyatakan koma akibat terlalu banyak mengeluarkan aura dalam jumlah banyak Setelah sekian lama, seluruh orang yang berada di kediaman Wolf Knight langsung berubah sifat menjadi lebih tenang dibandingkan dengan saat Celestia belum koma. mereka semua benar-benar menunggu saat dimana mereka bisa melihat kembali senyum manis nan cantik yang terlukis dibibir wanita tercantik di kerajaan Athena itu.


bahkan Duke Wolf Knight yang terkenal dingin dan tak peduli apapun berulang kali keluar masuk kedalam kamar Celestia, dengan alasan mungkin saja Celestia akan terbangun sewaktu-waktu ia tidak berada di kediaman. padahal banyak sekali pekerjaan yang menumpuk di meja kerjanya namun, setiap sejam sekali ia pasti akan pergi menjenguk Celestia hanya karena ingin melihat keadaan nya.


dengan sikap Duke yang seperti itu para pekerja jadi dua kali lebih kuwalahan karena mereka harus menyesuaikan diri dengan perilaku atasannya itu. sedangkan para selir Celestia, mereka semua kembali ke pekerjaan mereka masing-masing walau sebenarnya hati dan pikiran mereka tidak sedang pada tempat nya namun, mereka harus bersikap profesional karena ada saat mereka harus menjadi selir Celestia dan ada saat mereka harus kembali menjadi jati diri mereka sendiri. ketika istirahat makan siang atau saat mereka pulang dari pekerjaan mereka, semua para selir Celestia akan meluangkan waktunya untuk menjenguk Celestia yang masih saja tertidur lelap dengan cantiknya.


" nona, mau sampai kapan anda akan tertidur..? kami semua sangat merindukan anda.. " ucap Karlien sembari membelai pipi Celestia dengan lembut.


" padahal ini sudah satu hari sejak duelnya dilaksanakan.. tapi, kenapa Nona masih belum bangun juga? " tanya Jerry yang merasa sedih.


" Nona.. kami lebih suka putri Merida yang tak kenal takut daripada putri tidur yang tertidur sangat lama.. karena itu, sangat menyakitkan nona.. " ucap Karan sembari menggenggam tangan Celestia.


semua orang hanya bisa menunggu waktu dimana Celestia terbangun dari tidurnya, karena orang yang telah kehilangan banyak mana, aura, atau kekuatan sihir akan kehilangan kesadaran nya untuk sementara waktu demi pemulihan energi sihir dalam tubuhnya. waktu pun terus berlalu dan Celestia tak kunjung bangun padahal ini sudah hari ketiga semenjak ia dinyatakan koma atau tertidur karena pemulihan.


" William, tidakkah kau terlalu memaksakan diri? jika kau terus mengurung diri di ruang kerjamu dengan semua tumpukan dokumen ini tanpa tidur dan jarang makan kau bisa mengalami koma sama seperti adikmu. " ucap Zen teman dekat William.


" aku tidak akan mati selama adik ku belum bahagia dan aku akan membuat nya seperti itu. " ucapnya tanpa mengalihkan pandangan nya ke arah kertas dokumen yang ada dihadapannya.


" dasar. mau bagaimana pun kau itu adalah manusia yang membutuhkan istirahat walau hanya sebentar. " ucap Zen lagi.


" berisik. sebaiknya kau kembali saja, aku terlalu sibuk untuk mendengarkan ocehan mu Zen. "


mendengar itu Zen hanya bisa berdecak kesal. entah mengapa semenjak adiknya koma, William yang terlihat sedikit lebih hangat akhir-akhir ini langsung berubah dingin lagi seperti dulu saat pertama kali ia bertemu dengan nya di akademi ilmu berpedang dan sihir. sifatnya mulai berubah semenjak adiknya telah lahir ke dunia ini dan ia amat sangat terlihat jelas menyayangi satu-satunya adik perempuan yang dimiliki nya itu.


" sungguh sangat menyeramkan, ketika pangeran Es hanya bisa luluh kepada adik perempuan nya. " batin Zen merinding.


sekarang adalah waktunya untuk makan siang dan Aska dengan sengaja melewatkan nya karena ia berniat untuk menjenguk Celestia putri kesayangan nya itu. sebenarnya ia sudah menjenguk Celestia satu jam yang lalu namun, ia benar-benar tidak bisa tenang jika dia tidak melihat putrinya barang sebentar saja, bahkan jika dia harus kehilangan rekan bisnis nya akibat meninggalkan rapat yang sedang berlangsung.


" kira-kira.. jika Celestia tidak koma, putriku itu sekarang sedang apa ya? " batinnya tenggelam dalam pikiran sembari berjalan pergi menuju ke kamar Celestia untuk menjenguknya.


sesampainya di sana, ia duduk disamping ranjang Celestia sembari memandang dan membelai rambut Celestia dengan lembut dan penuh kehati-hatian. ia benar-benar sangat menyayangi putrinya itu apalagi Celestia adalah satu-satunya putri yang dilahirkan oleh istrinya beberapa tahun sebelum istrinya meninggal dunia akibat sakit parah.


" Hem.. putriku benar-benar sangat cantik. ia mirip dengan mu Isabel. rambutnya yang panjang dan lembut, sifatnya yang kuat, cekatan, dan tak kenal takut, tingginya yang hampir sama dengan mu.. selain matanya, dia benar-benar seperti duplikat mu. aku bersyukur karena setidaknya kamu meninggalkan duplikat mu di dunia ini setelah kau pergi meninggalkan ku selama nya Isabel.. " ucap Aska sembari tersenyum tipis.


cup..


" ayah harap, kamu cepat sadar Celestia.. "


Aska mengecup lembut kening putrinya itu, sebelum ia kembali melanjutkan aktivitas nya. sepeninggalan Aska, raut wajah Celestia mengernyit seakan ia sedang dalam bahaya dan ternyata benar, Celestia sedang mengalami mimpi yang sangat buruk.


di alam bawah sadar nya..


betapa terkejutnya Celestia ketika seorang wanita tiba-tiba mencekiknya seraya berkata kasar seolah ia telah dengan sengaja merebut kebahagiaan yang dimiliki nya. apalagi penampilan wanita itu sangat berantakan dan lusuh layaknya mayat yang telah hidup kembali.


" kembalikan.. kembalikan..!!!! "teriak wanita itu lagi sembari mencekik leher Celestia dengan lebih kuat.


" u-ukhh!! se-sebenarnya.. si-siapa k-kau..? ukhh!! " tanya Celestia berusaha melepaskan diri namun cengkraman itu terlalu kuat.


" jangan pura-pura tidak tahu.. kaulah yang merebut kebahagiaan ku selama ini!!! " teriak wanita itu amat sangat marah.


wanita asing itu benar-benar melampiaskan semua amarahnya pada Celestia yang tidak mengerti apa yang terjadi. ketika Celestia sudah mencapai batas nya, tiba-tiba ia berpindah ketempat yang sangat indah yaitu taman bunga mawar merah tumbuh dengan sangat lebat dan tertata rapi seakan ada seseorang yang merawatnya.


" dimana lagi aku..? " ucap Celestia sembari melihat ke sekeliling.


" taman bunga milik siapa ini? kenapa aku berada disini? bukankah tadi aku sedang dicekik oleh wanita menyeramkan itu? " batinnya bingung sembari berdiri dari posisi duduknya.


" lady, betapa lancang nya anda, masuk ke taman orang lain tanpa seizin dari pemilik nya. " ucap seorang pria sembari berjalan menghampiri Celestia.


mendengar suara yang familier, Celestia pun berbalik dan betapa terkejutnya dia ketika orang yang sebelumnya berduel dengan nya kini sedang berdiri di hadapan nya sembari membawa sebilah pedang yang masih tersarung di pinggang nya.


" Du-Du-Duke Eagle.. " ucap Celestia gugup.


" Lady, bukankah lady terlalu lancang hingga berani menyelundup masuk ke taman milik orang lain? lady, sesuka apapun dirimu padaku, bukan berarti lady harus sampai bertindak layaknya seekor tikus rendahan, dengan memaksa masuk ke Kediaman orang lain dan pergi ke taman pribadi milik nya. apakah sekarang lady sudah siap untuk pergi ke alam baka? " ucapnya dingin sembari menatap tajam Celestia.


Deg!


kalimat itu benar-benar berhasil membuat Celestia merasa merinding. sebab, ia tidak melakukan apapun namun ia malah dipindah oleh seseorang menuju ke sarang elang ini. setelah mengatakan hal yang menakutkan itu dengan tatapan tajamnya, Carlie perlahan berjalan mendekat ke arah Celestia sembari mengeluarkan pedangnya.


" be-berhenti.. kau salah paham.. aku sungguh tidak bermaksud untuk datang kesini.. A-Aku sebenarnya__ " ucap Celestia berusaha untuk menjelaskan sembari berjalan mundur karena takut kejadian yang tidak diinginkan akan terjadi.


" maaf, lady. tapi aku tidak berniat untuk mengampuni mu. "


Sraakkk!!!


tanpa basa-basi ataupun ragu Carlie segera mengayunkan pedangnya tepat ke leher Celestia. Celestia sangat terkejut karena pria itu bisa dengan mudahnya menebas leher nya tanpa ragu sedikitpun, bahkan ia tidak mau mendengarkan penjelasan apapun darinya.


" kenapa..? aku.. tidak ingin mati lagi.. " batinnya segera kehilangan kesadaran.


" nona, apakah anda menyukai tatanan rambut yang saya buat? " tanya seorang pria tampan.


" ...Karan? " ucap Celestia terkejut.


" ya, nona? apakah anda ingin saya menata ulang rambut anda? " tanya nya sembari tersenyum lembut.


" ah, tidak. ini sudah sangat bagus. "


" kenapa aku tiba-tiba ada disini..? " batin Celestia bingung.


" syukurlah. saya akan menata kembali peralatan rambut saya. " ucapnya sembari menata peralatan rambut yang tadi ia gunakan.


Celestia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. kenapa ia dapat berpindah tempat dan menemui ajal nya berkali-kali? untuk memastikan bahwa ia sudah kembali Celestia pun bertanya.


" Karan. "


" hm? "


" kemana semua selir yang lain? " tanya Celestia.


mendengar itu Karan hanya terdiam. melihat reaksi Karan, Celestia merasa ada yang aneh tidak biasanya para selir kesayangan nya berpisah saat ia sedang berkunjung ke paviliun.


" ...Hem, anda tidak perlu memikirkan nya nona. mereka semua pasti sedang bersenang-senang sekarang. " ucapnya sembari tersenyum.


" ya? apa maksud mu Karan? " tanya Celestia bingung.


" nona tak perlu khawatir. karena saya, juga akan menyusul mereka. " ucap Karan tersenyum tipis sembari menempel kan sebuah pisau ke dada nya.


" !!! Karan! apa yang mau kau lakukan?!! " teriak Celestia bangkit dari duduknya dan segera berbalik ke arah Karan.


" Hem.. jaga diri baik-baik ya nona. sampai jumpa di kehidupan selanjutnya. " ucapnya meneteskan air mata sembari menusukan pisau yang ia pegang kedalam dada nya.


JLEBB!!


pisau pun berhasil menembus jantung Karan hingga ia mati dengan darah yang amat sangat banyak. Celestia yang melihat itu pun sangat syok hingga terduduk lemas, ia bahkan tak mampu berbicara dan seluruh tubuhnya bergetar.


" ke-kenapa.. kenapa menjadi seperti ini.."


" apa.. apa yang salah sebenarnya.. "


" Karan.. tidak.. Karan bangunlah.. bangunlah Karan.. Karan bangunlah..!! "


Akhhhh...!!!!!!!


" Celestia, apakah tehnya cocok dengan selera mu? " ucap seorang pria yang sudah berumur namun tetap tampan itu sembari tersenyum hangat kepada Celestia yang sedang duduk di hadapan nya.


" ...ayah? " tanya Celestia sangat tercengang karena lagi-lagi ia terbangun ditempat lain setelah mengalami hal yang berat dengan orang yang berbeda.


" apakah semua ini.. adalah mimpi? " batinnya Celestia masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi.


" Hem.. Celestia, apakah kamu suka dengan Dessert nya? "


" a-ayah.. ini benar-benar ayah kan? " tanya Celestia memastikan.


pria itu hanya menjawab nya dengan sebuah senyuman. setelah nya mereka berdua menikmati Teatime mereka dengan damai, walaupun Celestia masih tidak mengerti apa yang terjadi.


" Celestia, setelah apa yang terjadi sebelumnya, ayah harap kamu tidak menyesali keputusan mu karena, ayah hanya ingin yang terbaik untuk mu. ayah tidak ingin kamu terluka dan ayah selalu berharap kamu bahagia. " ucap Aska.


" apa.. yang ayah bicara kan? kenapa ayah mengatakan itu seolah kita tidak akan pernah bertemu lagi? " tanya Celestia mulai bingung.


" Hem.. ayah selalu berharap kamu bahagia Celestia. "


" ya? apa maksud ay__ "


" eh? apa yang terjadi? tu-tunggu, ayah! ayah!! " teriak Celestia ketika ia menyadari bahwa ia akan berpindah tempat lagi.


" Lady Celestia Wolf Knight dihukum mati atas percobaan pembunuhan terhadap Saintess Agung kita, yang juga merupakan kekasih dari yang mulia Duke Eagle. Hukuman Dimulai!! Takk!!!" ucap seorang pria yang merupakan seorang Hakim sembari memukul.


" apa. " batin Celestia terkejut.


seorang pria yang sangat Celestia kenal datang menghampiri Celestia yang sedang terduduk dengan tangan yang terikat dan mulut yang terbungkam oleh kain, sembari membawa sebilah pedang ditangan nya bersiap untuk memenggal kepala Celestia namun anehnya, pria itu datang dengan berderai air mata.


" Celestia.. " panggil pria itu dengan suara yang lembut dan sedikit menghilang karena menangis.


" !!! A-Ayah.. " batin Celestia sangat tercengang.


" hukuman penggal dimulai! " teriak Hakim itu lagi.


" Ja-Jangan bilang kalau ayah yang akan.. memenggal ku? " batinnya amat sangat terkejut.


banyak sekali para bangsawan dari berbagai wilayah yang hadir hanya untuk melihat Celestia dieksekusi, semua orang disana menatap Celestia dengan tatapan merendahkan dan penuh hina, bahkan seorang pria yang sedang berdiri di samping Saintess sembari memeluk nya dengan hangat pun menatap nya bak tikus yang sangat rendah. namun, lelaki yang sedang berdiri dihadapan Celestia hanya bisa tertunduk dengan air mata yang masih mengalir deras dimata nya, karena sesungguhnya ia tidak tega memenggal kepala putrinya sendiri namun, atas kesalahan putri nya dan perintah dari sang Raja, ia mau tidak mau harus melakukan hal yang kejam itu. setelah teriakan terakhir dari sang hakim, Aska pun mulai mengangkat pedang nya.


" Celestia.. ayah sungguh minta maaf.. nak. " ucapnya dengan raut wajah yang penuh penyesalan.


" tidak!! ayah, saya mohon Jangan bunuh saya!!! "


SRAKKK!!!


" Ayah!!! " teriak Celestia terbangun secara tiba-tiba.


Celestia, benar-benar sangat terkejut ia langsung duduk dengan nafas yang tak beraturan. entah, karena mimpi itu ataukah karena sensasi menakutkan dari mimpi itu masih ada padanya. tubuh Celestia mulai gemetaran dan tenggorokan nya terasa kering hingga sakit.


" ukh.. syukurlah itu hanya mimpi.. syukurlah.. " batinnya sembari memegang erat dadanya dan menangis ketakutan.


mendengar teriakkan dari dalam kamar, Aska langsung membuka pintu kamar Celestia dengan lebar dan betapa terkejutnya ia ketika putri bungsu nya itu telah terbangun setelah tiga hari tak sadarkan diri. Aska langsung berlari dan segera memeluk tubuh Celestia yang masih bergetar, dengan begitu erat karena ia sangat merindukan putri satu-satunya itu.


" Celestia.. ayah sangat senang kamu akhirnya kembali.. ayah sudah sangat khawatir jika ayah tidak akan bisa bertemu dengan mu lagi, Celestia.. " ucapnya menangis sembari masih memeluk Celestia.


" ayah.. kenapa ayah menangis? " tanya Celestia.


" ayah benar-benar merindukan mu Celestia.. tolong jangan terluka lagi.. ayah tak tega melihat mu terluka.. " ucapnya semakin erat memeluk Celestia.


" Apa. Tentu saja tidak! bagaimana bisa aku membunuh putriku sendiri? kesalahan Sebesar apapun yang kamu buat, Ayah pasti akan selalu memaafkanmu dan selalu berada di pihakmu. Karena itu Celestia, janganlah kamu berpikir bahwa ayah akan dengan Teganya membunuhmu, apalagi menyakitimu. karena hal itu tidak akan pernah terjadi. " ucapnya sembari memegang kedua pipi Celestia dan menatap matanya dengan penuh kesungguhan.


" tapi.. bagaimana jika saya melakukan hal yang sangat fatal? apakah.. saat itu ayah akan benar-benar membunuhku? " tanya Celestia lagi.


" Celestia.. ayah tidak akan pernah melakukan nya. ayah menyayangi mu, ayah sangat sayang pada mu. tolong jangan berpikir yang tidak-tidak, karena ayah tidak akan melakukan tindakan yang bisa menyakiti mu. " ucap Aska sembari mengusap kedua pipi Celestia.


" hiks.. ayah.. jangan bunuh saya.. jangan bunuh saya ayah.. hiks.. tolong jangan bunuh saya.. ayah.. saya mohon.. " ucap Celestia menangis dengan begitu pilu karena ia masih takut jika mimpinya menjadi kenyataan.


" tidak, Celestia.. tidak akan.. ayah tidak akan pernah melakukan nya.. percayalah sayang.. " ucap Aska sambil memeluk Celestia dengan erat.


" percayalah.. "


setelah nya Dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Celestia dan semua orang merasa bahagia karena nona mereka telah kembali sadar.


...****************...


setelah kejadian yang begitu mengharukan itu, semua orang yang berada di kediaman Wolf Knight bergiliran menjenguk Celestia yang baru saja siuman dengan membawa berbagai macam barang.


" Celestia! " teriak seorang pria dengan pakaian yang cukup berantakan karena baru saja berlari dari gedung sebelah tempatnya berada.


" kak, William.. kenapa penampilan kakak seperti itu? " tanya Celestia sedikit terkejut melihat penampilan kakak nya yang selalu rapi setiap hari nya kini terlihat berantakan.


William sama sekali tidak mendengarkan apapun yang Celestia katakan, dan langsung menghampiri Celestia yang sedang duduk di ranjang nya sembari membaca buku. William langsung memeluk erat tubuh Celestia hingga sang pemilik tubuh sangat terkejut dan menjatuhkan bukunya.


" dasar bodoh. seharusnya, kau jangan memaksakan diri mu sendiri untuk duel yang tidak berarti itu.. tidak bisakah kau berhati-hati dengan dirimu sendiri supaya kau tidak terluka? kau.. benar-benar adik ku yang merepotkan.. " ucapnya sembari mempererat pelukannya seakan ia tidak rela kehilangan adik satu-satunya itu.


mendengar itu Celestia langsung tersenyum karena ia tidak menyangka bahwa ayah dan kakak nya akan secemas itu saat ia sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Celestia dengan lembut membalas pelukan William sembari membelai rambut kakaknya itu dan William menenggelamkan wajahnya dipundak Celestia.


" maaf, kak. aku tidak tahu kalau kakak akan secemas ini. aku senang, karena semua orang mengawatirkan aku. " ucap Celestia sembari tersenyum.


" jangan terluka lagi.. "


" iya, kak.. "


" jangan memaksakan diri lagi.. "


" baiklah.. "


" jangan terluka, jangan menangis, dan jangan pingsan lagi.. "


" Hem.. baiklah, kakak ku.. baiklah.. aku akan berusaha untuk melakukan apapun yang kakak katakan.. karena itu, tenanglah.. aku sudah baik-baik saja sekarang. " ucapnya masih membelai rambut lembut rambut William.


" hah.. apa kau tahu.. betapa tidak tenang nya aku selama tiga hari ini gara-gara kau? " ucap William.


" Hem.. benarkah? kalau begitu, aku sangat beruntung dong. "


" jangan bercanda, Celestia.. Kau tahu kan kalau kau satu-satunya adik ku yang sangat ku sayangi? karena itu.. kumohon, jangan terluka lagi.. " ucap William mempererat pelukannya.


" Hem.. tentu saja aku tahu. karena itu aku sangat beruntung punya kakak yang sangat baik dan sangat menyayangi ku. aku senang.. " ucap Celestia masih dengan belaiannya yang lembut.


William sangat menikmati belaian lembut yang Celestia berikan, karena ketika ia membelainya William jadi teringat dengan tangan lembut dan hangat milik Isabel yang menyentuh rambut kepalanya dengan lembut dan penuh kasih saat ia masih kecil. sebenarnya, William dan Celestia saling menyayangi satu sama lain, William akan selalu ada untuk Celestia dan Celestia akan selalu ada untuk William sama seperti sekarang ini.


" ibu.. saya akan menjaga Celestia dengan baik seperti yang saya janjikan padamu bu.. sungguh.. " batin William terpejam.


" ngomong-ngomong, kak kenapa kakak terlihat sangat kurus dan berantakan seperti ini? apakah kakak makan dengan baik selama ini? " tanya Celestia sembari menyentuh kedua pipi William dan menatap matanya.


" yah.. aku makan dengan baik kok. " jawabnya sembari menatap wajah Celestia.


" kakak yakin? lalu kenapa kakak memiliki kantung mata yang tebal banget gini? kakak pasti nggak tidur ya selama ini? " tanya Celestia mengintrogasi.


" ...pfft. "


" kenapa kakak tertawa? apakah ada yang lucu? " tanya Celestia bingung.


" haha.. tidak. aku hanya senang akhirnya aku dapat mendengar semua ocehan mu kembali setelah sekian lama. rasanya, aku rela mati kelaparan demi bisa mendengar suara mu. " ucap William sambil tersenyum lembut.


" Hem, walau begitu kakak tetap tidak boleh melewatkan waktu makan dan istirahat kakak.. lagipula selamanya kan aku milik keluarga Wolf Knight. jadi, jaga kesehatan kakak ya, aku tidak ingin kehilangan kakak yang sangat ku sayangi. " ucap Celestia sembari mencium lembut kening William.


" Hem..sesuai keinginan mu tuan putri ku.. " ucap William menikmati kecupan lembut Celestia.


waktu pun berlalu, kini Celestia sudah bisa melakukan aktivitas yang sering ia lakukan seperti biasanya. sekarang, Celestia sedang berada di tempat pelatihan para kesatria untuk berlatih pedang setelah sekian lama. sebenarnya, Aska dan William telah melarangnya untuk memegang pedang lagi karena mereka khawatir jika kejadian yang sama terjadi lagi tapi, Celestia dengan jurus jitunya mampu membuat mereka berubah pikiran dan pada akhirnya ia diperbolehkan untuk memegang pedang lagi asalkan dia tidak memaksa kan diri seperti sebelumnya.


TRANGG!!


SRAKK!!


SREKK!!


BRUKK!!


Celestia mengayunkan pedangnya dengan penuh semangat hingga pedang yang dipegangnya menjadi rusak dan tak bisa digunakan lagi.


" ah.. padahal ini sudah pedang ke limaku.. sayang sekali.. " ucapnya merasa sayang ketika ia harus mengganti pedang nya setelah digunakan dengan sangat keras.


" anda sudah bekerja keras nona. " ucap Karlien sembari membawakan sebuah handuk untuk Celestia gunakan.


" silakan.. "


" Hem, apakah sekarang kau sedang mencari perhatian ku Karlien? " ucapnya sembari menerima handuknya.


Karlien hanya tersenyum mendengar apa yang barusan Celestia katakan. setelah membersihkan keringat nya, Celestia segera membuang pedang tadi ke tumpukan pedang yang sudah menjadi korban nya terlebih dahulu, lalu meminum air yang pelayan nya berikan.


" nona. "


" hm? ada apa Karlien? " tanya Celestia menyelesaikan minumnya.


" kemarin, saya melihat ada festival musim panas di alun-alun dekat pasar wilayah kita, apakah anda tertarik untuk pergi ke sana dengan saya nanti sore nona? " tanya Karlien sembari tersenyum.


" oh, ternyata sudah mau memasuki musim panas ya? pantas saja hari ini aku merasa matahari nya semakin panas. " ucap Celestia sembari melihat kearah matahari dengan mengangkat tangannya untuk melindungi mata nya dari cahaya matahari langsung.


" itu berarti.. sudah satu bulan ini, aku masuk kedalam Novel itu ya..? " batin nya menyadari.


" ngomong-ngomong, festival musim panas itu kan.. momen saat dimana Carlie berkencan dengan pemeran utama novel ini.. " batin Celestia.


" ...sudah kuduga aku harus menulis isi novel nya kembali didalam catatan, supaya aku tahu sejauh mana aku harus melangkah. " batin Celestia lagi.


Setelah berpikir sejenak Celestia lalu mengiyakan ajakan Karlien dengan alasan ingin mencari suasana baru. setelah itu, mereka berdua masuk kedalam kediaman dan Celestia segera mandi karena merasa tidak nyaman dengan tubuh nya yang lengket akibat keringat.


" Hah.. damai nya.. " batinnya merasa nikmat ketika air yang menyegarkan mengguyur kepalanya.


selesai mandi Celestia segera berganti pakaian dengan dibantu oleh beberapa pelayan. Celestia, kini memakai Gaun Ball Gown berwarna biru langit yang sangat serasi dengan warna matanya, apalagi tatanan rambutnya yang di kepang tengah dan dihiasi oleh hiasan bunga bunga kecil berwarna perak keemasan, benar-benar memberikan nya kesan seperti seorang peri yang tinggal di hutan bunga yang sangat cantik. setelah berganti pakaian Celestia pergi ke ruang makan untuk makan siang bersama Aska dan William.


" maaf saya terlambat ayah, kakak. " ucapnya sembari masuk kedalam ruang makan dan segera duduk di bangkunya.


" tak perlu dipikirkan. " ucap Aska.


" Celestia. kau terlihat cantik, dengan gaun itu, sangat serasi dengan matamu yang indah. "ucap William.


" Hem, terimakasih atas pujian nya kakak. " ucap Celestia sembari tersenyum manis.


Celestia dan yang lain pun segera memakan makanan mereka sembari berbincang-bincang ringan. makanan kali ini terlihat sangat mewah, berbagai macam olahan daging tersedia diatas meja benar-benar makan siang ala bangsawan.


" ayah, bolehkah sore ini aku pergi ke festival musim panas di alun-alun dekat pasar wilayah kita bersama selir ku? " tanya Celestia sembari memakan makanan nya.


" sore ini? "


" iya. apakah boleh? " tanya Celestia lagi.


Aska terlihat berpikir sebelum mengiyakan permintaan Celestia, sebenarnya Aska ingin melarang nya namun, ia juga tidak tega jika harus mengurung Celestia di kediaman nya terlalu lama. dengan syarat tidak boleh pulang larut malam Celestia pun diizinkan pergi ke festival itu bersama selirnya.


" terimakasih ayah. saya janji nggak akan pulang larut malam. " ucap nya sembari tersenyum.


" kenapa harus dengan selir mu? bagaimana kalau pergi dengan ku saja? " tanya William.


" eh? bukankah kakak sibuk hari ini? " tanya Celestia.


" aku bisa menyelesaikan pekerjaan ku lebih cepat. "


" tidak. tidak perlu. kakak selesai kan saja pekerjaan kakak pelan-pelan, karena saya sudah janji akan pergi bersama selir saya sore ini. " jawab Celestia tidak setuju jika kakak nya harus terburu-buru menyelesaikan pekerjaan nya hanya karena ingin pergi ke festival bersamanya.


mendengar penolakan Celestia yang tegas William langsung terlihat murung dan Aska yang melihat itu langsung menahan tawanya.


" ayah jika kau ingin tertawa, tertawa saja jangan dipendam nanti penyakit. " ucapnya kesal dengan reaksi ayahnya.


" Ehem. tidak. ayah tidak tertawa sama sekali kok. " ucapnya tersentak dan berusaha untuk terlihat netral lagi.


William hanya bisa terdiam melihat tingkah ayahnya yang menyebalkan. setelah makan siang yang penuh keharmonisan itu, Celestia pun pergi berkunjung ke Paviliun Harem miliknya setelah satu Minggu lamanya. sesampainya di sana Celestia disambut dengan hangat oleh seluruh selirnya.


" selamat datang kembali my Queen.. " ucap Karan sembari mencium punggung tangan Celestia dengan lembut.


" senang rasanya bisa melihat wajah cantik dari nona Celestia kembali.. " ucap Karlien sembari tersenyum sumringah.


" Karlien.. bukankah tadi kau sudah melihat ku di tempat pelatihan..? " ucap Celestia yang hanya dibalas dengan tawa Karlien yang renyah.


" Master, saya senang karena Master terlihat baik-baik saja sekarang.. " ucap Henry sembari mendekat ke Celestia.


" tolong jangan terluka lagi Master.. atau saya akan melakukan apa yang saya mau tanpa memikirkan pendapat anda. " bisik Henry.


mendengar itu Celestia langsung merasa merinding. pria ini benar-benar sangat menakutkan, Celestia langsung berpikir bahwa ia tidak boleh terlalu dekatnya.


" Hem, Henry seperti nya aku sudah sangat membuat mu khawatir ya? "


" tentu saja, saya selalu mengawatirkan Master. " ucap Henry sembari mengecup lembut tangan Celestia dan menatap nya dengan intens.


" aku.. harus berhati-hati dengan nya.. " batin Celestia tertekan.


" nona Celestia. bagaimana keadaan anda sekarang nona? apakah anda sudah sehat walafiat? " tanya Oliver dengan sopan.


" Hem, tentu saja. ngomong-ngomong kau benar-benar terlihat tampan dengan rambut yang terikat Oliver. sangat cocok denganmu. " ucap Celestia sembari tersenyum lembut.


" terimakasih atas pujian nya nona. anda juga sangat cantik dengan gaun itu. " ucap Oliver merasa senang.


" Hem.. ngomong-ngomong, kenapa orang yang tempo lalu berduel dengan ku, sekarang berada di paviliun ini? " tanya Celestia sembari melihat ke arah Carlie yang sedang berdiri tak jauh dari mereka.


mendengar itu Carlie hanya menatap Celestia dengan diam.


bersambung..