
Suasana menjadi tak karuan, lantaran Callum yang terus menatap ke arah Zzaya. Hal itu membuat Zzaya merasa sangat tidak nyaman.
Terpaksa, Zzaya menurunkan bagian atas lengan gaunnya. Ia tak menurunkannya secara total karena yang benar saja, di hadapan Callum ia melakukan hal tersebut, itu tak mungkin, bukan?
Callum begitu gemas melihat cara Zzaya menurunkan gaunnya. Ia menilai Zzaya begitu lambat dan banyak memikirkan sesuatu.
Pria itu kemudian berdiri. Tanpa aba-aba ia menurunkan atasan gaun Zzaya dengan cepat.
Zzaya amat terkejut. Matanya membulat dan mulutnya terbuka sedikit lebar.
Tubuhnya bahkan menegang serius. Zzaya hanya mampu menutupi rasa malunya dengan menunduk dan kedua tangannya sigap menutupi bagian dada agar tak terlihat di hadapan Callum.
Tubuh bagian atas Zzaya yang polos terpampang jelas dalam pandangan Callum.
Ada beberapa lebam yang didapati oleh Callum pada beberapa bagian dari tubuh atas Zzaya.
Terlebih di bagian punggung.
Bagian pergelangan tangan dan kaki sudah tak perlu ditanyakan, karena itu adalah bagian yang terekspos jelas.
Hanya saja, Callum masih penasaran dengan lebam merah yang terdapat pada bagian kanan paha Zzaya.
Callum tak yakin apakah 'sahabat'-nya melakukan hal itu.
“Dokter?” tanya Callum.
Pertanyaan dengan satu kata kunci membuat Zzaya dapat memahaminya.
Zzaya hanya bisa mengangguk dengan kaku, masih dengan wajah tertunduk dalam diam.
“Kau jangan mencoba untuk berbohong. Julian adalah Dokter kepercayaanku sekaligus Dokter Istana. Jika ia melakukan hal tersebut padamu, mungkin itu karena kau telah menggodanya terlebih dahulu” papar Callum.
Kedua alis Zzaya menyatu heran saat ia mengangkat pandangannya ke arah Callum.
Julian? Itu bukanlah nama dari Dokter yang menangani Zzaya.
Zzaya langsung menggeleng. “Tu–an, tapi ... ”
Tak dapat melanjutkan perkataannya sendiri, Zzaya terjebak dalam rasa bingung, bagaimana ia menjelaskannya pada Callum. Pastinya, Callum tak akan percaya perkataannya sekali pun ia berkata jujur.
“Mengapa berhenti?”
Kebingungan. Satu perasaan yang begitu jelas tergambar pada wajah Zzaya.
Tatapan Zzaya tak dapat tenang dan terus melirik-lirik ke berbagai arah guna memikirkan bagaimana ia dapat membuat Callum paham.
Ternyata rasanya sesulit ini. Membuat agar Callum paham dan percaya padanya, seperti tengah melakukan penebusan dosa saja.
Zzaya menyerah. Ia berpikir bahwa tidak ada gunanya untuk berusaha menjelaskan sesuatu dengan harapan bahwa Callum akan paham dan percaya padanya.
Zzaya akan mengatakan yang sebenarnya dan apa adanya.
“Dokter yang merawat ku, bukanlah Dokter Julian, Tuan”
“Lalu?” tanya Callum, cepat.
Belum sempat Zzaya menjawab, Callum langsung sadar akan sesuatu. Ia teringat bahwa Kerajaan mengandalkan dua dokter khusus dan profesional.
Yang pertama ialah Dokter Julian Blyton, merupakan anak dari Count Arlo Blyton. Tak hanya menjadi seorang Dokter yang terkenal di Kekaisaran, Julian juga adalah sahabat dari Callum semasa kecil sampai mereka menyelesaikan pendidikan di akademi Kerajaan.
Julian adalah Dokter kepercayaan Kerajaan di bawah perintah Callum.
Sedangkan yang kedua, ialah seorang Dokter yang membuat Callum ingin membunuhnya. Jika bukan karena Kaisar Ilias yang begitu mempercayainya dan mengesahkan dia menjadi Dokter Kerajaan, ia secara mentah-mentah sudah habis di tangan Callum.
Ia adalah Katta Landon, Dokter bermulut seperti seorang wanita, dan tidak memiliki sopan santun layaknya seorang Dokter.
Ia penakut dan bersembunyi di belakang orang-orang yang punya kekuasaan besar, agar hidupnya terus terjamin dan tak ada yang berani mengusiknya.
Ia menciptakan interaksi pada perkumpulan kaum bangsawan dan membangun pondasi kuat agar ia selalu dipercaya dan sah menjadi Dokter Kerajaan.
Callum sadar, bahwa yang menangani Zzaya bukanlah Julian, melainkan Katta.
Lalu bagaimana bisa?
Callum menyakini sesuatu yang tidak beres. Ia yakin bahwa ada campur tangan Kaisar dalam hal ini.
Julian tidak akan mungkin tinggal diam dan pasti ia akan memberitahukannya pada Callum.
Ya, mungkin tidak akan lama. Ia pasti dikendalikan oleh Kaisar dan tidak bisa membantah sesuka hatinya walau Callum pasti akan membelanya.
Rahang Callum mengeras dan merasa ingin memghabisi Katta sialan itu.
Sayangnya, Katta bukanlah orang biasa yang dengan mudah akan dihabisi.
Ia benar-benar membangun pondasi untuknya yang begitu kuat di kalangan bangsawan.
Menyerang Katta, sama saja bahwa Callum melanggar pengabdiannya juga atas Kerajaan.
Ia tak peduli atas hukuman, hanya saja, ia tidak ingin jika kelakuannya akan menghina Dewa dan Dewi.
Callum meredam segala amarahnya dan terus menunjukkan ekspresi tenang yang mengintimidasi siapa pun.
Setelah mendengar jawaban Zzaya atas pertanyaannya, dugaan Callum akhirnya tepat sasaran.
Callum tak perlu menanyakan apakah itu berdasarkan perintah Kaisar atau tidak, karena sudah jelas, secara logika ketika Callum kembali dari wilayah ke Kerajaan, ia mendapati Kaisar tengah mengundang Zzaya di ruang makan Kerajaan yang secara khusus diperuntukkan bagi Kaisar.
Callum sudah mendapatkan jawaban yang sangat jelas. Kini ia kembali pada Zzaya.
Zzaya sempat terkejut sebelum Callum menyuruhnya untuk diam dan tidak membantah.
Sepertinya ini adalah kebiasaan baru Callum. Mengangkatnya secara tiba-tiba dan tak diizinkan untuk memberikan perlawanan.
Zzaya sadar bahwa ia dibawa ke sebuah ruangan mandi. Sangat luas dan mewah untuk sebuah ruangan mandi.
Ya. Ia paham bahwa ini adalah ruang mandi untuk seorang bangsawan. Zzaya terkejut karena ia pertama kali melihatnya langsung.
Selama ini, tak pernah ia bayangkan seberapa mewah dan megah dari isi sebuah Kerajaan.
Tampak luarnya saja begitu indah untuk dipandangi, apalagi jika melihat seisinya.
Masih belum terpikirkan apa yang akan Callum lakukan, Callum secara kasar mendudukkan Zzaya di tepi kolam permandian air hangat.
Zzaya terkejut dibuatnya.
Eskpresi itu lagi-lagi, membuat Callum sedikit kesal.
“Aku memberikanmu sedikit toleran, buka seluruh pakaianmu!”
“Ya?”
“Kau atau aku yang melakukannya?”
Ekspresi Zzaya seperti orang bodoh di mata Callum. Pasalnya gadis itu masih diam dengan ekspresi andalannya yang membuat Callum gemas.
“Apa ... Tuan harus keluar dulu” ucap Zzaya.
“Tidak. Aku akan memandikanmu”
Dengan kedua tangan yang ia lipat di depan dada, Callum berdiri dan menunggu Zzaya membuka pakaiannya.
Zzaya yang masih bingung dan malu, terpaksa mengikuti perkataan Callum. Perlahan, ia menurunkan seluruh pakaian luarnya dan menyisakan kain penutup pinggang hingga pahanya.
Kedua tangan Zzaya tersilang untuk menutupi bagian dadanya.
Callum tak bereaksi apapun. Seolah tak merasakan sesuatu layaknya pria normal, Callum ikut masuk ke dalam kolam permandian, menarik Zzaya yang masih duduk di tepian hingga akhirnya gadis itu ikut duduk dalam posisi yang sama dengan Callum.
Sebelum itu, Callum sempat melepaskan jubah dan jas yang menutupi tubuh atletisnya di hadapan Zzaya.
Mata Zzaya langsung terpaku melihat bentuk tubuh pria di hadapannya yang bagaikan seni pahatan indah.
Benar-benar sempurna.
Saking dirinya terpaku, Zzaya baru terperanjat kaget ketika Callum sudah berada di dalam kolam dan menarik dirinya masuk.
Zzaya berusaha memposisikan dirinya membelakangi Callum agar bagian depan tubuhnya yang polos, tak terlihat di hadapan pria tersebut.
Zzaya menelan salivanya susah payah. Sembari terus menutupi dadanya dengan kedua tangan yang disilangkan, Zzaya merasakan ada tangan yang memberikan sentuhan pada punggungnya, menyentuh rambut panjangnya dan menggeser rambutnya agar memberikan akses punggungnya yang ditutupi rambut.
Mata Zzaya terpejam. Entah sensai apa yang ia rasakan. Pastinya, perasaan aneh yang seolah membakar darahnya.
Callum melihat lebam pada punggung Zzaya. Lebamnya masih ada, namun warnanya tak seperti sebelumnya yang terlihat masih baru.
“Berbalik lah menghadap ku,” ujar Callum.
Zzaya masih diam sejenak sebelum perlahan-lahan ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Callum.
Begitu malu-malu, gadis itu menundukkan pandangannya di hadapan Callum saat Callum menyentuh ujung pergelangan kakinya.
Callum memeriksa kaki Zzaya yang memiliki luka dan lebam.
Luka pada kaki Zzaya masih basah dan terlihat ada darah kental pada luka tersebut.
Callum terhenti untuk memperhatikannya.
Seketika, iris perak milik Callum menajam.
Hidungnya mencium aroma manis dari darah tersebut. Aroma yang tak pernah ia temui pada aroma darah manusia.
Callum menyadari satu hal baru lagi. Ia langsung memandang Zzaya dengan tajam.
Zzaya yang secara tak sengaja ikut mengangkat pandangannya hingga mendapati tatapan Callum yang begitu tajam padanya.
Zzaya terkejut.
Callum beringsut bangun dari kolam permandian dan mengambil jubah pada pinggirannya.
“Bersihkan diri mu sendiri. Aku menunggu mu di luar” ujar Callum dengan nada begitu dingin.
Callum berlalu pergi setelahnya.
Kini, Zzaya masih dengan ekspresi wajahnya yang terkejut dan masih terdiam di dalam kolam.
Tubuhnya gemetar. Ia begitu takut karena Callum menyadari sesuatu dari dirinya.
Zzaya tak tahu mengapa Callum bisa mengetahuinya dan sadar.
Namun, ia teringat sesuatu pada saat Callum mengatakan pada dirinya, mengatakan hal yang Zzaya yakini bahwa Callum adalah orangnya. Orang yang terpilih.
Callum berkata ...
“Iblis” ujarnya, sebelum benar-benar pergi.