BITE ME THE HOLY OF HOLIES

BITE ME THE HOLY OF HOLIES
04 BITE ME THE HOLY OF HOLIES



Zzaya terduduk diam di dalam kurungan besi. Banyak pasang mata yang melihat ke arahnya.


Sebagian dari mereka bertanya-tanya, sebagian lagi ada yang mengatakan bahwa Zzaya adalah gadis dari Atheril yang akan dijadikan tawanan.


Zzaya mendengar itu dengan jelas. Gadis itu merasa gelisah dan takut, dengan berbagai arti dari tatapan mata yang melihatnya.


Di sisi lain, Callum telah di sambut oleh anggota keluarga Kerajaan.


"Daninah memberi salam kepada Yang Mulia Callum.”


Sapaan hormat nan lembut itu membuat pandangan Callum dan yang lainnya teralihkan.


Daninah Luwen, sedikit terlambat bersama beberapa pelayan pribadinya.


Ia merupakan putri tunggal dari Perdana Mentri Castor. Seorang gadis dewasa yang memiliki paras elok rupawan. Ia bahkan adalah gadis tercantik di Castor.


Daninah baru saja keluar dari Kerajaan untuk menyambut kembalinya Callum dari pembantaian Atheril.


Gadis itu memberi hormat dengan sangat berwibawa dan sopan.


Callum mengangguk pelan tanpa merespon sepatah kata pun. Ia benar-benar bersikap acuh.


Meski begitu, ia tetap sopan dan menyempatkan dirinya untuk bersama Kaisar dan yang lainnya untuk memasuki Kerajaan mengikuti perjamuan yang akan diadakan.


Sebelum itu, Callum telah memberi tahu dua orang prajurit khusus yang bertugas membawa tawanan ke penjara bawah tanah Castor untuk membawa Zzaya ke sana.


Sesuai perintah itulah, kereta yang mengurung Zzaya dibawa menuju area belakang Kerajaan, lalu di seret keluar.


Zzaya meringis kesakitan karena rantai yang mengunci kedua pergelangan tangannya seketika ditarik dengan kasar.


Punggungnya bahkan di tendang oleh salah satu prajurit.


Setelah dimasukkan ke dalam ruang tahanan, Zzaya ditinggalkan begitu saja.


Tak ada siapa pun yang menjaga. Akan tetapi, mata Zzaya memandang seluru ruangan tawanan tempat ia berada.


Tubuhnya bergetar hebat dan merinding, melihat banyak kepala manusia yang digantung pada dinding penjara.


Bahkan ada sisa tulang-belulang yang tergeletak di tanah akibat penyiksaan hebat.


Zzaya merasa bahwa dirinya seketika tak dapat mengeluarkan suaranya. Nafasnya tercekat saking ketakutan dan memojokkan dirinya di sudut penjara.


Ia memeluk kedua lututnya dengan sangat erat dan terduduk dengan rasa takut.


Pada saat yang bersamaan, perutnya berbunyi lapar.


Zzaya belum memakan apapun sejak pagi. Sedangkan hari sudah sore saat mereka tiba di Castor.


Tak hanya tangan dan kaki, punggungnya yang kembali ditendang oleh prajurit tadi kembali menciptakan nyeri pada sekujur tubuh.


Zzaya tak bisa melakukan apapun selain menahan rasa sakitnya sendirian.


Ia sadar bahwa dengan dirinya berada di tempat seperti ini, ia pasti akan bergabung dengan mereka yang pernah mati di tempat ini dengan penyiksaan yang sadis.


***


  Acara perjamuan berlangsung dengan banyaknya perbincangan dari para petinggi Kerajaan.


“Kita memang beruntung memiliki Callum sebagai utusan yang melindungi Castor dan Kerajaan kecil lainnya. Callum telah membuktikan bahwa ia pantas untuk menjadi penerus Castor, Yang Mulia” papar Count Eliazer.


Seketika Raja Ilias terkekeh pelan dan mengangguk setuju.


“Putra ku memang pantas mendapatkannya. Aku juga ingin, secepatnya, agar dia menjadi penerusku”


“Tidak” tolak Callum.


“–aku tidak bisa”


Ilias memandang Callum dengan bingung.


“Nak, sudah seharusnya kau menggantikan Ayah, bukan?”


“Aku tahu”


“Lalu? Mengapa?”


“Syarat, Ayah” ucap Callum.


“Tentu saja. Kau akan segera menjadi penerus ku bila satu syarat itu telah kau penuhi. Lagi pun tidak ada yang sulit dengan memenuhi syarat itu”


“—karena putri Daninah akan membantu mu memenuhinya” lanjut Ilias.


Callum memandang Ilias dengan tajam dan seolah menyiratkan penolakan melalu tatapannya.


“Maaf, aku tidak bisa melakukannya” ucap Callum.


Ilias menggeram. “Putri Daninah akan menjadi yang terbaik di antara yang terbaik. Ayah mengenalnya sejak ia kecil dan tumbuh bersama mu di Kerajaan ini. Begitu pun dengan Ayahnya, Perdana Mentri Magnus”


“Itu benar, Callum. Aku yakin, Putri ku, Daninah, adalah gadis dan seorang anak yang baik. Tidak kah kau tahu itu?”


Callum beralih menatap tajam ke arah Magnus.


Seketika ia kehilangan selera untuk melanjutkan perjamuan ini.


Walau ia tahu, tindakannya yang meninggalkan perjamuan akan dinilai tidak sopan, tetap saja, Callum tak akan bisa memenuhi syarat tersebut.


“Maaf, tapi ada sesuatu yang harus aku urus. Permisi”


Callum beringsut bangun dari duduknya dan pergi begitu saja.


Ia sempat di hadang oleh Daninah yang menghampirinya. “Yang Mulia, apa ada masalah? Wajah anda–”


Gadis itu memandang Callum dengan penuh tanda tanya.


Callum pergi menuju ke ruang bawah tanah dimana Zzaha tengah di tawan.


Ketika tiba di sana, Callum mendapati bahwa gadis itu duduk di pojokkan sembari memeluk kedua kakinya dengan kepala yang tertunduk takut.


Suara sel tempat Zzaya dikurung berbunyi, gadis itu segera mengangkat kepalanya dan melihat siapa yang masuk.


Rupanya ... Callum. Pria itu memposisikan dirinya berjongkok di hadapan Zzaya.


“Sekarang, kau berada di Castor. Kau di tahan, untuk memberikan sebuah keterangan mengenai Atheril”


“–dan tentang diri mu sendiri” ujar Callum.


“Tuan, bukankah ... saya telah mengatakannya?”


“Aku tak percaya. Atheril adalah pusat munculnya pemujaan Iblis dan ahli sihir hitam. Kau pasti mengetahui sesuatu” ucap Callum.


“Saya tidak mengetahui selebihnya, saya juga bukan bagian dari pemujaan itu”


“Lalu?”


“Saya–”


Callum langsung memotong, “mengapa kau berada di tempat itu?”


Zzaya terdiam.


“Mengapa kau berada di rumah pemujaan?”


“Apakah ... jika saya mengatakannya, Tuan akan percaya?”


“Apa?”


“Bahwa saya, bukanlah bagian dari mereka”


“Tidak. Aku tidak akan percaya”


“—Sampai kau tidak dapat membuktikan semua utu, kau akan tetap di sini” ucap Callum.


Pria utu lekas berdiri lalu keluar dan mengunci pintu sel. Ia berlalu dari ruang tawanan dan meninggalkan Zzaya begitu saja.


Zzaya masih terdiam lalu menghela nafas lemah.


Benar. Sampai kapan pun, walau Zzaya memberi tahunya pada Callum, pria itu tidak akan percaya.


Sedang Callum, ketika dirinya meninggalkan ruang tawanan dan menuju ke ruang pribadinya, ia menyuruh pelayan khususnya, Sir Luken, untuk memanggil prajurit yang membawa Zzaya ke hadapannya pertama kali.


Ia ingin meminta penjelasan yang kedua kalinya mengenai Zzaya.


***


[FLASHBACK ON]


  Zzaya berada di tenda camp tawanan dan dijaga oleh beberapa prajurit.


Sedang Callum, pria itu berada di tendanga sendiri bersama seorang prajurit yang membawa Zzaya padanya.


“Dimana kau menemukan gadis itu?”


“Di sebuah tempat pemujaan, Tuan. Dia berada di sana”


“Apa yang dia lakukan?”


“Saya tak mengetahui hal itu, Yang Mulia. Ia sedang berdiri di hadapan sebuah patung Iblis bersama beberapa orang. Sepertinya mereka melakukan sebuah ritual, dan gadis itu berdiri pada posisi terdepan dari orang-orang itu. Saat kami masuk, mereka begitu terkejut karena kami langsung menangkap dan membunuh mereka. Namun, hanya gadis itu yang memohon dan mengatakan bahwa ia mengetahui sesuatu perihal Raja Siloh” jelas sang prajurit.


Callum mendengarkan hal itu dengan seksama lalu mengangguk pelan.


“Tidak kah kau memeriksa yang lainnya sebelum di bunuh?”


“Tidak, Yang Mulia. Namun, kami menemukan ada sebuah tanda pada bagian dalam tubuh mereka. Letaknya pun tidak dapat dipastikan, beberapa di bagian punggung, kaki bagian atas, pergelangan tangan, bahkan belakang leher. Sebuah tanda dan huruf yang aneh berwarna hitam.”


Callum terdiam sejenak.


Sebuah tanda ...


Selama ini, ia banyak membunuh orang dan tak mendapati ada tanda khusus seperti yang di sampaikan oleh prajurit di hadapannya.


Hal ini merupakan informasi baru.


Memang benar, bahwa Atheril adalah pusat dimana pemuja Iblis itu berasal. Itu artinya, benar bahwa Zzaya adalah bagian dari mereka.


“Baiklah. Terus cari informasi selama pembantaian. Siapa saja yang dibunuh, periksa apakah tanda itu ada pada mereka atau tidak!”


“Baik, Yang Mulia”


[FLASHBACK OFF]


***


  Callum benar-benar mengingat itu. Namun, ia ingin memastikannya sekali lagi dengan memanggil prajurit tersebut.


Hal yang sama pun kembali ia dengar sebagai informasi.


Tidak salah lagi, jika gadis itu, adalah bagian dari pemuja Iblis.


“Kau pasti ingin disiksa berlama-lama rupanya. Baik, akan aku lakukan dengan senang hati ... tanpa ampun.”


***