
Sore ini, Callum harus menjalankan kunjungan ke sebuah wilayah kekuasaan Castor, yaitu daerah Syuah, untuk melihat perkembangan pembangunan sebuah saluran air yang baru.
Daerah Syuah adalah daerah paling gersang di Castor. Di sana merupakan daerah dengan tanah kapur yang cukup tandus dan membuat daerah tersebut sangat sulit mendapatkan mata air.
Pihak Kerajaan banyak berusaha agar daerah tersebut mendapatkan air. Maka dari itu, beberapa tahun sebelumnya, pihak kerajaan mengeluarkan biaya terbesar untuk membuat saluran air bagi daerah Syuah, dengan membangun sebuah saluran yang terhubung dengan sungai Nafat.
Jaraknya cukup jauh karena Syuah adalah bagian wilayah yang jauh dari wilayah lainnya yang terdapat sungai.
Selama ini, Syuah hanya mendapatkan air dengan bantuan pihak kerajaan yang terus mengirim air menggunakan bakul penampungan. Hal itu cukup membantu masyarakat Syuah yang kesulitan.
Kali ini, Callum akan pergi ke sana, memantau perkembangan pembangunan saluran air yang sedikit lagi akan resmi digunakan.
Sebelum pergi, Callum memastikan Zzaya tetap aman dengan memperketat penjagaan.
“Sebentar lagi, Dokter Kerajaan akan tiba. Luka mu akan diobati olehnya,” ucap Callum.
Callum meninggalkan Zzaya yang berada di dalam penjara, setelah itu berlalu dari ruang tahanan untuk segera bersiap menuju Syuah.
Zzaya banyak berdiam diri sedari tadi. Bahkan ia pun tak merespon sepatah kata pun dari ucapan Callum.
Pikiran gadis cantik itu terus bekerja. Rasanya tak ada waktu untuknya tetap tenang walau Callum masih memberikan simpati padanya.
Entah mengapa, perasaan Zzaya begitu gelisah.
Waktu pun berlalu cukup lama, hingga Zzaya yang sedari tadi memilih untuk tidur, kini harus dibangunkan oleh suara pintu sel yang terbuka.
Dalam penglihatannya yang samar-samar ketika bangun, Zzaya menangkap ada langkah kaki yang berjalan ke arahnya, kemudian berjongkok dan seolah melihat Zzaya cukup lama.
Sampai Zzaya benar-benar mengumpulkan kesadarannya, ia terkejut melihat ada sosok pria asing dengan senyum lebar yang membuat Zzaya merasa tak nyaman.
Zzaya langsung duduk dan sedikit memundurkan dirinya hingga meneyntuh dinding.
Pria itu masih menatapnya cukup lama sambil memamerkan senyuman yang mengerikan bagi Zzaya.
Pria tersebut berpakaian berwarna putih, rapi dan mewah. Rambut sebahu yang begitu klimis diikat ke belakang, memakai kacamata dan membawa sebuah kotak berisikan obat-obatan dan beberapa alat medis.
Tak salah lagi. Dia adalah Dokter Kerajaan yang sebelumnya diberitahukan oleh Callum.
“Katta Landon, saya adalah Dokter Kerajaan. Sesuai perintah Yang Mulia Kaisar, saya akan menangani anda,” ujarnya memperkenalkan diri.
Kedua alis Zzaya menyatu heran. Bukankah atas perintah Callum?
“Jadi baiklah, Nona ... em, maaf, siapa nama mu?”
Zzaya tetap diam dan tak ingin menjawab.
Ia gemetaran karena takut.
“Baiklah jika kau tak ingin memberitahukannya pada ku. Tapi, aku benar-benar terkejut. Ku pikir berita di majalah selalu menipu dan berbicara omong kosong. Ya ... tapi soal kecantikan anda, kali ini tak menipu. Anda benar-benar can–”
Zzaya menepis tangan Katta yang ingin menyentuh pahanya.
Cukup kasar, namun Katta malah terkekeh mengejek.
“Gadis seperti mu ternyata belum diajari sopan santun. Aku ini dokter dan jangan melawan ketika aku berniat mengobati dirimu, Nona cantik”
Zzaya memandang Katta dengan kekesalan yang ia tahan.
Seketika, Zzaya berteriak karena terkejut, Katta menarik kakinya dan menyentuh paha Zzaya dengan paksa. Bawahan gaun Zzaya diangkat ke atas menunjukan kulit paha Zzaya yang putih dan mulus.
Kulit yang cantik seperti rupanya, membuat pandangan Katta menggelap penuh hasrat.
Bahkan darah yang mengering pada luka pergelangan kaki Zzaya, makin membakar hasrat itu.
“Be–belum pernah, aku melihat kulit sebening ini. Akan lebih bersinar jika kau tak mengenakan busana apapun di hadapanku”
“Tidak! Jangan sentuh saya!” Zzaya berteriak histeris sambil berusaha menepis tangan Katta yang memegang erat pahanya.
Zzaya kesakitan karena Katta makin menekan tangannya pada pahanya.
Mata Zzaya memerah dan menahan tangis.
“Kalian! Keluarlah, aku akan menangani dia sendiri!” perintah Katta.
Prajurit tersebut saling memandang dan masih berdiam diri dengan ragu.
“Ini adalah perintah Yang Mulia Kaisar!”
Karena sudah membawa kata 'Kaisar' dalam ucapannya, para prajurit yang menjaga akhirnya pergi begitu saja.
Zzaya makin histeris ketika tangan Katta yang lain membekap kedua sisi pipinya.
“Diam! Kau benar-benar susah diatur. Aku akan mengobatimu, setelah itu kau harus dikeluarkan dari sini untuk menemui Kaisar”
Zzaya langsung terdiam.
Kaisar?
“Anak penurut. Begitu, kau harus menuruti ucapanku”
“–tenanglah, aku hanya mengobatimu. Selama kau menjadi tawanan di dalam tempat ini, kau akan terus bersama ku”
“–aku tak akan macam-macam karena waktu ku untuk memulainya pun masih banyak. Jadi diam, aku akan mengobatimu.”
***
Pintu dibuka oleh kedua penjaga, memperlihatkan pemandangan ruang makan yang begitu luas dan mewah.
Penampilan yang lusuh dan kotor, langkah lemah Zzaya membawanya masuk ke ruangan tersebut.
Pintu kembali ditutup setelah Zzaya masuk dan berjalan menghampiri meja makan, dimana Kaisar telah menunggunya sedari tadi.
Dengan wajah yang tersenyum hangat dan penuh arti, Zzaya dipersilahkan untuk duduk.
“Silahkan duduk,” ujar Ilias.
Zzaya mengambil posisi duduk di ujung meja dengan sangat canggung.
“Zzaya ... benar, 'kan?”
Zzaya mengangguk pelan, menanggapi pertanyaan Kaisar Ilias.
Ilias tersenyum, “nama terindah yang pernah aku dengar”
“–apa kau tahu, legenda mengenai manusia Iblis?”
Tubuh Zzaya menegang. Ia kemudian menggeleng kaku.
Ilias tersenyum penuh arti.
“Sejak aku kecil, ada legenda yang pernah dan akhirnya sering aku dengar. Legenda manusia Iblis”
“–mereka ... manusia Iblis itu—adalah orang yang licik dan cerdik. Mata mereka berwarna hitam namun bercahaya. Mereka banyak berkeliaran dimana-mana dan mencari tumbal persembahan bagi Dewi Iblis mereka. Sulit menemukan apa kelemahan mereka tapi ... ”
Ilias berhenti berbicara dan menatap tajam ke arah Zzaya.
“Apa kau baik-baik saja?” tanya Ilias.
Zzaya mengangguk dengan cepat dan seolah khawatir.
“Cerita ku ternyata mempengaruhi mu ya” ucapnya.
“Aku sangat ingin membunuh manusia Iblis. Namun, aku berpikir ketika nantinya aku benar bertemu dengan manusia seperti itu, aku tak jadi membunuhnya. Aku ingin melakukan hal yang menarik”
Seolah menyiratkan sesuatu dari ceritanya, Ilias terus menatap Zzaya dengan lekat.
Kegelisahan Zzaya makin menjadi.
BRAK!
Pintu ruangan tersebut dibuka dengan kasar.
Suaranya langsung mengalihkan pandangan Ilias dan Zzaya yang berada di dalamnya.
Callum.
Pria tersebut memandang tajam situasi yang terjadi. Auranya berubah lebih menakutkan ketika melihat ke arah Ilias.
Callum berjalan ke arah Zzaya dan menarik kedua tangan gadis itu yang masih dirantai.
“Apa Yang Mulia lakukan?”
Ilias tersenyum, “Ayah berniat membantu tugasmu. Kau harus menangani hal yang lain, jadi Ayah–”
“Maaf, Yang Mulia. Sebelumnya aku lernah mengatakan bahwa sampai aku mendapatkan informasi itu, dia adalah tanggung jawabku sepenuhnya,” tutur Callum.
“Ya, aku mengerti. Aku hanya ingin membantu mu saja. Aku tak akan melakukan hal di luar tanggung jawabmu” terang Ilias.
Callum tak menanggapi apapun lagi dan langsung menarik tangan Zzaya untuk keluar dari ruangan makan.
Zzaya meringis kesakitan karena kesusahan menyeimbangkan langkahnya dengan Callum.
Keadaan tangannya pun masih dirantai dan membuatnya kewalahan.
“Tu–Tuan, tangan saya sakit” keluh Zzaya.
Callum menghentikan langkahnya. Ia memandang Zzaya dengan datar lalu menggendong gadis itu dengan kedua tangannya.
Zzaya sangat terkejut saat Callum menggendong tubuhnya dan kembali melanjutkan langkahnya.
Sepanjang Callum menggendong dirinya, Zzaya hanya bisa diam dan merasa sedikit aman bersama Callum.
Alis Zzaya menyatu dan sedikit asing dengan tempat dimana Callum membawanya.
Sepertinya ini bukanlah arah menuju ruang bawah tanah.
Karena tempat yang mereka susuri sangat megah dan penuh dengan tirai mewah serta hiasan ukiran emas pada tembok-temboknya.
Hingga akhirnya, Callum memasuki sebuah ruangan saat kedua penjaga membukakan pintu ruangan tersebut.
Ruangan yang sedikit remang akan cahaya dan cukup luas, Callum membawa Zzaya ke ruangan asing itu.
Terdapat sebuah perapian di dalam ruangan itu, membuat suasananya begitu tenang.
Tak hanya itu, ruangan ini memiliki koleksi buku yang sangat banyak dan tersusun dengan rapi pada rak dinding.
Callum menurunkan Zzaya di sebuah sofa ruangan yang cukup panjang tepatnya berada di dekat perapian.
Zzaya masih bertanya-tanya, dimana dia saat ini.
“Mulai saat ini, kau akan tinggal di dalam ruang kerja ku” ucap Callum.
“Mengapa?” tanya Zzaya dengan suara kecilnya.
“Jangan berpikir kau aman karena berada di ruanganku. Aku melakukannya agar aku bisa mengawasi dirimu secara langsung. Aku masih membutuhkan informasi dari mu mengenai Atheril” jelas Callum, dingin.
Zzaya menelan salivanya dengan pelan dan memalingkan wajah dari Callum yang menatapnya dengan tajam.
“Kau belum membersihkan dirimu?”
Zzaya menggeleng pelan dan menunduk.
“Saya hanya diobati” jawab Zzaya.
“Selain diobati, kau harus membersihkan tubuhmu. Akan merepotkan jika aku meminta informasi dalam keadaan dirimu yang tak terurus”
“—aku akan memanggil pelayan wanita agar bisa membersihkan dirimu” lanjutnya.
“Ti—tidak! Sa–saya dapat melakukannya sendiri, Tuan”
“Siapa yang berhak mengatur dirimu?”
Zzaya mengangkat pandangannya dan menggeleng keras.
“Saya bisa melakukannya!”
Callum terdiam. Pria itu mengamati Zzaya bahkan gerak-geriknya.
Tatapan Callum berhenti pada tangan Zzaya yang terus mengusap-usap pelan paha kanannya.
Seketika Callum berjalan mendekati Zzaya, berlutut dan menyingkirkan tangan Zzaya lalu menarik bawahan gaun Zzaya ke atas dengan paksa.
Tindakan Callum membuat Zzaya terkejut dan berusaha menghentikannya.
Larat, Callum benar-benar gesit melakukannya hingga mata pria itu berhenti pada kulit paha Zzaya yang memerah.
Callum tahu bahwa Zzaya hanya memiliki lebam bahkan luka pada ujung pergelangan kakinya, tangan, dan telapak kaki.
Itu pun sudah mengering.
Di paha ... Callum memandang Zzaya dengan lekat.
“Siapa yang melakukannya?”
Zzaya menggeleng.
“Ti–tidak, Tuan. Ini kesalahanku”
“Jujur! Aku tahu kau berbohong!”
Zzaya terdiam, membuat Callum sadar akan sesuatu.
“Turunkan gaun mu!”
Zzaya terkejut dan menggeleng. “Ti–tidak. Saya tidak mau. Tolong ... ”
“Lakukan atau aku yang melakukannya?”
***