BITE ME THE HOLY OF HOLIES

BITE ME THE HOLY OF HOLIES
02 BITE ME THE HOLY OF HOLIES



Sejujurnya, apa yang barusan keluar dari bibir Zzaya sebagai permintaan, membuat Callum terdiam sejenak dengan batin dan pikiran yang terkejut.


Ditatapnya Zzaya dengan datar. Zzaya yang masih bersimpuh sembari memegang kakinya, hanya bisa menampilkan raut wajah yang penuh harap. Ia seolah memintanya karena memiliki suatu alasan.


Namun Callum tetaplah Callum. Ia akan memandang sesuatu dengan pikiran yang tak memiliki rasa simpati bahkan ketertarikan sedikit pun.


Dalam tatapannya, Callum seolah-olah bertanya mengapa Zzaya memintanya untuk ditemani membersihkan dirinya ke Sungai?


Callum tak boleh tergoda atau bahkan luluh, karena bagi dirinya, perempuan seperti Zzaya, menggunakan trik yang sangat licik untuk mengelabui dan menundukkan derajat pria.


Di balik mereka sebagai ‘perempuan’, kelemahan adalah cara paling cerdik dibandingkan melayangkan aksi terang-terangan lalu tertangkap dengan cuma-cuma.


“Mengapa?” tanya Callum.


Seperti biasanya, raut wajah dan nada bicaranya pun tetap tenang namun sangat meredam sesuatu dengan tajam.


Zzaya yang begitu polos, tak bisa menangkap persoalan apa yang ditanyakan oleh Callum.


“Mengapa ... aku, yang harus menemani mu?”


“Karena hanya Tuan, yang bersimpati pada saya” jawab Zzaya spontan.


Lagi-lagi, apa yang diucapkan oleh Zzaya, membuat Callum terdiam dan membuat pria tersebut seperti memikirkan sesuatu.


“Kau pikir aku adalah orang baik?”


Zzaya menggigit bibir bawahnya sebelum menjawab, “Tuan memberiku minum dan makan. Itu sudah cukup membuktikan, aku tidak diperlakukan seperti binatang”


“Jadi maksudmu, selain aku, mereka memperlakukan mu seperti itu?”


Zzaya mengangguk dengan kaku. Itulah yang sebenarnya, bukan?


Larat. Memang itulah yang selalu Zzaya dapatkan.


Hati Zzaya sedikit tersentuh, karena Callum, satu-satunya orang yang peduli pada keadaannya walau dalam kondisi seperti ini. Selain ‘orang’ itu ....


Callum yang sebelumnya berdiri dalam diam sejenak kali, akhirnya melepaskan salah satu kakinya yang disentuh oleh Zzaya dan sedikit melangkah mundur.


“Bangun. Aku tak suka melihatmu berlagak seperti itu. Jangan lupa, aku tidak akan tertarik pada drama yang kau ciptakan hanya untuk mengelabui ku”


“—aku akan menemani mu. Tanganmu tetap dirantai dan tak akan aku lepaskan. Kau adalah bagian dari Atheril dan tawanan Castor. Jadi tanam hal itu baik-baik dalam otakmu.”


Perkataan Callum yang cukup menohok bagi Zzaya, membuat raut wajah gadis itu menjadi sendu.


Segera Callum memakai jas dan mengambil pedangnya untuk bersiap ke sungai.


“Tuan, hanya Tuan, 'kan?”


Callum menatap Zzaya beberapa detik sebelum melanjutkan langkahnya keluar dari dalam tenda.


Callum tak merespon pertanyaan Zzaya dan meninggalkan gadis itu. Merasa bahwa Callum ingin ke Sungai, Zzaya cepat-cepat bangkit berdiri dan berusaha berjalan cepat dengan kondisi kakinya yang masih sakit dan lemah. Tak lupa ia menutup wajahnya dengan cadar agar prajurit di luar tak melihat rupanya.


***


  Dalam perjalanan menuju sungai, Callum membiarkan Zzaya berjalan di depannya agar gadis itu tak akan bisa berpikir untuk lari.


Untung saja, mereka beristirahat di sebuah lokasi yang terdapat sungai. Letak sungai pun tak jauh dari tempat mereka membangun camp peristirahatan.


Zzaya yang berjalan dengan sangat lambat, membuat Callum merasa bahwa waktu perjalanannya terasa memakan waktu. Ia begitu gemas dengan langkah Zzaya yang sedikit terseok-seok.


“Ck” decak Callum, kesal.


Ia menghampir Zzaya dan langsung menggendong gadis itu dari depan dengan kedua tangannya.


Zzaya cukup terkejut dan menjerit ketika kakinya melayang tak menyentuh tanah.


“Aaahhhkk!” teriak Zzaya.


“Tutup mulutmu!” ujar Callum.


“Jika aku membiarkanmu berjalan seperti tadi, kau bisa mengganti malam menjadi pagi.”


Zzaya langsung mengatupkan mulut dan bibirnya rapat-rapat. Ia masih tegang karena Callum tiba-tiba menggendongnya.


Tubuh mungil Zzaya benar-benar penuh dalam uluran tangan Callum yang menopang.


Jelas saja, pria ini memiliki postur tubuh tinggi, yang jika diukur dengan Zzaya, kepala Zzaya hanya mampu mencapai bagian bawah dari dada pria ini.


Zzaya menelan ludahnya dengan susah payah, bahkan nafasnya cukup tertahan karena begitu amat gugup.


Callum menggendong Zzaya sepenjang perjalanan hingga tiba di tepian sungai.


Setelah tiba, diturunkannya Zzaya dari gendongannya. Zzaya menatap Callum dengan lamat sebelum mengucapkan, “terima kasih, Tuan”


“Sudahlah. Cepat bersihkan diri mu. Aku akan menunggu dan memantau mu. Walau aku memalingkan wajah, jangan berpikir untuk melarikan diri atau berniat menenggelamkan dirimu untuk mati”


“B–baik, Tuan”


Zzaya pun melangkah memasuki pinggiran sungai. Saat kakinya menyentuh air, Zzaya benar-benar merasa sejuk dan tenang. Ia sama sekali belum membersihkan dirinya sejak ia dibawa ke sini.


Tak ingin membuat Callum menunggu, Zzaya segera membersihkan dirinya.


Ia membuka tudung dan cadarnya terlebih dahulu. Sangat sulit karena tangannya masih dalam keadaan dirantai.


Zzaya melemparkan kain yang ia gunakan sebagai tudung dan cadar ke tanah tepian sungai. Setelah itu ia lanjut membersihkan dirinya.


Cukup memakan waktu lama. Callum benar-benar mengawasi Zzaya walau dengan memalingkan wajahnya ke arah lain, untuk tidak melihat gadis itu mandi.


“Aww!” ringis Zzaya.


Luka lebam pada kakinya begitu sakit hingga menyentuhnya saja membuat Zzaya merasa ngilu.


Mendengar ringisan Zzaya barusan, spontan membuat Callum menoleh ke belakang dan mendapati pemandangan yang belum pernah ia lihat sebelumnya.


Cahaya bulan yang begitu terang di malam hari, memperjelas pemandangan yang ia lihat.


Tubuh Zzaya di balik gaun putihnya yang basah begitu tercetak.


Callum melihat itu dengan pandangan yang tak dapat diartikan.


“Ada apa?”


Zzaya menoleh ke arah Callum dengan polos dan tak sadar dengan keadaannya saat ini.


“Kaki saya, terasa sakit, Tuan” jawab Zzaya.


“Apa sudah selesai?”


Zzaya mengangguk, “ia, Tuan. Tapi baju saya basah dan–”


Zzaya tidak melanjutkan ucapannya karena ia sadar saat melihat ke bawah, tubuhnya benar-benar tercetak dengan jelas.


Wajah Zzaya memerah. Ia langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Seolah tak peduli, Callum ikut masuk ke air dan menghampiri Zzaya.


Ia membuka jas kebesarannya lalu memakaikannya pada Zzaya.


Zzaya cukup tersentak lalu mengangkat pandangannya ke arah Callum.


Seolah tak merasakan apapun, Callum kembali menggendong Zzaya.


“Tu–Tuan, kain penutup–”


“Kotor. Aku akan memberikan kain baru sebagai tudung dan cadarmu” ucap Callum, memotong kalimat yang diucapkan Zzaya barusan.


Setelah itu, Zzaya hanya bisa terdiam saat Callum melangkahkan kakinya keluar dari permukaan air yang dangkal hingga kembali menuju ke camp peristirahatan.


Sebisa mungkin Zzaya menutupi wajahnya dengan rambut hitamnya yang panjang dan basah.


Setiba di camp, ia bahkan merasa dirinya tengah diperhatikan oleh banyak pasang mata.


Apalagi ketika Callum berujar dengan nada tegas dan menyuruh siapapun yang memperhatikan dirinya dan Zzaya, kembali pada kesibukan yang lain.


Begitu canggung rasanya.


Callum menurunkan Zzaya saat sudah berada di dalam tenda milik pria itu.


Seolah dari raut wajah Callum yang meminta Zzaya untuk menunggu, pria itu terlihat menyusun kayu-kayu untuk membuat perapian di dalam tenda.


Beberapa saat, perapian itu pun jadi.


“Keringkan dan hangatkan tubuhnya ke sini. Kau tak boleh mati sebelum aku yang mengizinkannya, ingat, 'kan?”


Dengan kaku, Zzaya melangkah mendekati perapian. Ia hendak membuka jas milik Callum dan ingin memberikannya pada pria itu. Namun segera ditahan oleh Callum.


“Tetap pakai sampai pakaianmu kering. Kau tidak ingin jika ada prajurit yang masuk saat aku panggil dan melihatmu dalam keadaan seperti itu, kan?”


Zzaya mengangguk cepat. Benar yang dikatakan Callum. Zzaya berjongkok di sekitar perapian.


Tubuhnya begitu merasa hangat dan nyaman. Perlahan, ia sudah tak merasa kedinginan ataupun menggigil lagi.


Callum benar-benar memberikan setengah ruang untuk bersimpati padanya.


Sembari menghangatkan tubuhnya, Zzaya tak secara sengaja berbalik ke belakang dan mendapati Callum yang tengah membuka pakaian atasnya.


Mata Zzaya membulat sempurna melihat sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lihat. Pemandangan yang membuatnya malu tapi sulit untuk berpaling.


Sadar jika ia memperhatikan tubuh Callum, Zzaya segera kembali pada posisinya.


Ia masih dalam pikiran dengan pemandangan tubuh bagian atas Callum.


Pahatan itu ...


Zzaya menggeleng cepat, menyadarkan dirinya bahwa ia telah melihat sesuatu yang tidak boleh dilihatnya. Meski hanya bagian atas, itu sudah memalukan.


Apalagi saat kejadian di sungai tadi. Rasanya Zzaya tak mampu menunjukkan dirinya di hadapan Callum.


Untung saja pria itu tak terlihat bermasalah sama sekali. Tapi tetap saja, Zzaya merasa sangat malu pada dirinya sendiri.


Zzaya terus berada di sekitar perapian hingga ia merasa pandangannya amat berat.


Rupanya rasa kantuk menyerangnya saat itu. Perlahan-lahan, Zzaya membaringkan tubuhnya pada alas kain pada tenda dan tertidur dengan lelap.


Callum yang baru saja datang ke sekitar perapian dengan pakaian yang telah diganti, melihat bahwa gadis itu tertidur.


Callum menatap Zzaya cukup lama hingga ia memilih untuk tidak ke perapian dan menuju ke kursi kerjanya untuk duduk.


Diambilnya sebuah kertas dan tinta pada pena, lalu menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut.


Setelahnya kertas itu di gulung dan akan dikirimkan ke kerajaan Castor melalui perantara merpati.


***