BITE ME THE HOLY OF HOLIES

BITE ME THE HOLY OF HOLIES
01 BITE ME THE HOLY OF HOLIES



Sejak dahulu, pemujaan bagi Iblis dan ahli sihir hitam, telah banyak berkeliaran.


Mereka adalah orang yang tidak menetap di satu tempat dan akan terus berpindah-pindah saat bahaya datang mengancam.


Banyak dari mereka yang pandai melakukan persembunyian.


Semakin hari, kelompok mereka menjadi sekutu yang besar. Kasus orang-orang yang menghilang secara tiba-tiba, banyak terdengar.


Hal itu menimbulkan kepanikan massal, apalagi bagi orang Kekaisaran.


Namun, semua itu dapat teratasi dengan adanya Putra Mahkota Kekaisaran sekaligus Jenderal Kekaisaran.


Mendapatkan gelar ‘Sang Matahari Kekaisaran yang terberkati oleh Dewa dan Dewi dengan kekuatan suci dan iman yang bersahaja’, banyak menyelamatkan orang-orang dan kerajaan kecil.


Ia merupakan satu-satunya, yang mengabdi atas Kerajaan, Kaisar serta Dewa dan Dewi.


Pemilik mata perak tersebut, banyak membantai kaum pemuja Iblis serta ahli sihir hitam. Ia membawa pulang kemenangan atas pembantaian serta perang yang ia pimpin.


Ia menjadikan Kerajaan Castor sebagai Kekaisaran terbesar yang pernah ada.


Banyak wilayah yang direbutnya, untuk menyelamatkan serta memperluas area kekuasaan.


Dia adalah titisan Dewa, banyak yang mempercayai itu.


Wajahnya seolah memancarkan cahaya keagungan, lewat paras tampan nan rupawan.


Dialah—Lysander Callum De Ssireh.


Tak seorang pun dapat menang melawannya.


Kini, setelah membantai Atheril habis-habisan, Callum beserta prajuritnya akan kembali Kekaisaran.


Ya, mereka harus kembali untuk memberitahukan hasil serta informasi yang mereka dapatkan dari Atheril kepada Kaisar Ilias–tak lain adalah Ayah Callum.


“Kau akan aku bawa ke Castor. Jangan berpikir bahwa kau selamat. Kau merupakan tawanan di Kerajaan Kaisar” ujar Callum.


Zzaya tak menjawab apapun selain diam dan merasa sangat gelisah.


Apakah ini adalah sisa-sisa perjalanan hidupnya yang penuh penderitaan?


Ia tak pernah meminta untuk dilahirkan, bahkan kelahirannya seolah ditolak oleh dunia karena dianggap pembawa sial dan petaka bagi orang-orang.


Setelah berusaha memakai kembali tudung dan cadarnya, Zzaya dibawa dan diseret oleh dua prajurit atas perintah Callum, lalu dimasukkan ke dalam kurungan besi yang berada di atas kereta kuda.


Zzaya tak memberikan perlawan atau mengucapkan sebuah keluhan walau kaki dan tangannya terdapat beberapa luka lebam.


Iya duduk dalam kurungan besi tersebut.


Beberapa prajurit menatapnya dengan jijik dan seolah ada yang terlihat penuh hasrat.


Zzaya benar-benar takut. Ia mempererat tudung dan cadar yang dipakainya.


Perjalanan untuk kembali di Kekaisaran pun dilakukan.


Memakan waktu sekitar 3 hari perjalanan untuk dapat tiba di Kerajaan Castor.


Dalam perjalanan tersebut, Zzaya benar-benar kedinginan dan lapar. Ia bahkan merasa haus. Namun, dirinya tetap diam sembari memandang hamparan padang rumput yang begitu luas.


Perutnya mulai melilit dan nafasnya terasa sesak. Tubuhnya bergetar karena kekurangan energi untuk tetap bertahan.


Apa ia akan mati? Jika memang ia mati dengan perut yang tersiksa maresa lapar, dan kerongkongan yang begitu haus, lebih baik ... itu terjadi.


Ia tak ingin membuang sisa hidupnya dengan banyak penyiksaan lagi. Biarkan dirinya mati dengan membawa penderitaan yang sebelumnya ia rasakan.


Tak beberapa lama, kesadarannya pun menghilang.


Zzaya berpikir bahwa jiwanya telah bangun dari raganya. Nyatanya ia salah dan ia cukup menyesal mengapa dirinya tidak mati saja.


Seorang prajurit membangunkannya dengan kasar dan menendang bagian belakang Zzaya.


Merasakan sakit di bagian punggung, membuat Zzaya terbangun.


“Keluar!”


Zzaya yang sudah sangat lemas, menatap prajurit tersebut dengan bingung. Rasa lapar dan hausnya membuat ia tak bisa fokus dengan apa yang dikatakan oleh prajurit ini.


"Dasar merepotkan!”


Prajurit tersebut menarik tangan Zzaya dengan kasar dan menyuruh gadis itu untuk bangun.


Zzaya yang cukup terkejut dan kesakitan karena tangannya ditarik dengan kuat, merasa terpaksa untuk bisa berdiri.


Kondisi kakinya sudah sangat lemah dan gemetaran untuk menopang tubuh bagian atasnya.


Zzaya bahkan harus terjatuh sebelum ia kembali memaksakan diri untuk berdiri.


Lagi-lagi prajurit itu menendangnya dari belakang hingga Zzaya harus terjatuh dari pintu kurungan besi yang berada di kereta kuda.


Tubuh mungilnya tersungkur. Zzaya meringis kesakitan, namun ia mencoba untuk tidak mengeluh.


“Aakhhh!”


“Jangan berlagak untuk meminta belas kasihan!”


Rasanya ia ingin menangis. Zzaya berusaha untuk bangun sekali lagi.


Hari sudah larut. Ia berpikir bahwa mereka telah sampai di Kerajaan Castor. Sayangnya perkiraan Zzaya salah


Sepertinya mereka berhenti untuk beristirahat. Ya, kira-kira itulah yang ditangkap oleh pendengaran Zzaya ketika melewati beberapa prajurit yang tengah berbincang.


Bersama salah satu prajurit yang bersamanya, Zzaya ternyata dibawa ke tenda milik Callum.


“Kau boleh pergi” ucap Callum kepada prajurit tersebut.


Menyisakan dirinya dan Zzaya yang masih berdiri, Callum lagi-lagi bertanya mengenai Atheril.


“Aku ingin kau mengatakan yang sebenarnya. Aku membiarkan mu tetap hidup, karena ku pikir kau mengetahui sesuatu.”


“Ya, saya sudah mengatakannya, Tuan. Raja kami, telah melakukan kesalahan”


“Hanya itu?”


Dengan lemah, Zzaya mengangguk.


Seketika kakinya tak bisa berlama-lama untuk menopang tubuh atasnya.


Zzaya terduduk seketika dan merasa sesak nafas.


Pria di hadapannya pun seolah tak mempedulikan itu.


Zzaya meremas ujung tudungnya. Ia sudah tak tahan.


Pandangannya seolah berputar dengan cepat. Sepertinya ia akan segera kehilangan kesadarannya.


Tiba-tiba, di hadapannya, ada tangan yang menyodorkan segelas air untuknya.


Dalam keadaan yang sudah pusing, perlahan-lahan Zzaya mengangkat pandangannya ke atas.


Ia melihat sosok Callum.


“Aku tidak ingin kau mati sebelum kau memberikan pernyataan yang jelas. Jika tidak ada pernyataan jelas dan jujur, maka kau baru boleh mati.”


“Maka biarkan saya mati” lirih Zzaya.


Satu alis Callum tertaut naik. Callum mengambil posisi berjongkok di hadapan Zzaya.


“Apa?”


“Biarkan saya ... m–mati, Tu–an” lirih Zzaya sekali lagi.


“Jangan berani untuk membantah. Hidupmu hanya ada di tanganku. Bahkan kematianmu harus terjadi atas izinku. Cepat minum atau aku yang akan memaksa air ini masuk ke mulutmu” ucap Callum dengan nada pelan yang begitu mengintimidasi.


Zzaya tak punya pilihan lain. Ia juga tak bisa berbohong jika ia masih ingin hidup, tapi tidak dengan mendapatkan penyiksaan.


Tangan Zzaya mengambil air dalam gelas yang diberikan Callum untuknya. Bahkan tangannya yang sudah gemetaran hampir tak memiliki tenaga untuk memegang gelas tersebut.


Langsung saja Zzaya membuka cadarnya lalu meminumnya dengan cepat.


Callum yang melihat hal itu tahu bahwa Zzaya sangat haus sampai ia mengalami dehidrasi.


Tak lama, Zzaya melihat ada semangkok buah-buahan yang disodorkan untuknya.


Ternyata Callum yang memberikannya juga. Zzaya masih memandang Callum dalam pikiran bahwa Callum adalah orang yang memiliki sisi baik, walau pun ia tahu jika ia akan mati di tangan pria ini.


Sedikit pandangan dengan ucapan terima kasih, terlihat lewat sorot mata cantiknya.


“Cepatlah makan. Ingat bahwa kau boleh mati jika aku tidak menerima pernyataan apapun darimu.”


Zzaya mengangguk cepat. Ia mengambil pisang dan apel, lalu memakannya dengan lahap.


Ia mengambil anggur lalu memakannya juga.


Begitu terlihat rakus, karena ia sudah sangat kelaparan.


Zzaya tak mempedulikan Callum yang masih berada di hadapannya, yang masih menatapnya dengan lekat.


Setelah kenyang, Zzaya kembali meminum segelas air yang tadi diberikan oleh Callum.


“Te–terima kasih, Tuan” ucap Zzaya dengan nada pelan dan malu-malu.


“Jangan banyak berbasa-basi, aku ingin kau jujur. Apakah kau bagian dari pemujaan Iblis atau ahli sihir?”


Kesekian kalinya, “tidak, Tuan! Saya bersumpah!”


Callum terdiam.


“Apakah aku harus mempercayai mu?”


“Jika pun tidak, aku hanya ingin hidup” lirih Zzaya.


Callum terdiam. Ia memandang dengan tatapan yang tak dapat ditebak ke arah Zzaya.


“Kau membuatku mencurigai sesuatu. Ku harap kau tak berbohong. Sampai kau jujur, kau akan tetap hidup sebagai tawanan.”


Setelah mengatakan hal tersebut, Callum kembali berdiri.


Zzaya tak tahu harus merasakan apa. Ia tak bisa bahagia atau sedih mendengar ucapan Callum barusan, yang mengatakan bahwa ia akan tetap hidup sebagai tawanan.


Jika pria tersebut masih tak mempercayai ucapannya, nyawa Zzaya sudah pasti akan tetap mati.


Sepertinya memang ... Iya, Zzaya tak akan memiliki harapan apapun atas hidupnya sendiri. Karena pria tersebut bahkan tak membiarkan dirinya mati jika bukan di tangannya.


“Kau akan diurus oleh beberapa prajurit atas perintahku. Malam ini, perjalanan akan diberhentikan untuk istirahat. Kau bisa membersihkan dirimu. Begitu pun dengan lebam pada tangan dan kaki mu”


“–sementara kau membersihkan diri mu, dokter Kerajaan akan membantu mu mengobati lebam–”


Zzaya langsung memotong ucapan Callum dan menggeleng.


“Saya bisa membersihkan diri saya sendiri, Tuan”


“Kau yakin? Sendirian? Di sungai? Kita masih berada di tengah perjalanan”


“Iya, T–Tuan. Tapi, saya dapat melakukannya sendiri”


“Jangan membantah ucapanku, kau–”


Zzaya langsung memegang kaki Callum dan memohon sekali lagi.


“Saya tidak bisa jika bersama mereka”


“Lalu?”


“Apa ... jika bersama Tuan, Tuan bersedia?”


...***...


Buat yang udah mau mampir, makasih banyak💗


Mohon kritsarnya juga yah, HAPPY READING~


📌NO COPAS!!!