BITE ME THE HOLY OF HOLIES

BITE ME THE HOLY OF HOLIES
05 BITE ME THE HOLY OF HOLIES



Callum telah memerintahkan sistem penjagaan bagi Zzaya.


Setelah meminta dua kali keterangan mengenai Zzaya dari prajurit yang membawanya, Callum amat yakin seribu yakin bahwa gadis itu adalah bagian dari pemuja Iblis.


Rupa gadis itu juga yang membuat Callum tak mempercayainya. Sangat mustahil jika Zzaya adalah gadis biasa namun memiliki rupa yang benar-benar cantik.


Bahkan ... matanya.


Callum merekam jelas bagaimana warna mata yang dimiliki gadis itu.


Hitam pekat namun jika dilihat secara dekat, mata itu berkilau bagaikan kristal.


Tidak salah lagi. Ada sesuatu yang tersembunyi darinya.


Callum akan melakukan pencarian informasi mengenai gadis itu setelah ia membutuhkan waktu untuk mengawasinya.


Penjagaan bagi gadis itu benar-benar ketat. Prajurit yang dipilih pun adalah prajurit yang memiliki keahlian hebat dan dapat dipercaya.


Bersama itu juga, Callum telah meminta dokter Kerajaan untuk berkontribusi dalam menangani keadaan Zzaya.


“Ayah sudah mendengar, Callum. Gadis yang kau bawa, adalah orang Atheril, bukan? Castor benar-benar membicarakannya. Bahkan banyak surat kabar yang beredar, hanya untuk memberitakan perihal gadis itu,” tutur Ilias.


Callum menghentikan kegiatan menulisnya lalu memandang ke arah Ilias yang baru saja memasuki ruang kerjanya.


Sudah ia duga. Tentang Zzaya, secepat itu beritanya menyebar ke seluruh Castor.


Bahkan tanpa ia beritahu pun, Ilias sudah mengetahuinya.


Kemana pun ia melangkah, telinganya tak dapat berhenti menangkan banyak gosip dari mulut orang di Istana. Sudah pasti secepat itu semua akan tahu.


Callum menghela nafasnya pelan sebelum kembali melanjutkan kegiatannya.


Merasa tak digubris, Ilias mencoba memahami sikap putranya yang selalu saja seperti ini.


“Ayah tahu, nak, kau pasti akan bekerja keras dan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan orang-orang dari kesesatan”


“oh yah, Ayah ingin melihat gadis itu setelah Ayah keluar dari ruanganmu. Lanjutkan pekerjaanmu dan jagalah dirimu. Ingat akan kesehatanmu” ujar Ilias.


Lagi-lagi, Callum tak merespon.


Ilias menghela nafas pelan lalu keluar dari ruangan milik Callum.


Callum yang sedari tadi terus menulis, seketika menghentikan kegiatannya setelah Ilias keluar.


Ia memijat keningnya agar sedikit rileks.


Seketika ia sadar akan sesuatu.


Zzaya.


Entah mengapa ada perasaan yang tak nyaman dalam hatinya.


Callum menutup buku dan bangkit berdiri lalu keluar dari ruang kerjanya. Ia harus pergi menyusul Ilias yang ingin melihat Zzaya.


***


Zzaya terbangun dari tidurnya. Tubuhnya benar-benar lemas. Tenaganya seolah habis padahal ia sudah tertidur cukup lama.


Zzaya memperbaiki tudungnya saat bangun dan duduk bersandar di sudut dinding penjara.


Setelah cukup sadar, Zzaya menemukan bahwa dirinya telah dijaga oleh beberapa prajurit Istana.


Sepertinya Callum telah memutuskan penjagaan bagi dirinya.


Padahal penjara besi saja sudah cukup dan tak akan bisa membuat Zzaya bisa kabur dari sini.


Zzaya merasa sangat lapar dan haus. Ia sedikit terbatuk dan memegang dadanya.


Tiba-tiba, prajurit-prajurit yang menjaganya membungkuk penuh hormat saat seorang pria paruh baya muncul di hadapan mereka.


Dengan jubah kebesarannya, tongkat kekuasaan dan tiara di kepala sebagai lambang kepemimpinan, membuat Zzaya sadar bahwa yang datang adalah Kaisar Castor—Raja Ilias.


Zzaya yang masih sibuk memandang Ilias, seketika terkejut mendengar bunyi sel penjaranya yang dibuka oleh salah satu prajurit.


“Yang Mulia Kaisar, dipersilahkan masuk”


Jantung Zzaya langsung berpacu dengan sangat cepat karena takut. Ia berpikir bahwa sudah saatnya dirinya akan mati.


Ilias memandang Zzaya dengan pandangan yang begitu rendah.


Zzaya menundukkan wajahnya dan meremas ujung tudungnya.


“Hey, gadis sampah, angkat wajahmu dan beri hormat pada Kaisar!”


Salah seorang prajurit membentak Zzaya hingga lagi-lagi, Zzaya terkejut dan ketakutan.


Zzaya mengangkat pandangannya secara perlahan.


“Aku ingin melihat wajahmu,” ujar Ilias.


Zzaya langsung menolak dengan menggeleng keras.


“Dasar tidak sopan! Kau menghina permintaan Kaisar!”


Zzaya mendapatkan pukulan pada lengan kanannya. Cukup kuat hingga tubuhnya tersungkur menyentuh tanah penjara.


Tak hanya itu, tudung dan cadarnya miliknya ditarik dengan paksa hingga wajah yang ia sembunyikan selama ini, terlihat di hadapan para prajurit serta Raja Ilias.


Rambut hitam panjangnya pun tergerai begitu saja.


Seperti yang sudah diduga, reaksi terkejut tergambar jelas dari raut wajah mereka.


Zzaya cepat-cepat menundukkan wajahnya dengan takut.


Sekarang, ia tak dapat menyembunyikan apapun dari siapa pun. Karena setelah ini, semua akan tahu rupanya selama ini yang sering dikira buruk.


Raja Ilias yang telah melihat wajah Zzaya, seketika berjalan mendekat menghampirinya.


Ilias berjongkok di hadapan Zzaya. Tanpa basa-basi, tangan kanannya memegang dagu Zzaya lalu memutar wajah gadis itu agar menghadap ke arahnya.


Cantik. Benar-benar cantik.


Ilias bahkan tak percaya dengan apa yang ia lihat ini.


Kecantikan yang tak pernah ia lihat sebelumnya, bahkan sepanjang hidupnya.


Ini adalah kecantikan Dewi.


“Ayah! Apa yang Ayah lakukan?!”


***


Callum berjalan dengan sangat cepat. Sayangnya, ia malah berpapasan dengan Putri Daninah yang saat itu berjalan berlawanan arah dengannya. Tentu saja, Daninah menghentikan langkah Callum.


“Yang Mulia, tunggu!”


“Aku sibuk, tolong!”


Daninah tersenyum lembut, “Aku tahu. Aku hanya ingin bertanya pada Yang Mulia. Maaf, tapi apa Yang Mulia punya waktu saat sore nanti?”


“Tidak” jawab Callum, kesal.


“Bagaimana dengan besok sore?”


“Putri Daninah, tolong minggirlah. Aku sedang ada urusan!”


Daninah menunduk sebelum kembali mengangkat pandangannya. Ia mengangguk sembari tersenyum pahit.


“Baiklah Yang Mulia, saya mohon maaf” ucapnya.


Daninah memberikan ruang bagi langkah Callum.


Pada akhirnya, pria itu pergi begitu saja dan tidak menghiraukan dirinya. Pandangan Daninah begitu sendu. Ia ingin memeluk tubuh itu dengan erat, guna menyampaikan perasaannya yang begitu tulus pada Callum.


Sayangnya, jiwa suci Callum membuat ia tak bisa melakukan apa-apa selain menjaga jarak dengannya.


Daninah hanya ingin agar Callum merasakan cintanya sedikit saja.


Sejak dulu, bahkan Callum tak pernah memandangnya sedikit pun. Namun ia percaya, bahwa Callum akan mencintainya juga.


Toh, mereka direstui oleh Kaisar, dan saat itu tetap akan terjadi.


Callum tak akan bisa menolak bagaimana pun itu.


Keputusan Kaisar tak akan bisa dibantah, karena jika itu terjadi, sama halnya dengan memutuskan pengabdian kepada Castor dan imannya dinyatakan telah jatuh.


Callum tak akan pernah melawan Castor. Ia akan kehilangan seluruh anugrah dalam dirinya.


Daninah tersenyum. Callum adalah miliknya. Tentu saja. Mereka memang ditakdirkan untuk bersama.


Jika tidak sekarang, Callum pasti akan mencintainya.


Di sisi lain, Callum telah sampai di ruang tahanan dan berjalan ke ujung lorong dimana Zzaya berada.


Seperti dugaannya, Ayahnya–Ilias, telah berada di sana. Bahkan Callum mendapati jika Ayahnya tengah memegang dagu Zzaya seolah memaksa gadis itu menunjukan wajahnya.


Penutup wajah Zzaya telah terlepas. Raut wajah Zzaya benar-benar ketakutan.


“Ayah! Apa yang Ayah lakukan?!”


Suara milik Callum membuat Ilias, berbalik ke arah Callum. Begitu pun dengan Zzaya.


Callum menerobos masuk ke dalam penjara dan memandang tajam ke arah Ilias.


Ilias tersenyum dan bangkit berdiri menghadap Callum.


“Rupanya kau menyusul, Ayah. Tenang, Nak, Ayah tak melakukan apapun padanya. Ayah hanya ingin melihat wajahnya seperti apa. Ayah tak melakukan apapun karena dia adalah tanggung jawabmu”


“Tolong, Ayah keluarlah dari sini!”


“Oh, baiklah. Ayah akan pergi”


Dengan mudahnya, Ilias mengiyakan ucapan Callum barusan, membuat Callum merasa seperti tak biasanya Ilias seperti ini.


Pasti ucapan Callum akan mendapat perlawanan dari Ilias. Namun, kali ini berbeda.


Ah sudahlah, Callum tak peduli.


Setelah Ilias pergi, Callum mengambil posisi jongkok di hadapan Zzaya.


Callum mengambil kain tudung Zzaya dan hendak memakaikannya pada gadis itu.


Namun, ucapan Zzaya langsung menghentikan aksi Callum.


“Tidak, Tuan. Aku tak akan memakainya lagi” ucap Zzaya, pelan.


Tatapan Callum seolah bertanya ‘Mengapa?’


“Raja dan yang lain, sudah melihat wajah saya. Tak akan ada gunanya lagi, saya menutupnya” ucap Zzaya.


Callum berdecak, lalu membuang kain itu begitu saja.


“Baiklah, jika begitu, kau tak akan membutuhkannya lagi,” ujar Callum.


Callum keluar dari dalam sel tahanan, lalu menyuruh salah seorang prajurit untuk mengunci sel tersebut.


“Sebentar lagi, Dokter Kata akan segera datang. Pastikan kalian menjaga dia dan jangan menyentuhnya sebelum aku kembali. Jika aku mendengar bahwa perintahku tak didengarkan, kepala kalian akan menambah hiasan pada dinding ruangan ini!” tegas Callum.


Callum langsung meninggalkan ruang tahanan dan kembali ke ruang kerjanya.


Zzaya memandang kepergian Callum dengan tatapan kosong.


Ia beralih melihat kainnya yang di buang oleh Callum.


Ada perasaan yang tak dapat Zzaya artikan.


***