BITE ME THE HOLY OF HOLIES

BITE ME THE HOLY OF HOLIES
09 BITE ME THE HOLY OF HOLIES



“Iblis, anda akan menjadi Iblis.”


***


Keduanya saling terdiam.


Callum melepaskan pinggang Zzaya dengan kasar hingga nyaris membuat gadis itu terdorong jatuh ke lantai.


Untung saja, Zzaya dapat menjaga keseimbangan tubuhnya dengan baik.


Callum, pria itu mundur beberapa langkah sebelum ia pergi dari ruangan miliknya, meninggalkan Zzaya sendirian dan mengunci pintu.


Pikiran Callum membingungkan dirinya sendiri. Callum melihat darah Zzaya yang mengering di jari jempol kanannya.


Gadis itu benar-benar tak ingin dirinya sampai mencicipi darah itu.


Tapi mengapa, Callum merasa ada dorongan dari dalam dirinya yang membuat ia merasa ingin merasakan rasa dari darah tersebut.


Ia seolah tersihir untuk harus mencicipinya. Callum sadar bahwa tadi ia hampir melakukan kesalahan yang akan membuat dirinya berdosa.


Untung saja Zzaya menghentikan aksinya tadi.


Pria itu memijit keningnya dengan bingung dan bertanya-tanya. Ia berdiri di depan pintu ruangannya yang terkunci seperti orang bodoh.


Callum benar-benar harus bertobat atas apa yang terjadi. Ia harus melakukan sebuah penebusan dosa atas imannya yang hampir jatuh.


Setelahnya, Callum memerintahkan empat pengawal di depan ruangannya untuk menjaga Zzaya.


Tak ada siapa pun yang dibolehkan masuk walau pintunya sudah dikunci oleh Callum.


Sekalipun itu Kaisar, Callum akan membunuh mereka jika berani melanggarnya.


***


Dalam suasana yang sepi, Zzaya terduduk di hadapan perapian yang ada di ruangan milik Callum.


Ia melamun sedari tadi setelah Callum pergi meninggalkannya. Zzaya terus bergelut dengan pikirannya tentang Callum.


Ia begitu sulit memahami Callum seperti apa.


Terkadang, pria itu memberikan perhatiannya kepada Zzaya walau dengan cara yang sedikit kasar dan tegas.


Ia begitu teliti dan cepat memahami situasi. Ia tidak bodoh. Callum bukanlah pria yang bisa dipermainkan dengan mudah.


Ia begitu cepat membaca pikiran seseorang walau hanya melihat pergerakan kecil dari orang itu.


Ya, Callum adalah pria yang  jujur membuat Zzaya sedikit takjub dalam diamnya.


Ia juga ... tampan.


Zzaya langsung tersadar bahwa dirinya memikirkan Callum sampai sejauh itu. Zzaya menggeleng demi menghilangkan pikirannya tentang Callum.


Namun mengapa rasanya lebih sulit. Apalagi ketika Callum menyentuh tubuhnya dengan sentuhan yang hangat.


Zzaya benar-benar tak habis pikir. Ia merasakan darahnya seolah mendidih dan wajahnya memanas.


Kedua tangan menyentuh dua sisi pipinya.


“Apa yang aku pikirkan?” gumam Zzaya.


Malu-malu, dirinya menepis pikirannya tentang Callum. Jangam sampai hal itu terjadi.


Toh, itu tak akan mungkin. Banyak hal berbahaya yang tak akan dibayangkan nantinya.


Dirinya juga akan dibunuh jika Callum menginginkannya. Zzaya tak akan pernah meraih harapannya sendiri meski ia memohon belas kasihan pada Callum. Maka dari itu, Zzaya hanya tinggal menunggu waktunya saja.


***


Julian pasti berada di sana.


Benar saja, Julian tengah duduk dan menulis sesuatu di atas kertas.


Mendengar ada langkah seseorang yang datang memasuki lab-nya, Julian sudah mengetahui bahwa Callum lah yang datang menemuinya.


“Apa yang terjadi?”


Callum bertanya tanpa basa-basi sedikit pun.


Julian, pria dengan rambut merahnya itu melihat ke arah Callum sembari membenarkan kacamata pada batang hidungnya.


“Kau menyuruh ku menanganinya, namun Kaisar menghentikan ku untuk itu. Sekalipun karena dirimu, kau tahu bahwa Kaisar tetap akan menghentikan ku. Aku minta maaf untukmu,” papar Julian.


“Kaisar telah memerintahkan Katta untuk menggantikan ku. Aku tak bisa melakukan apa-apa selain kembali meneliti di lab.”


Mendengar penjelasan Julian, Callum meredam segala kekesalannya.


Kaisar sudah pasti menggunakan kekuasaannya untuk menghentikan Julian, walau Julian merupakan Dokter Kerajaan juga.


“Aku perlu bantuan mu” ucap Callum.


“Tentu, katakanlah”


“Aku ingin kau ... ”


***


Callum keluar dari lab dan kembali ke ruangannya.


Saat pintu ruangannya terbuka, hal yang pertama ia lihat adalah sosok Zzaya yang tengah tertidur di dekat perapian.


Gadis itu sepertinya tak melakukan sesuatu yang aneh. Tapi Callum tetap akan memeriksanya.


Pintu ruangan ditutup, menimbulkan suara decitan dan membuat Zzaya nyaris terbangun.


Callum melangkah mendekati gadis itu dan memandangi wajahnya yang terlelap.


Seketika ia teringat perkataan Julian. Callum tak tahu bagaimana ia memberikannya pada Julian.


Callum memperhatikan bahwa luka pada kaki Zzaya sudah membaik setelah gadis itu membersihkan dirinya di air hangat.


Lukanya mengering namun masih harus diobati. Callum tak bisa melepaskan Zzaya begitu saja, karena masih ada hal yang harus ia lakukan dan Zzaya harus bersamanya.


Itu termasuk mengapa ia tak membunuh Zzaya.


Zzaya bukanlah manusia seperti dugaannya. Ia adalah manusia Iblis.


Kecantikannya yang tak wajar, membuat Callum yakin ada hal yang tak biasa ketika pertama kali Zzaya menunjukkan wajahnya.


Callum berjalan menuju ke meja kerjanya untuk menyelesaikan sesuatu.


Masih banyak hal yang harus ia tangani di Kerajaan. Ia akan menyelesaikannya dengan cepat, agar dirinya bisa mencari informasi perihal pemujaan Iblis dan ahli sihir gelap.


Callum telah memutuskan suatu hal ketika berbicara dengan Julian di lab.


Bahwa, ia akan kembali ke Atheril untuk mencari informasi yang ada dan sekiranya masih bisa ditemukan.


Ya. Ia akan kembali ke Atheril. Ia juga telah memutuskan, akan mencari tahu segala yang masih ada dan akan ia lakukan bersama ...


Callum memandang gadis yang tertidur itu.


Zzaya.