BITE ME THE HOLY OF HOLIES

BITE ME THE HOLY OF HOLIES
PROLOG



Sekali lagi ... terjadi.


Semua orang berlari tunggang langgang karena panik. Para prajurit kekaisaran, menangkap sebagian dari mereka, dan dibunuh saat itu juga.


Adapun yang melakukan penyiksaan keji tanpa ampun, walau suara jeritan terus-menerus terdengar, memohon untuk dilepaskan.


“Di mana nona Zzaya?” seseorang bertanya kepada seorang yang lain dengan sangat gelisah.


Namun, tak seorang pun yang dapat menjawab, karena situasi saat itu benar-benar kacau.


Seluruhnya diseret dan dibunuh dengan sangat mengenaskan.


Daerah Atheril, benar-benar dibantai habis oleh prajurit Kekaisaran Castor. Semua ini atas apa yang telah terjadi sebelumnya.


Penduduk Atheril telah melakukan penghinaan atas Dewa dan Dewi suci, dengan menjadi pemuja Iblis ahli sihir hitam.


Tentu saja, pihak Kekaisaran amat murka karena Atheril adalah daerah dengan penduduk yang taat akan beribadah. Banyak kuil-kuil suci yang terdapat di daerah Atheril.


Entah alasan apa yang membuat daerah sebagai pusat orang-orang beriman itu, tiba-tiba berubah secara drastis.


Terutama misteri kematian pemimpin Atheril, Raja Siloh De Graham.


Bahkan, ketika bertanya kepada beberapa rakyat yang ditandai sebagai saksi, tak seorang pun yang menjawab dengan jujur. Jawaban yang mereka berikan pun berbeda-beda.


Jelas hal tersebut menimbulkan tanda tanya bagi pihak yang membantai.


Berbagai informasi pun dikumpulkan, dan tak ada petunjuk pastinya.


Yang dikhawatirkan, pemujaan Iblis dan orang-orang yang mempelajari sihir hitam, sudah tersebar dimana-mana.


Kekaisaran terus mendapatkan kabar yang tak mengenakan, bahwa banyak orang hilang, bahkan dari keluarga bangsawan sekalipun.


Ada desas-desus yang mengatakan bahwa mereka yang hilang, telah dijadikan tumbal oleh orang-orang dari pemujaan Iblis dan sihir hitam.


Walau sudah ditangani langsung oleh utusan Agung Kekaisaran, Pangeran Kekaisaran sekaligus Jenderal Kekaisaran, Lysander Callum De Ssirreh, hal itu tak membuat pembantaian berakhir tuntas.


Justru ditemukan bahwa Atheril, adalah penyebab dari semuanya, dan kematian Raja Siloh yang perlu dipertanyakan.


Maka dari itu, Kekaisaran bergerak langsung, dipimpin oleh sang Agung yang terberkati kekuatan suci, Lysander Callum De Ssirreh, membantai siapa pun yang tinggal di Atheril.


Tak ada ampun bagi mereka, tak ada belas kasihan atas jeritan dan permohonan dari Callum.


Pemilik mata perak nan dingin itu, dengan gagahnya menebas habis leher orang-orang yang berada di dekatnya


Suasana benar-benar mencekam. Langit seolah menunjukkannya juga, dengan menyelimuti selimut awan tebal hitam.


Kerajaan Atheril diruntuhkan oleh pasukan Kekaisaran Castor.


Sebagian besar–Atheril benar-benar hancur. Semua yang dilakukan, bahkan masih dianggap belum tuntas.


Ya. Setelah ini pun, ada banyak darah yang akan tumpah di tangan Callum.


Sementara semua itu terjadi, salah seorang prajurit mendatangi Callum yang baru saja menghabisi beberapa orang.


“Hormat sang Agung yang terberkati, Yang Mulia Jenderal Callum!”


Pria itu berbalik ke belakang, setelah mendengar sapaan hormat untuknya.


Seorang prajurit yang menghampirinya, nampak membawa seorang gadis muda yang bertudung dan bercadar, dengan kedua tangan yang telah dirantai dengan tali besi.


Dengan gaun panjang berwarna putih dan sedikit sobek di bagian bawah, penampilan gadis itu benar-benar lusuh. Beberapa bagian tubuh seperti tangan yang di rantai dan juga kakinya, terlihat ada sedikit memar.


Sudah bisa dipastikan, gadis itu dibawa dengan cara kasar ke hadapan Callum.


‘Ada apa?’ Callum seolah melemparkan pertanyaan tersebut lewat sorot tatapannya.


“Kami menemukan gadis ini. Hendak kami bunuh, namun dia memohon untuk hidup. Dia mengatakan sesuatu perihal pemimpin Atheril, Raja Siloh–bahwa semua yang terjadi, adalah kesalahan Raja Siloh.”


Raut wajah Callum terlihat meragukan.


“Tahan dia untuk sementara di Barak, pembantaian masih harus dilanjutkan, setelah itu akan aku tangani dia” ujar Callum.


“Di lakukan, Yang Mulia.”


Gadis tersebut diseret dengan kasar oleh prajurit yang membawanya.


Callum kembali pada pembantaiannya. Semua berlangsung cukup lama, hingga Callum memutuskan untuk kembali ke Barak.


Setelah kembali, sesuai yang ia katakan, Callum menemui salah satu camp dimana gadis itu ditahan.


“Jadi, apa yang kau tahu?”


Callum bertanya dengan serius dan tenang.


Gadis tersebut menundukkan pandangannya. Ia tak berani beradu tatapan dengan sang pemilik mata perak di hadapannya.


Ia benar-benar takut.


“Tu-Tuan, saya mohon, ja–jangan bunuh sa–ya”


“Ya, itu jika kau dapat memberitahukan segalanya, mengenai Atheril dan Raja Siloh” ucap Callum, dingin.


Tangan gadis itu meremas ujung pakaiannya yang lusuh.


“Hanya itu?”


Gadis tersebut mengangguk dengan tubuh yang menggetar.


“Mati saja” ujar Callum.


“Tu-Tuan! Saya mohon, ja–jangan bunuh saya!”


Gadis itu mengangkat pandangannya, menatap wajah Callum dengan penuh harapan.


Mata indah yang disembunyikan oleh gadis itu dengan menundukkan pandangannya, kini terlihat oleh Callum ketika gadis itu membalas tatapannya dengan penuh permohonan belas kasihan.


Untuk sejenak, Callum terdiam, sebelum kembali berucap. “Jika hanya itu yang dapat kau beritahu, aku bisa menganggap dirimu hanya berbicara omong kosong agar bisa hidup”


“Tidak Tuan, saya berkata jujur! Saya tidak berbohong. Tolong, biarkan saya hidup” mohon gadis tersebut.


Callum meremas pedang pada genggamannya.


“Singkirkan tudung dan cadarmu!”


Gadis itu sedikit terkejut. Ia menggeleng dan menolak perintah Callum.


Ini lebih dari apa yang ia takutkan. Ia sudah menyembunyikan wajahnya sekian lama. Tak ada siapa pun yang tahu dan mengira bahwa ia memiliki rupa yang mengerikan.


Ia tak tahu mengapa hal yang tak benar itu disebar luas ke orang-orang, yang pastinya, ada yang berpesan padanya, jangan pernah membuka tudung bahkan cadar yang ia pakai, karena akan mengundang suatu hal yang berbahaya.


Ia menuruti perkataan dari orang itu, guna keselamatannya.


Walau ia harus mendapatkan hinaan, perlakuan buruk dari orang-orang, bahkan sumpah serapah, semua itu jauh lebih baik dari pada orang-orang akan tahu tentang dirinya dan bagaimana wajahnya.


Tak ada cara lain. “M–maaf, Tuan, tapi sebelum itu, saya ingin mengajukkan permintaan, apa boleh?”


“Apa?” tanya Callum.


“Sebelum saya membuka tudung dan cadar saya, saya ingin hanya Tuan yang melihatnya”


Satu alis Callum tertaut naik, dengan raut wajah yang datar, ia pun menghela nafas pelan. “Baiklah jika itu permintaan mu”


Callum berbalik ke belakang, memberi isyarat kepada prajurit camp lewat lirikan mata yang menyuruh mereka untuk keluar.


Setelah menyisakan Callum sebagai satu-satunya orang dan Pria yang akan ia tunjukkan wajahnya, gadis tersebut masih diam.


Begitu sulit untuknya, membuka tudung dan cadar yang menutupi wajahnya.


“Apa harus aku yang melakukannya?”


Gadis itu tersadar dari diamnya, lalu menggeleng cepat.


Namun, sepertinya pria di hadapannya memiliki kesabaran yang sangat tipis.


Tudung dan cadar milik gadis di hadapannya yang tengah duduk, langsung ia tarik begitu saja dengan sangat memaksa.


Refleks saja, reaksi terkejut langsung terlihat dari raut wajah gadis tersebut.


Larat, ia tak bisa melawan pria di hadapannya karena kekuatan tenaga mereka jauh berbeda.


Tudung dan cadar miliknya kini terbuka.


Dengan wajah yang langsung ia tundukkan, Callum memegang dagu gadis itu dan mengangkat wajahnya dengan paksa.


Seketika, dirinya terdiam sejenak melihat wajah yang berada di bawahnya. Pemilik mata perak itu memberikan tatapan terkejut yang nyaris tak terlihat dari raut wajahnya yang begitu dingin dan datar.


Apakah rupa wajahnya, adalah alasan dirinya untuk menutupnya dengan tudung dan cadar?


Callum juga tak paham, namun bukan berarti, setelah melihat rupa gadis di hadapannya yang memiliki kecantikan luar biasa, iman yang ada pada diri Callum runtuh begitu saja.


Ia adalah orang dengan iman yang teguh, kekuatannya adalah anugrah suci dari Dewa dan Dewi, segala yang indah di hadapannya, tak akan membuat ia goyah sedikit pun.


Bahkan oleh gadis bermata kristal hitam di hadapannya.


Gadis yang duduk di hadapannya, kembali menunduk dengan cepat. Rambut hitamnya yang panjang, turun, menutupi kedua sisi wajahnya.


“Apakah kau adalah salah satu penyihir hitam Atheril?”


Gadis itu sedikit mengangkat pandangannya dengan cepat lalu menggeleng.


“Tidak Tuan, sa-saya bukan penyihir”


“Rupa mu bisa saja adalah bagian dari ilmu sihir yang digunakan untuk mengelabui”


“Saya bersumpah, ini bukanlah sihir. Saya bukan penyihir!”


“Siapa nama mu?”


...


“Aku ulangi, siapa nama mu?”


“Zz-Zzaya”


....