
Keesokan pagi, sebelum matahari di ujung Timur menyembulkan relung cahayanya, Zzaya menggeliat dengan mata yang perlahan-lahan mulai terbuka.
Sorot pandangannya yang masih tak jelas menatap ke arah perapian yang rupanya telah padam.
Cukup sadar bahwa ternyata ia ketiduran, Zzaya mengumpulkan segala tenaganya untuk bergerak bangun.
Sayangnya, ia malah merasakan sakit yang teramat menyiksa pada punggung dan beberapa bagian tubuhnya.
Bahkan luka yang terdapat pada tangan dan kakinya masih belum sembuh.
Tak beralaskan alas kaki pun, membuat telapak kaki Zzaya sedikit pecah karena sedari kemarin saat dirinya di seret, ia menginjak kerikil-kerikil kasar.
Zzaya cukup meringis saat tubuhnya memberikan respon berupa semua rasa sakit itu.
“Rupanya kau sudah bangun. Bersiap, kita akan melanjutkan perjalanan untuk kembali ke Castor”
Zzaya langsung bergerak untuk bangun perlahan dan menemukan sosok Callum yang berdiri di belakangnya dan terlihat telah siap untuk melanjutkan perjalanan.
Belum sempat mengucapkan sepatah kata, Callum langsung melangkah keluar dari tenda dan meninggalkannya.
Saat itu juga, Zzaya menghela nafas pelan sebelum berusaha untuk bangun.
Pakaiannya sudah kering dan Zzaya sadar bahwa jas Callum masih membaluti tubuh atasnya.
Zzaya melepaskan jas tersebut untuk mengembalikannya pada Callum. Baru saja ia memikirkan sosok pria itu, yang dipikirkannya tiba-tiba kembali memasuki tenda.
Callum menghampiri Zzaya dengan membawa sebuah kain yang nampak seperti selendang, lalu menyodorkannya pada Zzaya.
Zzaya menatap kain itu dengan kedua alis yang berkerut. Ia masih belum mengerti.
Menangkap arti dari raut wajah Zzaya, Callum berdecak kesal lalu mengambil tangan Zzaya dan memberikan kain tersebut padanya.
“Tutup wajahmu dengan ini” ucap Callum.
Zzaya akhirnya paham.
“Em ... Tuan, ini jas milik anda”
Zzaya telah melepaskan jas milik Callum lalu menyodorkannya pada pria itu.
Tanpa merespon pun, Callum mengambil kembali jas miliknya.
“Segera tutup wajahmu dan ikuti aku.”
Zzaya menurut dengan pasrah dan segera membuat tudung dan cadar dengan kain yang diberikan oleh Callum.
Gadis itu sedikit tak memperlihatkan rasa terkejutnya ketika aroma manis keluar dari kain yang diberikan Callum padanya.
Aroma yang begitu menenangkan dirinya.
Zzaya pun berjalan di depan Callum. Callum memang menyuruhnya berjalan di depan agar memastikan bahwa Zzaya tak kemana-mana.
Seluruh prajurit membereskan tenda peristirahatan, mengangkutnya dalam kereta kuda yang ada.
Zzaya kembali masuk ke dalam kurungan besi saat semua sudah siap untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Castor.
Callum, memimpin barusan di tengah dan beberapa prajurit khusus di posisikan pada bagian depan barisan.
Sesuai aba-aba, perjalanan pun kembali dilanjutkan.
Sementara itu di sisi lain, tepatnya di Kerajaan Castor, Kaisar telah menerima kabar bahwa Callum dan pasukannya akan segera kembali. Mereka berada tak jauh dari perbatasan Castor, tepatnya di daerah Paloma.
Ya, begitulah isi pesan yang di kirimkan oleh Callum sebelum matahari terbit di ujung Timur.
Hal itu guna agar Kerajaan mengetahui posisi mereka dan bisa melakukan persiapan penyambutan.
Sejujurnya bagi Callum sendiri, ia tak menyukai hal ini, karena bagaimana pun, acara penyambutan adalah hal yang terlalu membuang-buang waktu dan juga merepotkan.
Namun, semuanya adalah aturan Kerajaan. Callum tak dapat menolak karena ia sendiri pun sudah menyatakan janji untuk setia kepada Kerajaan dan benar-benar terikat.
Sekarang benar-benar terlihat, betapa indahnya padang yang mereka lewati.
Rupanya, mereka telah memasuki perbatasan antara Castor dan Paloma.
Zzaya mendengar hal tersebut ketika satu prajurit berteriak untuk memberi tanda pada posisi mereka.
Tak pernah terpikir oleh Zzaya, ia bisa mencapai wilayah kekuasaan terbesar di seluruh penjuru kerajaan lain.
CASTOR.
Tempat yang sering ia dengar sangat megah, dipenuhi kehidupan yang damai dan teratur.
Hal itu telah terbukti sekarang, dengan apa yang ia lihat di depan mata, Zzaya benar-benar dibuat takjub.
Tak pernah ia melihat tempat seindah Castor.
Perjalanan terus maju, hingga benar-benar memasuki wilayah rakyat Castor.
Terdengar bunyi sambutan dari rakyat yang telah menunggu di sepanjang jalan.
Alunan musik terdengar begitu merdu. Banyak anak-anak berlarian ke sana kemari karena bahagia menyambut kepulangan prajurit yang selamat.
Zzaya hanya bisa diam melihat selurih suasana itu. Ia seolah berada pada dimensi lain ketika di Castor.
Benar-benar berbeda saat ia berada di Atheril.
Bisa ia dengar, banyak pujian yang dilontarkan rakyat terhadap Callum. Zzaya mendengar itu.
Ia yakin, bahwa Callum benar-benar ada pada posisi tinggi yang begitu terhormat.
Apakah, Callum adalah ‘sosok’ itu?
Ia sering mendengar bahwa ada pria hebat yang tak terkalahkan di seantero wilayah Kekaisaran.
Jika benar, Callum adalah krang itu, Zzaya merasa bahwa ia mendapatkan suatu harapan yang selama ini ingin dia utarakan pada Callum.
Karena jika benar Callum adalah krang yang selama ini di carinya, maka hanya Callum dan satu-satunya Callum.
Tak terasa, seluruh barisan prajurit telah memasuki Kerajaan Castor.
Saat pintu gerbang Kerajaan terbuka, terlihat banyak sosok yang juga telah menunggu mereka. Termasuk para petinggi Kerajaan dan Kaisar.
Sekali lagi, senyum kebanggaan terpancar di wajah mereka karena Callum pulang dengan kemenangannya dalam pembantaian Atheril.
Ia sekali lagi telah menghabisi tempat yang merupakan pusat asal dari sekte sesat dan ahli sihir hitam selama ini.
Sesuai aba-aba barisan depan, seluruh barisan pun berhenti.
Callum segera turun dari kuda putih miliknya dengan gagah dan berwibawa.
Ia mendapatkan sambutan antusias dari orang yang bekerja di Kerajaan. Bahkan Kaisar terlihat berjalan menghampiri Callum.
“Sekali lagi, kau melakukan yang terbaik” puji Kaisar–Raja Ilias.
Callum hanya diam dan menampilkan raut wajah seperti biasa—datar.
“Oh, Yang Mulia Matahari Castor, selamat datang kembali Yang Mulia!”
Pemimpin pendeta Castor memberikan hormatnya pada Callum. Begitu pun dengan Perdana Menteri yang ikut menghampiri.
“Akhirnya dirimu berhasil untuk kesekian kalinya, Yang Mulia”
...
“Kak Callum! Kau sudah kembali?! Aku merindukan mu!”