
Callum menyadari langkah Zzaya mendekat ke arahnya. Bahkan sebelum gadis itu benar-benar selesai membersihkan dirinya.
Callum begitu mengawasi Zzaya lebih dari sebelumnya.
Gadis itu berdiri di hadapan Callum dengan gelagat yang gelisah namun seolah berusaha untuk tetap tenang.
Sebelum berbicara, Callum memegang tangan Zzaya yang terikat dengan rantai besi yang cukup panjang, membukanya dengan kunci yang ia miliki dan melepaskan rantai itu.
Zzaya merasa tangannya tak memikul apapun lagi karena terasa ringan dan tidak sesakit sebelumnya.
“Siapa dirimu?” tanya Callum.
“Y–ya?”
“Aku tak suka mengulang pertanyaan. Sekali, jika tidak maka aku akan membunuh mu saat ini juga,” ujar Callum.
Aura pria di hadapannya yang tengah berdiri ini benar-benar lebih dingin dari biasanya.
Tubuh tinggi Callum membuat Zzaya harus menengadah ke atas agar bisa melihat wajahnya.
Wajah tampan Callum, sesaat membuat Zzaya lengah akan pesonanya.
“Aku sudah mengetahuinya. Namun aku begitu penasaran tentang mu. Kau seolah mengujiku, benar?”
Zzaya menggeleng karena tak paham dengan apa yang Callum katakan padanya.
Jika memang soal 'itu', Zzaya pun ikut menyadarinya. Hanya saja, jika Callum mengatakan bahwa dirinya menguji pria ini, tentu hal itu tidak lah benar.
Zzaya memang tak memiliki niatan apapun selama ini. Ia makin merasa gelisah dan takut apabila harapannya untuk hidup akan sia-sia.
Ya, memang akan seperti itu.
Zzaya menggigit kuat bibir bawahnya karena benar-benar takut. Bibir ranum yang mengering itu mengeluarkan darah dengan mudahnya ketika Zzaya menggigitnya sendiri.
Kedua tangan mungil Zzaya meremas ujung gaunnya.
Zzaya menunduk dan tak dapat merespon apapun dari yang Callum katakan padanya.
Callum memegang wajah dagu Zzaya dengan kasar dan membuat Zzaya berusaha menyingkirkan tangan Callum.
Sayangnya, tenaga pria di hadapannya lebih kuat. Satu tangan Callum menarik pinggang Zzaya agar mengunci pergerakannya.
Posisi keduanya sangat dekat. Zzaya bisa merasakan aroma dari nafas Callum yang begitu hangat.
“Akhh, Tuan ... sa–sakit” rintih Zzaya. Seolah tak peduli, Callum menampilkan senyum mengejek yang nyaris tidak terlihat.
“Kau ingin menguji ku? Hanya karena kau manusia Iblis, kau pikir kau dapat membuat iman ku tunduk atasmu?” desis Callum.
Zzaya terus memberontak sebisanya, namun tetap saja hasilnya nihil.
Lagi-lagi, Callum mencium aroma darah yang begitu kuat dan manis. Karena posisi keduanya sangatlah dekat, aroma darah pada bibir Zzaya yang terluka benar-benar menyeruak.
Callum memperhatikan darah iyang mengalir pada bibir ranum Zzaya yang mengering.
“Kau memiliki aroma darah yang hanya dimiliki Iblis. Aku menduga sejak awal bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada diri mu,” ujar Callum.
“Katakan! Jika kau ingin selamat, maka katakan sesuatu!”
Masih dalam kendali Callum, mata Zzaya memerah menahan tangis.
“Saya tidak tahu. Tolong ... ini sakit, lepaskan saya, Tuan” mohon Zzaya.
“Sesudah kau menjawab.”
Zzaya merasa bahwa tenaganya terbuang sia-sia jika terus berusaha melepaskan dirinya dari Callum. Namun, tidak untuk sekarang. Zzaya belum bisa memberitahukan apapun pada pria di hadapannya.
Zzaya mengatakan yang sejujurnya dan Callum menyadari itu lewat sorot mata Zzaya yang tak menyiratkan kebohongan.
Hanya saja, Callum sadar bahwa Zzaya merupakan Iblis karena aroma darah yang dimilikinya. Tentu, Iblis memiliki tipu daya yang begitu kuat dan akan membuat seseorang jatuh jika memiliki iman yang begitu lemah.
Namun, Callum bukanlah bagian dari mereka yang memiliki iman sebesar biji kacang hijau. Ia begitu ditangguhkan oleh imannya sendiri.
Bahkan rupa yang luar biasa cantik berdiri di hadapannya seperti ini sekali pun, ia tak akan goyah.
“Sepertinya, aku tak memerlukan alasan apapun untuk membiarkan mu hidup. Ku pikir, semua akan berakhir bila aku membunuhmu sekarang”
“Tolong! Saya hanya tahu bahwa darah saya ini terkutuk,” ujar Zzaya.
“Saya tak pernah menginginkannya sekali pun saya menolaknya.”
Tanpa melepaskan tangannya yang meremas kedua sisi wajah Zzaya, Callum terus menatap gadis itu dengan iris peraknya yang terang.
“Lalu?”
“Saya hanya tak membiarkan darah saya dicicipi oleh semut sekalipun. Binatang sekecil itu akan menjadi gila atau sakit” papar Zzaya.
“Bagaimana dengan manusia?”
Zzaya terkejut lalu menggeleng cepat. Untuk pertanyaan itu, Zzaya tak dapat menjawabnya.
Ia tahu bahwa akan ada sesuatu yang terjadi bila darahnya dicicipi oleh manusia. Zzaya menjaga tubuhnya agar tidak terluka.
Jika terluka pun, ia dengan cepat menutupinya dengan kain agar aromanya tidak menyeruak. Walaupun aromanya tak dapat dirasakan oleh sembarangan orang, Zzaya hanya menjaga dirinya dan terus berhati-hati.
Ia sadar bahwa Callum, adalah irang pertama yang merasakan aroma manis dari darahnya.
Orang itu, pernah memberitahu pada Zzaya, bahwa jika ia menemukan orang yang dapat menghirup aroma manis dari darahnya, maka dialah orang yang dipilih.
Callum, pria yang begitu Agung, penuh berkat, penuh dengan keteguhan iman, penuh dengan pengabdian atas Kerajaan serta Dewa dan Dewi, penuh dengan anugrah kekuatan suci, ternyata Callum adalah pria yang terpilih itu.
Pria pemilik mata perak yang sangat indah.
Zzaya tidak salah ketika ia berharap bahwa Callum tak akan membunuhnya. Callum adalah orang yang terpilih.
Zzaya ingin memberitahukannya pada Callum, hanya saja ia sendiri masih bingung dan masih belum mengetahui banyak hal tentang dirinya sendiri.
Ia seperti teka-teki bagi dirinya sendiri.
Rasanya begitu sulit menjelaskannya pada Callum. Zzaya tak paham mengapa.
Bibirnya terasa terkunci untuk hal itu.
Callum tersenyum miring dan melepaskan wajah Zzaya dari tangannya.
Zzaya berpikir bahwa tak ada hal lain lagi setelah ini dan Callum akan melepaskannya lalu membunuhnya.
Ternyata pria itu melepaskan wajahnya hanya untuk menyeka darah pada bibir Zzaya menggunakan jari jempolnya.
“Bagaimana ... dengan manusia?” tanya Callum sekali lagi.
Callum berniat mencicipi darah itu, namun dengan cepat, Zzaya berteriak untuk menghentikannya.
“Jangan! Tidak ... Tuan jangan melakukannya. Itu berbahaya”
“Ada apa?”
“Iblis, anda akan menjadi Iblis.”