Behind The Scene

Behind The Scene
Cessa Ini...



Di samping ketenaran Mauren sebagai salah satu selebriti instagram, Ia juga menyandang posisi ketua ekskul cheersleader di SMA Nusantara. Selain itu, Ayahnya memiliki peran penting sebagai salah satu donatur untuk yayasan dimana SMA ini bernaung. Maka tak heran bila sombong dan angkuh melekat pada diri seorang Mauren Christiani.


Seperti saat ini, hanya karena sedikit tumpahan kopi yang tidak sengaja membasahi bagian bawah roknya, Ia sampai memblokir jalanan koridor lantai satu dengan aksinya membentak pelaku yang tak lain adalah salah satu siswi kelas XIPA3.


Di dukung dengan penampilan siswi tersebut yang sedikit 'nerd, Mauren terus saja membentak dan mengeluarkan berbagai umpatan memalukan.


Mungkin, pembawaan tenang tapi menusuk milik Mauren tidak berlaku lagi saat ini.


Dan lagi, dimana keberadaan para guru yang seharusnya menyelesaikan kekacauan?


Cessa menerka-nerka dalam pikirannya.


Ingin melewati begitu saja namun tak tega. Jiwa keibaannya meronta-ronta untuk membantu. Namun masalahanya, Cessa sedang malas menggoreskan kekotoran terhadap list hari indahnya.


Bruk


Siswi tersebut terjatuh dengan kasar akibat dorongan keras Mauren di kedua bahunya.


"Lo harusnya sadar bisa masuk ke sini karena siapa? Hah?! Uang bokap gue!" sentak Mauren.


Siswi dengan nama yang entah siapa itu, beringsut ketakutan. Cessa yang melihatnya jadi semakin tak tega saja.


"Mikir! Harusnya lo jangan cari gara-gara di sini!" Mauren mengangkat satu tangannya.


Belum saja tamparan mulus tersampaikan, seseorang mencekal erat pergelangan tangan Mauren dan menurunkannya. "Lo!-


"Apa? Gue kenapa, Mauren?" tanya Cessa melemparkan tatapan nyalangnya.


"Jangan ikut campur urusan gue, Cessa!"


"Tapi lo salah dengan ngelakuin hal seperti ini di depan mata kepala gue sendiri. Dengar Mauren," Cessa mengikis jarak keduanya.


"Kalo gue memiliki attitude se-rendah lo," Ia menekan jari telunjuknya pada bagian atas badge name Mauren.


"Mungkin gue akan ngelakuin hal yang sama karena merasa bangga dengan pencapaian bokap sebagai donatur utama di yayasan sekolah ini bernaung. Tapi sayangnya, waktu adalah suatu hal yang berharga, bukan? Dan yang lo lakuin ini, tindakan seseorang yang tidak menghargai waktu. Lo tau siapa?"


Cessa mendekatkan wajahnya pada telinga Mauren. "Pecundang," bisiknya.


Sedetik kemudian, Cessa menarik diri untuk melihat ekspresi apa yang di tunjukkan Mauren.


Matanya berkilat amarah. Tangan di sisi tubuhnya mengepal kuat. Sedangkan Cessa, tersenyum puas kemudian menghampiri korban.


Mauren mengalihkan pandangannya pada sekitar. Ia mendengus kemudian berlalu pergi meninggalkan koridor yang tiba-tiba saja senyap.


"Lo juga, jadi cewek tuh jangan lemah, bisa?!" ujar Cessa pada siswi yang di bantunya.


"Maaf.."


"Ck! Gak guna!"


Cessa berlalu pergi tanpa kembali membantu. Ia benar-benar benci dengan seseorang yang lemah.


***


"Mail," ucap Dita tiba-tiba ambigu. Pandangannya menerawang pada langit-langit ruangan dengan tangan yang memangku wajah.


"Kenapa si Mail?" heran Felly. Matanya tak lepas dari kuku jari-jarinya yang baru saja berubah warna.


"Itu, Mail kayaknya pantes jadi julukan si Cessa deh! Cessa bin Mail? Uwow.. Terdengar manis, right?" jawabnya berbinar membuat pemilik nama mendelik malas.


"Tirdingir minis, right?" ejek Rere yang merasa kesal saja pada ucapan Dita. Seperti tak pantas untuk di perdengarkan di telinga sang Musisi SMA Nusantara.


Dita mendelik malas pada Rere di depannya. Tetapi, Ia tak berniat untuk membalas hal-hal yang akan membuat moodnya berubah buruk seperti badai di tengah panas matahari.


Sedangkan Ayrin menggeleng tak mengerti atas pemikiran sahabat absurdnya itu. "Lo juga punya julukan cocok tuh Dit," timpal Ayrin.


Seketika Dita menjadi berseri kembali. "Oh, ya? Apa?" Ia memutar badan menghadap sepenuhnya pada Ayrin yang bersandar di tihang panggung.


Dikarenakan kepulangan orang tua Rere yang membuatnya memasak makanan kesukaan gadis itu dengan porsi banyak, sekaligus untuk latihan terakhir Rere dan Cessa sebelum di muat siaran langsung di youtube besok sore.


"Dita bin Patrick!" jawab Ayrin cepat dan lantang. Tak lupa dengan jari yang di jentikkan dan sedikit berjingkrak senang.


Sontak tawa menggema pada penjuru ruangan. Mengabaikan wajah masam milik Dita dan berbagai umpatan kesal gadis itu.


"Lagian, lo ada-ada aja sih Dit jadi orang," Rere mengusap ujung matanya yang berair di sela-sela tawa mereka.


"Yee.. Gue bener kok! Mail itu cuek tapi peduli kayak si itu tuh.." cibirnya sambil menunjuk Cessa yang sedang memetik senar gitar di bangku tengah panggung.


"Gue gak peduli Dita.. Cuman enek aja liat kelakuan si Mauren," ralatCessa malas.


"Halah! Ngeles ae si dombret!" elak Dita ngawur.


"Emangnya lo gak liat kelanjutan videonya gimana?" tanya Felly.


"Emang gimana?"


"Cessa juga ikutan bentak tuh cewek pake bilang 'Lo juga, jadi cewek tuh jangan lemah, bisa?! Ck! Gak guna!' gitu.." jawab Felly panjang lebar dengan gerakan mengikuti ucapan Cessa. Tak lupa tangannya berkacak pinggang melebih-lebihkan.


"Idih, gak alay gitu yah tangan gue!" cibir Cessa bergidik jijik.


"Lah? Iyakah?" heran Dita mengusap tengkuknya yang tak gatal.


"Iya bener itu.." timpal Rere.


"Ck! Kalian ngapain jadi bahas itu di sini, sih?!" geram Cessa.


"Biasa, butuh bahan bullyan kita.." ujar Felly santai. Tak lupa bahunya bergerak sedikit menyenggol bahu atas Ayrin di sampingnya seolah bertanya


'Iya gak?'


"Lagian ya, kalau si Mauren bully orang sampe mati juga gue gak bakal peduli. Asal jangan depan gua aja aksinya," gerutu Cessa.


Ayrin memutar bola matanya malas. "Ya iyalah, Cessa! Lo gak bakalan peduli karena emang lo gak tau dan gak liat!" sentak Ayrin tajam.


"Eh? Iyakah?" gumam Cessa dengan tampang bodohnya.


"Auah! Pusing gue ngadepin lo!" Felly berlalu duduk pada bangku di ujuk ruangan. Ia kemudian mengeluarkan handphone dari saku jasnya dan menyelam pada dunia orange.


Beralih pada Cessa sendiri, Ia menatap satu per satu teman sekolahnya itu dengan lekat.


"Apa?" jengah Dita menyadari tatapan Cessa.


"Gue buat kalian pusing ya?" tanyanya polos.


"Gak tau gue, Cess.. Gak denger lo ngomong apa!" jawab Dita kesal dengan tangan yang menutup kedua matanya.


Cessa menekuk wajah memandang Rere dan Ayrin. Sedangkan Rere memilih untuk pura-pura sibuk dengan melipat-lipat jari seperti orang yang sedang berhitung. Ayrin pun tak kalah akal segera berbalik menghadap tihang stan dan menggerakkan tangannya membuat pola abstrak serta mengubah raut wajah menjadi serius.


Cessa akhirnya mengehembuskan nafas kasar. Ia menunduk saja melihat jari-jarinya yang bertengger di atas senar gitar seraya bergumam lirih.


"Kamu, gak pusing sama aku 'kan? Gak kayak mereka?"


Cessa ini..


Pas gak kenal aja dinginnya minta ampun. Giliran udah kenal kok bikin orang tepuk jidat aja!


.


.


.


TBC