
SMA Nusantara memiliki fasilitas kantin yang cukup menimbulkan decakan kagum. Bagaimana tidak? Pada bagiat barat kantin, terdapat berbagai stand makanan gratis yang di jual para siswa-siswi kepada pihak sekolah. Hal ini tentunya sangat membantu pihak pelajar untuk bersekolah sambil menghasilkan uang.
Selain itu, dalam ekstrakurikuler-nya sendiri ada berbagai jenis minat untuk yang dapat membantu menghasilkan uang juga tentunya, seperti ekskul musik, modern dance, pecinta alam dan fotografi.
Eits..
Bukan hanya itu, ekskul gamblang seperti basket, cheers, pramuka, PMR atau paskibra juga selalu memiliki event tersendiri untuk membantu pelajar dalam bekerja, berkreasi dan berkarya.
Tetapi sepertinya, kebingungan besar sedang melada Ayrin sekarang. Pasalnya, Ia sangat kelimpungan memilih ekskul apa setelah mendengar penjelasan Rere yang menjadi demonstran ekskul dadakan.
"Udahlah, Re... Kasihan tuh Ayrin mukanya sampe cengo, gitu?!" putus Dita merasa jengah terhadap tingkah laku Rere.
Sedari istirahat pertama sampai sekarang habis istirahat kedua, Rere tidak henti-hentinya menceritakan berbagai kelebihan yang dimiliki tiap ekstra. Sampai-sampai, Dita saja menjadi merasa memiliki daya minat kembali kepada semua ekstra.
Lalu, bagaimana dengan Ayrin?
"Iya, Re... Dari tadi lo jejelin Ayrin bayangan bagusnya doang, enggak sama duka pahitnya," timpal Felly.
Rere memberenggut kesal. Dalam hati, Ia sedikit membenarkan perkataan Dita dan Felly saat sadar bahwa sedari tadi Ayrin tidak membuka mulutnya untuk sekedar berkomentar apapun.
"Ay, gue bikin lo bingung, ya?" tanya Rere. Ayrin jelas saja menggeleng. Melihat ekpresi kecewa Rere, Ayrin tak sampai hati untuk membenarkan pertanyaannya.
"Enggak, kok, Re. Gue cuman lagi mikir jadinya mau ambil ekstra apa. Soalnya, Gue cuman boleh pilih satu ekstra doang sama bokap," alibi Ayrin.
Mana tega dia membenarkan perkataan Dita dan Felly saat semangat Rere sedang 45 begini.
"Gue gak bisa recomend, nih. Belum tahu hobi lo apa yang memungkinkan buat milih ektra mana," ungkap Dita. Felly mengangguk setuju.
Berbanding dengan Rere yang tampak sedang berkelana jauh mencari-cari hal apa untuk sedikit menenangkan hatinya karena bisa membantu.
"Sebenarnya sih gue pengen masuk ekstra PA sama AM (Anak Mading). Tapi karena cuman boleh satu, jadi gue bingung deh pilih yang mana?!" terang Ayrin.
"Gimana kalo ngambil AM aja? Lo kan suka banget sama dunia tulis-menulis," saran Dita.
"Nah, bener tuh!" sahut Felly dan Rere berbarengan.
"Yaudah, deh. Gue ngambil AM!" final Ayrin.
"Asik! Udah kaya mahasiswa lagi pilih prodi aja kitee!!"
...***...
"Andra! Andra! Dengerin gue dulu?!" Teriak salah satu siswi yang sedang berlari di koridor dua.
Koridor ini di beri nama 'koridor dua karena menghubungkan gedung IPA dengan gedung IPS juga menjadi jembatan atau jalan tercepat menuju kantin dan perpustakaan.
Sang pemilik nama yang merasa jengah pun, menghentikan langkah sambil mendengus pelan.
"Apa?" tanyanya apatis.
"Please! Gue mau kita cover lagu bareng! Yaa?" pinta siswi tersebut. Mata bulat dengan netra hitamnya menyipit karena memberi tatapan memohon.
Andra mendelik malas. "Gak bisa!" tegasnya. "Lo baru punya ribuan followers gak menutup kemungkinan 'kan nanti cuman numpang tenar doang sama gue?" lanjutnya.
Siswi tadi menggeleng yakin dan tak percaya. "Sumpah! Gue gak kepikiran ke sana, Andra. Gue serius cuman pengen buktiin sama Mama gue kalo ekskul musik yang gue ambil itu gak cuman buang-buang waktu. Buktinya gue bisa duet sama lo! Reputasi lo yang udah tinggi pasti buat Mama gue yakin, Dra," jelas Neta.
Bukannya percaya. Andra malah mengibaskan tangan ke udara. "Halah! Kurang pinter cari alesan, lu! Kenapa cover lagunya gak sama anak-anak yang lain? Ya, walaupun mereka belum se-tenar gue. Tapi seenggaknya mereka juga punya sisi kreatifitas sendiri," balas Andra.
"Udahlah! Gue gak mau!" putus Andra sembari kembali berjalan.
Gadis tadi pun akhirnya hanya bisa pasrah menurunkan kedua bahunya.
"Masalahnya, gue lagi gak akur sama anak-anak ekskul musik!" gumamnya menggigit jarinya bingung. Ia kemudian melangkah pergi meninggalkan Ayrin yang terpaku di tempat.
Memang, Ayrin menyaksikan semuanya. Mulai dari teriakan siswi yang entah siapa sampai penolakan keras Ardan. Ia berniat untuk pergi ke perpustakaan mengembalikan buku. Tapi, siapa sangka pemandangan siang hari malah menyambut jalannya.
Dan anehnya, sekarang Ayrin merasa sangat ingin membantu gadis penolakan Andra tersebut.
...***...
"Woy, Ay! Bengong mulu dari tadi!" sentak Felly. Sontak saja Ayrin terkejut kemudian tertawa setelahnya.
"Gue bingung," keluh Ayrin singkat.
Mereka sedang berada di cafe yang memang biasa menjadi tongkrongan siswa SMA Nusantara. Jadi, tak heran bila Ayrin berpapasan dengan banyak wajah yang lumayan familiar di ingatannya.
Namun, bukan itu yang menjadi objek pemikiran Ayrin kali ini.
"Bingung kenapa?" balas Felly kembali.
"Gak tau!" jawabnya dengan bahu yang di angkat acuh.
Ketiga teman Ayrin mendelik dan mendengus antara marah, kesal dan
Kepo?
"Lama-lama gue bikin sg tingkah absurd lo, Ay. Siapa tau aja fans gue langsung kumpul ke sini serang lo karena udah buat idola mereka kesel setengah mati!" cerocos Rere.
Bukannya takut, tawa Ayrin justru pecah. Semua pandangan pengunjung cafe, semakin saja memperhatikan meja mereka.
"Bisa gitu, ya?" ejek Dita yang sedari tadi diam.
"Bisalah! Dibisa-bisain!" jawab Rere pongah.
Baru saja ingin berargumen kembali, sapaan dari panggung cafe mengalihkan perhatian mereka.
Gadis cantik dengan dress biru soft selututnya berdiri memegang stand mikrofon bersiap menyanyikan lagu.
Ayrin terperangah. Bukannya..
"Itu siapa?"
Dita berbalik menatap Ayrin. "Oh itu... Dia ketua ekstra musik tahun ini di SMA kita. Masa lo gak tau?" jawabnya.
"Enggak."
Dita mengangguk maklum.
"Dia sering nyanyi di sini?" Ayrin membuka suara kembali.
Dita mengangguk dengan mata yang tak berpaling dari panggung cafe.
"Kenapa, Ay?" heran Felly.
"Gue pernah lihat dia di sekolah-
"Ya iyalah! Kan satu sekolahan!" potong Rere.
"Ish! Dengerin dulu!" desis Ayrin.
Memberi tanda 'peace. Rere menyengir lebar. "Hehe, sorry-sorry.. Sok atuh di lanjut,"
"Gue pernah lihat dia berantem sama Ardan di koridor dua pas mau ke perpus. Dia mohon-mohon minta bantuan sama Ardan yang langsung di tolak keras gitu aja," cerca Ayrin.
"Emang minta bantuan apa?" Felly mulai tertarik obrolan.
"Gak tau pasti, sih.. Cuman kalo gak salah denger dia minta bantuan collabs cover lagu sama Ardan biar di notice nyokapnya. Tapi Ardan malah nyangka pansos karena followers baru ribuan. Gila 'kan Ardan?"
"Ardan emang agak kayak gitu, sih.. Mirip Rere," ucap Dita enteng.
Tak tau saja, Rere sampai tersedak mendengarnya.
"Bener-bener mulut lo, Ta!" Rere menggeleng tak habis pikir.
Mengabaikan kedua makhluk tak jelas di depannya, Felly menatap Ayrin yang kembali melamun. "Gue jadi ngerasa lo bingung karena mikirin masalah dia lagi," argumen Felly.
"Iya, Fell. Gue kasihan sama dia tapi juga pengen bantu gak tau caranya gimana," ungkap Ayrin.
"Rere dan Dita memusatkan perhatian. "Gimana kalo misalkan kita temuin dia di belakang panggung terus ajak collabs aja sama lo, Re!" saran Dita.
"Nah, iya bisa-bisa tuh! Jangan salah... Rere juga terkenal kok di kalangan emak-emak," timpal Felly.
Ayrin menatap Rere yang asik dengan santapan makanannya sendiri. Diikuti Dita dan Felly.
Hingga akhirnya, sadar di perhatikan, Rere mendongak. "Apwah?" tanyanya dengan mulut yang penuh makanan.
"Jijik, Re.. Telen dulu makanannya baru ngomong," Ayrin bergidik.
Rere menurut. "Apa?" tanyanya lagi lebih jelas.
"Gimana pendapat lo soal usulan Dita, setuju?" buru Ayrin.
"Atur aja.." jawabnya santai kemudian lanjut makan.
Mereka menghela nafas jengkel mendengar jawaban Rere. Tapi tak apa, itu artinya Rere mau ikut membantu.
"Nah udah selesai tuh, penampilannya," tunjuk Dita pada persepsi yang berjalan turun dari panggung.
"Yuk, lah! Langsung samperin!"
.
.
.
TBC