
Pulang sekolah, Ayrin mengajak Rere dan Felly untuk mengerjakan tugas bersama. Berhubung tugasnya sama walaupun mereka berbeda kelas.
Ayrin berada di kelas XI Ips 3 sedangkan Rere dan Felly di XI Ips 1 dan Dita berada di XI Ipa 1.
Walaupun Dita berbeda jurusan, tapi itu tak membuat Ia mengurungkan niatnya untuk pergi ke rumah Ayrin. Katanya, siapa tau aja mereka dapat menyelesaikan tugas dengan cepat dan berakhir dengan girls time.
Kamar sederhana berpaduan putih dan cokelat yang di tempati keempatnya serentak menjadi perbincangan untuk di jadikan basecamp. Ide ini tercetus oleh Rere yang di sambut antusiasme dari Felly dan Dita.
Alasannya singkat, banyak makanan. Sedangkan tuan rumah? Tentu saja menolak keras mengingat mereka juga dari kalangan berada. Ada-ada saja, itu pikir Ayrin.
Ia terkejut saat sebuah bantal melayang tepat di depannya. Keadaan kamar yang semula rapih sudah seperti sarang penyamun.
Baru saja di tinggal mengangkat telepon di ruang keluarga. Dasar, tamu lucknut!
Rere menyengir lebar mengusap tengkuk belakangnya saat melihat Ayrin berkacak pinggang di ambang pintu. Sedangkan Felly berpura-pura melihat foto polaroid yang terpajang di dinding kamar Ayrin. Dita sendiri memilih berpura-pura selfie ria mencari angle yang pas. Padahal, dia tengah melakukan siaran langsungnya tadi.
"Kalian abis ngapain?" tanya Ayrin heran.
"I-itu Ay! Bukan gue yang mulai! Felly! Ya, Felly yang ngajak gue, Ay!" pekik Rere heboh.
Felly yang mendengarnya bergerak panik. "Lo apaan sih, Re! Orang tadi yang manas-manasin gue, lo ya?!" serunya tak karuan.
Dita tersenyum miring kemudian kembali memulai siaran langsungnya. Ia bahkan dengan tanpa dosa terkikik sendiri sambil menyapa para fansnya saat sudah banyak yang menonton.
"Gue gak manas-manasin Felly... Gue cuma ngasih tahu!" geram Rere mengepalkan kedua tangan di depan wajahnya.
Ayrin menggelengkan kepalnya tak mengerti. Ia melihat Dita yang masih asik cekikikan sendiri kemudian mulai memunguti bantal dan bungkus makanan yang berserakan. Ia merapihkan semuanya ke tempat semula tanpa di sadari Felly dan Rere.
"Emang kalian sebelumnya lagi bahas apa?" tanya Ayrin memotong perdebatan keduanya. "Matiin kameranya Dit," titah Ayrin. Ia duduk bersandar pada bahu ranjang dengan satu bungkus chiki di pangkuannya.
Dita menurut. Tawanya kemudian pecah saat siaran sudah di selesaikan.
Felly dan Rere menatap Dita tajam. "Jahil banget, sih!" ketus Rere.
"Tau lo, Dita! Kalo followers gue berkurang gimana?" sentak Felly.
Wajah Dita sudah berubah menjadi merah karena banyak tertawa. Ia berdehem untuk menetralkan wajahnya kemudian duduk di samping Ayrin.
"Gak berdosa banget sih, lo!" kesal Rere. Jangan ditanya respon Dita bagaimana? Bukannya takut atau apa, Ia malah mengendikkan bahu acuh dan mencomot chiki di pangkuan Ayrin.
Lagi-lagi Ayrin menghela nafas gusar. "Udah, sekarang jelasin kenapa kalian bikin kamar gue kayak kapal pecah?" tanya Ayrin.
"Jadi gini, Ay--
"Loh, kok semuanya udah beres? Sampahnya? Bantalnya?" Felly bertanya sambil menunjuk objek satu per satu. Rere yang semula kesal juga jadi ikut-ikutan melihat arah pandang Dita dan menggaruk kepalanya bingung.
"Gue yang beresin pas kalian debat tadi! Udahlah gak penting! Lanjut, Re!" perintah Ayrin.
"Iya tadi tuh, gue bilang sama Dita kalo Mauren sukses buat konten tentang bhirtday party low budget gitu.. Terus followersnya udah nambah satu ribu aja. Padahal baru tiga hari. Tapi nih anak malah nuduh gue manas-manasin dia!" terang Rere menunjuk Felly yang sedang menye-menye disampingnya.
"Idih nimbih siribi iji. Pidihil biri tigi hiri," ejek Felly.
Ayrin terdiam menatap keduanya dengan tatapan antara percaya dan tidak. Really? Karena followers?
Pantas saja Mauren sangat berani melakukan hal seperti di kelas tadi. Ternyata memang karena faktanya Ia tidak pantas berada bersama Dita dkk.
Dita mengguncang kedua bahu Ayrin."Ay, Ay,.. Lo kok bengong, sih?"
Ayrin tersentak. "Hah? Em, oh itu... Gue kaget aja kalian ribut ternyata gara-gara followers," alibinya.
"Ya, gitulah! Mereka emang kayak bocah, Ay,"gumam Dita dengan mulut yang penuh chiki.
Pletak
"Bukan gitu dodol! Lo enak followersnya udah jutaan. Lah gue? Masih kejar-kejaran sama Mauren, kan asu!" sentak Rere.
Dita mengusap kepalanya lembut sambil mengerucutkan bibir kesal. "Gak usah pake jitak juga, kali!"
"Emangnya followers lo berapa?" tanya Ayrin pada Dita.
"Dua koma tiga juta," jawab Rara apatis.
"Terus lo, Re, Fell?"
Mereka saling pandang dengan tajam. Setelah beberapa detik, keduanya kemudian mengalihkan pandangan dan mendengus sinis.
"Terus sekarang followersnya Mauren berapa?"
"Delapan ratus ribu," jawab Felly dan Rere kompak kembali.
Ayrin terkekeh geli. "Yaudahlah Fel, Re... Gak usah di pikirin! Toh, masih banyak kalian berdua."
"Gak bisa, Ay. Kalo dalam tiga hari nambah seribu followers, gimana nanti seminggu? Bisa game over tuh Rere!" jawab Felly.
Rere mengerling malas. "Gue gak peduli tuh!" acuhnya.
"Halah! Gak peduli, gak peduli... Tau-taunya aja pulang dari sini ketar ketir mikirin konten paan buat nambah followers!"
"Udah-udah, kalian ini kayak hidupnya berputar di itu-itu aja... Ngapain sih mikirin followers? Tugas ekonomi tuh sama geografi kerjain!" lerai Ayrin.
"Nah, Re denger tuh!" timpal Dita dengan tampang tak berdosanya.
Rere mencak-mencak di tempat. "Ish, gue dari tadi kalem-kalem aja, ya! Si Felly kali yang harus dengerin karena tadi hebohnya minta ampun! Udah gitu, nimpuk gue pake bantal lagi!" sangkal Rere.
"Yaa lo tadi ngomongnya kayak manas-manasin gue!" bela Felly tak terima.
"Enggak, ya... Itu emang dasarnya aja lo langsung kepanasan!"
"Gue gak kepanasan, ya?!"
"Tuhkan! Muka lo aja merah!"
"Enggak, kok,"
"Iya, ih!"
"Enggak, Rere enggak!"
"Iy--
"Rere, Felly ..." Ayrin melayangkan tatapan tajamnya.
"Eh, ini kita mau ngerjain!" pekik keduanya.
Dita tertawa sambil menatap mereka kasihan. Rere berdecak kesal sedangkan Felly merengek kepada Ayrin. "Lihat, Ay... Dita marahin juga dong!" adu Felly.
"Lah, gue kan gak ikutan!" ujar Dita tidak terima.
"Tapi kan lo berada di TKP bukannya misahin malah asik live!" timpal Rere.
"Huum." Felly mengangguk membenarkan.
Ayrin menatap mereka bergantian dengan malas.
"Buruan kerjain sekarang!" pekik Ayrin tajam pada Felly dan Rere.
"Iya, iya. Sekarang!"
Keduanya ketar-ketir heboh membuat tawa Dita pecah.
"Oh, ayolah, Ay... Mereka buat gue gak bisa berhenti ketawa," gumam Dita berlebihan saat Ayrin menatapnya lekat dari samping.
Merasa tak ada respon, Ia menolehkan kepala menatap Ayrin yang memandangnya jengah.
Menyengir bodoh. Dita mengusap tengkuknya yang tak gatal. Ia mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membuat tanda 'peace.
"Hehe.. Damai, Ay."
.
.
TBC