
Karena back stage hanya di khususkan untuk para pengisi acara, Ayrin dkk terpaksa menunggu seseorang itu datang tepat di depan pintu masuk back stage.
Kalau bukan karena bujukan maut ala Ayrin, sungguh! Dita, Felly dan Rere sangat-sangat merasa bosan dan juga malu karena berdiri seperti orang bodoh di depan pintu yang tertutup rapat-rapat ini.
Bukannya apa, kalian tidak lupa 'kan profesi apa yang di gandrungi ketiga sahabat Ayrin itu?
Yaa.. Walaupun yang lewat hanya beberapa staf dan pelayan cafe. Tetapi tetap saja, karena mereka buktinya tak tanggung-tanggung menyapa ketiga sahabat Ayrin dengan senyum antusias.
Bahkan sampai ada yang tak segan meminta foto.
Hingga akhirnya, pintu ruangan di buka oleh seseorang yang sedari tadi di tunggu-tunggu.
Ayrin pun melebarkan senyuman yang berbanding terbalik dengan ekspresi masam ketiga sahabatnya.
"Hai," sapa Ayrin.
Bukannya menjawab, orang tersebut malah mengangkat satu alisnya bingung. Entah karena gak kenal atau terkejut.
Tapi, opsi pertama kayaknya enggak mungkin, sih..
"Ck! Orang kayak gini mau lo bantuin, Ay? Di sapa aja belagu, gitu!" hardik Felly tanpa menyurutkan tatapan tajamnya.
"Felly, kita aja belum kenalan 'kan?" tegur Ayrin.
"Bisa bicara sebentar. Gue, maksudnya kita ada yang mau di omongin sama lo," ujar Ayrin.
Tak ingin menambah kebingungan, orang tersebut mengangguk kemudian menutup pintu dengan benar.
Setelahnya, mereka berjalan ke luar kembali pada meja sebelumnya.
"Oh iya, kita belum kenalan! Nama gue Ayrin Medrica, siswi baru di SMA Nusantara." Ayrin menjulurkan tangannya ke depan.
"Cessa Gradeliya," balasnya menyambut uluran tangan Ayrin.
Tauta keduanya terlepas. Ayrin menatap sahabatnya satu per satu. "Kalian gak kenalan juga?"
"Gaklah! Udah saling kenal kita," jawab Rere santai mencoba mencairkan suasana.
"Eh iya, lupa," gumam Ayrin.
"Lo gak mau pesen dulu?" tanya Dita. Lama-lama Ia merasa jengah sendiri dengan suasana akward.
"Gak, langsung aja," jawab Cessa datar.
"Oo-oh, oke!" jawab Ayrin kikuk.
Ia kemudian melirik ketiga sahabatnya meminta bantuan. Felly yang sudah geram pun menghela nafas dengan tatapan jengkelnya pada Ayrin.
"Tadi siang, Ayrin liat lo sama Ardan," ungkap Felly membuat Cessa refleks tercekat.
"Terus?"
"Ya Ayrin denger semua apa yang kalian berdua omongin!" sentak Felly tajam.
Dita dan Rere bahkan sampai meringis melihat pandangan Felly.
"Niatnya sih, gue mau bantu lo, Sa," kata Ayrin menengahi pandangan keduanya.
Cessa malah mengangkat satu sudut bibirnya seolah-olah mengejek Ayrin. "Bantu apa? Instagram aja lo gak punya!" pungkasnya tajam.
Sontak saja Felly menggebrak meja dengan keras dan berdiri dari kursi secara kasar. Dita yang berada di samping Felly pun ikut berdiri. Meja mereka tiba-tiba saja menjadi ousat pergatian pengunjung cafe.
"Tenang dulu, Fell!" ucap Dita.
"Lo! Ish!" Felly menghempaskan tubuhnya saat melihat tatapan memohon Ayrin.
Memang ya.. Ayrin ini cuek-cuek perhatian. Katanya bodo amat sama lingkungan sekitar. Eh! Tau-taunya lain di mulut lain di tindakan.
"Bukan gue yang bakal bantu, lo. Tapi, Rere," jelas Ayrin.
Pemilik nama mengangguk membenarkan saat Cessa menatapnya.
"Gimana, mau gak?" tanya Rere sedikit sewot terbawa suasana.
Tak heran lagi, sebelum Ayrin ikut bergabung pun Dita, Felly dan Rere memang kerap sekali memiliki nilai yang kurang baik di mata siswa-siswi SMA Nusantara. Entah saat mereka mengabdikan sebuah prestasi ataupun tak sengaja berbuat kesalahan.
"Harusnya, saat lo gak terlalu dekat dengan seseorang, memilih percaya terhadap penilaian orang lain adalah pemikiran tersalah yang pernah lo ambil," bijak Dita.
Cessa semakin menundukkan kepala. "Kicep 'kan lo! Gak tau aja Dita ponakannya Mario Teguh," sarkas Felly jenaka.
Ayrin, Dita dan Rere tertawa kecil. Mereka sudah mengira sedari tadi bahwa Felly hanya mengalami kekesalan fiktif belaka.
Cessa pun akhirnya berani mendongak dan tersenyum tipis. Ia merasa sangat bersyukur bisa menemukan sisi lain Ayrin dkk. Hingga segala sudut pandang tentang mereka berubah dalam mata Cessa.
"Jadi, lo setuju gak nih?" Rere bertanya mengerling jahil.
"Pasti setuju dong! Kalo enggak, tambah malu dia!" goda Dita.
Ayrin pun menatap Cessa penasaran. Dan saat pandangan keduanya bertemu, Cessa mengangguk kecil membuat tawa di meja tersebut pecah seketika.
"Shy-shy dog, ternyata dia!"
***
Deru mobil berhenti tepat di depan pagar rumah mewah bercat abu-abu. Ayrin menunggu Cessa selesai membuka sealtbelt mobilnya. Saat sudah, Cessa berbalik menatap Ayrin.
"Thanks, Ay.. Gue merasa jadi orang paling beruntung karena masalah gue di denger sama lo," Cessa tersenyum tulus.
"Sans, gue seneng kok bisa bantu lo," balas Ayrin.
"Kalo gitu, gue masuk dulu ya.. Sekali lagi makasih banyak, Ay."
"Makasih mulu kaya lagi apaan aja," gurau Ayrin.
Cessa terkekeh. "Gak mau mampir dulu?"
"Gak deh! Udah lumayan malem, nih. Kapan-kapan aja!"
"Oke." Cessa turun dari mobil dan berjalan menuju pagar rumahnya membiarkan Ayrin kembali menjalankan mobil.
Tin.
Ayrin membunyikan klakson mobilnya berpamitan. Cessa pun melambaikan tangannya dan berbalik membuka pagar untuk masuk ke dalam rumah.
Interior ruangan yang elegan dan berkesan hangat menyambut mata Cessa kala pintu rumah terbuka. Namun, interior rumah ini tak selaras dengan keadaan atau suasana yang di miliki sang pemilik rumah.
Terbukti dengan berdirinya wanita paruh baya di depan Cessa yang sedang bersedikap dada disertai pandangan tajamnya.
Cessa beralih menghela nafas pelan. Menatap presepsi seseorang bergelar 'Mamanya itu dengan sorot lelah.
"Mau marahin Cessa lagi, Mah?"
"Tidak. Saya akan memilih diam untuk sekarang, menyaksikan pertunjukan apa yang akan di berikan oleh anak yang sudah saya besarkan. Sepertinya, itu sebuah ide yang menarik," Jawab Astrid santai.
Cessa malah melayangkan tatapan tidak sukanya terang-terangan. Ia semakin merasa terintimidasi dari hari ke hari oleh sikap dan perilaku Ibunya yang selalu tidak sinkron.
"Mengapa diam, Cessa? Mamah benar bukan? Menyaksikan pertunjukan anak yang di besarkan saat membangkang perintah Mamah, itu adalah sebuah ide menarik, right?" Astrid berjalan pelan menghampiri Cessa.
Saat dalam jarak dekat, Ia mengubah raut wajahnya menjadi semanis mungkin. "Pertunjukan itu.. Jangan sampai membuat saya merasa menyesal karena telah melahirkan dan membesarkan kamu. Buatlah sesuatu yang indah dan pantas untuk di sandingkan dengan keluarga kita, Cessa," desisnya rendah.
Nafas Cessa tercekat. Saat kelopak matanya mengerjap, setetes air mata turun tanpa diminta. Tanggannya mengepal memberi tahu bahwa Ia sangat-sangat merasa marah sekarang.
Berbanding dengan sang Ibunda yang akhirnya memberikan usapan pelan pada puncak kepala Cessa dan melenggang pergi.
Meninggalkan Cessa yang berdecih bersama air mata menderas.
.
.
.
TBC