Behind The Scene

Behind The Scene
Trending



"Belum pada tau, ya?" tanya Dita sok misterius.


Saat ini, keempatnya sedang berada di perjalanan menuju rumah Cessa dengan seragam yang masih melekat. Mereka sepakat pulang sekolah tidak berganti baju terlebih dahulu untuk menghemat waktu.


Ayrin yang berada di kursi kemudi memandang Dita sekilas lewat kaca depan. "Emangnya ada apaan, Dit?" sahutnya.


"Bentar, masa yang penasaran cuman Ayrin doang," balas Dita menatap Felly di samping Ayrin dan Rere di samping dirinya.


"Tau gue, lo mau bahas Andra 'kan?" jawab Felly masih fokus dengan kegiatan mewarnai kuku-kukunya.


Dita mengerucutkan bibir kesal. "Kasihaan..." ejek Rere di tengah fokusnya berswa foto.


Ayrin tertawa kecil. "Kenapa Andra, Dit?" Ia mencoba mengalihkan fokus Dita.


"Emang cuman Ayrin doang yang ngerti gue!" gumamnya sok terharu.


"Lebay! Orang Ayrin gak pake medsos, ya iyalah! Dia gak tahu!" julid Rere.


Karena kesal, Dita menarik rambut belakang Rere sedikit kencang. "Auwhh!!" desis Rere.


Bukannya bersalah, Dita malah menjulurkan lidah kemudian sedikit mencondongkan badan memilih bergosip ria dengan Ayrin.


"Kasihaaann..." Felly menatap Rere setengah puas.


"Gini loh, Ay... Andra sekarang beneran lagi naik panggung setelah gelar konser kemarin,"


"Konser?"


"Iya, jadi pas hari apa gitu gue lupa. Andra buat mini konser edisi rilisan album barunya. Tapi, ya.. Gak ada yang nyangka banget kalo konser Andra sukses total karena antusias pendengar yang membludak. Sampe-sampe pas beres konser tuh bodyguardnya Andra terpaksa bersikap keras biar cuman Andra bisa masuk mobil. Merinding sih ini, pantes aja tadi dia pulang sekolah nunggu jemputan di depan gerbang pake masker,"


"Pantes aja Cessa minta bantuannya sama Andra terus Andra juga kayak antipan gitu," simak Ayrin.


"Tapi ya, Ay. Menurut gue meskipun Andra lagi naik daun sekali pun gak pantes dia nolak bantuin Cessa. Mereka kan setidaknya teman sekelas,"


"Mungkin Andra punya kesibukkan yang lebih-lebih penting dari sekedar bantu temen sekelas kali," timpal Felly.


"Atau karena lagi jadi sorotan dan Cessa ini termasuk kalangan selebriti juga meski belum se-tenar Andra, Andra takut mereka kena skandal," Rere membuka pikiran.


"Hm, iya juga ya..." Dita sudah kembali pada posisi awal.


"Lo kalo ada yang ngajakin collabs cover lagu gitu tapi cowok, nolak enggak, Re?" lanjutnya.


Rere mengangkat bahu acuh. "Tergantung,"


Tangannya terulur meminta tisu di dashboard mobil pada Ayrin.


"Kalo situasi gue kayak Andra lagi trending topic gitu, dan posisi si cowok kayak Cessa. Mungkin bakal ambil sikap yang sama, nolak. Tapi caranya di pikirin lebih halus lagi," jelas Rere.


"Wiihhh... Teteh Rere bijak!" goda Felly. Ayrin terkekeh geli melihat interaksi mereka.


"Jijik, Fell!" Rere bergidik ngeri.


Panggilan teteh tercetus dari adik sang Bunda yang menetap di Bandung. Rere memang biasa saja dengan panggilan itu, tapi saat Felly medengar dan mempraktekkan dengan gaya berlebihan membuat Rere kesal sendiri jadinya.


Mobil menjadi hening setelah mereka mulai memasuki kawasan perumahan Cessa. Sampai berhenti di depan rumah mewah berwarna abu-abu dengan pagar hitam menjulang tinggi, Ayrin dan Felly bertukar pandang.


"Mau siapa yang turun?" tanya Ayrin.


Felly membereskan cat kukunya. "Gue aja, lo daritadi udah nyetir mobil."


Ayrin mengangguk setuju. Membiarkan Felly turun meminta ijin pada satpam untuk masuk ke dalam rumah Cessa.


"Orang tuanya Cessa kerja apa, sih? Sumpah, lihat pengamanan rumah yang kayak gini gue jadi penasaran banget!" ungkap Dita.


Rere mengedarkan pandangan. "Kawasan perumahannya tergolok elit, kayak kawasan perumahan yang kerja di instansi pemerintah." timpalnya.


Benar, Ayrin juga jadi ikutan penasaran. Apalagi saat mengantar Cessa pulang untuk peetama kali, banyak mobil mewah berjejer di depan mereka namun dengan plat nomor berwarna merah. Yang artinya, mobil tersebut di peruntukkan bagi orang berkepentingan di pemerintahan.


"Tanya langsung orangnya ajalah nanti kalo emang penasaran banget, banget!" balas Ayrin mencairkan suasana.


"Gak di ijinin masuk, Ay," kata Felly saat kembali ke dalam mobil.


"Aneh,"gumam Dita


"Kita juga aneh. Udah beberapa kali ketemu sama Cessa tapi gak pernah tukeran nomor handphone," gerutu Rere.


"Coba aja!" setuju Felly.


Tin, tin, tin.


Dita meringis kecil. "Gue takut yang keluar bukan cuma Cessa doang, tapi sama tetangganya,"


Sontak Ayrin tertawa diikuti Felly dan Rere. "Ada-ada aja!" kekeh Ayrin.


Tidak lama Cessa terlihat keluar dari dalam rumah dengan pakaian santai. Ia berbincang sebentar dengan satpam hingga satpam tersebut membukakan pagar untuk mobil Ayrin masuk.


"Serasa berkunjung ke rumah anak presdir," Felly menggeleng kepala pelan.


Keempatnya kemudian bergegas membuka sealtbelt dan turun dari mobil.


"Hii," sapa Cessa riang dibalas senyum tipis.


"Ayo masuk!" ajaknya sambil berbalik langkah diikuti Ayrin dkk.


Interior dalam rumah terkesan elegan dengan sentuhan warna gold dan putih. Tapi bagi Ayrin, rumah ini tidak memberi rasa hangat sebagai kesan pertama.


Beberapa langkah melihat-lihat, dengan di sisi bagian jalan yang diyakini menuju ruang tamu, sudah ternilai bahwa Cessa bukan dari kalangan biasa.


Guci dan furniturenya memiliki merk bandrol harga cukup fantastis. Bahkan bisa jadi ada yang bernilai satu mobil sport terbaru.


Ruang tamu pun mulai mereka pijaki. Dari sofa sampai hiasan dinding termasuk meja juga sudah dipastikan harganya dapat memanjakan mata.


Kelimanya duduk serentak. Ayrin diapit Felly dan Rere sedangkan Dita dan Cessa di seberangnya.


"Sorry ya kalo tadi kalian di tahan satpam gue di depan," kata Cessa membuka obrolan.


"Iya gak papa kok santai aja," balas Rere sok kalem.


"Emangnya orang tua lo kerja apa, Sa?" Dita benar-benar menyuarakan penasarannya.


"He, Sa! Gimana kalo kita langsung aja ke ruang musik? Udah lumayan sore juga nih!" potong Felly saat Cessa baru saja membuka mulut hendak menjawab.


"Iya, Cessa. Gue juga gak bisa lama-lama di sini," lanjut Ayrin.


"Oh, gitu ya? Yaudah ayo! Ruang musiknya ada di lantai dua sebelah kamar gue!"


"Ayo!" Rere paling pertama berdiri.


Cessa kembali jalan terlebih dahulu di ikuti Rere tak jauh di belakangnya.


"Lo ngapain tanya pekerjaannya orang tua Cessa dodol!" sentak Felly kesal dengan sikap kepo Dita yang selalu tak bisa dipending dulu.


"Lah? Kenapa? Orang tadi Cessa juga mau jawab kok kalian yang ribet,"


"Bukan gitu, Dit... Kita takut Cessa gak nyaman sama pertanyaan lo. Lagian, kita masih termasuk orang baru buat tahu lebih dalam kehidupan Cessa," jelas Ayrin sabar.


Dita menyengir lebar. Mengangkat kedua tangan membentuk 'peace. "Sorry, gue gak kepikiran ke sana,"


Felly mengerling malas,"Kebiasaan buruk tuh!" cibirnya kemudian berlalu pergi.


"Yee... Si Felly kenapa si?! Orangnya sensi mulu, deh!" jengkel Dita menghentakkan kaki ke lantai.


Ayrin terkekeh." Udah ah! Kayak gak tau Felly aja! Ayo kita susul Rere,"


Ayrin mengalungkan tangan pada bahu Dita yang masih mengerucutkan bibirnya.


"Awas aja, kalo dia bikin kesalahan gak di sengaja... Gue bejek-bejek pake kata-kata lebih pedes!"


"Ahahah! Iya, iya... Segimana senengnya Anandita Kinsera aja!"


.


.


.


TBC